Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Fadhilah Burdah

Keutamaan dan Cara mengamalkan Qasidah Burdah.

Qasidah Burdah sangat mujarab untuk pemenuhan hajat dan berbagai kepentingan.

Salah satu shalawat yang sangat masyhur di Indonesia adalah shalawat atau Qasidah Burdah. Syair yang berisi pujian-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW., pesan moral, nilai spiritual dan semangat perjuangan, yang sering dibaca saat memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Qasidah Burdah juga sering menjadi bacaan rutin di pondok pesantren dan di tengah masyarakat. Qasidah Burdah disusun oleh ulama yang sangat tersohor alim, sufi, dan sangat mencintai Rasulullah SAW., yaitu Imam al-Bushiri.

Kecintaan Imam al-Bushiri kepada Rasulullah saw sangat tampak dalam syair-syair Qasidah Burdah. Di dalamnya tidak hanya menjelaskan bagaimana cara meningkatkan spiritual dan moral, namun juga mengajarkan hakikat cinta yang sebenarnya kepada Rasulullah saw, sekaligus pengakuan bagi umat Nabi Muhammad saw dalam hal tidak punya amalan apapun yang dapat diandalkan tanpa mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Biografi Singkat Penyusun: Imam al-Bushiri bernama lengkap Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Ia lahir di desa Dalas, salah satu desa Bani Yusuf di dataran tinggi Mesir pada 609 H. Al-Bushiri kecil kemudian tumbuh di Bushir, desa asal ayahnya. Nisbat atau sebutan al-Bushiri menunjuk pada desa tersebut. Al-Bushiri wafat pada tahun 696 H, ketika berumur 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil ‘Abbas al-Mursi di kota Iskandaria, Mesir.

Sejak kecil al-Bushiri dididik ilmu Al-Qur’an oleh ayahnya secara langsung. Ia besar dari keluarga yang sangat mencinta ilmu. Tidak heran jika ia kemudian menjadi sosok ulama yang sangat alim. Selain dari ayahnya, al-Bushiri juga mengembara untuk mencari ilmu kepada para guru. Di antara gurunya adalah Syekh Abul ‘Abbas al-Mursi, ulama yang dikenal sebagai wali qutb dan murid kesayangan Imam Abu Hasan as-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah. (‘Ali al-Qari, az-Zibdah fî Syarhil Burdah, [Turki, Hidâyatul ‘Ârifîn: 1991], halaman 13; dan Muhammad Yahya, al-Burdah Syarhan wa I'râban, [Damskus, Dârul Bairuti: 1999], halaman 6). 

Semangatnya dalam mencari ilmu menjadikan al-Bushiri sebagai ulama yang sangat alim sekaligus menjadi sufi dan sastrawan. Bukti dari keluasan ilmunya bisa dilihat dari berbagai karyanya, yaitu al-Hamziyyah, al-Haiyyah, al-Daliyyah, Qasîdahtul Mudhriyyah dan Tahdzîbul Fâdil A’miyyah. Namun yang paling terkenal adalah al-Kawâkibud Duriyyah fî Madhi Khairil Bariyyah yang lebih populer disebut dengan nama Qasidah Burdah.

Kemasyhuran Qasidah Burdah tidak lepas dari peran penulisnya yang sangat ikhlas dan penuh kecintaan disertai harapan syafaat kepada Rasulullah saw, sehingga menjadikan tulisannya sangat dikenal dan selalu menggema di belahan dunia. Bahkan Qasidah Burdah tidak hanya menjadi bahan bacaan, namun juga menjadi salah satu kitab yang banyak disyarahi oleh ulama. Di antara ulama yang mensyarahinya adalah, Syekh Ali al-Qari, Imam al-Baijuri, Syekh Badruddin Muhammad al-Ghazi dan ulama lainnya.

Sejarah Qasidah Burdah: Dalam Muqaddimah Syarhul Burdah karya Imam al-Baijuri diceritakan, penulisan Qasidah Burdah bermula ketika Imam al-Bushiri menderita sakit lumpuh. Ia tidak dapat melakukan apa pun, hanya berdiam tanpa dapat melakukan apa-apa. Akhirnya Imam al-Bushiri mengisi kekosongan waktunya dengan menulis pujian-pujian indah tentang Nabi Muhammmad SAW., dengan harapan agar mendapatkan syafaat darinya, sebagaimana dijelaskan:

رُوِيَ أَنَّهُ أَنْشَأَ هَذِهِ الْقَصِيْدَةَ حِيْنَ أَصَابَهُ فَالِجٌ، فَاسْتَشْفَعَ بِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى. وَلَمَّا نَامَ رَأَى النَّبِي فِي مَنَامِهِ، فَمَسَحَ بِيَدِهِ الْمُبَارَكَةِ بَدَنَهُ فَعُوْفِيَ

Artinya, “Diriwayatkan sesungguhnya Imam al-Bushiri menggubah Qasidah Burdah ini ketika sedang menderita sakit lumpuh, kemudian ia memohon syafaat kepada Allah SWT., dengannya. Lalu ketika tidur, beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW., kemudian Nabi Saw mengusap badan al-Bushiri dengan tangan yang penuh berkah, dan setelah itu al-Bushiri pun sembuh.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, [Mesir, Maktabah ash-Shafa: 2001], halaman 3).

Setelah bangun dari tidurnya dalam kondisi sehat, banyak orang mendatangi rumahnya, dan kemudian berkata: “Wahai Tuanku, saya berharap Engkau bisa memberikan qasidah yang di dalamnya ada pujian kepada Rasulullah.”

“Qasidah mana yang Engkau kehendaki?”, jawab Imam al-Bushiri.

“Qasidah yang diawali dengan syair ‘amin tadzakkuri jirânin”, kata mereka.

Kemudian Imam al-Bushiri memberikannya. Setelah itu, banyak orang mengambil berkah darinya sekaligus menjadikannya sebagai wasilah untuk kesembuhan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Baijuri, bukan berarti memohon keselamatan dan kesehatan dengan lafal-lafal yang ada dalam Qasidah Burdah dan menganggapnya memiliki otoritas untuk menyembuhkan penyakit, namun murni bertawassul kepada Rasulullah saw dengan perantara Qasidah Burdah. Lebih lanjut Imam al-Baijuri menegaskan:

أَصْبَحَ النَّاسُ يَتَبَرَّكُوْنَ بِهَا وَيَسْتَشْفِعُوْنَ بِهَا، عَلَى أَنَّ الْاِسْتِشْفَاءَ بِهَا لَيْسَ اسْتِشْفَاءً بِأَلْفَاظِهَا، وَاِنَّمَا هُوَ اِسْتِشْفَاءً بِرَسُوْلِ اللهِ

Artinya, “Banyak orang mengambil berkah Qasidah Burdah dan memohon syafaat dengannya, berdasarkan prinsip bahwa permohonan syafaat dengannya bukan dengan lafal-lafalnya, akan tetapi hupada hakikatnya adalah memohon syafaat dengan Rasulullah saw.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, halaman 4).

Kelebihan qasidah yang satu ini dibandingkan dengan qasidah lain terletak dari cara penyusunannya. Imam Al-Bushiri tidak hanya menulis pujian-pujian yang ditunjukkan kepada Rasulullah saw dan peningkatan spiritualitas kepada Allah, namun juga menjelaskan kelahiran Rasulullah SAW., mukjizat-mukjizat Al-Qur’an, nasab dan keturunan Rasulullah SAW., mengingatkan manusia dari bahaya hawa nafsu, menceritakan Isra’ Mi’raj, menjelaskan jihad dan peperangan Rasulullah saw, juga menjelaskan tawasul dan permohonan syafaat, kemudian ditutup dengan munajat dan ungkapan perasaan hina di hadapan Allah SWT.

Sholawat Burdah adalah selawat berisi syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW., serta mengandung nilai spiritual, pesan moral dan semangat perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Berikut ini akan dijabarkan bacaan Sholawat Burdah, mulai dari lirik Arab, latin, arti dan keutamaanya.

Bacaan Sholawat Burdah Beserta Artinya Dikutip dari buku berjudul Rahasia Sehat Berkah Shalawat oleh M. Syukron Maksum, Sholawat Burdah ditulis oleh Imam Busyiri.

Imam Busyiri merupakan seorang penyair asal Mesir. Sholawat Burdah tercipta saat Imam Al Bushiri menderita kelumpuhan dan kemudian bertemu dengan Nabi Muhammad di dalam mimpi.

Di Indonesia, Sholawat Burdah dinyanyikan oleh para pelantun selawat terkenal seperti Hadad Alwi, Veve Zulfikar, hingga Sulis.

Simak bacaan Sholawat Burdah lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya berikut ini.

Sholawat Burdah:

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ

(Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat dan keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk)

ِأَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِی سَلَم ِمَزَجْتَ دَمْعََا جَرَی مِنْ مُّقْلَةِِ بِدَم

(Aраkаh kаrеnа teringat tetаnggа уаng tіnggаl di "Dzі Salam". Sehingga engkau сuсurkаn airmata bеrсаmрur dаrаh уаng mеngаlіr dari matamu).

اَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ گاظِمَةِِ ِوَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِی الظَّلمَاءِ مِنْ إِضَم

(Ataukah kаrеnа tiupan angin kеnсаng уаng bеrhеmbuѕ dаrі аrаh "Kаzhіmаh". Atаu kаrеnа sinar kіlаt yang mеmbеlаh kеgеlараn mаlаm dari Gunung "Idhаm")

فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَاهَمَتَا ِوَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِم

(Mengapa saat kau tahan air matamu ia tetap basah? Dan mengapa pula saat kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah?)

ٌأَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِـم ِمَا بَيْنَ مُنْسَجِمِِ مِّنْهُ وَمُضْطَرِم

(Apakah sang kekasih mengira bahwa tersembunyi cintanya. Di antara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora).

لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمعاً عَلٰى طَلَلٍ وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَـمِ

(Jika bukan karena cinta tidak akan kau tangisi puing-puing rumahnya. Dan tidak akan pula kau begadang untuk mengingat pohon Ban dan gunung, dekat rumah orang yang engkau cintai yakni Nabi Muhammad.)

ْفَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَت بِهٖ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ

(Dapatkah engkau pungkiri cintamu, sedang air mata dan derita telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta?)

وَأَثْبَتَ الْوَجد خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنَى ِمِثْلُ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَم

(Kesedihanmu menimbulkan dua garis tangis yang kurus lemah. Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah)

ْنَعَمْ سَرٰى طَيْفُ مَنْ أَهْوى فَأَرَّقَنِي وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ

(Benar! Ia terlintas di dalam mimpiku, hingga aku susah tidur. Cintaku menghalangiku dari berbagai bentuk kenikmatan karena rasa sakit yang ku derita)

ِيَا لَائِمِيْ فِى الْهَوَى الْعُذْرِيِّ مَعْذِرَة مني إليك ولو أنصفت لم تلمِ

(Wahai para pencaci gelora cintaku! Izinkan aku memohon maaf kepadamu. Namun seandainya kau bersikap adil, niscaya engkau tidak akan mencela diriku)

عَدَتْكَ حَالِيَ لَا سِرِّيْ بِمُسْـتَتِرِِ عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِيْ بِمُنْحَسِمِ

(Kini kau tahu keadaanku. Bahkan rahasiaku tidak bisa tertutupi lagi bagi para pemfitnah yang mau merusak cintaku. Sedangkan penyakitku tak juga kunjung sembuh).

مَحَضْتَنِى النُّصْحَ لٰكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهٗ إنّ الْمُحِبِّ عَنِ الْعُذَّالِ فِيْ صَمَمِ

(Begitu tulus nasihatmu, akan tetapi aku tak kan pernah mendengarnya karena telinga sang pecinta tuli bagi para pencaci).

إنِّى اؐتَّهَمْتَ نَصِيْحَ الشَّيْبِ فِيْ عَذَلِيْ وَالشَّيْبُ أبْعَدُ فِيْ نُصْحِِ عَنِ التُّهَمِ

(Akupun menuduh ubanku turut serta mencercaku. Padahal ubanku pastilah tulus dalam memperingatkanku)

Keutamaan Membaca Sholawat Burdah. Membaca Sholawat Burdah diyakini dapat mengingatkan kita pada sosok Nabi Muhammad SAW dan segala perjuangannya, sehingga membuat hati terasa lebih tenang.

Selain itu, terdapat beberapa keutamaan yang bisa didapatkan dari membaca serta mengamalkan selawat ini dalam kehidupan sehari-hari yakni sebagai berikut.

Mujarab sebagai obat dari berbagai macam penyakit, Terhindar dari gangguan setan, jin, santet dan hal-hal gaib lainnya, Meningkatkan keimanan dan rasa cinta kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW., Segala permohonan doa akan terkabul, Sebaiknya dibaca ketika menempati rumah baru agar terbebas dari gangguan jin, Menjadi benteng pelindung bagi rumah, pondok dan desa dari marabahaya, Melindungi tempat yang jarang dihuni dari gangguan jin atau setan pengganggu.


Demikian yang dapat kami sajikan, Semoga bermanfaat.

Syari'at, Thoriqoh, Hakikat dan makrifat

Pada tulisan ini, kita akan membahas apa itu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat. Izinkan kami menggunakan bahasa ala milenial.

Pertama, supaya lebih mudah ngerti kita coba ilustrasikan dulu, Ya. Imam Nawawi Al-Bantani, seorang ulama asal Banten yang menjadi mahaguru ulama-ulama di Nusantara, memberikan analogi dalam Kitab Maraqi Al-Ubudiyyah bi Syarhi Bidayah Al-Hidayah sebagai berikut:

“Sebagian ulama memberikan permisalan bahwa syariah itu ibarat perahu, thoriqah ibarat lautan, dan hakikat Ibarat mutiara. Seseorang tidak akan mendapat mutiara kecuali dari lautan dan tidak bisa mengarungi lautan tanpa perahu”.

“Sebagian ulama memberikan permisalan dari ketiganya ibarat kelapa. Syariat itu ibarat kulit luarnya. Thoriqah itu ibarat daging buah kelapa. Hakikat itu ibarat minyak yang ada dalam daging buah”

Analogi tersebut juga ada dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhaju Al-Ashfiya’ Karya Sayyid Bakri bin Muhammad Syatho Al-Dimyati. Perahu itu sebagai sebab untuk mencapai tujuan, dan penyelamat dari tenggelam. Lautan itu tempat tujuan (mutiara) tersebut berada. Sehingga, mutiara enggak akan bisa ditemukan kecuali di dasar lautan dan enggak akan bisa mengarungi lautan tanpa perahu.

Gimana sudah faham analoginya? Oke, kita lanjut ke pengertian dan korelasi dari syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Menurut Syeikh Ahmad bin Ajibah dalam Mi’raju At-Tasyawwuf Ila Haqaiq At-Tasawwuf, syariat adalah pembebanan pada aspek-aspek dzahir. Tarekat adalah memperbaiki aspek-aspek batin untuk mempersiapkan terbitnya cahaya- cahaya hakikat. Hakikat adalah penyaksian (musyahadah) terhadap Al-Haq di dalam manifestasi (tajalli-tajalli) yang dzahir. Syariat itu untuk memperbaiki aspek dzahir. Tarekat itu untuk memperbaiki aspek batin. Hakikat itu menghiasi ruh (sarair).

Kayaknya tambah mumet aja, Nih. Ya sudah, kongkritnya begini, kalian beribadah melakukan yang wajib, dan sunnah, dan meninggalkan yang makruh dan haram. Itu semua adalah ranah syariat (pada aspek dzahir). Lalu, kalian masuk thoriqah mengamalkan wirid dan suluk untuk penyucian jiwa (nafs) dengan bimbingan guru mursyid. Itu adalah thoriqah. Jika Allah memberikan anugrah maka kalian akan mendapat cahaya-cahaya hakikat, berupa penyingkapan (mukasyafah) dan penyaksian (musyahadah) Al-Haq.

Gimana udah agak ngerti? Oke kita lanjut. Untuk ngebahas makrifat, mari kita simak penjelasan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dalam Kitab Sirru Al-Asrar. Makrifat adalah ilmu batin. Makrifat dapat terwujud setelah hilangya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati (qalbu) dan terus berupaya membersihkannya hingga dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam (kanzu al-makhfiyy) di dalam sir-lub-qolbu (Banyak istilah-istilah yang susah dimengerti ya? Jangan khawatir insyaAllah kita akan bahas di tulisan tersendiri untuk pembahasan qolbu, lub, dan sir).

Sebagai penutup, masih dalam Sirru Al-Asrar bahwa manusia itu terdiri dari dua bagian, jasmani (bagian umum) dan ruhani (bagian khusus). Jasmani manusia bisa kembali ke tempat asalnya jika ia mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, dan ma’rifat. Ruhani bisa kembali ke tempat asalnya sebab mengamalkan ilmu hakikat.

Semoga kita semua menjadi bagian hamba-hamba Allah yang mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat.


Wallahu a’lam