Memori at PASCASARJANA
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.
STUDY ACADEMIC
STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".
MY FAMILY
BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.
MOTIVASI HIDUP
DALAM KEBINEKAAN.
FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED
TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.
MENUNAIKAN HAJI UNTUK KEDUA ORANG TUA / KERABAT
1. HR. Bukhari dari
Ibnu `Abbas :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا
أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ
جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ
أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا
قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ
قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ
Ibnu 'Abbas
radliallahu 'anhuma bahwa ada seorang wanita dari suku Juhainah datang menemui
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: "Sesungguhnya ibuku telah
bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga
meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?". Beliau menjawab: "Tunaikanlah
haji untuknya. Bagaimana pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu
wajib membayarkannya?. Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada
Allah lebih patut untuk dibayar".
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا قَالَ
جَاءَتْ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ عَامَ
حَجَّةِ الْوَدَاعِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى
عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ
يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ
نَعَمْ
Ibnu 'Abbas
radliallahu 'anhuma berkata; Ada seorang wanita dari suku Khats'am pada
pelaksanaan Haji Wada' lalu berkata: "Wahai Rasulullah, kewajiban yang
Allah tetapkan buat para hambaNya tentang haji sampai kepada bapakku ketika dia
sudah berusia lanjut sehingga dia tidak mampu untuk menempuh perjalanannya,
apakah terpenuhi kewajiban untuknya bila aku menghajikannya?. Beliau menjawab:
"Ya".
2. HR. Muslim dari
Buraidah
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ
عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ
إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ قَالَ فَقَالَ
وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ صُومِي عَنْهَا
قَالَتْ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ حُجِّي عَنْهَا
Abdullah bin Buraidah
dari bapaknya radliallahu 'anhu, ia berkata; Ketika saya sedang duduk di sisi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seorang wanita dan
berkata, "Aku pernah memberikan seorang budak wanita kepada ibuku, dan
kini ibuku telah meninggal. Bagaimana dengan hal itu?" beliau menjawab,
"Kamu telah mendapatkan pahala atas pemberianmu itu, dan sekarang
pemberianmu itu telah kembali kepadamu sebagai pusaka." Wanita itu
bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, Ibuku punya hutang puasa satu bulan,
bolehkah saya membayar puasanya?" beliau menjawab: "Ya, bayarlah
puasanya itu." wanita itu berkata lagi, "Ibuku juga belum menunaikan
haji, bolehkah aku yang menghajikannya?" beliau menjawab: "Ya,
hajikanlah ia."
3. HR. Abu Dawud dari
Ibn `Abbas
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ
شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ
لَا قَالَ حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ
Ibnu Abbas bahwa Nabi
shalla Allahu 'alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan; LABBAIKA 'AN
SYUBRUMAH (ya Allah, aku memenuhi seruanmu untuk Syubrumah), beliau bertanya:
"Siapakah Syubrumah tersebut?" Dia menjawab; saudaraku! Atau
kerabatku! Beliau bertanya: "Apakah engkau telah melaksanakan haji untuk
dirimu sendiri?" Dia menjawab; belum! Beliau berkata: "Laksanakan
haji untuk dirimu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah."
TENDENSI DZIKIR DAN BERDOA SETELAH SHALAT
TENDENSI DZIKIR DAN BERDOA SETELAH SHALAT
I.MENGERASKAN DZIKIR (jahr)
I.MENGERASKAN DZIKIR (jahr)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,,, ” (Al- baqarah:152),,,,,,
“maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bang gakan) nenek moyangmu” (Al- baqarah:200). Dan ayat- ayat lainnya.
“Sungguh mengeraskan suara Dzikir kala orang- orang selesai Shalat fardhu telah ada di masa Nabi SAW, Ibnu Abbas berkata: Aku mengetahui pemandangan itu karna aku mendengarnya” (HR.Bukhari dan Muslim/Shahih).
ُﻪْﻨَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ ِﻦْﺑﺍ ْﻦَﻋ ِﺓﺎَﻠَﺻ َﺀﺎَﻀِﻘْﻧﺍ ُﻑِﺮْﻋَﺃ ُﺖْﻨُﻛ :َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ) ِﺮﻴِﺒْﻜَّﺘﻟﺎِﺑ )
“Dari Ibnu Abbas RA berkata: Aku mengetahui rampungnya Shalat Nabi SAW dengan bacaan Takbir” (HR.Bukhari/ Shahih). Dan Hadits- Hadits yang semafhum.
II.DOA DENGAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN
ْﻲِﻴْﺤَﺘْﺴَﻳ ٌﻢْﻳِﺮَﻛ ٌّﻲَﺣ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ َّﻥِﺇ ْﻥَﺃ ِﻪْﻴَﻟِﺇ ِﻪْﻳَﺪَﻳ َﻊَﻓَﺭ ﺍَﺫِﺍ ِﻩِﺪْﺒَﻋ ْﻦِﻣ ﺔﻌﺑﺭﻷﺍ ﻪﺟﺮﺧﺃ) ﺍًﺮْﻔِﺻ ﺎَﻤُﻫَّﺩُﺮَﻳ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍ ﻻﺇ)
“Sungguh Tuhan kalian maha hidup nan dermawan, DIA malu tatkala dari hambanya mengangkat ke dua tangannya (berdoa) lalu kembali dalam keadaan tangan kosong” (HR.Imam Empat kecuali An-Nasai/ Shahih).
ِﻦْﻄَﺒِﺑ َﻪﻠﻟﺍ ُﻉْﺩﺎَﻓ َﻪﻠﻟﺍ َﺕْﻮَﻋَﺩ ﺍَﺫِﺇ ﺍَﺫِﺈَﻓ ,ﺎَﻤِﻫِﺮْﻬَﻈِﺑ ُﻉْﺪَﺗَﻻَﻭ َﻚْﻴَّﻔَﻛ َﻚَﻬْﺟَﻭ ﺎَﻤِﻬِﺑ ْﺢَﺴْﻣﺎَﻓ َﺖْﻏَﺮَﻓ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ) )
“Ketika kamu berdoa pada Allah maka bukalah kedua tapak tangan bagian dalam, dan jangan berdoa dengan tapak tangan bagian luar, apabila telah selesai berdoa maka usapkanlah kedua tapak tanganmu pada
wajahmu” (HR.Ibnu Majah/Hasan).Dll
III.SALAMAN SELEPAS SHALAT (mushofahah)
ِﻥﺎَﻴِﻘَﺘْﻠَﻳ ِﻦْﻴَﻤِﻠْﺴُﻣ ْﻦِﻣ ﺎَﻣ َﻞْﺒَﻗ ﺎَﻤُﻬَﻟ َﺮِﻔُﻏ ﺎَّﻟِﺇ ِﻥﺎَﺤَﻓﺎَﺼَﺘَﻴَﻓ ﻲﺑﺃﻭ ﺪﻤﺣﺃ ﻩﺍﻭﺭ) ﺎَﻗَّﺮَﻔــــــَﺘَﻳ ْﻥَﺃ ﻭ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﺩﻭﺩ ﺀﺎﻴﻀﻟﺍ)
“Tidak ada dua orang Muslim yang bertemu lalu keduanya mau bersalaman, kecuali di ampuni dosanya sebelum keduanya berpisah” (HR.Ahmad, Abu Daud dll/Hasan dan Shahih Sanadnya). Banyak Ulama memperluas pengertian dengan Sunahnya bersalaman setelah Shalat, dengan catatan belum bertemu sebelum
Shalat. Ada juga yang berpendapat bahwa di kala Shalat kita sowan pada Allah, sehingga ada kesunahan salaman tatkala selepas Shalat. Wallahu A’lam [Referensi: Shahih bukhari dan Muslim, Sunan Abi Daud, Al-Jami As-Saghir, Riyadus Shalihin, Mauidzah Al- Mukminin, Al- Muqtathofat li Ahlil
“maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bang gakan) nenek moyangmu” (Al- baqarah:200). Dan ayat- ayat lainnya.
“Sungguh mengeraskan suara Dzikir kala orang- orang selesai Shalat fardhu telah ada di masa Nabi SAW, Ibnu Abbas berkata: Aku mengetahui pemandangan itu karna aku mendengarnya” (HR.Bukhari dan Muslim/Shahih).
ُﻪْﻨَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ ِﻦْﺑﺍ ْﻦَﻋ ِﺓﺎَﻠَﺻ َﺀﺎَﻀِﻘْﻧﺍ ُﻑِﺮْﻋَﺃ ُﺖْﻨُﻛ :َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ) ِﺮﻴِﺒْﻜَّﺘﻟﺎِﺑ )
“Dari Ibnu Abbas RA berkata: Aku mengetahui rampungnya Shalat Nabi SAW dengan bacaan Takbir” (HR.Bukhari/ Shahih). Dan Hadits- Hadits yang semafhum.
II.DOA DENGAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN
ْﻲِﻴْﺤَﺘْﺴَﻳ ٌﻢْﻳِﺮَﻛ ٌّﻲَﺣ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ َّﻥِﺇ ْﻥَﺃ ِﻪْﻴَﻟِﺇ ِﻪْﻳَﺪَﻳ َﻊَﻓَﺭ ﺍَﺫِﺍ ِﻩِﺪْﺒَﻋ ْﻦِﻣ ﺔﻌﺑﺭﻷﺍ ﻪﺟﺮﺧﺃ) ﺍًﺮْﻔِﺻ ﺎَﻤُﻫَّﺩُﺮَﻳ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍ ﻻﺇ)
“Sungguh Tuhan kalian maha hidup nan dermawan, DIA malu tatkala dari hambanya mengangkat ke dua tangannya (berdoa) lalu kembali dalam keadaan tangan kosong” (HR.Imam Empat kecuali An-Nasai/ Shahih).
ِﻦْﻄَﺒِﺑ َﻪﻠﻟﺍ ُﻉْﺩﺎَﻓ َﻪﻠﻟﺍ َﺕْﻮَﻋَﺩ ﺍَﺫِﺇ ﺍَﺫِﺈَﻓ ,ﺎَﻤِﻫِﺮْﻬَﻈِﺑ ُﻉْﺪَﺗَﻻَﻭ َﻚْﻴَّﻔَﻛ َﻚَﻬْﺟَﻭ ﺎَﻤِﻬِﺑ ْﺢَﺴْﻣﺎَﻓ َﺖْﻏَﺮَﻓ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ) )
“Ketika kamu berdoa pada Allah maka bukalah kedua tapak tangan bagian dalam, dan jangan berdoa dengan tapak tangan bagian luar, apabila telah selesai berdoa maka usapkanlah kedua tapak tanganmu pada
wajahmu” (HR.Ibnu Majah/Hasan).Dll
III.SALAMAN SELEPAS SHALAT (mushofahah)
ِﻥﺎَﻴِﻘَﺘْﻠَﻳ ِﻦْﻴَﻤِﻠْﺴُﻣ ْﻦِﻣ ﺎَﻣ َﻞْﺒَﻗ ﺎَﻤُﻬَﻟ َﺮِﻔُﻏ ﺎَّﻟِﺇ ِﻥﺎَﺤَﻓﺎَﺼَﺘَﻴَﻓ ﻲﺑﺃﻭ ﺪﻤﺣﺃ ﻩﺍﻭﺭ) ﺎَﻗَّﺮَﻔــــــَﺘَﻳ ْﻥَﺃ ﻭ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﺩﻭﺩ ﺀﺎﻴﻀﻟﺍ)
“Tidak ada dua orang Muslim yang bertemu lalu keduanya mau bersalaman, kecuali di ampuni dosanya sebelum keduanya berpisah” (HR.Ahmad, Abu Daud dll/Hasan dan Shahih Sanadnya). Banyak Ulama memperluas pengertian dengan Sunahnya bersalaman setelah Shalat, dengan catatan belum bertemu sebelum
Shalat. Ada juga yang berpendapat bahwa di kala Shalat kita sowan pada Allah, sehingga ada kesunahan salaman tatkala selepas Shalat. Wallahu A’lam [Referensi: Shahih bukhari dan Muslim, Sunan Abi Daud, Al-Jami As-Saghir, Riyadus Shalihin, Mauidzah Al- Mukminin, Al- Muqtathofat li Ahlil
Sholawat Haji
Sholawat Haji
يارب صل وسلم عل النبى خيرالأنام # زرنامكة وإلى زمزم محمدعليه السلام
واجعله حجامبروراوأجعله سعيامشكورا # وأجعله ذنبا مغفوراوأجعله عمرة مقبولة
وأجعلناكلناألخيرات وأجعلناأمةصالحة #
وسلمنامن ألافات فى ألدنياوالأخرة
بجاه ألمصطف ألرسول وجدناوبالقبول # سهلناحصول ألمسوول قربنابعدان ألمؤمول
ياألله بها ياألله بها ياألله بحسن الخاتمة # ياألله بها ياألله بها ياألله بتوبةوألقبول
أمين أمين أمين أمين أمين أمين أمين أمين # أمين
أمين أمين أمين ياألله ربالعا لمين
sertfikasi ulama
Wacana sertfikasi ulama yang dikemukakan Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme (BNPT) menuai kontroversi. Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Jember, Jawa Timur, menentang wacana itu. MUI Jember menilai, ulama
merupakan anugerah dari Allah yang pengakuannya datang dari masyarakat,
bukan dari lembaga negara.
Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Fatwa MUI Jember Abdullah Samsul Arifin dalam acara sosialisasi pemahaman ajaran Syiah di Aula Madrasah Aliyah Negeri Jember, Kamis (13/9). Ia berbicara di depan sejumlah pemuka agama dan tokoh masyarakat.
Samsul Arifin menyatakan, sertifikasi terhadap ulama tidak akan efektif jika dalihnya hanya untuk menanggulangi terorisme. Sebab, tidak ada satupun lembaga yang sanggup melakukan sertfikasi formal terhadap ulama. Karena selama ini pengakuan ulama datang dari masyarakat.
Pengakuan masyarakat pada ulama bersifat kultural-karismatik sesuai kepemimpinannya. Tidak dapat dibuat standarisasi formal. Sesuai doktrin dalam Alquran, seorang kiai belum tentu ulama. Sebaliknya ulama tidak harus kiai. MUI Jember khawatir, ide ini akan berdampak pada konflik sosial di tengah masyarakat. (Kumbang Ari/DOR)
Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Fatwa MUI Jember Abdullah Samsul Arifin dalam acara sosialisasi pemahaman ajaran Syiah di Aula Madrasah Aliyah Negeri Jember, Kamis (13/9). Ia berbicara di depan sejumlah pemuka agama dan tokoh masyarakat.
Samsul Arifin menyatakan, sertifikasi terhadap ulama tidak akan efektif jika dalihnya hanya untuk menanggulangi terorisme. Sebab, tidak ada satupun lembaga yang sanggup melakukan sertfikasi formal terhadap ulama. Karena selama ini pengakuan ulama datang dari masyarakat.
Pengakuan masyarakat pada ulama bersifat kultural-karismatik sesuai kepemimpinannya. Tidak dapat dibuat standarisasi formal. Sesuai doktrin dalam Alquran, seorang kiai belum tentu ulama. Sebaliknya ulama tidak harus kiai. MUI Jember khawatir, ide ini akan berdampak pada konflik sosial di tengah masyarakat. (Kumbang Ari/DOR)
puasa pada bulan Muharram dan As-Syura
Disunnahkan mempernyak puasa pada bulan Muharram;
Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram.”
...
Terutama puasa tanggal 9 (Tasu'a) dan 10 ('Asyura) Muharram, minimal tanggal 10 saja;
“Puasa hari ‘Asyura (10 Muharram), aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu.”
Disunnahkan juga puasa Tasu’a (9 Muharram).
Tahun ini 2011, Insya Allah bertepatan hari SENIN dn SELASA 5 & 6 Desember 2011.
Semoga Allah Memudahkan..
Hadis-Hadis Seputar Puasa ‘Asyura:
1. Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, bersabda :
“ Aku berharap pada Allah dengan puasa ‘Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
2. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata :
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam , berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan Ramadhan.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
3. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata :
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini?. Mereka menjawab :“ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda:
“Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian“
Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa.
(H.R. Bukhari dan Muslim)
4. Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda :
“Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“
(H.R. Bukhari dan Muslim)
5. Imam Ahmad dalam Musnadnya membawakan tambahan:
“Hari ‘Asyura adalah hari ketika perahu Nabi Nuh berlabuh di bukit Judiy, lalu Nabi Nuh berpuasa sebagai bentuk syukur.”
Bagaimana Berpuasa ‘Asyura ?
Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan :
- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (tgl 9, 10 & 11).
- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits.
- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
Puasa sebanyak tiga hari (9, 10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut :
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat.
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari setiap bulan.
Semoga Bermanfaat..
Penawar Pesimis dan Sial
Do'a Penawar Rasa Pesimis dan Sial
اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Allaahumma Laa Khaira Illaa Khairuka, wa Laa Thaira Illaa Thairuka, wa Laa Ilaaha Ghairuka
“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (Hadits shahih, riwayat Ahmad)
Dasar Hadits
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa tebusan bagi hal itu?” Beliau bersabda, “Hendaknya salah seorang mereka membaca,
اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR. Ahmad: 2/220, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Ta’liq Musnad Ahmad no. 7045)
Apa itu Thiyarah?
Istilah Thiyarah atau Tathayyur berasal dari kata thair (burung). Karena bangsa Arab dahulu terbiasa meramal keberuntungan dan kesialan melalui burung dengan cara melepas burung. Jika ia terbang ke kanan, maka mereka bersemangat melanjutkan perjalan dan optimis mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, jika terbang ke kiri, mereka menganggap akan datang kesialan dan sehingga mengagalkan rencananya.
Thiyarah atau tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu, ataupun karena sesuatu yang sudah maklum, seperti menikahkan pada bulan Suro akan mendatangkan kesialan dan semisalnya. Dalam pengertian istilah ini, tathayur tidak hanya dengan isyarat burung saja.
Thiyarah atau tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu, ataupun karena sesuatu yang sudah maklum, seperti menikahkan pada bulan Suro akan mendatangkan kesialan. . .Thiyarah termasuk adat jahiliyah. Mereka menyandarkan nasib baik dan buruk kepada burung, kijang atau objek tathayyur lainnya. Sehingga mereka memutus rasa tawakkalnya kepada Allah Ta’ala dan bersandar kepada selain-Nya. Ini merupakan kesyirikan yang mengurangi kesempurnaan tauhid. Kemudian syariat yang hanif ini membatalkannya. Syariat mengingkari semua bentuk tathayyur dan pengaruhnya dalam mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan berulang kali dalam hadits-haditsnya yang meniadakan pengaruh thiyarah, “Tidak ada thiyarah.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk jannah tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diobati dengan cara Kay, tidak meminta diruqyah, dan tidak bertathayyur. Sedangkan hanya kepada Allah-lah mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)
Bahkan dalam hadits dari Ibnu Mas’ud secara marfu’, bahwa thiyarah bagian dari kesyirikan,
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik –sebanyak tiga kali-.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 429)
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)
Fungsi dan Manfaat Doa
Dalam kehidupan kita banyak keyakinan-keyakinan batil yang tersebar di masyarakat. Misalnya, ketika seorang muslim merencanakan safar, lalu sebelum berangkat ada burung gagak yang terbang dan suaranya yang berkoar-koar. Kemudian dia merasa akan datang musibah dan kesialan, sehingga dia menggagalkan rencananya atau tetap menjalankan rencananya dengan penuh kekhawatiran.
Merasa sial karena mendengar suara burung gagak di atas disebut tathayur (merasa sial/pesimis). Dan ini berlaku terhadap semua benda atau suara yang dijadikan sebagai objek tathayyur, misalnya melihat seorang buta ketika akan berdagang yang lalu muncul anggapan akan merugi dan semisalnya.
Keyakinan semacam ini termasuk perbuatan syirik yang menghilangkan kesempurnaan tauhid. Karena seseorang yang bertathayur telah memutus rasa tawakkalnya kepada Allah dan bersandar kepada selainnya. Juga, orang yang bertathayyur bergantung kepada sesuatu yang tidak jelas, bahkan hanya angan-angan dan hayalan yang tidak memiliki kaitan antara sebab dan akibat, baik langsung atau tidak. Orang yang berkeyakinan seperti ini, telah menciderai tauhidnya, karena tauhid adalah ibadah dan isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah semata. Sedangkan orang yang bertathayur akan mengagalkan rencananya tadi karena thiyarah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)
Dikabarkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa perasaan thiyarah (merasa sial/pesimis karena melihat atau mendengar sesuatu) sering hadir pada diri kita, tak seorangpun dari kita yang kecuali pernah terbersit thatayyur dalam hatinya. Bagi orang yang lemah iman, maka dia akan menggagalkan rencana dan hajatnya tersebut. Atau yang lebih ringan, dia tetap menjalankan tapi dengan dihantui rasa takut, khawati, dan was-was.
TATHAYYUR termasuk perbuatan syirik yang menghilangkan kesempurnaan tauhid.Sedangkan cara untuk mengatasi rasa pesimis dan merasa sial tadi adalah dengan bertawakkal kepada Allah dengan tetap menjalankan rencana baiknya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
Karena seseorang yang bertathayur telah memutus rasa tawakkalnya kepada Allah dan bersandar kepada selainnya.
وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
“Dan tidaklah salah seorang kita kecuali (terbersit thatayyur dalam hatinya) tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” (HR. Abu Dawud dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 429)
Dan salah satu cara untuk menangkal thatayyur –sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah- dengan membaca doa di atas yang berisi tawakkal kepada Allah dan berharap kebaikan dari-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa tebusan bagi hal itu?” Beliau bersabda, “Hendaknya salah seorang mereka membaca,
اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR. Ahmad: 2/220, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Ta’liq Musnad Ahmad no. 7045)
cara untuk mengatasi rasa pesimis dan merasa sial karen tathayyur adalah dengan bertawakkal kepada Allah dengan tetap menjalankan rencana baiknya dan berdoa dengan doa di atas.
Kandungan Doa
1. Doa di atas mengajarkan agar hati senantiasa bergantung kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak keburukan. Dan inilah tauhid yang sebenarnya. Jika demikan, maka thiyarah yang terbersit dalam hati seorang hamba tidak membahayakannya. Hal itu karena dia tidak mempercayainya sehingga tetap melaksanakan rencana/niat baiknya sambil menguatkan tawakkalnya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya, salah satunya dengan membaca doa di atas.
Sesunguhnya thiyarah bisa menyebabkan kerugian dan yang dikhawatirkan benar terjadi karena persangka buruknya. Hal itu diakibatkan karena tidak murni dan tidak benar tawakkalnya kepada Allah, dan karena menuruti bisikan-bisikan syetan.
2. Bahwa Allah semata yang mendatangkan kebaikan bagi hamba denganiradah (keinginan) dan masyi’ah (kehendak)-Nya. Begitu juga Allah semata yang kuasa menangkal keburukan dan kesialan dari hamba dengan kuasa dan kebaikan-Nya. Karena tidak ada kebaikan kecuali itu berasal dari-Nya.
3.Jika ada keburukan yang menimpa hamba, maka hakikatnya keburukan itu berasal dari-Nya, hanya saja itu disebabkan oleh tingkah laku dan kemaksiatannya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. Al-Nisa’: 79)
4. Doa di atas mengajarkan bahwa semua kebaikan ada di tangan Allah sehingga hanya kepada-Nya kita meminta dan bertawakkal.
Wanita dan Neraka
Pertanyaan:
Kenapa jumlah wanita di neraka lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki?
Jawaban:
Alhamdulillah Telah ada pernyataan dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bahwa para wanita itu lebih banyak sebagai penghuni neraka.
“Dari Imran bin Husain radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
اطَّلَعْتُ
فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ
فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء (رواه البخاري 3241
ومسلم 2737)
“Aku diperlihatkan di
surga. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum fakir. Lalu aku
diperlihatkan neraka. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para
wanita.” (HR. Bukhari, 3241 dan Muslim, 2737)
Adapun
sebabnya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ditanya tentang hal itu,
lalu beliau menjelaskan dalam riwayat Abdullah bin Abbas
radhiallahu’anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam
bersabda,
َأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ
قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ ، قَالُوا : بِمَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : بِكُفْرِهِنَّ ، قِيلَ : يَكْفُرْنَ
بِاللَّهِ ، قَالَ : يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ
أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ
شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ (رواه البخاري، رقم
1052) .
“Saya diperlihatkan neraka. Saya tidak pernah
melihat pemandangan seperti hari ini yang sangat mengerikan. Dan saya
melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita. Mereka(para
sahabat-ed) bertanya, ‘Kenapa wahai Rasulallah? Beliau bersabda,
‘Dikarenakan kekufurannya.' Lalu ada yang berkata, 'Apakah kufur kepada
Allah?' Beliau menjawab, ‘Kufur terhadap pasangannya, maksudnya adalah
mengingkari kebaikannya. Jika anda berbuat baik kepada salah seorang
wanita sepanjang tahun, kemudian dia melihat anda (sedikit) kejelekan.
Maka dia akan mengatakan, ‘Saya tidak melihat kebaikan sedikitpun dari
anda.” (HR. Bukhari, no. 1052)
Dari Abu Said
al-Khudri radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi
wa sallam keluar waktu Ied Adha atau Ied Fitri dan melewati para wanita
dan bersabda,“Wahai para wanita, keluarkanlah shadaqah karena saya
diperlihatkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah dari kalangan
kalian. Mereka berkata, ‘Kenapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda:
“Kalian sering mengumpat, dan mengingkari pasangan. Saya tidak melihat
(orang) yang kurang akal dan agama dari kalangan anda semua dibandingkan
seorang laki-laki yang cerdas.' Mereka bertanya, ‘Apa kekurangan agama
dan akal kami wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, ‘Bukankah persaksian
(syahadah) seorang wanita itu separuh dari persaksian orang laki-laki.'
Mereka menjawab: ‘Ya.' Beliau melanjutkan: ‘Itu adalah kekurangan
akalnya. Bukankah kalau wanita itu haid tidak shalat dan tidak
berpuasa.' Mereka menjawab, ‘Ya.' Beliau mengatakan, ‘Itu adalah
kekurangan agamanya.” (HR. al-Bukhari, no. 304)
Dan
dari Jabir bin Abdullah radhialalhu’anhuma berkata, Saya menyaksikan
shalat Ied bersama Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam. Beliau
memulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa azan dan iqamah. Kemudian
berdiri bersandar kepada Bilal, dan memerintahkan untuk bertakwa kepada
Allah dan menganjurkan kepada ketaatan kepadaNya dan menasehati manusia
serta mengingatkannya. Kemudian beliau berjalan mendatangi para wanita,
dan memberikan nasehat kepada mereka dan mengingatkannya. Beliau
bersabda, ‘Bersadaqahlah para wanita, karena kebanyakan dari kalian
itu menjadi bara api neraka Jahanam.' Maka ada wanita bangsawan dan
kedua pipinya berwarna (merah) berdiri bertanya, ‘Kenapa wahai
Rasulullah?' Beliau menjawab, ‘Karena kamu semua seringkali mengadu dan
mengkufuri suami.' Berkata (Jabir), ‘Maka para wanita memulai bersodaqah
dan melemparkan gelang, giwang dan cincinnya ke pakaian Bilal." (HR. Muslim, no. 885)
Seyogyanya
bagi para wanita mukmin yang mengetahui hadits ini berbuat seperti
perbuatan mereka para wanita shahabat. Ketika mengetahui hal ini, mereka
langsung melakukan kebaikan, dimana hal itu dengan izin Alah sebagai
sebab yang dapat menjauhkan mereka masuk ke dalam kelompok yang
terbanyak (masuk neraka). Maka nasehat kami kepada para wanita muslimah,
agar menjaga komitmen dengan syiar Islam dan kewajibannya. Terutama
shalat serta menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala
terutama syirik dengan segala macam bentuknya yang berbeda-beda yang
tersebar di tengah-tengah para wanita seperti memohon keperluan kepada
selain Allah dan mendatangi sihir, tukang ramal dan semisal itu.
Kami
memohon kepada Allah agar menjauhkan kita dan saudara-saudara kami dari
api neraka dan yang mendekatkan ke sana baik berupa ucapan maupun
perbuatan.
Rahasia Kurma
Rahasia berbuka Dengan Kurma
Kurma adalah buah yang berkah yang telah diwasiatkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memulai buka puasa kita pada bulan Ramadhan dengannya. Dari Salman bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa:
” إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر ، فإنه بركة ، فإن لم يجد تمرا فالماء ، فإنه طهور ” رواه أبو داود والترمذي .
”Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena dia adalah berkah, apabila tidak mendapatkan kurma maka berbukalah dengan air karena dia adalah bersih.” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud rahimahumallah)
وعن
أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفطر قبل أن يصلي على
رطبات ، فإن لم تكن رطبات فتميرات ، فإن لم تكن تميرات حسا حسوات من الماء ”
رواه أبو داود والترمذي .
Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah SAW. berbuka sebelum shalat (maghrib) dengan memakan beberapa ruthab (kurma segar/basah), apabila tidak mendapatkannya maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan apablia tidak mendapatkannya maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.”
Dan tidak diragukan lagi bahwa di balik sunah Nabi ini ada petunjuk medis, faidah kesehatan, dan hikmah yang besar. Rasulullah SAW. telah
memilih makanan-makanan di atas di antara sekian makanan yang ada,
dikarenakan faidah yang banyak yang berkaitan dengan kesehatan, dan
bukanlah dikarenakan banyaknya ha-hal tersebut di lingkungan beliau.
Maka ketika seorang yang berpuasa memulai berbuka, aktiflah
jaringan-jaringan dalam tubuh, dan mulailah jairngan pencernaan bekerja,
khususnya lambung yang harus diperlakukan dengan pelan dan dibangunkan
dengan lembut. Dan orang yang berpuasa pada kodisi itu membutuhkan
sumber zat gula dengan cepat, yang bisa menghilangkan lapar, seperti
ketika membutuhkab air.
Dan unsur makanan yang paling cepat untuk dicerna dan paling cepat masuk
ke dalam darah adalah zat gula, khususnya yang terkandung di dalamnya
monosakarida (sukrosa ) dan duosakarida (glukosa) karena badan kita dapat dengan mudah dan cepat menyerapnya dalam waktu beberapa detik saja. Lebih-lebih apabila lambung dan usus-usus dalam keadaan kosong sebagaimana hal itu adalah kondisinya yang berpuasa.
Seandainya engkau mencari makanan yang lebih baik yang bisa mewujudkan
tujuan ini bersamaan (menghilangkan lapar dan dahaga), maka engkau tidak
akan mendapatkan yang lebih baik dari sunnah Nabi yang menganjurkan
orang yang berpuasa untuk memulai berbuka dengan makanan yang mengandung
glukosa yang manis yang kaya dengan air seperti ruthab (kurma segar/basah) atau tamr (kurma kering) yang dicelupkan kedalam air.
Hasil penelitian kimiawi dan biologi menyatakan bahwa sepotong buah kurma yang dimakan setara dengan 85-87% dari beratnya. Dan itu
mengandung 20-24% air, 70-75%zat gula, 2-3% protein, 8,5% serat dan
kadar lemak yang rendah.
Sebagaimana juga penelitian menetapkan bahwa ruthab mengandung 65-70% air, dari berat bersihnya, 24-58 % zat gula, 2-2,1 % protein, 5,2 % serat dan kadar lemak yang sedikit.
Hasil yang terpenting dari penelitian kimiawi ini, sebagaimana
disebutkan oleh Dr. ‘Abdurrouf Hisyam dan Dr. ‘Ali Ahmad asy-Syahat
adalah sebagai berikut:
1. Mengkonsumsi ruthab atau tamr ketika memulai berbuka puasam,
memberikan suplai kadar zat gula yang besar bagi tubuh dan menghilangkan
gejala kekurangan zat gula (hipoglikemia) danmemebrikan semanagat bagi
tubuh.
2. Kosongnya lambung dan usus dari makanan membuat keduannya (usus dan
lambung) mampu untuk menyerap zat gula sederhana ini dengan sangat
cepat.
3. Kandungan unsur gula dalam bentuk kimiawi yang sederhana yang
terkadung di dalam ruthab dan tamr membuatnya mudah untuk dicerna,
karena 2/3 dari unsur gula (glukosa) terdapat dalam kurma dalam bentuk
susunan kimiawi yang sederhana. Dan demikianlah naiklah kadar gula dalam
darah dalam waktu singkat.
4. Adanya kurma yang direndam dengan air, dan ruthab yang mengandung
prosentasi air yang tinggi 65-70 % (65-70%) yang menyediakan air bagi
tubuh dengan prosentase yang baik, maka tidak perlu minum air dalam
jumlah besar pada saat berbuka.
(Sumber: diterjemahkan dari أسرار الإفطار على تمر oleh Abu Yusuf sujono)










