Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Amalan Jum'at akhir bulan Rojab

Jum'at terakhir bulan Rojab tahun 1446 H. 


Syaikhina Maimoen Zubair pernah menyampaikan keutamaan memperbanyak istighfar pada Jum'at terakhir bulan Rajab. Hal ini disampaikan beliau saat menyampaikan mauidloh pada acara di dekat Musholla Mbah Samin Sarang. Beliau menganjurkan untuk membaca istighfar sebanyak:

Tujuh ribu kali, jika mampu.

Tujuh ratus kali, jika tidak mampu.

Tujuh puluh kali, jika masih belum mampu.

Tujuh kali, jika benar-benar dalam keterbatasan.

Semua ini dilakukan sebelum berangkat shalat Jum'at, sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memohon ampunan atas dosa-dosa.

Adapun bentuk istighfar yang dianjurkan untuk dibaca adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُورًا.

Dan ditambahkan dengan Sayyidul Istighfar sebagai doa istighfar paling utama:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.

***

Sebagai informasi tambahan, berikut adalah beberapa dalil tentang istighfar 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Artinya: "Maka aku berkata (kepada mereka): Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian, dan Dia akan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai."

Rasulullah Shollallohu Alaihi Wasallam bersabda:

من لزم الاستغفار جعل الله له من كل ضيق مخرجا ومن كل هم فرجا ورزقه من حيث لا يحتسب

Barang siapa yang memperbanyak istighfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."

PERISTIWA MI'RAJ MEMBUKTIKAN BAHWA LOKASI ALLAH DI ATAS?

PERISTIWA MI'RAJ MEMBUKTIKAN BAHWA LOKASI ALLAH DI ATAS?


Oleh: Abdul Wahab Ahmad


Mi'raj adalah berangkatnya Nabi ke atas sidratul muntaha. Beliau menerima perintah sholat di sana. Tak ada penyebutan Arasy setahu saya. Kejadiannya sama dengan peristiwa ketika Nabi Musa mendapat perintah langsung di puncak gunung Tursina. ini semua berbicara tentang tempat hambanya menerima wahyu, bukan tempat Allah SWT.

Nabi bolak balik dari tempatnya di atas sidratul muntaha ke tempatnya Nabi Musa di langit ke tujuh lalu ke atas lagi untuk memohon keringanan. Dalam riwayat-riwayat yang sohih kita dapati bahwa yang naik dan turun adalah Nabi Muhammad SAW., Beliau naik ke tempat ia menerima wahyu dan turun ke tempat Nabi Musa lalu naik lagi ke tempat menerima wahyu sebelumnya dan itu terjadi berulang-ulang. Tempat yang kita bicarakan ini adalah tempat hambanya, bukan tempat Allah SWT. Kalau Allah mau, Dia bisa memberikan wahyunya secara langsung di manapun hambanya berada seperti yang terjadi pada Jibril As. yang menerima wahyu dari Allah SWT., di mana pun ia berada secara langsung.

Sama sekali tak ada bahasan tentang tempat Allah SWT. dalam riwayat-riwayat itu kecuali dalam persangkaan orang yang gagal paham yang menyangka bahwa bagi Allah SWT. juga berlaku hukum alam sebagaimana kita kenal di dunia ini. Padahal Allah SWT. sendirilah yang menciptakan alam beserta seluruh hukumnya, tapi mereka yang gagal paham ini mewajibkan agar hukum alam itu juga berlaku pada Allah SWT sendiri. Dalam benak mereka. kalau kita berbicara dengan seorang manusia pastilah berada di suatu tempat, maka kalau Allah SWT berfirman pada hambanya juga disimpulkan Allah SWT berada dalam suatu tempat. Tak pernahkah mereka membaca sekian banyak riwayat yang berisi tentang tempat Malaikat Jibril menerima wahyu di mana saja? Lalu apa yang mereka pikirkan tentang itu? Tak ingatkah bahwa Nabi Musa "bertemu" dan bercakap-cakap dengan Allah SWT di gunung Tursina? maka apa yang bisa disimpulkan dari itu? Apakah berarti Allah sering berpindah tempat dari langit ke bumi dan muat di dalamnya?

Kita sendiri juga sering pergi masjid bolak-balik hanya untuk menyampaikan untaian do'a yang kita panjatkan ke Allah SWT. Bahkan banyak dari kita menabung supaya bisa bolak-balik ke Masjidil Haram untuk melakukannya. Apakah dari sini bisa disimpulkan bahwa kita meyakini bahwa Allah SWT berada di masjid atau di ka'bah? Para pendakwah salafi di masjid Nabawi pada sewot kalau ada jamaah yang berdo'a ke Allah dalam keadaan menghadap ke makam Rasulullah SAW sebab tak menghadap ke kiblat. Apakah ini berarti Allah berada di arah kiblat? Kita juga mengenal arti kata "mendekatkan diri ke Allah" (taqarrub) yang sama sekali tak bermakna mendekat secara fisik. Lalu kenapa dalam peristiwa mi'raj kata mendekatkan diri lantas berubah menjadi makna fisik? Sempit sekali pemahaman mereka ini.

Lalu untuk apa Nabi dipanggil ke langit? menurut ayat al-Qur'an isra' itu untuk memperlihatkan sebagian ayatnya (linuriyahu min ayatina) sedangkan saat mi'raj ayat-ayat yang besar juga nampak (laqad ra'a min ayati rabbihil kubra). Ini penuturan al-Qur'an yang seharusnya kita terima bulat-bulat bahwa isra' dan mi'raj itu hanya soal memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan membawa Nabi ke tempat Allah SWT. Selain itu para ulama menunjukkan hikmah bahwa ini untuk menunjukkan keagungan sholat sehingga perintahnya diberikan di langit sana, bukan di bumi seperti perintah lainnya.

Mereka yang memaksakan diri barkata bahwa mi'raj adalah pembuktian keberadaan Allah secara fisik di langit mengalami kontradiksi parah dengan ucapan mereka sendiri. Di antara kontradiksinya adalah:

1. Katanya Allah selalu bersemayam di atas Arasy, di tempat tertinggi yang tak ada siapapun setinggi itu. Lalu mulai kapan Allah turun ke Sidratul Muntaha? Ataukah jangan-jangan Sidratul Muntaha adalah Arasy? Ataukah jangan-jangan info al-Qur'an dan hadis salah ketika menyebut Sidratul Muntaha?

2. Kalau dimaknai bahwa Nabi Muhammad menemui Allah di Arasy, maka bukankah itu berarti mengatakan bahwa ketinggian Allah bisa dicapai juga oleh makhluk? Lalu apa spesialnya sifat uluw yang biasa mereka maknai sebagai ketinggian fisik untuk Allah kalau toh akhirnya bisa disaingi oleh seorang manusia? Selain itu katanya Arasy di atas Air, apakah kata naik ke atas dalam peristiwa mi'raj berarti Nabi nyebrang melewati air bukan betul-betul ke atas?

3. Katanya lokasi Allah terpisah dari makhluknya (ba'inun min khalqihi) tapi kenapa dalam kasus mi'raj bilang berada dalam satu tempat dengan Nabi?

4. Katanya tempat Allah itu pada hakikatnya adalah tempat ketiadaan (al-makan al-'adami) yang tak ada batasnya, tapi kenapa dalam kasus mi'raj bilang berada dalam satu tempat dengan Nabi? Apakah Nabi yang keberadaannya berbetuk fisik itu juga juga berada di al-Makan al-Adami itu? 

5. Katanya Allah turun tiap sepertiga malam terakhir ke langit dunia (langit pertama) secara hakikat, lalu kenapa saat itu Allah SWT ada di atas sana padahal di bumi sedang ada lokasi yang mengalami sepertiga malam terakhir? Memangnya Allah ada berapa? Kenapa tak menemui Allah di langit dunia saja kalau demikian?

Itulah sederet inkonsistensi mereka yang memahami peristiwa mi'raj dengan cara sederhana seperti pemahaman anak kecil itu. Silakan sanggah seluruh poin di atas kalau tidak sepakat. Jangan hanya mampu menyanggah satu dua saja dengan mengulang dalil yang kita sudah tahu semua bahwa itu maknanya bersayap sebab kalau hanya satu dua maka argumen saya takkan runtuh. Jangan juga membuang waktu saya dengan membawakan nukilan riwayat mi'raj yang meski sanadnya sohih tapi matannya bermasalah sebab bertentangan dengan nash al-Qur'an. Periksalah dulu kitab-kitab syarah hadis sebelum memenuhi kolom komentar dengan riwayat hadis. Dan tentu saja, janganlah berdalil dengan jurus pokoknya ikuti saja, pokoknya diam saja, dan pokoknya ini yang benar. 


Semoga bermanfaat.

Latarbelakang Isro' dan mi'raj nabi Muhammad SAW.

Peristiwa penting yang melatarbelakangi terjadinya isra' dan mi'raj nya Nabi Muhammad SAW.

Tiga peristiwa itu adalah yang pertama berpulangnya Abu Tholib paman Rosulullah, ke-dua Wafatnya istrie tercinta Syahida Khadijah, peristiwa duka yang mendalam ini sehingga para ahli sejarah menyebutnya dengan istilah “Aam al-Huzni” atau tahun kesedihan. kemudian ke-tiga peristiwa perdebatan antara bami dan langit yangi diceritakan dalam kitab Durrotun Nasihin.

“Aku lebih baik darimu (langit), karena Allah SWT telah menghiasiku dengan hamparan pulau, lautan, sungai, pepohonan, pegunungan dan lain sebagainya,” tutur Bumi kepada langit.

Maka, langit membalas dengan perkataan, “aku lebih baik darimu (bumi), karena matahari, bulan, bintang, falaq (garis edar), buruj (gugusan bintang), arsy (singgasana-Nya), kursy (kekuasaan-Nya) dan surga berada padaku.”

Seolah tak mau kalah, Bumi membalas dengan ucapan, “padaku terdapat Baitullah (Ka’bah) yang selalu diziarahi manusia dan digunakan untuk melaksanakan ibadah thawaf oleh seluruh para Nabi dan Rasul, ulama, ahli hikmah, para pembesar dan orang-orang yang beriman.”

Lantas kemudian, Langit kembali berkata seolah tak mau kalah, “padaku ada Baitul Ma’mur, yang digunakan thawaf oleh seluruh malaikat, dan padaku juga ada surga yang menjadi tempat arwah para Nabi dan Rasul, ahli hikmah serta kaum mukminin yang mengamalkan ilmunya dan orang-orang solih.”

Maka bumi pun menjawab dengan kalimat pamungkas, “sesungguhnya pemimpin para Rasul dan penutup para Nabi, kekasih rabbil alamin berada padaku, dan syari’atnya berjalan di atasku.”

Ketika mendengar jawaban tersebut, Langit terdiam dan tidak mampu menjawab. Ia lantas mengadu kepada Allah SWT, “Ya Allah, Engkau Maha mengijabah doa hamba yang butuh ketika berdoa, kini aku tak mampu menjawab bumi. Maka aku mohon agar Engkau sudi menaikkan Nabi Muhammad SAW padaku, sehingga aku bisa berbangga kepada bumi dengan Mi’rajnya Nabi SAW.”

Allah SWT kemudian mengabulkan permintaan langit dan memberikan wahyu kepada malaikat Jibril, tertanggal malam 27 Rajab. Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Jibril, “wahai Jibril, bawalah padaku Nabi Muhammad SAW.”

Jibril lalu bergegas bersama Mikail ke Surga. Sewaktu tiba di surga, keduanya melihat 40.000 Buraq sedang memakan rumput surga, tetapi Jibril dan Mikail melihat satu Buraq yang selalu menundukkan kepalanya dan menangis dengan air mata yang deras.

Malaikat Jibril kemudian bertanya kepada Buraq tersebut, “wahai Buraq, ada apa denganmu?”

“Wahai Jibril, aku telah mendengar seorang hamba yang bernama Muhammad SAW selama 40.000 tahun. Entah mengapa aku jatuh cinta dan merindukan pemilik nama ini. Sejak itulah, aku butuh makanan dan minuman karena aku telah terbakar api kerinduan”, terang Buraq.

Jibril kemudian berkata, “aku akan mempertemukanmu dengan orang yang kau rindukan tersebut.”

Malaikat Jibril kemudian membawanya bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, untuk melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dari bumi (Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha) menuju ke langit, hingga menembus sidratul muntaha untuk menerima perintah sholat 5 waktu.

Khulasho:

Dari hikayah tersebut diatas kita dapat menarik kesimpulan dan menjadikan pelajaran bahwa:

1. Betapa pentingnya menjaga etika dan perilaku sebagai manusia untuk tidak berlaku semena-mena dimanapun dan dalam keadaan seperti apapun posisi kita.

2. Seluruh makhluk yang ada di bumi dan dilangit pada haketnya membutuhkan Allah SWT., sebagai sebaik baik penolong dalam setiap keadaan. Maka Berdo'a dan istighfar lah, Apapun permasalahan dan kesedihan yang terjadi adukan kepada Allah SWT melalui sholat karena dengan sholat kebahagiaan dunia dan akhirat akan mudah di dapat.

Kaifiyah Tarawih

Urutan Ayat dan kesesuaian Raka'at;

اَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

وَالْعَصْرِۙ

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِۗ

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

Do'a setelah Tarawih:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنْ، وَلِلْفَرَآئِضِ ؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكاَةِفَاعِلِيْنَ، وَلِمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِى الْأَخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَآءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَآءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَآءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَآءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَآئِرِيْنَ، وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آَكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مَنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا، ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Do'a Qunut:

للّٰهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ برحمتك شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Do'a setelah Witir:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ﴿ ٣ ﴾ سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ

أشْهَدُ أَنْ لآَ إِلَهَ إِلاَّ اللهْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ   

نَسْأَلُكَ رِضَاكَ و الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفَوٌّ كَرِيمْ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا ﴿ ٣ ﴾ يَا كَرِيمَ

 

أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Golongan manusia istimewa

Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk berjuang tidak hanya pada satu lini (jalan usaha) kehidupan, tetapi merambah ke berbagai lini dengan satu tujuan mulia yaitu memperjuangkan agama Islam.

Hal ini selaras dengan pesan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya:

يا بني لا تدخلوا من باب واحد وادخلوا من أبواب متفرقة

"Wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu saja, tetapi masuklah dari berbagai pintu yang berbeda."

Namun, perjuangan ini harus tetap dalam bingkai keimanan dan Islam. Tujuan hidup dan mati kita adalah membawa iman hingga akhir hayat, sebagaimana peringatan dalam Al-Qur'an:

يا بني إن الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن إلا وأنتم مسلمون

"Wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."

Setiap muslim tentu mendambakan menjadi golongan yang istimewa, tetapi menjadi golongan istimewa tentu tidak semuanya bisa menggapai. Allah SWT berfirman:

وقليل من عبادي الشكور

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur."

Dan para pemenang sejati yang lebih dahulu dalam kebaikan:

والسابقون السابقون... وقليل من الآخرين

"Dan orang-orang yang lebih dahulu (berbuat kebaikan), mereka itulah yang terdepan… dan sedikit dari mereka yang kemudian."

Namun, sudahkah kita layak menjadi bagian dari golongan yang istimewa ini? Jika belum, seyogianya kita mengukur kemampuan diri, berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi baik terlebih dahulu, meskipun belum sempurna atau istimewa.

1. Langkah awal adalah menjadi bagian dari golongan umum yang telah memenuhi kewajibannya dan tetap menjaga dzikir kepada Allah:

فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون

"Apabila sholat telah ditunaikan, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah, serta ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung."

2. Sedikit demi sedikit, kita harus meningkatkan diri dari golongan yang umum menjadi golongan yang lebih baik. Golongan ini tidak hanya mengerjakan kewajiban, tetapi juga menambah amalan (Sunnah) dzikir kapan pun dan dalam keadaan apa pun:

فإذا قضيتم الصلاة فاذكروا الله قياما وقعودا وعلى جنوبكم

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholat, berdzikirlah kepada Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring."

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa golongan ini memperbanyak tasbih, tahlil, dan dzikir dengan keadaan semampunya, baik berdiri, duduk, atau bahkan saat berbaring. Tentu saja, jumlah golongan ini lebih sedikit dibandingkan golongan pertama, karena melibatkan usaha yang lebih besar.

3. Tahapan terakhir adalah menjadi golongan yang sepenuhnya mendedikasikan dirinya untuk ketaatan. Allah SWT berfirman:

فإذا فرغت فانصب

"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras."

Dalam Tafsir Al-Jalalain, ayat ini dipahami sebagai perintah untuk tetap bersungguh-sungguh dalam doa dan ibadah setelah menyelesaikan urusan dunia. Golongan ini tentu jauh lebih sedikit karena melibatkan pengorbanan pribadi yang lebih besar.

Kita perlu mengukur kapasitas dan kemampuan kita dalam mengemban tanggung jawab ini, sebagaimana kita mengelola penyimpanan data yang terbatas. Jika kapasitas kita kecil, maka kita harus bersiap untuk terus memperbaiki diri atau meningkatkan "penyimpanan spiritual" dengan usaha dan doa yang lebih besar.

لكل زمان رجال ولكل مقام مقال

"Setiap zaman memiliki tokohnya, dan setiap tempat memiliki pembahasannya."

Maka, mari kita berusaha sesuai kemampuan, namun tetap berdoa dan berharap agar Allah menjadikan kita bagian dari golongan yang istimewa.


Author: Ust. Wahyudi

Zamzam Air terbaik Dunia

Air zam-zam ada merupakan air warisan nabi Ismail As., yang tidak berubah sepanjang zaman, air zam-zam merupakan salah satu air terbaik dari seluruh sumber yang ada di bumi, berikut kami sajikan beberapa manfaat dan khasiat air zam-zam:

  1. Air terbaik di Bumi. Rasulullah SAW. Bersabda, "Sebaik-baiknya air di muka bumi ini ialah air zamzam." (H.R Ahmad).
  2. Air zamzam dapat mengampuni dosa-dosa. Rasulullah SAW. Bersabda, "Siapa yang mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali (tawaf), sholat di belakang makam Ibrahim, dan meminum air zamzam niscaya akan diampuni semua dosanya," (H.R al Wahidi).
  3. Mewujudkan segala sesuatu sesuai niatnya. Rasulullah SAW. Bersabda, "Air zamzam itu berkhasiat sesuai dengan apa yang diniatkan" (H.R Ibnu Majah).
  4. Mengobati segala macam penyakit. Rasulullah SAW Bersabda, "Air zamzam itu berkhasiat sesuai dengan apa yang diniatkan. Jika engkau meminumnya dengan niat meminta kesembuhan maka Allah akan menyembuhkanmu, dan jika engkau meminumnya dengan niat agar dahagamu hilang maka Allah akan menghilangkan dahagamu. Ia adalah galian jibril dan siraman Allah kepada Ismail" (H.R Ibnu Abbas dan Al Hakim).
  5. Dapat menghilangkan kemunafikan. Rosulullah bersabda, "Meminum air zamzam sampai puas bisa menghilangkan kemunafikan" (HR Ibnu Abbas).
  6. Dapat membedakan muslim dengan orang munafik. Rasulullah SAW, bersabda "Yang membedakan kita dengan orang munafik ialah bahwa mereka tidak meminum dan merasakan air zamzam sampai puas" (HR Ibnu Majah).
  7. Terdapat banyak berkah. Rasulullah SAW, bersabda "Ia (air zamzam) mengandung banyak berkah dan bisa menghilangkan rasa lapar" (HR Ahmad).
  8. Sebagian dari ibadah. Rasulullah SAW, bersabda "Melihat air zamzam adalah ibadah, ia (air zamzam) dapat menghapus berbagai dosa dan kesalahan, dan salah satau keutamannya adalah bahwa barangsiapa yang memercikannya ke kepala tiga kali maka dia tidak akan terkena penyakit"

Hukum dan Pelaksanaan Aqiqah

Aqiqah:

Ajaran tentang aqiqah sudah sangat terang-benderang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Dalam salah satu sabdanya beliau mengatakan, bahwa seorang bayi itu tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan dicukur rambutnya dan diberi nama.

الْغُلاَمُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ اْلسَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسَهُ وَيُسَمَّى

"Seorang anak tergadaikan dengan (tebusan) aqiqah yang disembelih untuknya di hari yang ke tujuh, dicukur rambut kepalanya dan diberi nama".

Pesan penting yang ingin dikatakan dalam hadits tersebut adalah anjuran untuk mempublikasikan kebahagian, kenikmatan, dan nasab. Dengan demikian aqiqah adalah salah satu (Sunnah) bentuk taqarrub kepada Allah dan manifestasi rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang telah dilimpahkan.

Telah disebutkan dalam Kitab Fathul Qorib

والعقيقةمستحبة وهي الذبيحة عن المولود يوم سابعه ويذبح عن الغلام شاتان و عن الجارية شاة،ويطعم الفقراء والمساكين

Aqiqah hukumnya sunah, secara bahasa Aqiqoh adalah nama rambut yang berada di atas kepala anak yang dilahirkan. secara syara’ adalah binatang yang disembelih sebab bayi yang dilahirkan pada hari ketujuh hingga anak tersebut baligh, Disunnahkan menyembelih dua ekor kambing sebagai aqiqah untuk anak laki-laki, dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Bagi orang yang melaksanakan aqiqah, maka harus memberi makan kaum faqir dan kaum miskin.

Tentunya ketentuan-ketentuan dan kriteria tentang kambing yang bagaimana yang layak dijadikan sebagai aqiqoh sama dengan kambing yang layak untuk berkurban.

Dalam kitab Kifayatul Akhyar dikatakan bahwa menurut pendapat yang paling sahih (al-ashshah) aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing (al-ghanam). Namun pendapat lain menyatakan, yang paling utama adalah aqiqah dengan kambing sesuai bunyi hadits yang ada (li zhahiris sunah).

وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْبَدَنَةَ وَالْبَقَرَةَ أَفْضَلُ مِنَ الْغَنَمِ وَقِيلَ بَلِ الْغَنَمُ أَفْضَلُ أَعْنِي شَاتَيْنِ فِي الْغُلَامِ وَشَاةً فِي الْجَارِيَةِ لِظَاهِرِ السُّنَّةِ

“Menurut pendapat yang paling sahih, aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing. Namun dalam pendapat lain dikatakan bahwa aqiqah dengan kambing lebih utama, yang saya maksudkan adalah dengan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan, karena sesuai dengan bunyi sunah,” (Lihat Taqiyuddin Al-Hushni, Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar, Beirut, Darl Fikr, halaman 535).


Do'a menyembelih hewan aqiqah:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ ...

Dengan menyebut asma Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya … (sebutkan nama bayi).


Do'a mencukur rambut bayi:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ, اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah SAW, dan segala puji Bagi Allah, Tuhan semesta alam.


Do'a meniup ubun-ubun bayi setelah dicukur:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk.


Do'a Walimah Aqiqoh:

اللهم احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُوْدَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِهَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللهم اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ

"Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela".

Kewajiban orang tua terhadap Anak

Kewajiban orang tua terhadap Anak.


حَقِّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: أَنْ يُحْسِنَ اِسْمَهُ إِذَا وُلِدَ، وَيُعَلِّمَهُ الْكِتَابَ إِذَا عَقَلَ، وَيُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ.

“Hak anak atas orang tuanya ada tiga: diberikan nama yang baik ketika lahir, diajarkan al-Quran ketika sudah berakal (tamyiz) dan menikahkanya ketika sudah menemukan.”

Anak adalah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Orang tua wajib mendidik anak-anaknya menjadi saleh, patuh, dan berbakti kepada Allah SWT. Anak itu ibarat pohon melati, jika tidak diberi lanjaran sejak kecil, maka tingginya akan berkelok tidak beraturan. Orang tua dapat menangis karena bahagia melihat anak-anaknya saleh berprestasi. Sebaliknya orang tua juga bisa menangis karena sikap buruk anak-anaknya.

Sehingga Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥)

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara isteri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar" (QS At-Taghabun[64]: 14-15).

Tanggung Jawab Pendidikan dan agama Islam memerintahkan pemeluknya untuk menjaga diri sendiri dan juga keluarganya dari berbagai hal buruk yang dapat menjerumuskan pada kerugian di dunia, lebih-lebih kerugian di akhirat. Al-Qur’an berpesan: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (٦)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS At-Tahrim[66]: 6).

Salah satu instrumen penting dalam menjaga anak dari mudarat-mudarat tersebut adalah melalui pendidikan. Prosesnya dilakukan bisa sejak anak masih bayi. Secara garis besar, pendidikan untuk sang buah hati meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Pendidikan aqidah

Pendidikan aqidah pertama kali melalui lantunan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri ketika anak dilahirkan. Jika dirinci setidaknya terdapat 26 kalimat sebagai bentuk pendidikan aqidah, yaitu:

a. 10 kalimat takbir

b. 3 kalimat syahadat tauhid

c. 3 kalimat syahadat rasul

d. 3 seruan shalat

e. 3 seruan meraih kebahagiaan yang haqiqi

f. 2 pernyataan ditegakkannya shalat

g. 2 kalimat tahlil

2. Pendidikan Ibadah

Sebagaimana masuk dalam 26 kalimat tersebut di atas terdapat 3 kalimat susunan untuk melaksanakan shalat. Ini menunjukkan pentingnya shalat sebagai bentuk ketundukan seorang hamba kepada sang khalik. Sebagai muslim minimal 5 kali sehari semalam menjalankan shalat.

3. Tujuan hidup manusia

Dengan dasar aqidah yang kuat dibarengi dengan istiqamah menjalankan ibadah manusia akan meraih kebahagiaan yang haqiqi, kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Sebagaimana yang terdapat dalam adzan dan iqamah hayya ‘alal falah.

4. Pendidikan akhlak

Pendidikan akhlak pertama kali dikenalkan orang tua melalui ibadah sunnah aqiqah. Sesuai dengan hadits Rasulullah: “Bahwa setiap anak tergadai dengan akikah yang disembelih pada hari ke tujuh kelahiran anak.” (HR. Ahmad).

Dengan akikah diharapkan seorang anak akan memberikan pertolongan kepada orang tuanya kelak di hari kiamat. Tentu orang tua pun berkewajiban mendidik kesalehan anak sehingga menjadi ahli surga yang dapat menyelamatkan orang tuanya.

5. Pendidikan ekonomi

Selain sebagai pendidikan akhlak, akikah juga mengandung nilai pendidikan ekonomi. Sebab binatang akikah merupakan hasil kerja keras orang tua. Dan cara memperolehnya haruslah dengan cara yang halal.

6. Pendidikan kesehatan

Pentingnya makan makanan yang baik dan halal adalah terciptanya kesehatan diri baik jasmani maupun rohani. Doa Orang Tua untuk Anak dan Keturunannya Setiap orang tua tentu menginginkan buah hati yang sempurna, sehat jasmani rohani, cerdas, berbudi, shaleh dan berprestasi.

Semua itu sebenarnya telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As. yang tercantum dalam Al-Qur’an. Diantaranya adalah tentang:

1. Memohon keturunan yang soleh

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (١٠٠)

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh” (QS Ash-Shaffat: 100).

2. Memohon lingkungan yang aman dan ketauhidan

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (٣٥)

“…dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala” (QS Ibrahim: 35)

3. Doa agar istiqamah menjalankan shalat

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (٤٠)

“Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku” (QS Ibrahim: 40).

4. Doa agar diberikan kecukupan rezeki

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٢٦)

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafir pun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali" (QS al-Baqarah: 126).

5. Mendoakan keturunan menjadi pemimpin 

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (١٢٤)

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji. Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim" (QS al-Baqarah: 124).

Mengevaluasi Syukur

Mengevaluasi rasa Syukur

Dalam kesempatan yang baik ini marilah kita senatiasa meningkatkan kadar kualitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT. karena Sesungguhnya Nikmat yang Allah anugerahkan kepada umat manusia sangatlah melimpah dan tidak dapat dihitung. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An Nahl Ayat 18: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Kenikmatan seperti (Kesehatan, harta, mata, telinga, lisan, anak yang berbakti, istri yang sholihah, teman yang setia, tetangga yang baik) dan lain sebagainya adalah merupakan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita manusia. namun demikian, kebanyakan manusia tidak bersyukur. Bahkan banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut adalah nikmat dan anugerah dari Allah SWT. Banyak pula di antara kita yang tidak mengetahui hakikat syukur dan bagaimana caranya bersyukur. Seperti yang digambarkan dalam QS. Al-Ghafir: 61 : “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang memberikan anugerah pada umat manusia. Hanya saja kebanyakan umat manusia tidak bersyukur

Syukur ada dua macam. Ada syukur yang wajib dan ada syukur yang sunnah. Syukur yang wajib adalah tidak menggunakan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita untuk berbuat maksiat kepada-Nya. Adapun Syukur yang sunnah adalah mengucapkan dengan lisan pujian yang menunjukkan bahwa Allah-lah Sang Pemberi nikmat dan yang menganugerahkannya kepada para hamba-Nya, semisal dengan ucapan alhamdulillah.

Suatu ketika Imam al-Junaid pernah ditanya tentang apa itu syukur?. Beliau menjawab: “(Syukur yang wajib adalah) tidak bermaksiat kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya.” Seseorang yang menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh perkara yang diharamkan, maka ia disebut manusia yang syaakir. Kemudian, jika ia tidak disibukkan dengan nikmat sehingga melalaikan syukur kepada Allah SWT dan ia menyadari betapa agungnya nikmat Allah yang selalu membersamainya dan perasaan itu semakin kokoh dalam dirinya serta ia memperbanyak amal-amal kebaikan lebih dari kewajibannya, maka ia disebut hamba yang syakuur (pandai bersyukur).

Dalam kaidah ilmu Nahwu, kata Syaakir ikut wazan Failun (isim fail) yang artinya orang yang bersyukur sedangkan kata Syakuur (isim masdar, Lissifat) yang artinya adalah orang yang paling banyak syukurnya.

Imam al-Qusyairi dalam kitab Ar-Risalah, bahwa “Syakir” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu yang ada, sementara “syakuur” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu yang tidak ada. sehingga level syakuur lebih tinggi dibanding syakir. Seorang hamba yang syakuur lebih sedikit jumlahnya daripada hamba yang syaakir. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. As-Saba’: 13 “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mencapai derajat syakuur”.

Dalam kesempatan yang sama pagi ini baru saja kita memasuki tahun baru 2025 yang merupakan awal tahun kalender Masehi, sekaligus merupakan awal masuknya bulan Rojab maka saya menjak kepada kita sekalian untuk sekaligus mengevalusi diri dengan berbekal Hadist yang diriwayatkan Imam Hakim, bahwa: "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka."

Sebagai penutup sekaligus refleksi akhir tahun 2024 menuju tahun 2025. saya mengajak kepada kita sekalain agar kita lebih efektif menggunakan waktu, sekaligus meminta kepada Allah SWT., agar dimampukan menjadi manusia-manusia yang selalu bersyukur atas nikmat-Nya, dengan level kualitas Syakuur (orang yang paling banyak syukurnya), memperbanyak perbuatan baik untuk mendapatkan ridhai Allah SWT., serta Memohon kepada Allah SWT., agaar selalu ingat untuk bertaubat dan istighfar dengan berdo’a أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikan lah (umur) kami hingga bulan Ramadan.