Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Bersyukur atas Nikmat Allah

Renungi dan hayati sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Menakjubkan urusan yang menimpa seorang mukmin. Sungguh, semua urusannya membawa kebaikan untuknya. Tidak ada seorang pun yang bisa seperti itu selain seorang mukmin. Jika kegembiraan menimpa dirinya, ia bersyukur. Sikap syukurnya ini membawa kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia pun bersabar. Sikap sabarnya ini pun membawa kebaikan untuknya.” (HR. Muslim no. 64)
“Inilah keadaan seorang mukmin,” kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau menambahkan :

“Setiap manusia tidak lepas dari qadha (ketentuan) dan takdir Allah yang mencakup dua perkara : Senang atau susah. Oleh karena itu, manusia terbagi menjadi dua macam: Mukmin dan bukan mukmin.
Seorang mukmin menganggap segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah baginya, sehingga hal ini baik baginya. Ketika kesusahan menimpanya, lantas dia bersabar atas takdir-Nya seraya menanti disirnakannya impitan hidup oleh Allah dengan mengharap pahala dari-Nya, hal ini membawa kebaikan baginya. Dia berharap mendapat pahala karena tergolong orang-orang yang bersabar.
Jika dirinya memperoleh kesenangan dalam bentuk nikmat beragama—seperti memiliki ilmu (syariat) dan beramal saleh—dan memperoleh nikmat dunia—seperti harta, anak, dan keluarga—lantas dia bersyukur kepada-Nya dengan menjalankan ketaatan {*} , sikap syukur ini akan mendatangkan kebaikan untuknya. Jadilah ia memperoleh dua macam kenikmatan, yaitu nikmat beragama dan nikmat dunia. Nikmat dunia berbentuk kesenangan, sedangkan nikmat beragama berbentuk syukur. Inilah potret seorang mukmin.
__________________________
{*} Karena bersyukur itu tidak semata mengucapkan, “Saya bersyukur kepada Allah.” Akan tetapi, harus ada pengamalan ketaatan kepada-Nya.
(Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/79)

Merenungkan Kecerdasan Hati



Betapa pentingnya kecerdasan itu dimiliki oleh setiap orang. Orang cerdas berbeda dari orang bodoh, biasanya lebih cepat menyelesaikan masalah. Berbekalkan kecerdasan, seseorang akan mampu memahami apa yang ada pada dirinya dan juga apa yang ada di lingkungannya. Sebaliknya, orang yang tidak cerdas akan sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Selain itu, orang yang kurang cerdas juga tidak mengetahui kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri.
Sementara ini banyak orang berpendapat bahwa kecerdasan itu letaknya di akal dan bukan di tempat lain. Oleh karena itu, berbagai upaya, apalagi pendidikan diarahkan pada peningkatan kualitas akal. Upaya itu misalnya melalui pelatihan, perbaikan kurikulum secara terus menerus, peningkatan kualitas guru, pemenuhan sarana, lingkungan, dan lain-lain. Ada keyakinan yang dipegang teguh bahwa, seseorang yang akalnya terdidik secara tepat akan menjadi cerdas. Akal dianggap menjadi penentu segala-galanya. Maka akallah yang harus dicerdaskan, dan bukan yang lain.
Melalui akal cerdas, maka berbagai problem kehidupan bisa diselesaikan, hingga yang rumit sekalipun. Bermodalkan akal cerdas pula, banyak hal bisa diciptakan, bisa direkayasa, bisa diatur, sehingga kehidupan bisa dijalani dengan mudah. Sekarang ini, dengan akal cerdas, bisa diciptakan alat komunikasi modern, yang sebelumnya tidak terbayangkan, seperti HP, internet, dan lain-lain. Demikian pula, alat transportasi seperti pesawat terbang super cepat, kapal selam yang tidak terdeteksi radar, dan lain-lain, semua berhasil diciptakan dari kemampuan akal itu.
Sebaliknya orang yang berakal lembek atau bodoh, dan apalagi tidak mau belajar, mereka akan tertinggal jauh dari siapapun yang cerdas. Persaingan, saling mempengaruhi, berebut, dan bahkan saling mengambil keuntungan di antara sesama dalam kehidupan ini, sebenarnya masih saja berlangsung. Penjajahan yang bersifat fisik pada umumnya sudah tidak dilakukan lagi. Namun tidak berarti bahwa hal itu sudah hilang. Penjajahan masih ada, hanya bentuknya saja berubah.
Alat persaingan dan jajah menjajah sekarang ini sudah menggunakan ilmu dan teknologi. Siapa saja yang mampu mengembangkan kekuatan tersebut, maka mereka yang menang. Persaingan pada saat sekarang terletak di wilayah itu. Negara yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menawarkan produk-produk baru yang semakin hebat dan dibutuhkan oleh masyarakat modern. Sebaliknya, mereka yang tidak mampu mengembangkan dua kekuatan tersebut, hanya akan menjadi pasar dan atau konsumennya. Padahal tidak ada ceritanya, konsumen atau pembeli lebih beruntung dibanding para penjualnya.
Bangsa-bangsa yang lambat dalam mengembangkan ilmu dan teknologi akan berposisi sebagai pasar. Oleh karena pasar sedemikian penting bagi industri maka selain mereka diperebutkan, juga diupayakan agar ilmu dan teknologinya tetap tidak berkembang selama-lamanya. Di sinilah sebenarnya bentuk penjajahan di zaman modern atau di era kompetisi yang semakin tajam. Tentu, orang yang berada pada posisi sebagai pasar, selamanya tidak akan beruntung. Bahkan oleh karena tidak tersedia modal dan selalu lemah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, keadaannya akan semakin tergantung pada pemilik berbagai jenis kelebihan sebagaimana yang dimaksudkan itu.
Hal tersebut merupakan gambaran dari kekuatan akal yang dimiliki oleh manusia. Namun, di tengah-tengah perbincangan terhadap kehebatan akal, ternyata ada pertanyaan mendasar, yaitu apakah memang benar bahwa akal memiliki kekuatan dahsyat sebagaimana diyakini selama ini, dan bukan pada bagian tubuh lainnya. Pertanyaan itu muncul dari kenyataan bahwa, akal ternyata seringkali lupa mengingat sesuatu. Selain itu, tatkala keadaan seseorang sedang galau, maka akalnya juga tidak mampu berpikir secara jernih. Demikian pula ketika seseorang sedang marah, sedang lapar, sedang sakit, sedang bertengkar, atau sedang keadaan emosi, maka akal tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi ketika sedang tidur, maka akal akan beristirahat total.
Kekurangan lainnya, akal tidak mampu melihat apa saja di luar jangkauannya. Sekalipun ilmu pengetahuan dipercaya mampu memprediksi tentang apa yang akan terjadi, namun ternyata hasilnya juga tidak ada kepastian. Seringkali prediksi yang dihasilkan oleh para ilmuwan ternyata tidak selalu tepat, kecuali hal yang memang bersifat pasti atau eksak. Bahkan, akal tidak bisa mengetahui kekurangan yang sedang dialami oleh pemiliknya sendiri. Kemampuan akal kadang terlalu terbatas, tidak akan menjangkau sesuatu yang tidak tersedia data atau informasinya.
Di balik kekurangan akal itu, ternyata manusia masih dibekali kekuatan lagi yang lebih dahsyat, yaitu apa yang disebut dengan hati. Namun, kekuatan itu terasa kurang mendapatkan perhatian. Dianggap bahwa akal adalah segala-galanya. Padahal sebenarnya kekuatan itu justru terletak pada hati. Kekuatan hati bisa menjangkau apa, di mana, dan kapan saja. Melalui hati, seseorang bisa merasakan dan juga mengingat sesuatu kejadian yang sudah berlangsung amat lama dan berada di tempat jauh hingga tidak terbatas. Sekarang ini misalnya, hati kita masih bisa membayangkan wajah kakek, nenek, ayah dan ibu, padahal misalnya, mereka itu sudah lama wafat.
Sebagai contoh yang mudah dan sederhana lagi, ketika kita sedang berada di perjalanan ke kantor misalnya, dan ada sesuatu yang tertinggal, maka hati kita akan memberi tahu. Hati menjadi gelisah atau tidak tenang untuk menunjukkan bahwa masih ada sesuatu yang belum sempurna atau tertinggal. Demikian pula, ketika kita selesai menulis artikel, dan ada kekurangan yang harus diperbaiki, maka hati merasa gelisah. Dalam keadaan seperti itu rupanya ia memberi tahu, bahwa tulisan dimaksud masih perlu dibaca dan dikoreksi kembali agar disempurnakan. Hal tersebut terasa sangat berbeda ketika segala sesuatu sudah komplit atau dalam hal menulis sudah sempurna. Hati menjadi merasa tenang. Dengan demikian, hati selalu menunjukkan dan memmberi tahu tentang apa yang seharusnya kita lakukan.
Masih merupakan contoh sederhana lainnya, yaitu ketika menjelang tidur dan berniat akan shalat tahajut malam itu misalnya, maka pada waktunya, sekalipun tidak ada bunyi alarm, ternyata bisa terbangun. Demikian pula ketika di bulan puasa, pada waktunya makan sahur, kita selalu terbangun, Maka artinya, hati itu lebih hebat dibanding akal. Pada saat tidur, akal ikut tidur. Sementara itu, hati tidak pernah ketiduran. Seringkali terasakan bahwa akal melakukan kesalahan mengolah informasi atau memperhitungkan sesuatu, sementara itu hati, sebagaimana Rasulullah, memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Berbekalkan kekuatan itu, hati memiliki kemampuan lebih dibanding akal.
Namun sayangnya, bagian tubuh yang amat penting itu ternyata tidak selalu dikenali dan diperhitungkan, bahkan oleh pemiliknya sendiri. Akibatnya, banyak orang melakukan kesalahan mendasar. Pendidikan misalnya, selalu diarahkan pada akal dan bukan pada hati. Padahal dinyatakan di dalam hadits nabi bahwa, perilaku seseorang itu ditentukan oleh hati dan bukan oleh akal. Manakala hati seseorang baik maka seluruh perbuatannya akan menjadi baik, dan begitu pula sebaliknya. Organisasi Islam bernama :  Jamiyyatul Islamiyah yang sudah berkembang di berbagai wilayah di Indonesia, secara bersama-sama berusaha mengkaji al Quran dan Hadits Nabi untuk memahami bagian penting dari tubuh manusia, yaitu ruh, hati, atau nurani. Akhirnya, sekedar sebagai tambahan renungan, bahwa tatkala seseorang sedang mencari suatu kebenaran, maka diingatkan oleh kalimat indah dan tentu benar, yaitu bertanyalah kepada suara hati nuranimu, dan sebaliknya, bukan kepada akalmu. Wallahu alam.

Kekayaan Yang Paling Berharga



Kekayaan Yang Paling Berharga
Setiap orang jika ditanya kekayaan yang paling mahal harganya dan yang paling disukai, maka hampir pasti mereka akan menjawab : uang, mobil, rumah, berlian dan seterusnya. Jawaban itu tidak salah. Memang itu semua sudah umum dipandang sebagai kekayaan. Seseorang disebut kaya dan orang lainnya disebut miskin, perbedaan itu semata-mata karena kepemilikan harta. Orang disebut kaya jika ia memiliki rumah besar, uang banyak, mobil mewah, tabungan banyak di bank dan seterusnya. Sebaliknya orang disebut miskin jika ia tidak memiliki rumah, tidak punya tabungan, tidak punya mobil dan juga tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki apa-apa. Itulah ciri orang miskin.
Sekalipun menurut pandangan sebagian besar orang, anggapan ini benar, tetapi pertanyaannya kemudian adalah, apakah tidak ada ukuran selain itu. Kita sering dengar ada juga pandangan yang mengatakan, biar miskin harta asalkan tidak miskin jiwa. Dengan kalimat ini, artinya ada orang yang sekalipun tidak memiliki harta, tetapi merasa memiliki jiwa yang luas dan kukuh, lebih disukai. Sebaliknya, ada orang yang kaya harta benda, tetapi sesungguhnya ia miskin. Jika harus memilih, memang yang terbaik adalah menjadi kaya harta sekaligus kaya jiwa. Tetapi, jika alternatif ini tidak boleh dipilih, maka ternyata ada orang yang lebih memilih kaya jiwa dari pada kaya harta.
Kemudian, siapa sesungguhnya orang yang disebut memiliki kekayaan jiwa itu. Saya pernah mendapati ceritera, ada seorang pegawai Kementerian Agama, ketika memasuki pensiun, segera baju korpri dan baju saparinya dicuci dan diseterika. Tatkala, pegawai yang tergolong rendah, hanya menduduki jabatan di tingkat kabupaten diundang untuk acara pelepasan pensiun, baju-baju tersebut dengan ikhlas diserahkan ke kantor dengan maksud agar jika diperlukan, agar dipakai oleh pegawai lainnya. Toh kata dia, setelah pensiun dia tidak akan menggunakan baju seragam itu lagi. Inilah menurut padangan saya contoh orang yang tergolong kaya jiwa.
Sebaliknya dari ceritera di atas, sebagai contoh orang berjiwa kerdil yang juga disebut miskin jiwa, dapat dicontohkan lewat kasus berikut. Seorang pejabat, sekian banyak keluarganya dimasukkan di lembaga yang ia pimpin, sekalipun tidak memenuhi syarat. Ia berpikir, daripada diisi orang lain, apa salahnya diisi keluarganya sendiri. Bahkan, saudara dekatnya diberi fasilitas untuk pengadaan semua kebutuhan kantor. Itu dilakukan dengan alasan efisiensi, dan agar cepat. Kasus seperti ini, sederhana dan aneh, tetapi gampang sekali ditemui di mana-mana. Inilah gambaran orang yang hanya sebatas mementingkan dirinya sendiri dan abai pada orang lain. Satu sisi dia menjadi kaya, dihormati keluarganya dan diperjuangkannya, akan tetapi sesungguhnya dia hanya memiliki aku kecil, sebatas keluarganya, belum meraih aku besar, ialah masyarakatnya.
Orang yang kaya jiwa adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri, berani menghadapi tantangan hidup, ikhlas, sabar dan mampu membagikan kasih sayangnya kepada semua. Ia tidak takut miskin dan tidak takut pula kehilangan harta maupun jabatannya, yang ditakutkan adalah jika keberadaannya tidak memberi manfaat bagi orang lain. Lalu, siapa sesungguhnya orang yang miskin jiwa itu. Tidak lain adalah orang yang tidak menyandang sifat yang dimiliki oleh orang yang berjiwa besar itu. Sehingga, sekalipun hartanya melimpah, tetapi jika dia bakhil, pelit terhadap orang lain, maka harta yang dikumpulkan dengan susah payah, tokh akhirnya juga tidak memberi manfaat pada siapa saja, termasuk kepada dirinya sendiri.