Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Dia (Muhammad SAW) Bukan pemaksa kehendak

Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad Saw adalah pemberi peringatan. Nabi bukan pemaksa agar mereka mengikuti ajaran Islam.

Di antara rangkaian ayat-ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad, setelah ayat Iqra, adalah perintah untuk memberi peringatan:

‎يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (Al-Muddatstsir: 1-2)

Ayat ini merupakan ayat ‘pelantikan’ beliau sebagai Rasul, setelah sebelumnya diangkat sebagai Nabi. 

Sejak itu sejumlah ayat al-Quran mempertegas salah satu tugas pokok Nabi ini:

‎وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.(Al Furqan : 56)

Nabi diutus kepada seluruh umat manusia membawa tugas pokok ini: mubasyiran (memberi kabar gembira) dan nadziran (membawa peringatan). Kabar gembira yang dibawa mengenai hal-hal yang baik berupa kebajikan untuk kebahagiaan manusia, termasuk didalamnya mengenai surga yang dijanjikan.

Sedangkan hal-hal yang disampaikan sebagai peringatan adalah hal-hal buruk yang harus dijauhi, yang bisa merusak tatanan kehidupan manusia, termasuk didalamnya konsekuensi di akherat kelak berupa siksa neraka. Kedua tema ini disampaikan secara seimbang dalam dakwah Nabi Muhammad Saw.

‎وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(Saba’ : 28)

Bahkan ditegaskan pula Nabi Muhammad tidak akan dimintai pertanggungjawaban akan mereka yang menolak peringatan darinya. Tugas beliau SAW hanya berdakwah.

‎إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۖ وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.(Al Baqarah : 119)

Itu sebabnya Nabi Muhammad Saw dikatakan bukan orang yang berkuasa atas mereka. Nabi tidak bisa memaksakan kehendaknya atas keyakinan mereka. Sekali lagi, al-Quran menegaskan bahwa tugas Nabi memberi peringatan (mudzakkir). 

‎{فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ. لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ}

Maka berilah peringatan. karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Al-Ghasyiyah. 21-22)

Dengan kata lain, ayat di atas seolah memberitahu kepada Nabi: 

Hai Muhammad, berilah manusia peringatan dengan apa yang engkau diutus kepada mereka untuk menyampaikannya. Tapi tidak usah memaksa mereka mengikutimu karena engkau tidak berkuasa atas apa yang ada dalam hati mereka. Mereka mengikuti ajaran Islam atau tidak, bukan urusanmu, tapi semata faktor hidayah dan rahmat dari Allah.

Dalam ayat lain disebutkan:

‎فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka. (Ar-Ra'd: 40).

Semakin jelas dalam ayat ini bahwa tugas Nabi dinyatakan selesai setelah risalah disampaikan, dan selanjutnya Allah yang akan menghisab (memberi perhitungan) apakah mereka mau menerima dan menjalankan apa yang disampaikan Nabi atau tidak. Nabi Muhammad bukan penghitung amalan mereka, bukan pula penentu diterima atau tidaknya amalan mereka, apalagi bertindak sebagI penyiksa bagi mereka yang menolak ajaran Islam.

Karena itulah makna ayat ini: 

‎{لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ}

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Al-Ghasyiyah: 22).

sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu:

‎وَما أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ

dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. (Qaf: 45).

Sambung-menyambung tema penting ini dibahas oleh al-Quran:

‎لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ 

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya...” (Al-Baqarah:272).

‎فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ 

“...Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah)...” (Ali Imran:20).

‎وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (Al-Maidah:92).

Kita tutup pembahasan ini dengan ayat di bawah ini.

‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Yunus:99).

Jikalau Nabi Muhammad SAW saja hanya bertugas memberi peringatan, bukan pemaksa dan bukan pula penyiksa, maka tanya ke dalam hati kita: siapa kita jika kemudian mau memaksa orang untuk beriman? Mengapa pula sekarang orang yang sudah menyatakan dirinya beriman pun malah kita anggap kafir atau kita suruh dia murtad. Na’udzubillahi min dzalik!.

Wallahu A'lam

Menjadi Budaknya Ego

Ditengah hirupikuknya kehidupan Selama ini kita baru sadar bahwa ternyata kita selalu "mendewakan" apa yang telah kita ketahui, dan memandang rendah apa-apa yang tidak kita ketahui.

Sejau ini kita diakrapkan dengan kebenaran yang terbatas oleh penglihatan yang berbatas dan bahwa Solah-olah kebenaran adalah apa yang telah sudah kita ketahui dan Tanpa sadar kita telah menjadi budak bagi ego kita sendiri. 

Kita tak pernah mau memandang kebenaran secara holistik (menyeluruh) sehingga yang terjadi adalah kita selalu menyalahkan orang lain yang berpandangan berbeda.

Maka di tengah maraknya cacian, hujatan dan kebencian yang berserakan di dunia Maya dan nyata ini sebaiknya kita merenungkan nasehat bijak dari Imam Al-Ghazali yang tersebut dalam kitab Ihya Ulumuddin. Bahwa

الناس عبيد لما عرفوا و أعداء لما جهلوا 

Manusia adalah budak bagi apa yang telah diketahuinya dan musuh bagi apa yang tidak diketahuinya. 

Maka, ada baiknya kita mengambil peran Diam.

لو سكت من لا يدري، لقلّ الخلاف بين الخَلق

Kalaulah orang yang tidak tahu itu DIAM, maka pasti akan berkurang perbedaan pendapat di antara manusia.


6 HAL PENGGEROGOT AMAL BAIK:

1. Al-istighlal biuyubil kholqi (sibuk dengan aib orang lain) sehingga lupa pada aib sendiri. Semut diseberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.

2. Qaswatul qulub (hati yang keras) kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang. Sulit menerima nasehat.

3. Hubbun dunya (cinta mati terhadap dunia) merasa hidupnya hanya di dunia aja maka segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di akhirat.

4. Qillatul haya’ (sedikit rasa malunya), jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.

5. Thulul amal (panjang angan- angan), merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.

6. Dhulmun la yantahi (kezhaliman yang tak pernah berhenti) perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut.

Mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari 6 perkara tersebut diatas, sehingga kita dapat tetap istiqomah dalam ketaqwaan.

Kita mungkin sering meminta agar dijadikan sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Setiap saat kita selalu berdo'a seperti yang tersebut dalam QS. Al Furqan ayat 74.

ربنا هب لنا من أزواجنا وذريتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما.

Di dalam doa itu mengandung harapan agar kita dijadikan sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Adanya ketaqwaan tentu setelah adanya keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin orang beriman seharusnya juga orang yang beriman. 

Imam adalah orang yang dijadikan sebagai panutan. Di dalam doa itu ada permintaan sebagai panutan bagi orang-orang yang bertakwa. Yang berarti sudah menjadi baik terlebih dahulu atau ada usaha sungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik dari yang dipimpin. 

Keberhasilan dalam menata keluarga yang berupa istri dan anak tentu didahulukan daripada masyarakat umum. Keluarga yang baik tentu akan menjadikan penentram hati. Bila keluarga telah tertata, maka keluarga itu bisa menjadi contoh untuk masyarakat. Hal itu diisyaratkan oleh doa diatas.

Menjadi pemimpin yang bisa menjadi contoh, tentu melalui proses panjang, terlebih pemimpin dalam hal keilmuan. 

Ada maqolah Al-Imam Syadlili yang bisa dijadikan peredam bila menghadapi rintangan sebagai berikut.

لا يكمل عالم في مقام العلم حتى يبتلى بأربع: شماتة الأعداء وملامة الأصدقاء وطعن الجهال وحسد العلماء، فإن صبر جعله الله إماما يقتدى به.

Orang yang berilmu tidak akan sempurna derajat keilmuannya sebelum dia diuji dengan empat hal:

1. Dimaki oleh musuh-musuhnya.

2. Dicela oleh teman-temannya.

3. Dihina oleh orang-orang bodoh.

4. Diiri (hasudi) oleh orang-orang alim lainnya.

Jika ia sabar dalam menghadapi cobaan itu, maka ia akan menjadi orang alim yang sejati yang pantas untuk diikuti petuah dan perilakunya.

Karena itu, setelah ayat tersebut terdapat pembahasan tentang kesabaran yang berbuah surga.

أولئك يجزون الغرفة بما صبروا ويلقون فيها تحية وسلاما، خالدين فيها حسنت مستقرا ومقاما.


Semoga bermanfaat.

Trilogi: Usaha, Doa, dan Tawakal

Trilogi: Usaha, Doa, dan Tawakal

Kita semua tahu bahwa suatu perbuatan atau usaha manusia terdiri dari 3 (tiga) tahap, yakni: (1) tahap niat, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap hasil.

Berdasar pada QS. Ali Imran, ayat 159 

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

maka tawakal harus kita lakukan pada akhir setiap tahap. Artinya, kita harus bertawakal kepada Allah SWT dalam keseluruhan tahap itu.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Ra’d, ayat 11, إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ayat ini menegaskan bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu, misalnya perubahan nasib, mendapatkan rezeki, ilmu, lulus dari ujian, kesehatan, dan sebagainya, maka ia harus melakukan suatu usaha secara aktif dan nyata, dan inilah yang disebut dengan ikhtiar atau usaha lahiriah.

Jadi seseorang akan tetap dalam ketertinggalannya kalau ia tidak berusaha mengatasi ketertinggalan dengan cara mencari ilmu. Seseorang akan tetap hidup sengsara jika ia tidak berikhtiar untuk lepas dari kesengsaraanya, misalnya dengan bekerja keras. Seseorang akan tetap pada watak dan kebiasaannya, seperti pelit, suka iri, malas, pendendam, dan sebagainya, sampai ia berusaha mengubah watak dan kebiasaan tersebut. Seseorang akan tetap sakit sampai ia berusaha mencari kesembuhan dengan cara berobat.

Berikhtiar adalah merupakan kewajiban. Maka barangsiapa mau berikhtiar, ikhtiarnya akan dicatat sebagai bentuk ibadah. Jika ikhtiarnya membuahkan hasil, maka setidaknya ia akan mendapat 2 (dua) keuntungan. Pertama, ia akan memperoleh pahala dari Allah SWT. Kedua, ia akan mendapat keberhasilan atau manfaat dari apa yang telah ia usahakan. Tetapi jika ikhtiarnya belum berhasil, maka setidaknya ia akan mendapat pahala dari Allah SWT dan Jika ia bersabar, maka ia akan mendapatkan pahala yang berlipat.

Untuk memperlancar atau mempermudah ikhtiar kita mencapai keberhasilan, kita perlu dan bahkan harus berDo'a sebagai bentuk usaha batiniah. ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya”

Allah SWT akan memberikan jawaban atau merespons apa yang menjadi keinginan atau usaha kita, kalau kita berdoa kepada-Nya.

Hikmah berdoa kepada Allah SWT dalam kaitannnya dengan ikhtiar adalah bahwa doa akan mendekatkan kita kepada Allah SWT, dan karenanya akan memperlancar tercapainya apa yang kita usahakan. Hikmah lain adalah bahwa dengan berdoa, kita akan terhindar dari klaim bahwa keberhasilan kita semata-mata karena ikhtiar kita sendiri tanpa campur tangan dari Allah SWT. Tentu ini akan mejadi kesombongan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya, إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS al-Mu’min: 60).

Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita lupa berDo'a kepada Allah SWT dalam setiap usaha kita untuk meraih sesuatu. Semakin banyak kita berDo'a dalam kehidupan kita sehar-hari, semakin dekatlah kita kepada Allah SWT dan tentu ini menjadi hal yang terpuji karena dengan berDo'a kita menunjukkan kerendahan dan pengakuan betapa kecil dan lemahnya kita di depan Allah SWT.

Selain melakukan ikhtiar dan doa kepada Allah SWT dalam upaya kita meraih sesuatu, ada satu hal lagi yang tak boleh kita tinggalkan, yakni tawakal. فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang brtawakal pada-Nya.”

Jadi memang ikhtiar dan Do'a sesungguhnya belum cukup karena masih ada satu hal lagi yang harus kita lakukam, yakni Tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT.

Pertanyaannya, mengapa kita harus bertawakal kepada Allah SWT?

Tawakal memiliki peran penting dalam hidup ini, terutama terkait dengan usaha dan Do'a kita. Seperti kita ketahui dan mungkin sering kita alami bersama bahwa tidak setiap yang kita usahakan atau inginkan akan tercapai dengan segera sebagaimana kemauan kita, sebab memang bukan manusia yang mengatur hidup ini. Allah-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya. Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha Adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya usaha dan Do'a kita, kita serahkan kepada Allah SWT. Biarlah Allah yang mengatur kapan usaha dan Do'a kita akan terkabul. Allah lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya. Allah lebih tahu kapan usaha dan Do'a kita akan terkabul.

Terkadang, apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah SWT. Terkadang pula Allah belum mengabulkan usaha dan doa kita karena Allah menilai kita belum siap, terutama secara mental spiritual, untuk menerima keberhasilan yang kita inginkan. Ingatlah, ada sebagian orang yang ketika usaha dan do'anya dikabulkan, mereka justru makin jauh dari Allah SWT dengan melakukan banyak kemaksiatan.

firman Allah:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar.

Sebagai contoh, seseorang berDo'a memohon kenaikan pangkat dalam jabatannya. Ketika pangkatnya naik dan berkuasa, ia justru banyak melakukan penyalah gunaan jabatan, seperti memanipulasi dan sebagainya. Hal seperti ini banyak kita jumpai di era seperti sekarang ini dimana jabatan tidak lagi dinilai sebagai suatu amanah tetapi telah dipandang sebagai kesempatan untuk memupuk kekayaan sebesar-besarnya secara tidak sah. Sungguh tragis dan ironis, setelah doanya terkabul, ia malah menjadi penghuni penjara. Na’udzubillahi mindzalik. Ini artinya, secara mental spiritual ia sebenarnya belum siap menerima sebuah keberhasilan duniawi.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT, kita tentu lebih siap untuk menerima kenyataan. Mereka yang tidak tawakal, mungkin akan sangat kecewa dan bahkan mengalami stres berat ketika usaha dan do'anya tidak atau belum terkabul. Sebagian dari mereka bahkan ada yang menyalahkan Tuhan dengan menuduh Tuhan tidak adil. Na’udzubillahi mindzalik.

Sebaliknya, mereka yang bertawakal tentu akan sabar menerimanya sambil introspeksi diri dengan tetap berusaha dan berdoa secara istiqamah. Mereka tidak akan putus asa karena menyadari sepenuhnya bahwa Allah-lah Yang Maha Tahu kapan sebaiknya usaha dan doanya akan terkabul. Ketika usaha dan doanya telah terkabul, tentu mereka akan bersyukur karena menyadari sepenuhnya keberhasilan itu berasal dari Allah SWT dan Salah satu bentuk syukur itu dapat kita wujudkan dengan tetap taat dan patuh kepada Allah SWT yang disebut takwa.

Tawakal memiliki banyak sekali hikmah sebagaimana ditegaskan di dalam Al Quran; di antaranya adalah:

Pertama, orang yang bertawakal kepada Allah akan mendapat perlindungan, pertolongan dan bahkan anugerah dari Allah SWT sebagaimana ditegaskan di dalam Surah Al-Anfal, ayat 49, yang berbunyi: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَإِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ "Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Orang-orang yang senantiasa bertawakal kepada Allah dalam setiap urusannya, Allah akan menunjukkan bukti keperkasaan dan kebijaksanaan-Nya. Tentu kita ingat bagaimana ketika Rasulullah hendak dibunuh dengan diacungi sebilah pedang oleh seorang kafir Quraisy bernama Suraqah bin Malik.

Kedua, orang yang bertawakal kepada Allah SWT akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat sebagaimana disebutka dalam Surah An-Nahl, ayat 41-42: وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal.”

Orang-orang yang selalu bertawakal kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupannya, akan selalu mendapat balasan dari Allah SWT, tidak hanya balasan kebaikan di dunia tetapi terlebih balasan di akherat nanti.

Ketiga, orang yang bertawakal hidupnya akan dicukupi oleh Allah SWT sebagai ditegaskan dalam Surah Ath-Thlaaq, ayat 3: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah SWT bahwa orang-orang yang hatinya senantiasa bertawakal kepada-Nya, akan dicukupi seluruh keperluan hidupnya, baik secara material maupun spiritual.

Demikianlah trilogi kehidupan dalam Islam, yang terdiri dari: ikhtiar, doa dan tawakal. Ketiga hal ini tak bisa dipisahkan dan harus dilakukan secara utuh setiap kali kita menginginkan sesuatu dalam hidup dan kehidupan ini. Semoga Allah SWT. senantiasa membimbing kita untuk melaksanakan trilogi tersebut.

Risalah yang didustakan

Semua orang yang membawa risalah ALLOH pasti dimusuhi.

Demikian dikatakan Waraqah bin Naufal kepada Nabi Muhammad:

لَم يَأتِ رَجُلٌ مِثْلَ مَا جِئْتَ بِهِ اِلَّا عُوْدِيَ

Orang yang membawa risalah seperti yang engkau bawa ini pasti dimusuhi.

Disebutkan dalam Al-Qur'an:

من كان عدوا لجبريل فإنه نزله على قلبك.

Mengapa malaikat Jibril dimusuhi?.

Jawabannya:

فإنه نزله على قلبك

Karena Malaikat Jibril yang bertugas menyampaikan wahyu secara berangsur-angsur. 

Wong wis wani ngaji nyebar ilmu agomo, kudu siap dimusuhi. Ananging ojo golek musuh.

Itu adalah sunnah ALLOH yang pasti akan terjadi. 

Rosululloh disebutkan:

أفإن مات أو قتل انقلبتم على عقبيه

Apakah bila Nabi Muhammad mati (wafat) atau dibunuh, maka kalian akan kembali berpaling.

Sehingga diriwayatkan bahwa Rosululloh pernah disihir dan diracun oleh orang Yahudi. Berbagai perencanaan pembunuhan oleh orang-orang kafir. 

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا من المجرمين

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن

Akan tetapi, ALLOH tetap melindungi Rosululloh.

والله يعصمك من الناس.

إنا كفيناك المستهزئين.

Begitu pula orang-orang yang mengikuti jalan Rosululloh, pasti akan dilindungi oleh ALLOH.

وكفى الله المؤمنين القتال.

Dan akhirnya, semoga kita semua dilindungi oleh ALLOH dalam berjuang untuk agama ini.

Menjaga relasi di langit dan di bumi

Banyak kisah yang kita baca dan dengar dari banyak orang yang bertutur tentang sahabat atau kenalannya tentang sebuah kebajikan, kemudian merasa ingin membalas kebaikan. Bahkan menginspirasi penerima kebaikan untuk melakukan kebaikan yang serupa.

Begitupun Kejahatan dan Kenakalan. Banyak kisah tentang korban Bullian yang mendera seseorang yang kemudian berbuah ketidak nyamanan dalam bergaul dan bahkan berakhir dengan bunuh diri.

Betapa perbuatan baik dan tidak baik itu berkesan, dan bahkan mempengaruhi interaksi sosial antara sesama di kemudian hari.

Bahwa kebaikan kelak akan kembali kepada yang menanam, begitupun keburukan juga dipercaya akan kembali berpulang kepada pemiliknya. Orang yang menerima kebaikan akan cenderung melakukan hal yang serupa dan selalu komitmen dengan kebaikanya, sebaliknya juga demikian.

Maka, sesiapapun kamu jangan pernah lupa ketika kita berada ‘di atas’. Saat karir dan posisi kamu berada pada puncaknya, tetaplah berbaik kepada sesama, kepada lingkungan, kepada sahabat-sahabat kita terutama kepada orang yang berjasa lebih ditengah masa sulitmu mendera.

Ingat Tetaplah membumi. Berkompetisilah dalam kebaikan kepada sesama dengan tetap merajut ukhuwah langit dan di bumi. Sebab hidup ini terus berputar, ada saatnya kita akan selesai dan kembali turun ke bawah, dimana pada saat itu, merekalah yang akan menjadi kawan bergaul kamu seperti sedia kala.

Allah SWT. mengajarkan kepada kita untuk saling memberi penghormatan yang lebih baik dari yang diberikan oleh orang lain yang serupa dan atau setimpal. 

‎وَإِذا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْها أَوْ رُدُّوها

Apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)

Dan pada saat sedang jatuh, janganlah berputus asa, teruslah berusaha untuk kembali meraih kesuksesan, dengan tetap menjaga relasi dengan langit. Karena apa yang kita raih saat ini akan kita pertanggung-jawabkan kelak pada Allah dihari kemudian.

Mintalah Hanya Kepadaku

Jika engkau mengetuk pintu rumah orang (manusia) boleh jadi penghuninya sedang tidak ada atau pemilik rumah sedang dalam  kesibukannya dan begitupun ketukan ketukan selanjutnya yang ada hanyalah kesia-siaan belaka... Jika itu terus kamu lakukan bisa jadi pemilik rumah akan semakin naik amarahnya.

Begitulah yang terjadi ketika engkau meminta dan berharap kepada mahluk yang namanya manusia, jika engkau sering meminta kepadanya mereka akan menjauh dan menganggapmu semakin hina dimatanya.

Tapi ketika pola dan pikirmu kau ubah, hatimu kau cuci dan kembali untuk mengetuk pintu rahmat dan karunia dari  Allah SWT. Allah akan selalu dan dipastikan ada untuk selamanya...

Allah tahu, Allah mendengar akan semua yang menjadi harapanmu jika kamu mengetuk pintuNya, niscaya Allah akan mendengar jeritan hatimu.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْن 

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Maka semakin sering kamu memanggil (mengetuk) nama-Nya, semakin dekat dirimu dan diriNya, semakin intim hubunganmu denganNya, sungguh Allah SWT telah mempersiapkan segala yang indah menurutNya untukmu, hanya terkadang engkau tidak sadari itu dan selalu terburu oleh nafsu su'mu.

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila dia berdo'a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186).


يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ


“Wahai Rabb Yang Maha hidup, Wahai Rabb Yang Maha berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”

Optimis akan Rahmat dan Ampunan Allah SWT

Optimis akan Rahmat dan Ampunan Allah SWT.

Oleh:

Zainuddin, M.Pd.


Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sering berbuat salah, dan yang paling baik dari mereka adalah yang bersegera untuk bertaubat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:


 كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ 


Artinya;

Seluruh anak Adam sering berbuat kesalahan. Dan yang terbaik dari mereka yang sering berbuat kesalahan adalah yang paling banyak bertaubat (HR. Ibnu Majah no. 4251; Imam Suyuti menilai hadits ini shahih).


Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa jika tidak ada lagi manusia pendosa, Allah SWT akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa dan Allah SWT akan mengampuni mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:


لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللَّهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ يَغْفِرُ لَهُمْ


Artinya;

Seandainya kalian tidak ada yang berdosa, maka Allah akan menciptakan makhluk lagi yang akan berbuat dosa dan akan mengampuni mereka (HR. Muslim no. 2748).


Ampunan dan kasih sayang Allah sangatlah luas. Sebagai seorang mukmin, hendaknya kita tetap optimis dan meyakini bahwa Allah SWT maha mengampuni seluruh dosa-dosa kita.


Maka, langkah pertama agar hati kita tetap merasa tenang dengan taubat adalah optimis bahwa Allah SWT mengampuni dosa kita. Sebagimana Allah berfirman dalam salah satu hadis Qudsiy: 


قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً


Artinya:

Wahai anak Adam! Jika kamu berdo'a dan berharap kepadaKu, maka akan Aku ampuni segala dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam! Jika dosamu setinggi langit dan engkau memohon ampun kepadaKu niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa seisi bumi dan engkau menemuiKu (kembali kepadaKu) dengan keadaan tidak menyekutukanKu dengan suatu apapun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan seisi bumi pula (HR. Tirmidzi no. 3540).


Maksud hadis ini adalah, bahwa Allah SWT sangat menyukai hamba-nya yang bertaubat melebihi senangnya seseorang yang menemukan hartanya yang hilang.


Kita haruslah selalu optimis bahwa dengan bertaubat yang sebenar-benarnya pasti Allah SWT akan diterima dan dosa akan diampuni, karena dalam hadis Qudsiy yang lain Allah berfirman, 


أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي 


Artinya;

Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku (HR. Bukhari no. 7505). 


Taubat menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Al-Ghunyah, Disebutkan:


أما شروطها فثلاثة: أولها الندم على ما عمل من المخالفات وهو قول النبي صلى الله عليه وسلم الندم توبة. وعلامة صحة الندم رقة القلب وغزارة الدمع ولهذا روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: جالسوا التوابين فإنم أرق أفئدة. والثاني ترك الزلات في جميع الحالات والساعات. والثالث العزم على ألا يعود إلى مثل ما اقترف من المعاصى والخطيئات


Artinya, “Syarat tobat ada tiga:

Pertama, menyesali atas kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan, ini berdasarkan hadis Rasulullah, ‘Menyesali kesalahan adalah tobat’. Tanda dari penyesalan adalah lembutnya hati dan berderainya air mata. Sebab itu, Rasulullah mengatakan, ‘Berkumpullah bersama orang yang bertobat, karena hati mereka lembut’.

Kedua, meninggalkan setiap kesalahan di mana pun dan kapan pun.

Ketiga, berjanji dan berusaha untuk tidak kembali pada dosa dan kesalahan.


Rahmat dan kedermawanan Allah tidak terukur. Walaupun seseorang datang kepada-Nya dengan dosa seisi langit dan bumi, kasih sayang dan ampunan Allah lebih besar dari itu semua.


Allah SWT akan mengampuni semua dosa dengan syarat hamba-nya memohon ampun disertai iman di dalam hati dan menjauhi perbuatan syirik. Sebagaimana firman Allah SWT:


اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا


Artinya;

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar (QS. An-Nisa 48).


Lantas bagaimana Tanda-tanda taubat yang diterima;


Sebagaimana disebutkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syeikh Nawawi Al-Bantani dijelaskan bahwa tanda diterimanya taubat seorang hamba bisa dilihat dalam 6 Perkara:


1. Orang tersebut akan merasa bahwa dirinya tidak terjaga dari maksiat, sehingga maksiat kemungkinan bisa terjadi kembali. Kemudian dia berusaha untuk menyempurnakan amalnya.


Maksudnya, ia tidak merasa telah suci dan berbangga hati bahwa ia tidak akan pernah berbuat dosa lagi. Hal ini menumbuhkan kehati-hatian dalam berucap, berbuat dan bersikap.


Maka betapa pentingnya menjaga lisan kita:


أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ حِفْظُ اللِّسَانِ


Artinya:

“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah menjaga lisan.”


2. Dia lebih banyak berempati, berkontemplasi, dan bersenang-senang secukupnya saja. (Bahagia secukupnya)


Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW:


مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ قَلَّ فَرَحُهُ، وَقَلَّ حَسَدُهُ   


Artinya, “Siapa yang banyak mengingat kematian akan sedikit gembiranya dan sedikit rasa hasudnya,” (HR. Ibnu al-Mubarak).


3. Bergaul dengan orang-orang baik dan menjauhi orang-orang dengan perilaku buruk.


Kita tahu bahwa bersama orang-orang baik akan membuat iman kita bertambah sekaligus mendekatkan kepada kebaikan-kebaikan.


Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً


Artinya;

“Teman yang baik dan teman yang buruk dibaratkan seperti pembawa minyak wangi dan peniup selongsong api. Pembawa minyak wangi akan menghembuskan aroma wangi kepadamu. Sehingga engkau membeli minyak wanginya atau mencium aromanya. Sedangkan peniup selongsong api akan membakar pakaianmu atau engkau mencium bau asap darinya,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


4. Melihat bahwa harta dunia yang sedikit adalah banyak dan mengambil secukupnya saja.


Selanjutnya, melihat bahwa amal akhiratnya masih sedikit sehingga dia fokus memperbanyak amal akhirat.


التَّفَكُّرُ فِى عَظِمَةِ اللهِ وَجَنَّتِهِ وَنَارِهِ سَاعَةً خَيرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ


Artinya:

“Bertafakkur sejenak tentang keagungan Allah serta tentang surga dan neraka-Nya itu lebih baik dari pada shalat malam.”


5. Lebih banyak meluangkan diri untuk beribadah kepada Allah dan lebih santai dalam memenuhi kebutuhan hidup.


Dia memahami bahwa rezeki sudah dijamin, sehingga ia tetap berikhtiar namun tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi.


Maksudnya tidak pernah resah dengan rezeki yang sudah ditetapkan, tetapi resah jika ketaatannya pada Allah belum maksimal.


تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ وَلَا تَفَكَّرُا فِى ذَاتِ اللهِ فَتَهْلِكُوْا


Artinya;

“Bertafakkurlah kalian tentang ciptaan Allah SWT., dan janganlah sekali-kali bertafakkur tentang Dzat Allah, sebab kalian akan celaka.”


6. Lebih bijak dan berhati-hati dalam bertutur kata.


Orang yang diterima taubatnya hanya berbicara hal yang bermanfaat dan menjauhi kesia-siaan. Dia juga banyak bertafakur mengenai keagungan Allah.


إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ ذُنُوْبًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ   


Artinya;

“Sesungguhnya orang yang paling banyak dosanya pada hari Kiamat nanti adalah orang yang paling banyak bicaranya dalam hal yang tiada guna.” (HR. Ibnu Nashr).


Oleh karenanya, tidak heran jika menjaga lisan adalah termasuk amal yang paling dicintai Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits;


“Amal yang paling dicintai Allah adalah menjaga lisan,” (HR. Al-Baihaqi)


Kesimpulan

Al-Baqoroh 284


Merasa optimis bahwa rahmat dan ampunan Allah begitu luas kepada hamba-Nya adalah kunci ketenangan hati untuk orang yang bertobat.


Sebagai manusia kita juga perlu sadar bahwa kita tidak sempurna dan rentan melakukan kesalahan. Namun, kita tidak boleh berkecil hati karena Allah Maha Pengampun. 


Hamba yang baik adalah mereka yang berusaha menyempurnakan amal kebaikan dan tidak merasa cukup dengan apa yang diperbuat. Kita juga harus senantiasa berusaha untuk hidup secara seimbang dengan mengejar akhirat dan tidak lupa berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup di bumi.

Mutiara yang lekang oleh Zaman

Mutiara yang lekang oleh Zaman

Marilah kita kembali menambah kadar ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan menghindar dari berbagai larangan-Nya dan juga menjauhi berbagai perkara yang dibenci Rasul-Nya. Sesungguhnya hanya dengan taqwalah kita akan menghadapi kehidupan ini secara sempurna.

Tidak selayaknya kita membicarakan keburukan, kema'siyatan demi kemaksiatan yang terjadi di muka bumi ini terus-menerus terjadi. Apalagi kemaksiatan yag terjadi di sekitar kita, yang kerap kali melibatkan orang-orang dekat kita. Alangkah baiknya jika kita mulai melangkah untuk menyelesaikan dan membenahi keburukan itu, tidak sekedar membicarakannya.

Betapa merosotnya keadaan di sekitar kita, hingga berbagai fatwa ulamapun dianggap angin lalu. Guna berbenah itulah kita harus tahu persis akar permasalahan dari keburukan itu. Agar treatmen yang akan diberikan tidak salah sasaran.

Di dalam Kitab Nurul Abshar fi manaqibi an-Nabi al Mukhtar Karya Syaikh Mu'min bin Hasan Asy Syablanji. diceritakan bahwa ketika baginda Rasulullah SAW dalam kondisi sakit di bulan safar, datang kepada Rasulullah SAW seorang malaikat. Kemudia beliau bertanya kepada Malaikat: "Wahai Jibril, akankah engkau masih turun ke bumi setelah aku tiada?" Jawab Jibril As. "Masih Ya Rasulullah, aku akan turun ke bumi untuk mengambil 10 Mutiara hidup sepeninggalnya engkau." Lalu baginda Nabi Muhammad SAW. bertanya kembali: "Mutiara apakah yang engkau akan ambil wahai Jibril?"

Malaikat Jibril lantas Menjawab: 

1. Pertama (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِنَ الأَرْضِا

Mutiara pertama yang akan kuambil dari muka bumi ini adalah barakah (keberkahan). 

Barokah adalah ziyadatul khair. Yang dapat diartikan ‘bertambah baik’. Artinya, sesuatu itu dianggap memiliki kebarokahan jika memang dapat melahirkan kebaikan dari kebaikan yang lain. Misalkan berdagang yang berkah itu akan menjadikan pelaku / pedagangnya makin intens dan berkualitas dalm bersedekah dan tambah rajin beribadah. Begitu pula ilmu yang barokah itu akan menjadikan pemiliknya berperilaku semakin baik, bukan malah semakin buruk. Ilmu akuntansi yang memiliki barokah tidak akan disalah gunakan oleh pemiliknya untuk berlaku curang dst...

2. Kedua ( وَالثََّانىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِنْ قُلُوْبِ الخَلْقِ

Mutiara kedua yang akan kuambil dari bumi adalah rasa cinta (Mahabbah) dari hati manusia.

3. Ketiga (وَالثََّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِنْ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ 

Mutiara ketiga yang akan kuambil dari bumi ini adalah rasa kasih sayang di antara keluarga.

4. Keempat (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِنَ الأُمَراَءِ 

Mutiara keempat yang akan kuambil dari bumi ini adalah keadilan di hati para pemimpin.

Mengenai hal ini kita semu telah pandai menilai. Apakah kekuasaan yang ada di sekitaran kita, ditingkat global dan nasional masih ada keadilan para pemimpin kita? Dapatkah disebut ke adilan jika terjadi tebang pilih dalam penegakan hukum dan perilaku perilaku kebermanfaatan lainya? Na’udzubillah min dzalik.

Jika melihat situasi yang ada ini sudahkah malaikat Jibril turun? Dan di mana dia turun?

5. Kelima (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَياَءَ مِنَ النِّساَءِ 

Mutiara kelima yang akan kuambil dari bumi ini adalah rasa malu dari para wanita-wanita (yang banyak berkata, berpenampilan, dan bersikap tidak pantas). Padahal sesungguhnya rasa malu itu sebagian dari iman.

Kini rasa malu itu telah dirubah menjadi rasa bangga. Seperti misalnya Bangga menjadi perempuan simpanan. Bangga menjadi perempuan yang memiliki gratifikasi terhadap selain muhrim, bahkan sebagian menggunakan alasan seni demi menutupi kemaluan yang telah hilang.

6. Keenam (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِنَ الفُقَراَءِ 

Mutiara keenam yang akan kuambil dari bumi adalah rasa sabar orang-orang fakir (miskin).

Diakui maupun tidak diakui bahwa faktor yang mengondisikan suatu negeri itu miskin dan berkembang tetap aman dan tertata adalah kesabaran para fakir dalam menerima bagian mereka. Namun, ketika golongan fakir miskin ini sudah tidak memiliki kesabaran dengan nasib mereka, maka kesenjangan social bisa berubah menjadi kerusakan dan kekacauan. sebab Do'a mereka tidak terhijab antar langit dan bumi.

7. Ketujuh (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِنَ اْلعُلَماَءِ 

Mutiara ketujuh yang akan kuambil dari bumi adalah sikap Wara' dan Zuhud dari para ulama.

Wara' adalah perilaku cukup dan berhati-hati menjaga diri dari yang syuhbat dan yang haram. Sedangkan zuhud itu (hati) yang tidak mementingkan harta-dunia. Keduanya merupakan ciri seorang ulama. Jika wara' dan zuhud telah hilang dari ulama maka nilai jati dirinya tergores dan nilai keulamannyapun mulai berkurang.

Nampaknya inilah yang terjadi pada ulama kita saat ini. wajarlah jika akhir-akhir ini berbagai fatwa mereka (ulama') tidak di dengar lagi oleh masyarakat. Pengajian-pengajiannya yang ada hanya dianggap sebagai tontonan bukan tuntutan.

8. Kedelapan (وَالثََّامِنُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِنَ الأَغْنِياَءِ 

Mutiara kedelapan yang akan kuambil dari bumi adalah dermawannya orang-orang kaya.

Diantara unsur yang dapat melanggengkan sirkulasi kehidupan ekonomi, budaya dan sosial di suatu masyarakat adalah kesabaran para fakir miskin dan kedermawanan orang-orang kaya. Keduanya akan saling mengisi. Namun jika keduanya tidak sinergis maka semua itu lenyap dan harmonisme dalam satu masyarakat dapat hilang tergantikan dengan unharmonism.

9. Kesembilan (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآنَ 

Mutiara kesembilan yang akan kuambil dari bumi adalah mengangkat Al-Qur'an. Yaitu menghilangkan Al-Qur'an sebagai panduan dalam kehidupan.

Lebih tepatnya menghilangkan ruh al-Qur’an. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi kini makin mempermudah telinga kita mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an. melalui mp3, mp4, dan media media online bahkan tafsirnya pun dapat diperoleh dengan mudah. Akan tetapi semangat Al-Qur’an itu sendiri saat ini semakin pudar bersama dengan makin mudahnya mendengarkan Al-Qur’an.

Meski demikian kita harus tetap berusaha memohon kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa agar Jibril tidak tergesa-gesa turun dan mengambil Al-Qur'an dari bumi ini.

10. Kesepuluh (العاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِيْماَنَ 

Mutiara kesepuluh yang akan kuambil dari bumi adalah iman. Ini adalah mutiara paling berharga di antara sembilan mutiara lainnya.

Boleh jadi ini adalah urutan mutiara yang paling akhir yang akan diambil oleh Jibril. Sebagaimana struktur teks hadits ini yang memposisikannya paling akhir.

Iman, ada di hati dan kita senantiasa berharap kepada Allah SWT. semoga Allah SWT. menetapkan iman dalam hati kita hingga saat dimana nanti kita kembali kepada-Nya tetap dalam keadaan Istiqomah dengan Iman dan Khusnul Khatimah.

Demikian tulisan ini, semoga saya, kita dan para pembaca yang Budiman dapat mengambil ibroh / pelajaran dari sepenggal tulisan yang saya tulis ini sehingga dapat memberikan dan membumikan kemanfaatan bagi seluruh alam.