Hidup ini hanyalah sementara. Setiap kita pasti akan berangkat meninggalkan dunia dan menuju kehidupan kekal di akhirat. Oleh karena itu, seorang Muslim yang cerdas adalah yang menyiapkan bekal yang terus mengalir pahalanya, meskipun telah tiada.
Suatu ketika Ibnu Umar Ra., berkata, Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu seorang Anshor (yatsrib) mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ "Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik? قَالَ: أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا Rasul bersabda, Yang paling baik akhlaknya. Kemudian bertanya lagi, فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ Lalu mukmin manakah yang paling cerdas? قَالَ Beliau bersabda, أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا Yang paling banyak mengingat kematian وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian, أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ Itulah orang² yang paling cerdas" (HR. Ibnu Majah).
Alloh SWT berfirman: أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسْجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلْجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ ٱلنَّاسِ "Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang melata dan sebagian besar daripada manusia?" Al-Hajj ayat 18
- Seluruh alam tunduk kepada Allah: Semua makhluk baik yang hidup maupun benda langit seperti matahari dan bintang digambarkan “bersujud” kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa seluruh ciptaan berada dalam aturan dan kehendak-Nya.
- Sujud bukan hanya manusia: “Sujud” di sini tidak selalu berarti sujud seperti manusia saat salat, tapi bisa bermakna ketaatan total terhadap hukum Allah (sunatullah) misalnya matahari terbit teratur, pohon tumbuh, dan hewan hidup sesuai nalurinya.
- Manusia punya pilihan: Ayat ini menyebut “banyak manusia” (bukan semua), artinya: Ada manusia yang taat dan bersujud kepada Allah. Ada juga yang tidak, karena manusia diberi kebebasan memilih.
- Untuk sadar dan tunduk: Ayat ini mengajak manusia untuk berpikir: jika seluruh alam tunduk kepada Allah, maka manusia seharusnya lebih sadar untuk ikut tunduk dan beribadah.
Maka, Dengan menjadikan masa depan setelah kematian (akhirat) adalah alasan terbesar, ini secara otomatis akan membuahkan pencapaian² luar biasa ketika masih di dunia.
Lalu apa yang musti kita siapkan mumpung masih berada di Dunia?
Rasulullah SAW bersabda: إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم) "Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya"
Hadits ini menjadi pedoman bagi kita untuk mencari amal yang pahalanya tidak terputus.
Pertama: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ Sedekah Jariyah; Seperti misalnya membangun Masjid, Pesantren, Madrasah, Fasilitas umum, dan Menanam pohon yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kita sering mengeluh tentang bencana, tapi jarang mau menanam solusi. Padahal satu langkah kecil akan bisa menjadi amal yang besar. Satu pohon yang kita tanam hari ini bisa menyelamatkan generasi di masa yg akan datang. Satu pohon yang tumbuh bisa menjadi saksi bahwa kita pernah berbuat sesuatu untuk bumi yang kita pijak ini.
Rasulullah bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan itu bisa datang dari hal sederhana tapi berdampak luas. Menanam itu bukan hanya kegiatan duniawi, tetapi adalah investasi akhirat. Selama ada makhluk yang mengambil manfaat dari apa yang kita tanam, selama itu pula pahala terus mengalir.
Disebutkan dalam kitab درة الناصحين karya Syaikh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, berkata, Bahwa: إِنَّ فِي الصَّدَقَاتِ خَمْسَ خِصَالٍ Sesungguhnya di dalam sedekah terdapat lima perkara اَلْأُولَى: تَزِيْدُهُمْ فِي أَمْوَالِهِمْ Menambah keberkahan pada harta merekaالثَّانِيَةُ: دَوَاءٌ لِلْمَرَضِ Menjadi obat bagi penyakit الثَّالِثَةُ: يَرْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمُ الْبَلَاءَ Allah Ta’ala mengangkat bala (musibah) dari mereka الرَّابِعَةُ: يَمُرُّوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ Mereka melewati shirath (jembatan) seperti kilat yang menyambar الْخَامِسَةُ: يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ Mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.
Kedua: أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ Ilmu yang Bermanfaat Mengajarkan ilmu agama, menulis, atau menyebarkan ilmu yang diamalkan oleh orang lain.
Maka, Mulailah dari hal kecil. Mengajarkan satu ayat, membantu sesama, atau mendidik anak dengan baik, semua itu bisa menjadi investasi akhirat yang tidak pernah putus.
Nabi SAW bersabda: كن عالماً أو متعلماً أو مستمعاً أو محباً ولا تكن الخامس فتهلك "Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang mencintai, dan jangan engkau menjadi orang yang kelima, (menolak) maka kamu celaka"
Ketiga: أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ Anak Sholeh yang Mendo'akan Orang Tuanya (Didikan yang baik akan melahirkan anak yang baik sehingga terus Mendo'akan orang tuanya setelah wafat).
Selain tiga hal tersebut, setiap kebaikan yang kita lakukan dengan niat ikhlas juga dapat menjadi sebab pahala yang terus mengalir, selama manfaatnya dirasakan oleh orang lain.
Jangan sampai kita hanya sibuk mengumpulkan harta dunia, tetapi lupa menanam amal jariyah untuk akhirat. Harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan, tetapi amal kebaikan akan terus mengikuti kita.
Karenanya, Mari kita membangun tradisi mencintai ilmu dan gigih belajar agar kita berhasil dalam menjalani kehidupan, sehingga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.






0 comments:
Posting Komentar