Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Amalan Arofah dan Malam Iedul Adha

Amalan Arofah dan Malam Iedul Adha

Sholat Arofah: Sholat sunah ini dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah dan waktunya diantara Zhuhur sampai Ashar sebanyak 4 Rakaat (dua kali salaman).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى يَوْمَ عَرَفَةَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ : فَاتِحَةَ الْكِتَابِ مَرَّةً، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ خَمْسِينَ مَرَّاتٍ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَرَفَعَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ وَيُزَوِّجُهُ اللهُ بِكُلِّ حَرْفٍ فِي الْقُرْآنِ حَوْرَاء Bahwa: Rasulullah S.A.W. bersabda: "Barangsiapa yang mengerjakan shalat pada hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijjah) waktunya diantara Zhuhur sampai Ashar sebanyak empat rakaat (dua salaman), setiap rakaatnya membaca: Surat Al-Fatihah (1 kali) dan Surat Al-Ikhlash (50 kali), maka Allah akan memberikan kepada orang tersebut sejuta kebaikan dan pada tiap-tiap hurufnya, Allah swt. akan mengangkat satu derajat untuk setiap huruf (yang ia baca) di dalam surga, dimana jarak antara derajat satu dengan yang lain sejauh perjalanan 500 tahun, dan Allah akan memberi tiap-tiap huruf al-Quran (yang dibaca) dengan imbalan bidadari."

Niat Sholat Arofah: أُصَلِّي سُنَّةً لِيَوْمِ عَرَفَةَ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا / إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى Wirid dan Dzikir Setelah Sholat Arofah: لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ × ۱۰۰ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ × ۱۰۰ سُوْرَةُ الْإِخْلَاصِ ×۱۰۰

Sholat Malam Idul Adha: Sholat sunnah ini dikerjakan dua rakaat dan dikerjakan pada malam Hari Raya Qurban (Idul Adhha). مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النَّحْرِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةِ: بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً؛ فَإِذَا سَلَّمَ قَرَأَ أَيَةَ الْكُرْسِيَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ الْعَظِيمَ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، جَعَلَ اللَّهُ إِسْمَهُ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ، وَغَفَرَ لَهُ ذُنُوبَ السِّرِّ وَذُنُوبَ الْعَلَانِيَةِ وَكَتَبَ لَهُ بِكُلِّ أَيَةٍ قَرَأَهَا حَجَّةً وَعُمْرَةً، وَكَأَنَّمَا أَعْتَقَ سِتَّيْنَ رَقَبَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَإِنْ مَاتَ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمْعَةِ الْأُخْرَى مَاتَ شَهِيدًا "Barangsiapa yang mengerjakan shalat dua rakaat pada malam nahr (Idul Adiha) yang setiap rakaatnya membaca: Surat Al Fatihah (15 kali), Surat Al Ikhlash (15 kali), Surat Al Falaq (15 kali), Surat An Naas (15 kali) dan setelah salam membaca: Ayat Kursi (3 kali) dilanjutkan dengan Istighfar (15 kali). Maka Allah akan menjadikan nama orang tersebut sebagai golongan orang-orang penghuni surga, lalu Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang samar maupun dosa-dosa yang jelas, serta Allah mencatat pahala orang tersebut setiap ayat yang dibaca seperti pahala haji dan umroh, dan orang tersebut seperti memerdekakan 60 budak dari keturunan Nabi Ismail, dan apabila orang tersebut meninggal pada waktu antara melakukan salat tersebut sampai seminggu berikutnya, maka ia termasuk golongan orang yang mati syahid."

Niat Sholat Lailatun Nahri : أُصَلِّي سُنَّةً لِإِحْيَاءِ لَيْلَةِ النَّحْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُومًا / إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

Sunah mangisi malam hari raya dengan ibadah. Niat Sholat bisa dengan Sholat Mutlaq/ diisi dzikir/membaca Sholawat.


Sumber: kitab Al-Qiro li Qoshid Umm al-Quro, 406-424

Kebaikan yang tidak pernah putus

Hidup ini hanyalah sementara. Setiap kita pasti akan berangkat meninggalkan dunia dan menuju kehidupan kekal di akhirat. Oleh karena itu, seorang Muslim yang cerdas adalah yang menyiapkan bekal yang terus mengalir pahalanya, meskipun telah tiada.

Suatu ketika Ibnu Umar Ra., berkata, Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu seorang Anshor (yatsrib) mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ "Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik? قَالَ: أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا Rasul bersabda, Yang paling baik akhlaknya. Kemudian bertanya lagi, فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ Lalu mukmin manakah yang paling cerdas? قَالَ Beliau bersabda, أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا Yang paling banyak mengingat kematian وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian, أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ Itulah orang² yang paling cerdas" (HR. Ibnu Majah).

Alloh SWT berfirman: أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسْجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلْجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ ٱلنَّاسِ "Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang melata dan sebagian besar daripada manusia?" Al-Hajj ayat 18

  1. Seluruh alam tunduk kepada Allah: Semua makhluk baik yang hidup maupun benda langit seperti matahari dan bintang digambarkan “bersujud” kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa seluruh ciptaan berada dalam aturan dan kehendak-Nya.
  2. Sujud bukan hanya manusia: “Sujud” di sini tidak selalu berarti sujud seperti manusia saat salat, tapi bisa bermakna ketaatan total terhadap hukum Allah (sunatullah) misalnya matahari terbit teratur, pohon tumbuh, dan hewan hidup sesuai nalurinya.
  3. Manusia punya pilihan: Ayat ini menyebut “banyak manusia” (bukan semua), artinya: Ada manusia yang taat dan bersujud kepada Allah. Ada juga yang tidak, karena manusia diberi kebebasan memilih.
  4. Untuk sadar dan tunduk: Ayat ini mengajak manusia untuk berpikir: jika seluruh alam tunduk kepada Allah, maka manusia seharusnya lebih sadar untuk ikut tunduk dan beribadah.

Maka, Dengan menjadikan masa depan setelah kematian (akhirat) adalah alasan terbesar, ini secara otomatis akan membuahkan pencapaian² luar biasa ketika masih di dunia.

Lalu apa yang musti kita siapkan mumpung masih berada di Dunia?

Rasulullah SAW bersabda: إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم) "Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya"

Hadits ini menjadi pedoman bagi kita untuk mencari amal yang pahalanya tidak terputus.

Pertama: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ Sedekah Jariyah; Seperti misalnya membangun Masjid, Pesantren, Madrasah, Fasilitas umum, dan Menanam pohon yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kita sering mengeluh tentang bencana, tapi jarang mau menanam solusi. Padahal satu langkah kecil akan bisa menjadi amal yang besar. Satu pohon yang kita tanam hari ini bisa menyelamatkan generasi di masa yg akan datang. Satu pohon yang tumbuh bisa menjadi saksi bahwa kita pernah berbuat sesuatu untuk bumi yang kita pijak ini.

Rasulullah bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan itu bisa datang dari hal sederhana tapi berdampak luas. Menanam itu bukan hanya kegiatan duniawi, tetapi adalah investasi akhirat. Selama ada makhluk yang mengambil manfaat dari apa yang kita tanam, selama itu pula pahala terus mengalir.

Disebutkan dalam kitab درة الناصحين karya Syaikh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, berkata, Bahwa: إِنَّ فِي الصَّدَقَاتِ خَمْسَ خِصَالٍ Sesungguhnya di dalam sedekah terdapat lima perkara اَلْأُولَى: تَزِيْدُهُمْ فِي أَمْوَالِهِمْ Menambah keberkahan pada harta merekaالثَّانِيَةُ: دَوَاءٌ لِلْمَرَضِ Menjadi obat bagi penyakit الثَّالِثَةُ: يَرْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمُ الْبَلَاءَ Allah Ta’ala mengangkat bala (musibah) dari mereka الرَّابِعَةُ: يَمُرُّوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ Mereka melewati shirath (jembatan) seperti kilat yang menyambar الْخَامِسَةُ: يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ Mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Kedua: أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ Ilmu yang Bermanfaat Mengajarkan ilmu agama, menulis, atau menyebarkan ilmu yang diamalkan oleh orang lain.

Maka, Mulailah dari hal kecil. Mengajarkan satu ayat, membantu sesama, atau mendidik anak dengan baik, semua itu bisa menjadi investasi akhirat yang tidak pernah putus.

Nabi SAW bersabda: كن عالماً أو متعلماً أو مستمعاً أو محباً ولا تكن الخامس فتهلك "Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang mencintai, dan jangan engkau menjadi orang yang kelima, (menolak) maka kamu celaka"

Ketiga: أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ Anak Sholeh yang Mendo'akan Orang Tuanya (Didikan yang baik akan melahirkan anak yang baik sehingga terus Mendo'akan orang tuanya setelah wafat).

Selain tiga hal tersebut, setiap kebaikan yang kita lakukan dengan niat ikhlas juga dapat menjadi sebab pahala yang terus mengalir, selama manfaatnya dirasakan oleh orang lain.

Jangan sampai kita hanya sibuk mengumpulkan harta dunia, tetapi lupa menanam amal jariyah untuk akhirat. Harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan, tetapi amal kebaikan akan terus mengikuti kita.

Karenanya, Mari kita membangun tradisi mencintai ilmu dan gigih belajar agar kita berhasil dalam menjalani kehidupan, sehingga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.

Kembalikan urusan pada Posisinya

Dalam kitab Syu'abul Iman, Sayyidina Ali bin Abi Tholib Ra. berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, bahwa: الدُّنْيَا حَلَالُهَا حِسَابٌ Dunia ini halalnya adalah hisab وَحَرَامُهَا عِقَابٌ dan haramnya adalah siksa" Artinya; Harta di dunia ini, yang halal saja akan dihisab, apalagi yang haram, jelas hisabnya dan jelas pula siksanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali diperhadapkan pada berbagai macam tantangan² yang memerlukan solusi agar cepat bisa keluar dari zona keterpurukan.

Bagaimana Caranya agar bisa keluar dari zona keterpurukan: Ada tiga M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental (spiritual) yang kuat, dan Misi yang lurus (ikhlas). Tanpa ketiganya, semua cita-cita, niat dan rencana hanya akan berhenti sebagai mimpi. dalam kitab kitab Lathaiful Isyarat jilid 1 halaman 266: حَقُّ التَّقْوَى أَنْ يَكُونَ عَلَى وَفْقِ الْأَمْرِ لَا يَزِيدُ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ وَلَا يَنْقُصُ "Hakikat takwa adalah mengikuti perintah (Allah) tanpa menambah atau mengurangi sesuai dengan hawa nafsu sendiri."

Dan Ini bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tapi apakah tujuan hidup kita sudah benar dalam pandangan Alloh SWT? Karenanya: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ Maka, اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Kejarlah dunia secukupnya dan raihlah ridho Alloh seutuhnya.

Artinya: Dalam hal dunia kita disuruh "Jalan", tapi untuk urusan akhirat Alloh menyuruh kita "Lari" didalam Al-Quran Alloh SWT sudah menginstruksikan hal ini lantaran Ada rahasia "kecepatan" yang selama ini kita abaikan.

Kita sering terbalik untuk kepentingan Dunia yang sudah dijamin وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا (هود: ٦) "Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya"

Tapi kita sering Berlari (menghabiskan waktu) sampai burnout (lelah jiwa, raga, dan tekanan yang berkepanjangan) hingga lupa ibadah. Tapi untuk Allah (urusan akhirat) yang kita berharap mendapatkan ridha-Nya, kita justru jalan santai (tenang masih mudah, masih lama dlsb), menunda-nunda, dan sering telat.

Urusan Sholat: "bersegeralah" فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ "maka bersegeralah kamu mengingat Allah" (QS. Al-Jumu'ah: 9). Allah menggunakan kata فَاسْعَوْا artinya bukan jalan santai, tapi melangkah dengan serius, penuh niat, prioritas tinggi (kesusu, bergegas).

Urusan Rezeki (sandang, pangan, papan): "berjalanlah" فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا "Maka berjalanlah di segala penjurunya..." (QS. Al-Mulk: 15). Allah menggunakan kata فَامْشُوا yang artinya jalan santai. Sebab: Rezeki itu sudah dijamin. Cukup jemput dengan sewajarnya, jangan sampai lari lalu kemudian kehilangan arah.

Alloh SWT mengingatkan kita bahwa: اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُۗ Allah melonggarkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yg dikehendaki وَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ dan Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ padahal kehidupan Dunia dibanding dengan akhirat hanyalah kesenangan sesaat.

Maka Kembalikan Posisinya AKHIRAT (di hati) karena Al-Qur'an mendidik kita agar tidak meletakkan DUNIA di atas segalanya.

Dunia cukup di kaki (dijalani), akhirat harus di hati (dikejar). "Barangsiapa mengejar akhirat, dunia akan datang berlutut di kakinya."

Urusan Allah (Zakat, Qurban, Haji, sedekah dlsbg "Wajib/Sunnah) : "larilah!" فَفِرُّوا إِلَى اللهِ "Maka berlarilah kamu menuju Allah (QS. Adz-Dzariyat: 50).

Kata فَفِرُّوا Ini lari dengan level kecepatan tertinggi. yang berarti lari dengan kecepatan penuh (gass pool) seperti orang yang sedang dikejar bahaya dan mencari perlindungan paling aman.

Urusan Ampunan: "berlombah²lah" وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ "Dan bersegeralah (berlomba-lombalah) menuju ampunan Tuhanmu..." (QS. Ali-Imran: 133).

Kata سَارِعُوا yang berarti bergegaslah dalam berkompetisi artinya Jangan mau kalah sama orang lain dalam urusan tobat dan surga, maka Kecepatannya musti naik lagi.

Alhasil: Dunia memiliki porsi Akhirat adalah hisab yang pasti, karenanya kembalikan seluruh urusan pada posisi yang dikehendaki Alloh SWT., sebagaimana sabdanya Nabi, اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Kejarlah dunia secukupnya dan raihlah ridho Alloh seutuhnya.

Media Penghapus Dosa

Dalam kehidupan ini, tidak ada manusia yang luput dari dosa, maksiat dan kesalahan. Siang dan malam kita berbuat khilaf, baik sengaja maupun tidak, besar maupun kecil. Karena itu, Islam mengajarkan banyak jalan (waktu) untuk membersihkan dosa² kita.

Di antara sekian banyak amalan, ada tiga amalan istimewa yang erat dengan bulan (Harom) Dzulhijjah, yaitu: Puasa, Qurban dan Silaturahim, Ketiga amalan ini bukan hanya bernilai ibadah (vertikal dan horizontal), tetapi juga menjadi media penghapus dosa.

Puasa (Tarwiyah dan Arofah): Penghapus Dosa, Puasa Tarwiyah dan Arofah adalah kesempatan emas untuk merengkuh rahmatnya Alloh SWT. Ada riwayat yang menyatakan bahwa: صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ Puasa Tarwiyah menghapus dosa setahun, وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ dan Puasa Arofah menghapus dosa dua tahun (Al-Ishfahani dan Ibnu Najar).

Rosululloh bersabda: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ "Dengan berpuasa di Hari Arafah, saya berharap Allah akan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya" (s.muslim).

Maksud hadis tersebut dijelaskan oleh Syekh Ibnu Allan: ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻐﻔﺮاﻥ ﻣﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ إﻣﺎ اﻟﻌﺼﻤﺔ ﻋﻦ ﻣﻼﺑﺴﺘﻪ ﺃﻭ ﻭﻗﻮﻋﻪ ﻣﻐﻔﻮﺭا ﺇﻥ ﻭﻗﻊ Yang dimaksud dengan ampunan dosa yang akan datang ada kalanya diberi perlindungan melakukan dosa tersebut atau orang tersebut mendapatkan ampunan jika melakukan dosa (Dalil Al-Falihin Syarah Riyadh As-Shalihin)

Tentu yang dimaksud ampunan dosa adalah dosa-dosa kecil. Sementara untuk dosa besar ada tata cara taubat tersendiri.

Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Hanya dengan satu atau dua hari puasa, Allah menjanjikan pengampunan Dosa.

Puasa Tarwiyah dan Arafah mengajarkan kepada kita tentang: menahan hawa nafsu, melatih kesabaran, memperbanyak dzikir dan doa, meningkatkan ketakwaan.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, لَيْسَ مِنْ الْجُوْع وَالْعَطْش tetapi juga menjaga lisan, menjaga hati, nafsu (amarah dan lawamah) dan menjaga perilaku.

Maka jangan sampai kita berpuasa, tetapi masih gemar menyakiti orang lain, memfitnah, atau bermusuhan. Karena hakikat puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

Qurban: Bukti Ketaatan dan Keikhlasan, Ibadah qurban adalah syiar mulia yang mengajarkan pengorbanan dan keikhlasan. Kita diingatkan pada kisah Nabi Ibrahim As. yang rela mengorbankan putranya demi menaati perintah Allah SWT.

Ibrohim Berkata:, قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ Anakku, sesungguh aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ Pikirkanlah apa pendapatmu? قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ Ismail menjawab: Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu! سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang² sabar"

Qurban adalah latihan untuk mencintai sesama. Qurban adalah sarana untuk menumbuhkan empati. Qurban adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Allah SWT berfirman: اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak (wamabikum min ni'matin faminalloh), فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!

Qurban bukan hanya menyembelih hewan. Yang paling penting adalah ketakwaan dan keikhlasan hati.

Allah SWT berfirman: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ "Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya" (QS. Al-Hajj: 37) Dari ayat ini kita menjadi tahu bahwa inti dari ibadah qurban adalah ketakwaan dan keikhlasan.

Melalui Qurban, kita belajar tentang: menghilangkan sifat cinta dunia yang berlebihan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan berbagi kebahagiaan (fakir, miskin, keluarga, tetangga dan kolega).

Saat daging qurban dibagikan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, di situlah tumbuh rasa persaudaraan dan kasih sayang bersama masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda: ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ "Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.” (HR. Tirmidzi)

Dari Hadits ini kita menjadi tahu bahwa empati, berbagi, kepedulian adalah kunci untuk mendapatkan rahmat-Nya Allah SWT. Sekaligus menjadi penghapus dosa ketika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat.

Silaturahim: Membuka Pintu Rahmat dan Ampunan, Banyak dosa terjadi karena rusaknya hubungan antar manusia: pertengkaran, dendam, iri hati, hasud dan memutus hubungan.

Rasulullah SAW bersabda: لايَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعَ رَحِمٍ "Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim"

Silaturahim memiliki keutamaan yang sangat besar: memperpanjang umur, melapangkan rezeki, mendatangkan keberkahan, dan menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Dalam hadis disebutkan: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahim"

Kadang ada keluarga yang lama tidak saling menyapa. Ada saudara yang bermusuhan bertahun-tahun hanya karena masalah dunia. Maka momentum Idul Adha dan Dzulhijjah ini hendaknya menjadi kesempatan untuk saling memaafkan.

Jangan menunggu orang lain meminta maaf terlebih dahulu. Jadilah orang yang memulai kebaikan.

Karena bisa jadi dosa kita kepada Allah lebih mudah diampuni daripada kesalahan kita kepada sesama manusia yang belum diselesaikan.

Mari kita manfaatkan hari² ini dengan memperbanyak amal soleh. Jadikan: Puasa (Tarwiyah dan Arofah) sebagai sarana membersihkan diri, Qurban sebagai bukti keikhlasan, empati dan ketulusan serta Silaturahim sebagai jalan mempererat ukhuwah, dengan itu, mudah-mudahan Alloh berkenan menghapus dosa kita.

Gelorakan Sholawat kepada Nabi SAW

Gerakan Sholawat adalah salah satu solusi akhir zaman demi Menyelamatkan diri dari Berbagai Fitnah dan Kekisruhan, sangat tepat jika di bulan robiul awal ini Lebih menfokuskan diri dengan shalawat.

Ditambah Telah Banyak Para Guru Rohani Di Wafatkan Pada Tahun Ini, Tentu Akan Membuat Keadaan Semakin Tak Menentu. Dengan Pikiran Yang Jernih, Kita Harus Segera Melakukan Pembentengan Diri Dari Berbagai Ancaman Kerusakan Lahir (badan) Dan Bathin (hati).

Terutama Menumbuhkan Lagi Kekuatan Spritual Diri Dengan Mengamalkan Amalannya Para Aslafus Sholeh, Salah Satunnya Yakni Memperbanyak Istighfar Dan Bacaan Sholawat. Dimana Hal Tersebut, Juga Menjadi Perkara Yang Di Anjurkan Dalam Islam.

Sebagaimana Hujjah Para Aslafuna Sholeh:

أَقْرَبُ الطُرُقِ إِلَى اللهِ فِي أَخِرِ الزَمَانِ خُصُوصًا عَلَى المُسْرِفِ كَثْرَةُ الإِسْتِغْفَارِ والصَلاَةِ عَلَى النَبي صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jalan Yang Paling Dekat Menuju Kepada Allah SWT, Di Akhir Zaman Khususnya Bagi Mereka Yang Bergelimang Dosa Adalah Dengan Memperbanyak Istighfar Dan Bersholawat Untuk Nabi Muhammad SAW.

وَمِنْ أَعْظَمِ الوَصَلِ التَعَلُّقِ بِصِفَاتِ وبِكَثْرَةِ الصَلاَةِ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan seagung-agungnya Jalan (Wushul) Adalah (Ta'alluq) Menyandarkan Diri Dengan Sifat Sang Kekasih Allah SWT, Yaitu Dengan Cara Memperbanyak Bersholawat Untuk Nabi Muhammad SAW.

في آخر الزمان يفقد الشيخ المربي فالصلاة على النبي تقوم مقام الشيخ المربي في إيصال المريد إلى الله

Di Akhir Zaman, Jumlah Murrabbi (Guru Rohani) Akan Terus Menyusut (Berkurang) Karena Itu Bersholawat Kepada Nabi Muhammad SAW, Dapat Dijadikan Sebagai Pengganti Kedudukan Murrabbi (Guru Rohani) Bagi Seorang Murid Dalam Mencapai Wushul Illa Allah.

لِأَنَّ السَنَدَ وَالشَيْخَ صَاحِبُهَا...

Sesungguhnya, Sanad (Mata Rantai Sholawat) Dan Guru (Pembimbing Rohani Para Pembaca Sholawat) Adalah Pemilik Sholawat Itu Sendiri, Yakni Tiada Lain Adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Bahkan Barang Siapa Bersholawat Kepada Nabi Muhammad SAW Dengan Disertai Adab Yang Bagus Dan Penuh Kekhusyukan, Maka Allah SWT Akan Membalas Bersholawat Kepadanya.

Bayangkan, Betapa Beruntungnya Manusia Awam Seperti Kita, Mendapat Anugerah Sholawat-Nya Allah SWT, Karena Sebab Membaca Sholawat Untuk Kekasih-Nya, Nurul Musthofa SAW.

Kesimpulannya, Pada Akhir Zaman Ada Golongan Umat Dimana Mereka Bukan Nabi, Bukan Rasul, Bukan Wali Bukan Ulama Dan Bukan Hamba Yang Sholeh, Namun Sesungguhnya Mereka Berhak Mendapat Sholawat-Nya Allah SWT.

Siapakah Mereka? Tiada Lain Adalah Para Ahli Sholawat Yang Senantiasa Tidak Lelah Menyambungkan Hatinya Kepada Sang Baginda Nabi Muhammad SAW. Dengan Perantara Sholawat Yang Terus Menerus Mereka Baca.

Trik Retorika Rapat agar Pendapatmu Didengar di Lingkungan Sosial

Di dunia yang penuh dengan suara dan informasi seperti sekarang, memiliki pendapat saja tidak cukup. Tantangannya adalah bagaimana membuat suara Anda menonjol dan didengarkan, baik dalam rapat kerja, diskusi dengan teman, atau bahkan dalam percakapan di media sosial. Retorika, seni berbicara yang persuasif, adalah kuncinya. Berikut adalah trik-triknya yang bisa Anda terapkan segera.

  1. Mulailah dengan Hook yang Memikat Lima detik pertama Anda berbicara menentukan apakah orang akan mendengarkan atau mengabaikan Anda. Hindari kalimat klise seperti, "Menurut saya...". Sebaliknya, mulailah dengan pertanyaan provokatif, statistik mengejutkan, atau pernyataan yang relate dengan audiens. Misalnya, "Pernah nggak sih merasa waktu kita habis untuk rapat yang tidak produktif? Data menunjukkan kita kehilangan 70% waktu kerja karena hal ini. Hari ini, saya punya satu solusi sederhana."
  2. Rumuskan Pesan Anda dengan Struktur yang Jelas Otak manusia menyukai keteraturan. Sampaikan pendapat Anda dengan struktur yang mudah diikuti. Salah satu formula terbaik adalah Problem-Solution-Benefit. Pertama, jelaskan masalah yang semua orang hadapi (buat mereka setuju dengan Anda). Kedua, tawarkan ide atau solusi Anda sebagai jawabannya. Ketiga, gambarkan keuntungan jelas yang akan mereka dapatkan jika solusi Anda diterapkan. Ini membuat argumen Anda logis dan mudah dicerna.
  3. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Konkret Hindari jargon dan bahasa yang terlalu teknis. Semakin mudah sebuah ide dipahami, semakin besar kemungkinan orang menerimanya. Ganti kata-kata abstrak dengan gambaran yang nyata. Alih-alih mengatakan, "Kita perlu mengoptimalkan efisiensi operasional," coba katakan, "Mari kita persingkat proses ini dari lima langkah menjadi dua langkah, sehingga kita semua bisa pulang lebih cepat."
  4. Manfaatkan Kekuatan Storytelling Cerita adalah perekat yang membuat ide Anda melekat di benak orang lain. Orang mungkin lupa data, tetapi mereka akan ingat cerita. Saat memberi pendapat, selipkan cerita singkat tentang pengalaman pribadi, pelanggan, atau bahkan studi kasus yang relevan. Cerita memberikan bukti emosional dan konteks yang membuat argumen Anda tidak mudah dilupakan.
  5. Sesuaikan Gaya Bahasa dengan Media yang Digunakan Cara Anda menyampaikan pendapat di grup WhatsApp akan sangat berbeda dengan di rapat Zoom atau di kolom komentar Instagram. Di chat grup, gunakan kalimat pendek, poin-poin, dan emoji untuk menyampaikan nada. Dalam rapat virtual, pastikan suara Anda jelas dan gunakan fitur "raise hand". Menyesuaikan gaya menunjukkan kecerdasan komunikasi sosial Anda.
  6. Akuilah Keberatan dan Sudut Pandang Lain Retorika yang kuat bukan tentang memaksakan pendapat, tapi tentang membujuk. Tunjukkan bahwa Anda telah mempertimbangkan sisi lain. Gunakan frasa seperti, "Saya memahami kekhawatiran tentang budget, dan itu valid. Mari kita lihat bagaimana solusi ini justru bisa menghemat biaya dalam jangka panjang." Ini membuat Anda terlihat objektif dan kolaboratif, bukan hanya ingin menang sendiri.
  7. Akhiri dengan Call to Action yang Spesifik Jangan biarkan pendapat Anda mengambang. Tutup dengan permintaan atau langkah selanjutnya yang sangat jelas dan dapat ditindaklanjuti. Alih-alih, "Ya, kira-kira begitu pendapat saya," coba katakan, "Jadi, langkah yang saya usulkan adalah A dan B. Apakah kita bisa komit untuk mencobanya minggu depan? Siapa yang bisa mendukung?" Ini mengubah pembicaraan menjadi aksi.

Intinya, retorika bukan tentang menjadi yang paling keras atau paling banyak bicara. Ini tentang berbicara dengan lebih cerdas, lebih empatik, dan lebih terstruktur. Dengan melatih trik-trik ini, Anda tidak hanya akan didengar, tetapi juga dihargai.

Jenis hati dan sifat-sifatnya

Dalam Al-Qur'an, disebutkan berbagai jenis hati dengan sifat-sifatnya yang menunjukkan kedekatan atau jauhnya seseorang dari Allah.

1. Hati yang Selamat (القلب السليم)

Hati yang tulus kepada Allah, bersih dari kekufuran, kemunafikan, dan dosa: إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (QS. Asy-Syu'ara: 89).

2. Hati yang Bertobat (القلب المنيب)

Hati yang selalu kembali kepada Allah, penuh taubat, dan patuh kepada-Nya: مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (QS. Qaf: 33).

3. Hati yang Tunduk (القلب المخبت)

Hati yang khusyuk, tenang, dan patuh kepada Allah: فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ (QS. Al-Hajj: 54).

4. Hati yang Takut (القلب الوجل)

Hati yang khawatir jika amalannya tidak diterima dan takut akan azab Allah: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (QS. Al-Mu'minun: 60).

5. Hati yang Bertakwa (القلب التقي)

Hati yang menghormati dan memuliakan syiar-syiar Allah: ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (QS. Al-Hajj: 32).

6. Hati yang Diberi Petunjuk (القلب المهدي)

Hati yang ridha dengan takdir Allah dan berserah kepada-Nya: وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ (QS. At-Taghabun: 11).

7. Hati yang Tenang (القلب المطمئن)

Hati yang merasa damai dengan mengingat Allah: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (QS. Ar-Ra'd: 28).

8. Hati yang Hidup (القلب الحي)

Hati yang memahami dan mengambil pelajaran dari peringatan Allah: إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ (QS. Qaf: 37).

9. Hati yang Sakit (القلب المريض)

Hati yang dihinggapi penyakit seperti keraguan, kemunafikan, atau cinta pada maksiat: فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ (QS. Al-Ahzab: 32).

10. Hati yang Buta (القلب الأعمى)

Hati yang tidak dapat melihat kebenaran atau mengambil pelajaran: وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (QS. Al-Hajj: 46).

11. Hati yang Lalai (القلب اللاهي)

Hati yang lalai dari Al-Qur'an dan sibuk dengan urusan duniawi: لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ (QS. Al-Anbiya: 3).

12. Hati yang Berdosa (القلب الآثم)

Hati yang menyembunyikan kebenaran dan menolak menyampaikan kesaksian yang benar: وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ (QS. Al-Baqarah: 283).

13. Hati yang Sombong (القلب المتكبر)

Hati yang tinggi hati, tidak mau tunduk kepada kebenaran, dan sering berlaku zalim: قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ (QS. Ghafir: 35).

14. Hati yang Keras (القلب الغليظ)

Hati yang tidak memiliki kasih sayang atau kelembutan: وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ (QS. Ali Imran: 159).

15. Hati yang Tertutup (القلب المختوم)

Hati yang tidak bisa menerima petunjuk dan tertutup dari hidayah: خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ (QS. Al-Baqarah: 7).

16. Hati yang Keras Membatu (القلب القاسي)

Hati yang tidak terpengaruh oleh peringatan atau kebenaran: وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً (QS. Al-Ma'idah: 13).

17. Hati yang Lalai (القلب الغافل)

Hati yang berpaling dari mengingat Allah dan lebih memilih hawa nafsu: وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا (QS. Al-Kahf: 28).

18. Hati yang Tertutup Rapat (القلب الأغلف)

Hati yang tertutup dan tidak dapat menerima nasihat atau kebenaran: وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ (QS. Al-Baqarah: 88).

19. Hati yang Menyimpang (القلب الزائغ)

Hati yang condong kepada kebatilan dan menjauh dari kebenaran: فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ (QS. Ali Imran: 7).

20. Hati yang Ragu (القلب المريب)

Hati yang diliputi keraguan dan kebimbangan: وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ (QS. At-Taubah: 45).

Itulah dua puluh macam hati yang disebutkan di dalam Al Qur'an, dan marilah kita berdo'a dengan Do'a berikut: اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا سَلِيمَةً مُطْمَئِنَّةً، وَامْلَأْهَا بِالإِيمَانِ وَالْيَقِينِ. اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِنَا إِلَى الْحَقِّ، وَوَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Ciri Wali Allah dalam Al Qur'an

Ciri-ciri Wali Allah dalam Al Qur'an:

  1. Tidak pernah merasa khawatir dan tidak pernah merasa susah أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ "Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati" (QS. Yunus: 62)
  2. Menetapi keimanan dan selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa" (QS. Yunus: 63)
  3. Selalu Istiqomah dan ikhlas dalam ketaatan dan mengikuti tuntunan Nabi إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Fushshilat : 30)
  4. Lebih memilih kematian dari pada kehidupan إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ "Jika kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar" (QS. Al Jumuah: 6)

Nasihat Sunan Kalijaga

DASA PITUTUR (10 Nasihat Sunan Kalijaga)

  1. Urip Iku Urub. Hidup itu Nyala! Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara. Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
  3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti. Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
  4. Ngluruk tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake, Sekti tanpa Aji-Aji, Sugih tanpa Bandha. Berjuang tanpa perlu membawa massa; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kekayaan atau kekuasaan, keturunan; kaya tanpa didasari kebendaan.
  5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan. Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri! Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu!
  6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman. Jangan mudah terheran-heran! Jangan mudah menyesal! Jangan mudah terkejut-kejut! Jangan mudah kolokan atau manja!
  7. Aja Kethungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman. Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi!
  8. Aja Kuminter Mundhak Keblinger, Aja Cidra Mundhak Cilaka. Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah! Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka!
  9. Aja Melik Barang kang Melok, Aja Mangro Mundhak Kendho. Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah! Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat!
  10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna. Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti!

Membersihkan Kuburan

Sebagai anak tetap dapat berbakti kepada orang tua sepeninggal mereka. Anak2 itu dapat menziarahi makam kedua orang tua. Ziarah ke makam kedua orang tua memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana riwayat berikut ini.

وَقَدْ رَوَى الْحَكِيمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدِيهِ 

Artinya, “Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dgn keadaan marfu’, ‘Siapa saja yang menziarahi sekali makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap Jumat, niscaya Allah mengampuninya dan ia tercatat sebagai anak yg berbakti kepada keduanya,’” (Lihat Al-Bujairimi, kitab Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573). .

Kedatangan anak dgn ziarah ke makam kedua orang tua saja sudah cukup. Alangkah baiknya di sana mereka mengkhatamkan Al-Qur’an atau membaca beberapa surat dalam Al-Qur’an sebagaimana riwayat berikut ini.

وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا فَقَرَأَ عِنْدَهُ يَس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً وَحَرْفًا وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ كَحَجَّةٍ

Dan dalam satu riwayat, siapa pun yang mengunjungi kuburan orang tuanya atau salah satu dari mereka setiap hari Jumat dan membaca Surah Ya-Sin dan Al-Qur'an di sana, dia akan diampuni untuk setiap ayat dan huruf yang dibacanya. Dan dalam riwayat lain, siapa pun yang mengunjungi kuburan orang tuanya atau salah satu dari mereka pada hari Jumat, itu seperti dia telah melaksanakan ibadah haji.

Membersihkan kotoran, sampah, daun2 kering atau merapikan rerumputan yg tumbuh secara berlebihan, atau menghilangkan rerumputan yg sudah mati yg ada di areal makam adalah sesuatu yg sudah diketahui kebaikan atau kemaslahatannya. 

Hal itu sesuai dengan keindahan yg disukai Allah dan rasul-Nya, dan bagian dari pengamalan hadits “kebersihan itu adalah sebagian dari iman”. 

Namun ada satu riwayat dalam kitab I’anah at Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Syatho ad Dimyathi (1849-1892 M) yang mengatakan:

ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار

Dalam redaksi kitab di atas, Imam Abu Bakar Muhammad Syatho ad Dimyathi mempunyai pendapat bahwa tidak boleh mencabut rumput yg masih segar. Namun, kalau hanya merapikan masih boleh misalkan rumputnya terlalu rimbun atau sudah mati. Karena tumbuh2an tersebutlah yg mendoakan si mayit.

Jadi sebaiknya, kita sapu kotoran sampah area makam, kita rapikan saja rumput2 itu dgn gunting, arit, atau benda tajam lainnya. Yang masih segar biarkan, karena yg penting adalah merapikan, karena kebersihan dan kerapian adalah sebuah bentuk kemaslahatan.

Oleh karena itu, tradisi ini baik untuk dilakukan kapan saja seperti tradisi yang berkembang di masyarakat. Oleh karenanya perbuatan tsb kembali pada hukum asal; yakni mubah (boleh). Lebih2 bila dalam membersihkan kuburan tersebut ada manfaat.

Prinsip kepemimpinan

Pelajaran dari Al Qur'an An Naml 18: حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ "Hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya."

  1. Nabi Sulaiman menghentikan tentaranya ketika mendengar suara Ratu semut, Begitulah seoorang pemimpin yang bijak, ia mendengarkan keluhan sayup dari rakyatnya yang lemah, yang tinggal di daerah-daerah terpencil.
  2. Nasihat dari seekor semut kecil bisa menjadi sebab keselamatan bangsanya, Jangan pernah meremehkan nasihat dari orang kecil, karena ia bisa menjadi penentu keselamatan sebuah bangsa.
  3. Meskipun bahaya sedang mengancam koloni semut, Ratu semut tetap memberi udzur kepada tentara Sulaiman bahwa para tentara tidak meyadari keberadaan koloni mereka, begitulah pemimpin yang berjiwa besar, ia akan selalu mencari pembenaran dan berprasangka baik terhadap orang lain.

Prinsip-prinsip kepemimpinan dalam Islam mengedepankan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemandirian. Keadilan dan kepastian hukum menjadi landasan utama dalam sistem pemerintahan Islam, yang mengatur hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Selain itu, kesejahteraan dan keseimbangan sosial juga menjadi tujuan utama dalam kepemimpinan Islam. Negara dalam Islam memiliki fungsi utama dalam melindungi dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Selain itu, negara juga bertanggung jawab atas penyelenggaraan ibadah dan pendidikan, serta pembinaan kesejahteraan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Umat Islam memiliki peran yang sangat penting dalam membangun negara yang baik menurut Islam. Mereka harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, berpartisipasi aktif dalam pembangunan, dan menegakkan keadilan dan kepastian hukum dalam masyarakat.

Beberapa contoh negara yang dianggap baik menurut Islam adalah Kerajaan Islam Madinah di zaman Rasulullah SAW, model pemerintahan di zaman Khalifah Umar bin Khattab, dan prinsip-prinsip kepemimpinan dalam kerajaan Islam Andalusia. Ketiga contoh tersebut menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip Islam yang dapat di implementasikan secara efektif dalam pembangunan negara.

  1. Kerajaan Islam Madinah pada Zaman Rasulullah SAW: Pada zaman Rasulullah SAW, terbentuklah sebuah negara Islam pertama, yaitu Kerajaan Islam Madinah. Negara ini didirikan atas dasar prinsip-prinsip Islam yang kuat, dengan Rasulullah SAW sebagai pemimpinnya. Madinah menjadi pusat pengembangan Islam dan pusat pemerintahan yang berbasis syariah. Contoh konkret dari kebaikan negara ini adalah penetapan Konstitusi Madinah, yang menjadi landasan bagi hubungan antara umat Muslim dan non-Muslim, serta antara suku-suku yang ada di Madinah. Konstitusi ini menjamin kebebasan beragama, keadilan sosial, dan kerjasama antarwarga Madinah. Rasulullah SAW juga mengatur sistem keuangan yang adil, di mana zakat dan wakaf digunakan untuk membantu kaum miskin dan membangun infrastruktur. Prinsip-prinsip keadilan dan kebersamaan menjadi landasan utama dalam pembangunan negara ini.
  2. Model Pemerintahan di Zaman Khalifah Umar bin Khattab: Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu pemimpin yang adil dan tegas dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinannya, negara Islam berkembang pesat dan mencapai kejayaan yang gemilang. Khalifah Umar mengimplementasikan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh aspek kehidupan negara. Salah satu contoh konkret dari kepemimpinan Umar bin Khattab adalah penetapan sistem pengadilan yang adil dan transparan. Beliau memastikan bahwa hukum-hukum Islam ditegakkan dengan adil bagi seluruh rakyat, tanpa membedakan status sosial atau suku bangsa. Selain itu, Khalifah Umar juga mengatur sistem distribusi kekayaan yang merata, dengan mengimplementasikan zakat dan wakaf secara efektif. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan sosial dan memastikan bahwa semua warga negara mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan yang layak.
  3. Prinsip-prinsip Kepemimpinan dalam Kerajaan Islam Andalusia: Kerajaan Islam Andalusia di Spanyol merupakan salah satu contoh negara Islam yang dianggap baik dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinan Dinasti Umayyah, Andalusia menjadi pusat kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan perdagangan yang makmur. Salah satu contoh konkret dari kebaikan negara ini adalah pengembangan sistem pendidikan yang canggih. Pemerintah memberikan dukungan penuh bagi pengembangan ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang membuat Andalusia menjadi pusat pembelajaran yang terkenal di dunia. Selain itu, kerajaan ini juga dikenal karena menghormati dan melindungi hak-hak minoritas agama, seperti Yahudi dan Kristen. Hal ini mencerminkan prinsip-prinsip toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang dijunjung tinggi dalam Islam.

Ketiga contoh di atas menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip Islam dapat diimplementasikan secara efektif dalam pembangunan negara. Keadilan, keadilan, dan kesejahteraan menjadi landasan utama dalam membangun negara yang baik menurut Islam.

Dalam Islam, negara yang baik adalah negara yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Penting bagi umat Islam untuk terus berusaha membangun negara yang adil, sejahtera, dan berkeadilan sesuai dengan ajaran Islam.

Apakah Ada (tiga) kriteria pemimpin yang dapat mewujudkan kemaslahatan bernegara? (selain sifawajib nabi: Sodiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah) adalah:

  1. Memiliki kompetensi pengetahuan yang luas, sehingga mampu menghadirkan, menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam program-program positif yang membawa dampak baik yang bersifat keberlanjutan.
  2. Memiliki sifat Adil, terbuka, bijak dan tentu pemimpin yang mau bekerjasamaاَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ "Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada taqwa"
  3. Memahami ilmu fiqih siyasah sehingga dengan ilmu ini, pemimpin akan dapat memanfaatkan peta politik untuk kemaslahatan bangsa dan negara secara berkelanjutan.

Didalam QS. Al-Fath ayat 18: لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ “Sungguh, Allah telah meridhoi orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,”

Perjanjian tersebut dilakukan di Hudaibiyah, mereka melakukan bai'at kepada Nabi untuk setia dan tidak lari dari peperangan. Yang dimaksud dengan isi hati mereka adalah rasa kejujuran dan kesetiaan.

Dalam konteks politik, ayat ini menunjukkan persetujuan dan keridhoan Allah terhadap kesepakatan yang dibuat Nabi SAW dengan musuh-musuhnya. Ayat ini mengajarkan pentingnya kesetiaan dan kepercayaan dalam politik, serta keyakinan bahwa kesetiaan kepada Allah SWT akan membawa kemenangan dalam jangka panjang. (tapi kalau pemimpin jauh dari Alloh jauh dari agama jauh dari nasihat ulama' ya tunggu saja rusaknya).

Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ghazali dalam karya monumentalnya beliau telah mengingatkan kepada kita semua bahwa: Rusaknya rakyat bergantung pada para pemimpinnya ففساد الرعيه بفاساد الملك maka pemerintah dalam hal ini pemimpin tidak boleh jauh dari nasihat (agama dan ulama').

Menyambut bahagia awal Dzulhijjah

Hari ini adalah awal dari bulan Dzulhijjah, bulan yang istimewa, agung, bulan yang mulia, bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan.

Pergantian bulan bagi orang beriman bukan sekadar pergantian angka. Tetapi menjadi pengingat bahwa umur kita terus berjalan, tanpa terasa, usia kita semakin dekat kepada akhir perjalanan.

Imam Hasan Al-Bashri (Hilyatul Awliya’) mengatakan: ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ "Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu" (manfaatkan waktu sebaik mungkin)

Karena itu para salafusoleh sangat memperhatikan datang dan perginya waktu, Sebab mereka sadar bahwa waktu adl kehidupan.

Dzulqa'dah dan Dzulhijjah adalah termasuk bagian dari Asyhurul Hurum, yaitu bulan² yang dimuliakan Allah. إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36).

Disebut bulan haram karena bulan² ini memiliki kehormatan dan kemuliaan di sisi Allah. Pada bulan² ini, amal soleh lebih dicintai Allah, dan dosa serta kedholiman lebih besar akibatnya. Karena itu Allah melanjutkan firman-Nya: فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ "Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu"

Artinya jangan kotori bulan mulia ini dengan laku maksiat dan dosa, Jangan biasakan lisan dengan menghasut, ghibah dan fitnah. (toxic menimbulkan permusuhan, kebencian, sehingga dapat mengakibatkan putusnya ikatan silaturahim) لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ Tuhan tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang. Dan Jangan biasakan remehkan sholat, Jangan gampang gampang menyakiti sesama. Karena hati yang terus dibiasakan dengan dosa akan perlahan kehilangan kepekaan.

Awalnya dosa terasa berat. Lama-lama menjadi biasa. Awalnya meninggalkan sholat terasa menyesal. Lama-lama hati tidak lagi merasa bersalah. Inilah yang harus ditakutkan oleh seorang mukmin.

Dzulhijjah adalah Bulan yang memiliki banyak keutamaan (Kanzu an-Najah wa as-Surur), ada sebuah riwayat bahwa Abu Utsman pernah berkata: كَانُوا يُفَضِّلُونَ ثَلَاثَ عَشَرَاتٍ: العَشْرَ الأول مِنْ ذِي الحِجَّةِ، وَالعَشْرَ الأول مِنَ المُحَرَّمِ، وَالعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ "Mereka (orang² saleh) lebih mengutamakan tiga macam sepuluh hari: sepuluh hari pertama Dzulhijjah, sepuluh hari pertama Muharram, dan sepuluh hari terakhir Ramadan"

Bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan yang lebih besar daripada dua waktu mulia lainnya. Sebab, di dalamnya terdapat Hari Tarwiyah, Hari Arafah, dan Hari Nahr atau Iduladha.

Bulan yang di dalamnya terdapat ibadah haji, salah satu rukun Islam terbesar. Bulan yang di dalamnya terdapat hari Tarwiyah (merupakan hari ke8 Dzulhijah yang mempunyai makna berpikir atau merenung. Karenanya, hari Tarwiyah identik dengan keadaan berpikir dan merenung tentang peristiwa yang masih dipenuhi keraguan"nabi Adam disuruh membangun rumah,-mimpinya nabi Ibrohim"), Arofah, (Arofah berasal dari kata i’tiraf "pengetahuan") hari pembebasan dari api neraka يُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَها لَهُمْ Imam Fakhruddin Ar-Razi mengatakan: bahwa orang² yang berdosa ketika bertobat di tanah Arafah, mereka telah terlepas dari kotoran² dosa, dan berusaha dengan (ibadah)nya di sisi Allah sehingga akan menjadi jiwa yang harum (terbebas dari dosa dan kesalahan).

Bulan yang di dalamnya terdapat ibadah Qurban sebagai syiar tauhid dan penghambaan kepada Allah. Dan istimewanya lagi bahwa di dalam Dzulhijjah terdapat sepuluh hari pertama yang merupakan hari² terbaik sepanjang tahun. Rasulullah SAW bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ "Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini" (HR. Bukhari) Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?" Nabi SAW menjawab: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ "Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun" (HR. Bukhari)

Dari Hadis ini kita bisa memahami bahwa betapa istimewanya sepuluh hari pertama Zulhijjah. Sampai-sampai amal soleh pada hari-hari itu lebih utama daripada jihad fi sabilillah. Padahal jihad adalah amal yang sangat mulia dalam Islam, Amal yang membutuhkan pengorbanan jiwa, harta, tenaga, bahkan nyawa. Namun Rasulullah SAW menjelaskan bahwa keutamaan amal pada sepuluh hari Dzulhijjah tidak dapat dikalahkan oleh amal apa pun, kecuali jihadnya seorang mujahid yang keluar membawa jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali pulang karena gugur syahid di jalan Allah.

Hari-hari yang di dalamnya pahala dilipatgandakan. Hari-hari yang dipenuhi dzikir, takbir, ibadah, sedekah dan amal saleh. Karena itu para ulama menganjurkan agar setiap muslim mempersiapkan dirinya untuk: Mulailah dengan memperbaiki sholat. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Perbanyaklah istighfar dan taubat. Perbanyak sedekah dan amal kebaikan. Maka Hidupkan malam²nya dengan Tahajjud, Qiyamullail, Sholat malam dan ditutup dengan witir. Hiasi siang harinya dengan puasa. Hidupkan rumah-rumah kita dengan Takbir, Tahmid dan Tahlil. Karena takbir adalah syiar pengagungan kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda: فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ "Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid" (HR. Ahmad)

Dan amalan yang paling istimewa di bulan Dzulhijjah adalah puasa Arofah. Rasulullah SAW bersabda: أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ "Aku berharap kepada Allah agar puasa Arofah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang" (HR. Muslim)

Maka jangan sia-siakan kesempatan besar ini, bila Allah memberikan kelapangan rezeki, maka berqurbanlah. Karena hakekat Qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Tetapi sebagai bentuk ketundukan, kepatuhan dan ketaatan kita kepada Allah.

Allah SWT berfirman: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ "Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya" (QS. Al-Hajj: 37)

Boleh jadi ini Dzulhijjah terakhir dalam hidup kita. Tidak ada satu pun dari kita yang tahu apakah tahun depan masih bisa kembali bertemu dengan hari-hari mulia seperti ini. Rasulullah SAW: اَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : اَلْمَوْتِ

Karena itu jangan tunda taubat. Jangan tunda memperbaiki diri. Jangan tunda untuk mendekat kepada Allah. Jangan tunda berbuat kebaikan Sebab orang yang paling cerdas bukanlah yang paling banyak hartanya, tetapi yang paling siap bekalnya untuk akhirat.

Rosulullah juga mengingatkan kita bahwa: ٱلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ "Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengendalikan/introspeksi) dirinya untuk kehidupan setelah kematian"

Hadist ini yang mengajarkan pentingnya muhasabah (introspeksi). Maksudnya, orang yang benar-benar cerdas bukan hanya pintar dalam urusan dunia, tetapi juga mampu: mengevaluasi diri, menahan hawa nafsu, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah dunia.

Hidup di dunia ini sifatnya sementara, Kita harus mempersiapkan bekal akhirat, Kecerdasan sejati adalah kecerdasan spiritual dan moral, bukan sekadar kecerdasan duniawi, karena ان الدنيا حلالها حساب وحرامها عقاب

Bahaya hati yang jauh dari Alloh SWT

Al-An'am 110 وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ "Alloh SWT akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) serta Alloh membiarkan mereka bingung dalam kesesatan"

Hati yang jauh dari Allah SWT., itu seperti tanah yang kering dan tandus, tidak ada kesuburan dan kehidupan di dalamnya. Sama halnya hati kita ketika jauh dari Alloh, maka kita akan rentan terhadap godaan hawa nafsu dan tipu daya setan, sehingga kita mudah melakukan perbuatan² tercela dan terjerumus dalam kehinaan.

Syekh Abi Bakr Syatto' dalam Kifayatul Atqiya, mengatakan: ‎لَا يَنَالُ خَيْرًا عَاجِلًا وَلَا آجِلًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَلَا يُدْفَعُ شَرٌّ عَاجِلًا وَلَا آجِلًا ظَاهِرًا وَلَا بَاطِنًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلأَوَّلِينَ وَالأَخِرِينَ "Tidaklah seseorang memperoleh kebaikan yang segera maupun yang akan datang kecuali dengan takwa. Dan tidaklah seseorang dapat menolak kejahatan yang segera maupun yang akan datang, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, kecuali dengan takwa. Takwa adalah wasiat Allah bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang."

Karena itu dalam pandangan ulama' takwa itu terbagi menjadi dua bagian.

Pertama Takwa Lahir, yaitu taqwa yang mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT yang tampak secara lahiriah, seperti shalat, puasa, zakat, sedekah, dan berbagai bentuk amalan lainnya. Termasuk juga menjauhi larangan-larangan Allah SWT., seperti meninggalkan zina, menjauhi minuman beralkohol, judi, korupsi, serta berbagai perbuatan tercela lainnya.

Kedua Takwa batin. adalah upaya menjaga kebersihan, kesucian dan kemurnian hati melalui amalan-amalan hati, yang mencakup perkara-perkara perintah syariat, seperti ikhlas, ridho, sabar, syukur, dan sifat-sifat terpuji lainnya, yang mencakup perkara-perkara larangan syariat, seperti berburuk sangka, iri, dengki, dendam, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Ada Empat Ciri Orang yang Telah berTaubat sebagaimana disebutkan dalam Tanbihul Ghofilin: وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ إِنَّمَا تُعْرَفُ تَوْبَةُ الرَّجُلِ فِي أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: أَحَدُهَا أَنْ يُمْسِكَ لِسَانَهُ مِنَ الْفُضُولِ وَالْغِيبَةِ وَالْكَذِبِ. وَالثَّانِي أَنْ لَا يَرَى لِأَحَدٍ فِي قَلْبِهِ حَسَدًا وَلَا عَدَاوَةً. وَالثَّالِثُ: أَنْ يُفَارِقَ أَصْحَابَ السُّوءِ. وَالرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ مُسْتَعِدًّا لِلْمَوْتِ نَادِمًا مُسْتَغْفِرًا لِمَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبِهِ مُجْتَهِدًا عَلَى طَاعَةِ رَبِّهِ.

Pertama, ia menahan mulutnya dari hal-hal yang tidak bermanfaat, dari ghibah, dan dari kebohongan. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ Al ahzab

Kedua, di dalam hatinya tidak ada hasud dan permusuhan terhadap siapa pun.

Ketiga, ia meninggalkan teman-teman yang buruk (toxic) yang beracun, merusak, atau memberikan efek negatif lainnya.

Keempat, ia selalu siap menghadapi kematian, Allah akan menjaganya dari rasa takut sampai ia meninggal dunia, sebagaimana firman Alloh: تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ "Akan diturunkan malaikat² kepada mereka (seraya berkata), "Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS. Fussilat: 30).

Dalam praktek sehari-hari kita lebih sering mementingkan ibadah² atau amalan² yang bersifat ceremony (perayaan) dan amalan lahiriah saja, tanpa mempertimbangkan sisi-sisi amalan hati (batin) yang sejatinya tidak kalah penting, sebagaimana sabda Rasulullah: ‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ “Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian,” (HR Muslim).

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa penilaian Alloh tertuju pada hal-hal yang lebih dalam daripada sekadar yang tampak dari tubuh yang terkesan mewah di mata kebanyakan manusia. Bukan kesempurnaan fisik maupun kekayaan harta bendanya, tetapi pada kualitas hati dan mutu perbuatan hamba-Nya. عز الدنيا بالمال واعز الاخره بي عمل صالح

Imam Thabroni meriwayatkan dari hadist nabi: فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian adalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa,” (HR. Ath-Thabrani).

Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa hati merupakan satu elemen penting bagi kehidupan orang mukmin. Di hati inilah tempat Alloh SWT., melihat baik dan buruknya kita, di hati ini juga menjadi tempat komando bagi anggota tubuh yang lainnya. Maka penting bagi kita untuk menjaga kebersihan dan kesucian hati, اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ agar hati kita dipenuhi dengan ketakwaan. Jangan sampai hati kita kering, kotor dan dipenuhi dengan noda-noda kemaksiatan, sehingga hati kita merasakan jauh dari Alloh SWT., dan tidak dapat merasakan kehadiran-Nya dalam ketenangan dan kesejahteraan.

Hati yang mati, kering, gersang adalah merupakan masalah yang serius, menyebabkan hina dunia dan akhirat. Di antaranya:

Pertama adalah hilangnya rasa malu. Sebab utama hilangnya perasaan malu dari hati adalah hilangnya perasaan diawasi oleh Allah SWT.

Kedua hilangnya ketenangan dan kedamaian di hati. Sebab hati yang tidak ada Alloh di dalamnya tidak akan merasa tenang. Sebab Alloh SWT., lah yang maha memberi ketenangan dan kedamaian dalam hati. Hal ini akan sangat berdampak pada kehidupan seseorang, dia akan mencari ketenangan dan kedamaian di tempat yang salah dengan melakukan hal-hal yang melanggar norma dan syariat.

Ketiga tidak terkabulkannya Do'a ‎وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ “Ketahuilah kalian semua, sesungguhnya Alloh tidak akan mengabulkan do'a dari orang yang hatinya lalai.” (HR At-Tirmidzi).

Keempat hati menjadi sulit menerima kebenaran. Hati yang mati maka akan sulit menerima nasihat kebenaran, hal ini disebabkan karena sejatinya hati adalah tempat cahaya ilahi bersemayam, apabila cahaya ilahi tersebut padam maka orang yang hatinya keras dan lalai dari Alloh SWT tidak akan mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.

Itulah empat rambu-rambu gelapnya hati, semoga Alloh SWT menjadikan hati kita senantiasa hidup, penuh cahaya kebaikan, keimanan dan ketakwaan, Rosulullah SAW bersabda: ‎أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR Bukhari).

Kisah pequrban yang tua

Dikisahkan dari Ahmad bin Ishaq, ia berkata: كَانَ لِي أَخٌ فَقِيرٌ، وَكَانَ مَعَ فَقْرِهِ يُضَحِّي كُلَّ سَنَةٍ بِشَاةٍ "Aku memiliki saudara yang miskin, namun meski dalam keadaan kekurangan ia tetap berkurban seekor kambing setiap tahun"

Setelah saudaranya wafat, ia berkata: "Aku sholat dua rakaat lalu kemudian berdo'a: (Ya Alloh, perlihatkan kepadaku keadaan saudaraku dalam mimpi)"

Kemudian ia bermimpi melihat hari kiamat telah terjadi, manusia dibangkitkan dari kuburnya.

Tiba-tiba ia melihat saudaranya menunggang kuda berwarna putih, sementara di depannya ada banyak unta tunggangan.

Ia bertanya: يَا أَخِي مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟ "Wahai saudaraku, bagaimana perlakuan Alloh kepadamu?"

Saudaranya menjawab: غَفَرَ لِي "Alloh telah mengampuniku"

Ia bertanya lagi: بِمَ "Karena apa?"

Saudaranya menjawab: بِسَبَبِ دِرْهَمٍ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَى امْرَأَةٍ عَجُوزٍ فَقِيرَةٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ "Karena satu dirham yang pernah aku sedekahkan kepada seorang wanita tua miskin di jalan Alloh.”

Lalu ia bertanya tentang tunggangan-tunggangan itu: مَا هَذِهِ النَّجَائِبُ؟ "Apa semua tunggangan ini?"

Saudaranya menjawab: ضَحَايَايَ فِي الدُّنْيَا "Itulah hewan-hewan kurbanku ketika di dunia"

Kemudian ia berkata: وَالَّتِي أَرْكَبُهَا أَوَّلُ أُضْحِيَّتِي "Dan yang sedang aku tunggangi ini adalah kurbanku yang pertama"

Saat ditanya hendak ke mana, ia menjawab: إِلَى الْجَنَّةِ "Menuju surga"

Lalu ia pun menghilang dari pandangan.

Kitab: Durratun Nasihin 

Tiga jenis Manusia

Tiga jenis Manusia

عَلَّمَتْنِي الْحَيَاةُ أَنَّ أَنْوَاعَ النَّاسِ ثَلَاثَةٌ:

نَاسٌ كَالْهَوَاءِ لَا يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهُمْ،

وَنَاسٌ كَالدَّوَاءِ نَحْتَاجُ إِلَيْهِمْ أَحْيَانًا،

وَنَاسٌ كَالدَّاءِ لَا نَرْغَبُ فِي وُجُودِهِمْ أَبَدًا.

فَاخْتَرْ مَنْ يَكُونُ فِي حَيَاتِكَ، فَبَعْضُ الْبُعْدِ رَاحَةٌ لَا تُعَوَّضُ

“Hidup telah mengajarkanku bahwa manusia itu ada tiga macam:

1. Ada orang seperti udara, yang tidak mungkin kita hidup tanpa mereka.

2. Ada orang seperti obat, yang kadang-kadang kita butuhkan.

3. Ada pula orang seperti penyakit, yang sama sekali tidak kita inginkan kehadirannya.

Maka pilihlah siapa yang ada dalam hidupmu, karena sebagian bentuk menjauh itu adalah ketenangan yang tidak tergantikan.”

Kalimat nasihat di atas ini adalah nasihat tentang pentingnya memilih lingkungan dan pergaulan dalam hidup.

1. Orang seperti udara

Maksudnya adalah orang-orang yang sangat berharga dalam hidup kita:

1. keluarga yang tulus,

2. sahabat sejati,

3. guru yang membimbing,

4. atau pasangan yang membawa ketenangan.

Mereka diibaratkan seperti udara karena keberadaan mereka sangat penting dan sulit digantikan.


2. Orang seperti obat

Mereka adalah orang yang dibutuhkan hanya pada kondisi tertentu:

1. teman kerja,

2. kenalan,

3. atau orang yang membantu ketika ada kepentingan tertentu.

Seperti obat, mereka bermanfaat tetapi tidak selalu harus ada setiap saat.


3. Orang seperti penyakit

Ini menggambarkan orang-orang yang membawa:

1. masalah,

2. pengaruh buruk,

3. fitnah,

4. iri hati,

5. atau energi negatif.

Karena itu, kalimat ini mengingatkan agar menjaga jarak dari orang yang merusak ketenangan hidup.


Sebagai penutup: فَبَعْضُ الْبُعْدِ رَاحَةٌ لَا تُعَوَّضُ “Sebagian bentuk menjauh adalah ketenangan yang tak tergantikan.”

Artinya bahwa Kadang menjaga jarak dari orang tertentu bukanlah kebencian, tetapi cara menjaga ketenangan hati, pikiran, dan kehidupan.

Rukun, Sunnah, Makruh Shalat dan Sujud Sahwi serta bacaan sujud syukur dan tilawah

Rukun, Sunnah, Makruh Shalat dan Sujud Sahwi serta bacaan sujud syukur dan tilawah

تشجير فقه الصلاة

في مذهب الإمام الشافعي

Faham Fikihnya, Tenang Ibadahnya.


مكروهات الصلاة ثمانية؛

Hal-hal yang Makruh dalam Shalat ada delapan:

1. Menoleh kiri/kanan الالتفات يميناً وشمالاً

2. Tergesa-gesa الإسراع في الصلاة

3. Membaca nyaring di tempat pelan & sebaliknya الجهر في موضع السر والعكس

4. Berisyarat tanpa keperluan الإشارة بلا حاجة

5. Memejamkan mata تغميض العينين

6. Tangan di pinggang وضع اليد على الخاصرة

7. Shalat sambil menahan kencing dan berak يدافع الأخبثين

8. Shalat dimana makanan sdh siap dihidangkan الصَّلاة بحضرة طعام يشتهيه


Rukun Qawliy ada Enam: الأركان القولية ستة

1. Niat dalam hati saat Takbir النية

2. Takbiratul Ihram تكبيرة الإحرام

3. Membaca Al-Fatihah قراءة الفاتحة

4. Tasyahhud Akhir التشهد الأخير

5. Shalawat Nabi di Tasyahhud akhir الصلاة على النبي فيه ونية

6. Salam pertama التسليمة الأولى


Rukun Fi'liy ada Tujuh: الأركان الفعلية سبعة

1. Berdiri (bagi yang mampu) القيام للقادر في الفرض

2. Ruku' الركوع

3. I'tidal الاعتدال

4. Sujud السجود

5. Duduk antara dua sujud الجلوس بين السجدتين

6. Tuma'ninah di 4 tempatnya الطمأنينة في مواضعها الأربعة

7. Tertib (berurutan) الترتيب


Sunnah Ab'adh: adalah sunnah² sholat yang dikuatkan (muakkadah). Jika ditinggalkan baik sengaja maupun lupa maka jenengan dianjurkan/disunnahkan melakukan sujud sahwi untuk menggantinya.


Sunnah Abadh ada Tujuh أبعاض الصلاة سبعة

1. Tasyahhud Awal التشهد الأول

2. Duduk tasyahhud awal القعود له

3. Shalawat Nabi di tasyahhud awal الصلاة على النبي الله فيه

4. Shalawat keluarga Nabi di tasyahhud akhir الصلاة على اله في التشهد الأخير

5. Qunut di shalat Subuh القنوت في صلاة الصبح

6. Berdiri saat qunut القيام للقنوت

7. Shalawat Nabi di qunut الصلاة على النبي الله في القنوت

Tanbih (peringatan): Perbedaan Ab'adh dg rukun ialah ketika jenengan meninggalkan salah satu rukun dengan sengaja maka shalatnya batal. Sedangkan meninggalkan Ab'adh dg sengaja tdk membatalkan, tapi dimakruhkan dan jika lupa maka disunnahkan sujud sahwi.


Sunnah Hay'at: adalah Sunnah² yang tidak memiliki konsekuensi apa pun jika di tinggalkan, namun sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan kualitas shalat yang kita jalankan.


Sunnah Hay'at سُنَنُ الصَّلاة هيئات

1. Doa Iftitah دعاء الاستفتاح

2. Ta'awwudz (A'udzubillah) التعوذ

3. Membaca surat setelah Fatihah قراءة السورة بعد الفاتحة

4. Membaca Amin التأمين

5. Membaca keras/pelan di tempatnya الجهر والإسرار في موضعهما

6. Takbir perpindahan rukun تكبيرات الانتقالات

7. Membaca Tasbih ruku' & sujud تسبيح الركوع والسجود

8. Mengangkat tangan di 4 tempat رفع اليدين عند تكبيرة الإحرام والركوع والرفع منه والقيام من التشهد الأول

9. Tangan kanan di atas kiri di dada وضع اليمين على الشمال تحت الصدر

10. Melihat ke tempat sujud النظر إلى موضع السجود

11. Duduk Iftirasy & tawarruk الافتراش والتورك

12. Salam kedua التسليمة الثانية

13. Shalawat kpd keluarga nabi di tasyahhud akhir الصلاة على اله في التشهد الأخير

Tanbih (peringatan): Berbeda dg sebelumnya (Sunnah Ab'ad), jika ada salah satu dari Sunnah² diatas ditinggalkan, baik sengaja maupun tdk, maka tdk disunnahkan Sujud Sahwi.


Bacaan Sujud Sahwi Sujud Syukur dan Sujud Tilawah.

1. Sujud Sahwi: سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو ٣ "Mahasuci Zat yang tidak tidur dan tidak lupa."

Tanbih (peringatan): Sebagai alternatif, maka tdk masalah membaca seperti halnya bacaan dlm sujud normal; سبحان ربي الاعلى وبحمده


2. Sujud Tilawah dan Syukur: سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِيْنَ "Diriku bersujud kepada Zat yang menciptakan dan membentuknya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha suci Allah, sebaik-baik pencipta"


Sebagian ulama menyamakan bacaan sujud syukur dan sujud tilawah: (Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in pada hamisy I’anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz I, halaman 246).


Hukum & Sebab Sujud Sahwi أحكام سجود السهو

Hukumnya مستحب Sunnah, waktunya قبل السلام Sebelum salam


Sebab Sujud Sahwi:

1. Melakukan sesuatu yg jika disengaja membatalkan shalat, karena lupa. أن يفعل سهواً ما عَمده يُبطل الصلاة

2. Meninggalkan salah satu Ab'adh (lihat Sunnah2 Ab'ad) shalat, baik sengaja maupun lupa. ترك بعض من أبعاض الصلاة عمداً أو سهواً

3. Memindahkan rukun qawli (ucapan) ke tempat yg bukan tempatnya نقل ركن قولي


Demikian ungkapan Syaikh Ahmad bin 'Umar Asy-Syatiri: وَإِذَا كَانَ الْوَالِدُ يَتَهَاوَنُ بِأُمُورِ دِينِهِ وَلَيْسَ عِنْدَهُ غَيْرَةٌ عَلَى الدِّينِ انْتَقَلَتِ الصِّفَاتُ إِلَى الْابْنِ (شرح الياقوت النفيس) "Jika orang tua meremehkan urusan agamanya, dan tidak memiliki ghiroh (semangat, keinginan) sama sekali untuk agamanya, maka sifat itu juga akan menular kepada anaknya" (Syarh Al-Yaqut an-nafis).


Penjelasan:

Pertama: يَتَهَاوَنُ بِأُمُورِ دِينِهِ berarti bersikap lalai, meremehkan, atau tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan urusan agama, seperti salat, akhlak, menjaga halal-haram, dan kewajiban lainnya.

Kedua: غَيْرَةٌ عَلَى الدِّينِ maksudnya rasa peduli, semangat menjaga, dan kehormatan terhadap agama. Seseorang yang memiliki ghirah agama akan merasa prihatin ketika aturan agama dilanggar atau diremehkan.

Ketiga: انْتَقَلَتِ الصِّفَاتُ إِلَى الْابْنِ menunjukkan bahwa kebiasaan dan sikap orang tua sering kali memengaruhi anak. Anak biasanya belajar dari contoh yang ia lihat setiap hari, bukan hanya dari nasihat.


Maka ini adalah peringatan bagi kita bahwa orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan keagamaan anak. Jika orang tua terlalu longgar dalam agama (sholat nya), maka anak sangat mungkin meniru sikap tersebut. Sebaliknya, jika orang tua menjaga agama dengan baik, anak pun lebih mudah tumbuh dalam kebaikan.


(Qultu): Jika orang tua meremehkan agama, maka anak menganggap agama tidak penting. Jika agama dianggap tidak penting, maka ibadah mulai ditinggalkan. Jika ibadah ditinggalkan, maka hati menjadi gelap. Jika hati gelap, maka hawa nafsu menguasai. Jika hidup dikuasai nafsu, maka yang terjadi adalah kemaksiatan yang tidak berkesudahan.