Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Ciri Orang Beriman

Beberapa hari kemaren ini kita disuguhkan dengan berbagai pertistiwa yang dipertontonkan sedemikian rupa kepada kita semua, mulai dari peristiwa: Kedaulatan bangsa, Orang benar di kriminalisasi, badai siklon (karena Tekanan Udara Rendah_Hutan gundul_manusia rakus) yang mengakibatkan Gempa, Banjir, Longsor, dan lain sebagainya...

Maka, dari peristiwa peristiwa ini menjadi penting untuk kemudian kita renungkan, bahwa hidup ini adalah perjalanan dalam pengabdian dan ketaatan, karena itu disetiap sudut dan perempatan jalan ada traffic light (untuk istirahat sejenak) sembari menghela nafas sudah seberapa jauh perjalanan ini dan setebal apa kadar keimanan kita kepada Alloh SWT., karena itu Allah berfirman: اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ. الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ Dalam ayat ini disebutkan bahwa ciri-ciri orang beriman diantaranya adalah:

Pertama, اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ apabila disebutkan nama Allah, maka bergetarlah hatinya. Orang beriman akan merasa takut apabila mereka tidak memenuhi tugas kewajiban sebagai hamba Allah, dan merasa berdosa apabila melanggar larangan-larangan-Nya.

Bergetarnya hati sebagai perumpamaan dari perasaan takut ini adalah sikap mental yang bersifat abstrak, yang hanya dapat dirasakan oleh seseorang yang memiliki kualitas iman paripurna seperti ulama' sebagaimana disebutkan Al-Qur'an اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُ sesungguhnya di antara hamba-hamba yang takut kepada Alloh hanyalah para ulama, (yakni orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah).

Kedua, وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا apabila dibacakan ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah, maka akan bertambah iman mereka. Bertambahnya iman mereka akan semakin menyadarkan bahwa dirinya adalah orang yang lemah di sisi Allah dan Allahlah Zat yang paling besar dan kuat serta maha kuasa. Dengan dibacakan dan melihat ayat-ayat Allah, orang-orang beriman akan semakin bertambah semangat dalam beribadah.

Ayat-ayat Allah ini bukan hanya ayat qauliyah saja (ayat yang dapat dipelajari dalam Al-Qur'an). Namun ayat-ayat Allah ada juga yang berbentuk ayat kauniyah, seperti segala ciptaan Allah di muka bumi, fenomena alam, sosial, dan sebagainya. Karena itu orang yang dengan kualitas iman paripurna dia akan menjadikan peristiwa alam dan sosial sebagai pelajaran., bahwa وما بكم فمن الله

Ketiga, وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ bertawakal (berserah diri) hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Orang beriman tidak berserah diri kepada selain Allah SWT., karena sikap tawakal merupakan senjata terakhir seseorang dalam mewujudkan serangkaian amal setelah berbagai sarana dan syarat-syarat yang diperlukan dipersiapkan. Orang beriman yakin bahwa setelah serangkaian usaha dan Do'a yang telah dilakukan, maka Allah lah yang akan mengabulkan dan mencukupi semuanya: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”.

Keempat, الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ orang yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dengan sempurna baik itu syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta ketepatan waktunya, dan khusyu’ semata karena Allah. Hal ini bisa dipahami bahwa seseorang yang tidak rajin dalam melaksanakan shalat lima waktu, maka keimanannya pun sangat patut dipertanyakan.

Mari tanyakan pada diri kita, sudahkah kita shalat lima waktu lengkap setiap hari? Ataukah kita shalat sesempatnya saja?. Atau apakah malah kita sama sekali tidak melaksanakan shalat yang merupakan salah satu Rukun Islam ini?. Hanya Allah dan hati kita yang bisa menjawabnya.

Kelima, وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ menginfakkan sebagian dari harta yang diberikan kepadanya. Yang dimaksud dalam hal ini adalah mengeluarkan titipan Allah berupa harta dalam bentuk mengeluarkan zakat, infak, sedekah, memberi nafkah kepada keluarga dekat ataupun jauh, atau membantu kegiatan sosial dan kepentingan agama, serta kemaslahatan umat. Orang beriman tidak akan khawatir jika bersedekah akan mengurangi hartanya. Namun sebaliknya, bersedekah akan mendatangkan kebahagiaan dan tidak akan mengurangi rezeki dari Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: مَا نَقَصَ مَالُ مِنْ صَدَقَةٍ “Harta tidak berkurang karena bersedekah.”

Jika lima ciri ini sudah tertanam dalam setiap diri seseorang, maka اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌۚ“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.”

Didalam kitab Nashoikhul Ibad karya Imam Nawawi Al-Jawi beliau mengatakan bahwa termasuk ciri orang yang menegakkan keimanan adalah: Taqwa, Malu, Sabar dan Syukur.

TAQWA

(التقوى) وهو في الطاعة يراد به الاخلاص وفي المعصية يراد به الترك والحذر ، وقيل هو محافظة آداب الشريعة ، وقيل هو الاقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم قولا وفعلا

Taqwa, yaitu dalam ketaatan yang bermakna keikhlasan, dan dalam kemaksiatan bermakna meninggalkan serta berhati-hati. Ada pula yang mengatakan bahwa taqwa adalah menjaga adab-adab syariat. Dan ada yang mengatakan bahwa taqwa adalah meneladani Nabi Muhammad SAW., dalam ucapan dan perbuatan.

MALU

(والحياء) وهو نوعان : نفساني وهو الذي خلقه الله تعالى في النفوس كلها كالحياء من كشف العورة والجماع بين الناس ، وإيماني وهو أن يمنع المؤمن من فعل المعاصى خوفا من الله تعالى

Malu, yang terbagi menjadi dua jenis:

1). Malu yang bersifat naluriah, yaitu yang diciptakan Allah dalam setiap jiwa manusia, seperti (malu membuka aurat, malu tidak kerja, malu tidak konsisten, dlsbg) di hadapan orang lain.

2). Malu yang bersifat keimanan, seperti (melakukan maksiat, minum minuman keras, berbuat curang dlsbg) karena takut kepada Allah SWT.

SHABAR

(والصبر ) وهو ترك الشكوى من ألم البلوى لغير الله تعالى

Sabar, yaitu menahan diri untuk tidak mengeluh atas penderitaan dan cobaan kepada selain Allah SWT.

SYUKUR

(والشكر ) وهو الثناء على المحسن بذكر احسانه فالعبد يشكر الله أى يثنى عليه بذكر احسانه الذي هو نعمة

Syukur, yaitu memuji orang yang berbuat baik dengan menyebutkan kebaikannya (berterima kasih). Maka seorang hamba bersyukur kepada Allah, adalah dengan memuji-Nya dan menyebutkan kebaikan-Nya yang berupa nikmat.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga manfaat dan kita bisa menjadikan diri kita sebagai orang-orang yang senantiasa memiliki motivasi untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Sehingga Allah SWT selalu melindungi dan menjaga kita untuk tetap dalam keadaan sejahtera dalam iman dan Islam tetkala menghadapi setiap peristiwa dan fenomena.

Mencintai Nabi Muhammad SAW sepanjang waktu

Empat belas abad yang lalu Rasulullah SAW انتقل الى رفيق الاعلا, umat yang sekarang tidak pernah melihat fisik dan bagaimana Nabi hidup. Umat sekarang hanya mewarisi cerita-cerita kemuliaan Nabi lewat haditsnya dan cerita para sahabat-sahabatnya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam mahfudhot disebutkan “مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ ذِكْرُهُ” “siapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan sering mengingatnya atau menyebutnya.”

Sepanjang sejarah kehidupannya, Nabi Muhammad SAW., mendedikasikan hidupnya untuk menegakkan agama Alloh dan mendidik umatnya, tentang Kepedulian, dan Rosululloh Muhammad SAW sangat mencintai kita: Kecintaannya kepada kita ditunjukkan hingga akhir hayatnya, menjelang terpisahnya roh dari jasad yang terlintas dari benaknya hanyalah umatnya, bukan keluarganya, apalagi hartanya.

Dalam kitab shahih Imam Ibn Hibban diriwayatkan, bahwa Nabi berdo'a kepada Allah: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنَبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ، مَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ “Ya Allah, ampunilah ‘Aisyah, seluruh dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dosanya yang terlihat dan yang tersembunyi,” (HR Ibn Hibban). واللهِ إنَّها لَدعائي لِأُمَّتي في كلِّ صلاةٍ “Demi Allah, itulah doaku untuk umatku setiap sholat,” (HR Ibn Hibban).

Firman Alloh dalam QS. Al-Taubah 128: لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالـمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat meningginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Kepedulian dan kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada kita sangat luar biasa, dunia dan akhirat. Maka sungguh merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk mencintai beliau, karena mencintai beliau pada hakikatnya adalah mencintai Allah SWT.: قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ Katakanlah (Muhammad), apabila kalian mengakui mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (QS. Ali Imron 31).

Nabi Muhammad SAW merupakan utusan Allah yang diperintahkan untuk membimbing umat manusia, menegakkan keadilan, menyempurnakan akhlak dan meng-Esakan Alloh SWT.

Lalu bagaimana cara umat yang sekarang ini agar tetap selalu mencintai Rasululloh SAW.,? Tidak hanya sekedar mengingatnya tetapi mejadikannya sebagai sosok yang kita diidolakan.

Pertama: Ikuti Sunnahnya, Rosululloh SAW bersabda: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ "Tidak sempurna keimanan seseorang sehingga menjadikan aku (Muhammad) lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia" (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua: Baca dan Pahami Sejarah Hidupnya, Melalui Al-Qur'an, Hadist dan Syirohnya nabi serta bergaulah dengan orang orang soleh, ikut ngaji.

Ketiga: Membaca sholawat kepada-Nya, Sholawat selain untuk menimbulkan kecintaan, juga sebagai balas budi atas kebaikan dan keutamaan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita, Firman Alloh:إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْما “sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat kalian dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzâb : 56).

Keempat, Meneladani Akhlaknya Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW berarti berusaha meniru dan menerapkan nilai-nilai luhur yang beliau tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad saw diutus bukan hanya sebagai penyampai wahyu, tetapi juga sebagai teladan akhlak yang sempurna. Hal ini sebagaimana yang diwahyukan dalam QS. Al-Qalam ayat 4: وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Nabi SAW bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad).

Meneladani akhlak Nabi adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semakin kita meniru beliau, semakin mulia karakter kita di mata manusia dan Allah SWT. Sifat-sifat Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam kitab Aqidatul Awam أَرْسَلَ أَنْبِيَا ذَوِي فَطَانَهُ بِالصِّدْقِ وَالتَّبْلِيغِ وَالْأَمَانَهُ Allah telah mengutus para nabi yang memiliki (sifat) cerdas, jujur, menyampaikan dan dipercaya, yang tidak hanya menjadi ciri khas beliau, tetapi juga pedoman bagi kita semua dalam menjalani kehidupan: FATHONAH: Cerdas; Inovatif, SHIDiQ: Jujur; Serius, TABLIGH: Menyampaikan, Memberi Pemahaman; Komunikatif, AMANAH: Dapat dipercaya; Akuntable.

Kelima, membela agama Islam. Membela agama Islam adalah salah satu bentuk nyata dari cinta kepada Nabi Muhammad SAW., Orang yang benar-benar mencintai Nabi tidak hanya cukup dengan ucapan, tetapi membuktikannya lewat sikap dan tindakan dalam menjaga ajaran yang beliau bawa. Membela Islam berarti menjaga ajaran dan nilai-nilai yang Nabi Muhammad SAW., perjuangkan sepanjang hidupnya.

Membela Islam di zaman sekarang, terutama di negara yang merdeka dan damai seperti Indonesia, tidak cocok dengan senjata perang, apa lagi sampai menentengnya di jalan raya. Membela Islam di negeri ini bisa dengan menjaga ajarannya, memperbaiki akhlak masyarakatnya, dan memperbanyak menimba ilmu bagi generasi muda.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Hakikat cinta yang sejati menurut Imam Ghazali adalah kenikmatan cinta yang berasal dari penglihatan non fisik (batin), yakni kenikmatan hati. Kenikmatan hati yang disebabkan telah mengetahui perkara-perkara ilahiah yang mulia dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera merupakan sesuatu yang lebih mulia, lebih sempurna, dan lebih besar kenikmatannya.

Dengan demikian, meskipun kita atau siapa saja tidak sezaman, dan tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad, para sahabatnya, atau kalangan salafus sholeh, bukan berarti tidak bisa mendapatkan kenikmatan untuk mencintainya. Justru, meskipun mereka tidak bisa ditangkap dengan panca indera, kenikmatan untuk mencintainya akan tetap diperoleh, melalui kebaikan-kebaikan, sifat-sifat, serta ajaran-ajarannya.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Adapun manfaat mencintai Nabi bagi seorang mukmin diantaranya adalah, akan dikumpulkan bersamanya, meskipun ibadah-ibadah yang dilakukannya tidak sesempurna seperti ibadah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad, diceritakan ada seorang Arab Badui bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan kiamat datang? Rasulullah berkata: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Orang Arab Badui itu menjawab: “Aku tidak mempersiapkan banyak shalat-shalat dan puasa untuk menghadapi kiamat, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah bersabda: Almaru ma’a man ahabba (Seseorang akan bersama orang yang dicintainya).

Dalam QS an-Nisa ayat 69 Allah SWT berfirman: وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa [4]: 69).

Tsauban adalah budaknya Rasulullah SAW. Tsauban sangat mencintai Nabi, ia tidak kuat berlama-lama berpisah dengan Nabi. Ketika diceritakan tentang akhirat, ia sangat khawatir tidak dapat bersama Rasulullah SAW di surga, karena pastinya Nabi akan bersama-sama dengan para nabi yang lain. Tsauban pun khawatir dan cemas jika tidak bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW lagi, terlebih ketika Nabi Muhammad SAW wafat.

Ayat ini menginsyaratkan kepada kita bahwa dahsyatnya perasaan cinta akan menjadikan seseorang yang mencintai itu akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang dicintainya. Rosululloh Muhammad SAW bersabda: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ Dalam riwayat lain menyebutkan: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Bahwa menaati dan mencintai Nabi Muhammad SAW harus disertai dengan rasa cintanya dalam melaksanakan ajaran-ajarannya yang kemudian dibuktikan dengan kesholehan pribadi maupun sosial. Meskipun ibadah yang kita lakukan tidak akan sesempurna seperti ibadahnya Nabi SAW., paling tidak dengan mencintai Nabi Muhammad SAW, ibadah-ibadah yang kita lakukan akan bernilai tinggi. Inilah harapan kita semua.