Coba kita jujur sejenak pada diri sendiri. Pernahkah kita merasa ada beban berat di hati? Bukan beban utang cicilan rumah atau tagihan listrik yang telat, tapi beban yang lebih 'nggak kelihatan' tapi rasanya kok lebih menyesakkan. Beban itu adalah dendam, sakit hati, atau rasa kecewa yang belum kita maafkan. Nah, kadang kita ini suka menyimpan "koleksi" dendam, ibaratnya kayak koleksi perangko, makin banyak makin merasa "wah". Padahal, di mata Allah, makin banyak dendam, makin jauh dari cahaya kebahagiaan.
Saya yakin, semua yang staytoon ini pasti pernah merasa disakiti, dikhianati, digosipkan, atau bahkan difitnah. Nah, ketika itu terjadi, ada dua pilihan: Mau jadi "collector" dendam atau jadi "donatur" maaf? tanpa kita sadari Biasanya, kebanyakan dari kita maunya jadi collector. "Enak saja dia nyakitin saya kok!!!, nggak akan saya maafkan biarpun sampai Lebaran monyet!" (Bang toyib)
Jangan begitu, hari-hari ini adalah hari baik, Iedul Fitri adalah يوم أَكْمَلَ لَنَا عِدَّةَ رَمَضَانَ، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الْإِيْمَانِ dan Alloh SWT berfirman: وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ "dan maafkanlah manusia sungguh Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik" dalam kitab Tanbihul Ghofilin disebutkan bahwa Ada lima perkara, yang barangsiapa merutinkan menjaganya (memaafkan sebelum dimintai dan bersilaturahim), maka kebaikannya akan ditambah seperti gunung-gunung yang kokoh, dan Allah akan meluaskan rezekinya.
Dendam itu ibarat kita yang minum racun sendiri, tapi berharap orang lain yang mati. Karenanya berhentilah mengoleksi dan menimbun racun, karena Hati akan menjadi keras, pikiran jadi sempit, wajah menjadi jelek. Setiap kali melihat atau mendengar nama orang yang kita benci, langsung darah mendidih, ulu hati sakit. Padahal yang menyakiti kita sudah lupa, sudah tidur nyenyak, sudah ketawa ketiwi. Lah kita? Masih saja guling-guling di kasur mikirin dendam. Siapa yang Rugi? collector/donatur.
Allah SWT adalah Dzat yang memiliki seluruh kekuasaan, yang Maha Adil, Maha Kuat, juga Maha Pengampun dan Maha Penyayang (sifat Allah).
Allah SWT berfirman: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Ayat Ini bukan sekadar perintah, tapi juga bujukan yang sangat manis dari Allah. "Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?" Kalimat ini menyentuh hati terdalam kita. Kita semua mendambakan ampunan Allah. Kita semua punya dosa, punya khilaf. Kalau kita ingin diampuni oleh Allah, maka salah satu kuncinya adalah lapang dada (besarkan wadah) dan mau memaafkan sesama hamba-Nya. Ini adalah jembatan menuju ampunan Allah.
Belajarlah dari tanah: "meski diinjak-injak, dia tetap diam, namun nilainya terus naik" Bahkan orang yang menginjaknya pun perlahan masuk dan menyatu dengannya.
Nabi SAW bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ "Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya." (HR. Muslim)
Bahwa Allah menjamin, orang yang pemaaf tidak akan rugi, bahkan akan ditambah kemuliaannya. Memaafkan itu investasi kemuliaan. Jangan khawatir kita dianggap lemah, diinjak-injak. Justru sebaliknya, Allah akan mengangkat derajat kita. Ini janji Allah, janji Rasulullah, pasti benar
Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa memaafkan dengan tulus? Jangan-jangan cuma di mulut saja maaf, tapi di hati masih ngebet pengen (nyantet)? Kaum muslimin pendengar yra., Memaafkan itu memang butuh proses, butuh latihan, dan butuh mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh) melawan ego dan bisikan setan.
Pertama: Niatkan karena Allah. Kedua: Coba renungkan dosa² kita. Ketiga: Pisahkan antara perbuatan dan pelaku. (Terkadang kita sulit memaafkan karena kita terlalu fokus pada perbuatan buruknya dan lupa kebaikannya). Keempat: Cobalah melihat dari sudut pandang orang yang menyakiti dan yang kamu sakiti. ان من جزاء الحسنات الحسنات بعتها ومن عقوبات السيئات سيئه بعدها Kelima: Pahami bahwa memaafkan itu bukan berarti melupakan. Seringkali orang berkata, "Saya sudah maafkan, tapi saya tidak bisa lupa." Tentu saja! Ingatan manusia itu anugerah. Kejadian pahit itu pelajaran berharga. Memaafkan itu bukan berarti amnesia, tetapi juga bukan berarti kita harus akrab kembali seperti sedia kala (pribadi toxic). Memaafkan itu artinya kita melepaskan 'ikatan' emosi negatif yang selama ini mengikat kita pada kejadian tersebut. Kita bebas dari belenggu dendam, walau ingatan tentang kejadian itu masih ada sebagai pengingat agar kita lebih berhati-hati di kemudian hari.
Ustadz, saya sudah coba memaafkan, tapi kok masih saja teringat dan sakit hati?" Itu wajar. Memaafkan adalah proses, bukan tombol "on-off" yang langsung instan. Butuh waktu, butuh kesabaran, dan butuh terus berdo'a kepada Allah. Setiap kali rasa sakit hati itu muncul, ingatkan diri kita, "Saya memaafkan karena Allah. Saya ingin kebahagiaan. Saya tidak mau lagi membawa beban ini." Istighfar dan mohon kekuatan dari Allah.
Kisah: Nabi Yusuf As., Beliau disakiti oleh saudara²-nya, dibuang ke sumur, dijual menjadi budak. Tapi ketika beliau menjadi penguasa Mesir dan bertemu kembali dengan saudara²-Nya: قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ "Dia (Yusuf) berkata, 'Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian, semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.'" (QS. Yusuf: 92)
Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa puncak kemuliaan adalah akhlak, memaafkan karena memahami bahwa di balik pesakitan yang kita alami, ada rencana Allah yang lebih besar.
Memaafkan itu terapi untuk hati dan jiwa kita. Ketika kita memaafkan, kita melepaskan beban yang selama ini kita pikul. Hasilnya? Hati menjadi lapang, pikiran menjadi jernih, tidur lebih nyenyak, dan wajah jadi lebih berseri-seri. Bawaannya senyum terus, seperti mendapat THR 😅. Ini bukan cuma klaim saya, ini sudah dibuktikan secara ilmiah juga, banyak penelitian yang menunjukkan korelasi antara memaafkan dengan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik
Manfaat lain dari memaafkan adalah kita membuka pintu rezeki dan keberkahan dari Allah. Kok bisa? Iya, karena hati yang bersih, jiwa yang tenang, akan lebih mudah menerima hidayah dan rahmat Allah. Energi positif yang terpancar dari diri kita akan menarik hal-hal positif lainnya. Allah akan memberikan kemudahan dalam urusan kita, mengangkat derajat kita, dan mengganti apa yang hilang dari kita dengan sesuatu yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (متفق عليه) "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim"
Maka dalam kesempatan yang baik ini gunakan untuk mendatangi orang yang lebih tua dengan hormat. Rangkul yang lebih muda dengan kasih sayang. Sapa tetangga dengan senyum dan salam. Jangan sampai ada saudara yang sengaja kita hindari hanya karena kesalahpahaman remeh. Jangan sampai ada keluarga yang kita jauhi karena ego. Idul Fitri adalah hari untuk merendahkan hati, bukan meninggikan diri.
Memaafkan memang kadang berat di awal, tapi percayalah, kebahagiaan yang kita dapat setelahnya jauh lebih besar dan lebih berharga dari sekadar kepuasan sesaat (membalas). Hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan kedekatan dengan Allah adalah kebahagiaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan harta.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita untuk menjadi pribadi pemaaf, pribadi yang lapang dada, sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat.










