Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Amalan Malam Nisfu Sya'ban

Amalan malam Nisfu Sya'ban, Membaca surat Yasin 3 kali dengan niat:

Pertama, Minta panjang umur dalam ketaatan dan kesehatan.

نَوَيْنَا قِرَاءَةَ سُورَةِ يُسَ بِنِيَّةِ طُولِ الْعُمْرِ مَعَ التَّوْفِيقِ لِلطَّاعَةِ وَمَعَ الصِحَّةِ وَالْعَافِيَةِ، أَلْفَاتِحَة

Kedua, Minta dijauhkan dari segala malapetaka dan penyakit serta mintalah kelapangan rizqi.

نَوَيْنَا قِرَاءَةَ سُورَةِ يُسَ بِنِيَّةِ الْعِصْمَةِ مِنَ الْآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ، وَبِنِيَّةِ سَعَةِ الْأَرْزَاقِ الْفَاتِحَة

Ketiga, Mintalah Husnul Khotimah dan Kekayaan (hati).

نَوَيْنَا قِرَاءَةَ سُورَةِ يُسَ بِنِيَّةِ غِنَى الْقَلْبِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ الْفَاتِحَة

Setiap bacaan Awali dengan Niat diatas dan Akhiri dengan Do'a dibawah ini:

اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المِسْتَجِيْرِينَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ في الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِي وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سَعِيدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِأَسْمَاءِكَ الْحُسْنَى اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَلِوَالِدِنَا وَذُرِّيَاتِنَا كَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَاسْتُرْ عَلَى عُيُوبِنَا وَاجْبُرْ عَلَى نُقْصَانِنَا وَارْفَعْ دَرَجَاتِنَا وَزِدْ نَا عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا حَلَالاً طَيِّبًا وَعَمَلاً صَالِحًا وَنَوْرْ قُلُوْبَنَا وَيَسِّرْ أُمُوْرَنَا وَصَجِّحْ أَجْسَادَنَا دَائِمَ حَيَاتِنَا إِلَى الْخَيْرِ قَرِّبْنَا عَنِ الشَّرِّ بَاعِدْنَا وَالْقُرْبَى رَجَالُنَا أَخِرًا لِلْنَا الْمُنَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا وَالْحَمْدُ لِإِنْهِنَا الَّذِي هَدَانَا صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى طُهُ خَلِيْلِ الرَّحْمَنِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ إِلَى آخِرِ الزَّمَانِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَأَرَكَ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rahasia dibalik Huruf Sya'ban

Menata hati dan menata niat untuk seluruh aktivitas semata-mata karena Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang sekaligus dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.

Jangan sampai kita memiliki niat yang kurang tepat, sehingga kita tidak mendapatkan keutamaan dari ibadah, kerja, sholat yang kita lakukan.

Alhamdulillah, saat ini kita sudah berada di bulan Sya'ban, bulan yang penuh dengan makna dan hikmah, pembinaan jiwa, penyucian hati, bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam kalender Islam.

Para ulama mengibaratkan bulan Sya'ban sebagai bulan merawat tanaman amal: شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرٌ لِلزَّرْعِ وَ شَعْبَانُ شَهْرٌ لِلسّقِي وَ رَمَضَانُ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ Maksudnya, ini adalah waktu yang tepat buat kita membiasakan diri. Biar nanti pas Romadhon nggak kaget. Biar ibadah nggak cuma menjadi rutinitas tanpa kualitas.

Posisi Sya'ban sangat strategis bagi kita untuk prepare (mempersiapkan) diri, baik secara lahir maupun batin yang lebih matang, dalam menyongsong bulan suci Romadhon.

Kira² keistimewaannya apa, dan yang perlu kita persiapkan apa saja?

Dalam kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafa’is (Al-Imam Abdurraḥman As-Syafury) dijelaskan bahwa kata Sya’ban (شَعْبَانَ) dapat dipahami sebagai rangkaian nilai-nilai bermakna yang tersusun dari setiap hurufnya, yang sekaligus menjadi isyarat penting tentang karakter dan semangat yang seharusnya kita hidupkan selama bulan Sya’ban.

Huruf pertama, Syin (ش), yang bermakna Asy-Syaraf (الشَّرَفُ) atau kemuliaan., bahwa Sya’ban adalah bulan kemuliaan, waktu yang tepat untuk menjaga kehormatan diri sebagai hamba Allah.

Pada bulan ini, kita dianjurkan memperbaiki Akhlak, menjaga Lisan dan Perbuatan, serta meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah SWT karena pada bulan inilah catatan amalan kita akan diangkat dan disetorkan kepada-Nya. (Nisfu).

Rasulullah bersabda: فَذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ شَهْرِ رَجَبٍ وَشَهْرِ رَمَضَانَ، تُرْفَعُ فِيهِ أَعْمَالُ النَّاسِ، فَأُحِبُّ أَنْ لَا يُرْفَعَ عَمَلِي إِلَّا وَأَنَا صَائِمٌ “Itu (Sya’ban) bulan yang dilalaikan manusia antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Di bulan ini amal manusia diangkat/dilaporkan kepada Allah. Aku ingin amalku tidak diangkat kecuali aku sedang berpuasa,” (HR Nasa’i dan Ahmad).

Huruf kedua Ain (ع), yang dimaknai sebagai Uluwun (عُلُوُّ) atau derajat dan kedudukan yang tinggi lagi terhormat.

Makna ini mengisyaratkan bahwa Sya’ban adalah momentum peningkatan derajat keimanan dan ketakwaan.

Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, seperti puasa sunnah, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad serta memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an, mampu menjadi cara untuk mengangkat kedudukan seorang hamba di sisi Allah.Hal ini selaras dengan berfirman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13: اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Huruf ketiga Ba’ (ب), berarti Al-Birru (البِرُّ) yang artinya kebaikan. Sya’ban adalah bulan memperbanyak kebaikan dalam arti yang luas. Kebaikan tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual, tetapi juga dalam kepedulian sosial, (membantu sesama, menebarkan manfaat, serta menumbuhkan sikap empati dan solidaritas di tengah masyarakat).

Allah berfriman dalam surat Al-An’am 160: مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَاۚ وَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ “Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan).”

Huruf keempat adalah alif (ا) yang dimaknai sebagai Al-Ulfah (الأُلْفَة) yakni kasih sayang dan keakraban. Makna ini menegaskan bahwa Sya’ban adalah bulan untuk memperkuat persaudaraan dan keharmonisan.

Kita diingatkan untuk memperbaiki hubungan yang renggang, memaafkan kesalahan orang lain, dan menumbuhkan cinta kasih, baik dalam keluarga maupun di lingkungan sosial, salah satunya dengan cara berinfaq, sedekah, berbagi makan., sebagai bagian dari ciri orang bertakwa yang disebutkan dalam QS. Ali-Imron: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Huruf terakhir, Nun (ن), yang bermakna An-Nur (النُّوْرُ) atau cahaya.

Cahaya itu melambangkan hidayah, kejernihan hati, dan ketenangan jiwa. Bahwa: اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ "Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. ...... Allah memberi petunjuk (Al-Qur'an) menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki.

Ayat ini adalah merupakan landasan bagi umat manusia untuk mencapai predikat insan kamil (manusia yang sempurna), dengan perantaraan cahaya Allah yang masuk ke dalam hati setiap mukmin. Karena itu jadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk (baca, pahami dan implementasikan).

Rasulullah SAW bersabda, اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ “Bacalah Al-Qur’an sesungguhnya ia akan menjadi penolong pembacanya di hari kiamat.”

Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: إِذَا مَاتَ حَامِلُ القُرْآنِ أَوْحَى اللَّهُ إِلىَ الأَرْضِ لِأَكْلِ لَحْمِهِ قَالَ فَتَقُوْلُ الأَرْضُ وَكَيْفَ آكِلُ لَحْمَهُ وَكَلاَمَكَ فِي جَوْفِهِ "Ketika ahli (orang hafal) al-Quran meninggal maka Allah memberikan wahyu kepada bumi agar tidak memakan jasadnya, kemudian bumi berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa memakan jasadnya sementara kalamMu ada di dalamnya. (HR Dailami)"

Amal-amal yang dilakukan di bulan Sya’ban diharapkan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan kita, sekaligus menjadi bekal utama untuk memasuki Ramadhan dengan iman yang lebih kuat dan hati yang lebih bersih.

Maka, marilah kita menghidupkan bulan Sya’ban dengan memperbanyak amal kesalehan, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Karena itu, Jangan biarkan Sya’ban berlalu tanpa makna. Mari jadikan Sya’ban sebagai bulan persiapan ruhani agar ketika Ramadhan tiba, kita benar-benar siap memasukinya dengan hati yang bersih, iman yang kuat, dan semangat ibadah yang lebih baik. Aamiin.

Rahasia mengubah sudut pandang

Hidup ini menyenangkan kalau kita melihat dengan sudut pandang yang benar. "Bahagia akan menjadi tidak sederhana kalau kita memiliki ekspektasi melampaui reality" Ketika kehidupan memberi kita episode yang menyakitkan, jangan khawatir, karena kita tidak akan selamanya dalam episode terluka, فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ "Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan" اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ "Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan" Dengan begitu, setiap amal menjadi ibadah, setiap gerak menjadi pengabdian.

Sudut pandang adalah "kacamata, sudut pandang atau perspektif yang kita gunakan untuk melihat kenyataan. Jika kacamatanya kotor, maka dunia akan terlihat suram, kabur, kumuh dan buruk. Sebaliknya, jika kacamata itu jernih, maka perkara yang pahit dan pelik bisa terlihat baik, menyenangkan dan istimewa.

Para ulama' kita mengistilahkan Sudut pandang dengan kata "Wijhatun nadhor" (وجهة النظر) Secara harfiah, kata wijhatun (وجهة) berarti "tujuan", "arah", "muka", atau "kiblat", Sementara kata nadzhor (نَظَرَ ) berasal dari akar kata yang berkaitan dengan "melihat" atau "memandang". seperti yang disebutkan dalam QS Al-Baqarah 148: وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ "Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada,

Karena itu kita musti mengambil inisiatif untuk memperbaiki situasi, bukan hanya pasif dalam keluhan dan keterpurukan: اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ Bahwa Alloh tidak akan mengubah keadaan kita sampai kita sendiri yang mau berubah.

Lantas, bagaimana cara mengubah sudut pandang agar hidup kita lebih tenang?

Pertama: Ganti Keluhan dengan Perilaku Sabar dan Sholat.

Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa dalam menghadapi masalah, manusia diperintahkan untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar" (Ceritakan Peristiwa Sebelum Isro' Mi'roj).

Sikap: Menahan diri dari mengeluh, memperkuat iman, dan menjadikan sholat sebagai sarana komunikasi dan ketenangan hati. 

Kedua: Ubah Keluhan dengan Rasa Syukur.

Keluhan sering kali muncul karena kurangnya rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim 7: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ Dari ayat ini sesungguhnya kita di ajarkan untuk melihat apa yang sudah ada, bukan apa yang tidak ada.

Karena itu, pembiasaan untuk bersyukur adalah cara paling efektif untuk mengubah pola pikir yang negatif menjadi pola pikir yang positif. Misalnya: Jika hari ini turun hujan, jangan hanya melihat beceknya, tapi lihatlah kesegaran untuk bumi dan penghuninya sebagai akibat dari hujan.

Alloh SWT. berfirman: وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ Karena itu guru-guru kita mengajak kita untuk ينظر بعين الرحمة memandang segala sesuatu dengan tatapan rahmat (kasih sayang) sehingga kita tidak mudah untuk bersu'udzon kepada apapun yang terjadi pada kita.

Seringkali kita merasa terpuruk karena memandang ujian sebagai Punishment, Padahal tidak seperti itu konsep seharusnya, Dalam Hadis Qudsi, Rasulullah SAW., bersabda: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku" dan Rahasianya sederhana: Jika kita memandang ujian sebagai bentuk kasih sayang dan penghapus dosa, maka Allah akan memberikan ketenangan dan jalan keluar. وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ Namun, jika kita berprasangka buruk, maka kesempitan yang akan kita rasakan. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ 

Sikap: Fokus pada Ni'mat yang ada, bukan pada kekurangan, untuk menarik lebih banyak kebaikan dalam hidup.

Ketiga: Ganti Keluhan dengan Keyakinan akan datang Kemudahan.

Al-Qur'an memberikan jaminan bahwa setiap kesulitan pasti akan diikuti oleh kemudahan, yang seharusnya menghilangkan keputusasaan dan keluhan. Alloh SWT., berfirman: فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ "sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan" اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ "Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan".

Sikap: Optimis, percaya akan janji Allah, dan tidak berputus asa saat menghadapi ujian ان الله لا يخلف الميعاد

Al-Qur'an memandang bahwa berkeluh kesah adalah sikap yang bertentangan dengan iman, maka dengan peristiwa Isro' dan Mi'roj kita harus terdorong untuk memiliki sudut pandang dan tindakan positif, bersabar dalam semua hal dan keadaan, senantiasa bersyukur, dan jangan lupakan Sholat sebagai perwujudan dari meneladani hikmah dani Isro' Mi'roj.

Perubahan nasib di mulai dari perubahan diri sendiri, termasuk cara kita berpikir, maka mulai hari ini, kita ganti lensa negatif kita dengan lensa penuh harapan dan husnudzon (berprasangka baik), kepada Allah, meyakini bahwa setiap satu kesulitan akan diiringi oleh dua kemudahan فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا karena itu beranilah mengubah "pola pikir" agar Allah SWT., mengubah "pola hidup" kita.


Teruslah berbenah menjadi lebih baik

Betapa banyak nikmat yang Alloh curahkan, tapi sering kita lalai untuk bersyukur, Betapa banyak dosa dan kekhilafan yang kita lakukan, namun Alloh masih memberi kita kesempatan hidup hingga hari ini.

Karena itu, diawal tahun ini mari kita awali dengan semangat baru berupaya maksimal meningkatkan dan menguatkan keimanan kita.: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak²nya.” (QS. Al-Ahzab: 41).

Dengan dzikir, hati yang gelisah menjadi tenang, dosa kemaren diampuni, dan hidup kedepan diarahkan kepada tujuan yang hakiki: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28).

Siapa sih yang tidak mau menjadi orang yang lebih baik? Kita semua pasti ingin terus berkembang dan menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Tapi, bagaimana caranya.

Langkah pertama untuk menjadi orang yang lebih baik adalah dengan mengenali diri sendiri. Apa kelebihan dan kekurangan kita?

Kenali Diri Sendiri. من عرف نفسه فقد عرف ربه

Al-Qur'an sering kali mengajak kita untuk merenung dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Misalnya, dalam QS. Adz-Dzariyat 20-21, Allah berfirman: وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَۙ "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ dan (juga) pada dirimu sendiri, Apakah kamu tidak memperhatikan?"

Ayat ini menekankan pentingnya memperhatikan diri sendiri sebagai bagian dari penciptaan Allah yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Manusia Diciptakan dalam Bentuk yang Sebaik-Baiknya, QS. At-Tin 4: لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan dengan potensi dan keistimewaan yang unik, yang merupakan bagian dari kebijaksanaan Allah.

Al-Qur'an juga mengajarkan pentingnya kesadaran akan kelemahan manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna: يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا "Alloh hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah." (QS. An-Nisa 28).

Sadar akan kelemahan seharusnya mendorong kita untuk selalu bergantung kepada Allah dan mencari kekuatan dalam iman dan takwa.

Setelah kita paham kelebihan dan kekurangan, selanjutnya kita musti paham tujuan hidup yang ingin kita capai.

Tetapkan Tujuan yang Jelas.

Bahwa tujuan hidup manusia tiada lain adalah menunaikan penghambaan dan pengabdian وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ sehingga dalam penghambaan dan pengabdian itu kita diharapkan melaksanakannya dengan bahagia (karena Rahmat) قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ karena Apa pun yang kita lakukan dalam hidup, tujuan utamanya adalah membuat kita bahagia pada akhirnya, karena هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Setelah tahu bahwa tujuan hidup itu penting, kita juga perlu membuat rencana bagaimana caranya mencapai tujuan.

Buatlah Rencana dan Ambil Tindakan.

Kita perlu membuat langkah² kecil yang konkret dan realistis, karena Menjadi orang yang lebih baik bukan hanya tentang pengembangan diri, tapi juga tentang meningkatkan kompetensi dan memaksimalkan potensi diri.

Lalu Bagaimana caranya? Belajar belajar dan belajar., sebagaimana sabda Rasulullah SAW., مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ "barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, maka Alloh SWT akan memberi pemahaman dalam agama" dan Teruslah semangat dan Jangan hanya berdiam diri! Ambil tindakan nyata untuk mencapai tujuan, Lakukan langkah-langkah kecil yang sudah kita rencanakan.

Lakukan Evaluasi diri sembari terus Berbenah.

Setiap langkah yang kita ambil adalah proses belajar, untuk mengukur keimanan dan ketaqwaan, yang mencakup ranah kognitif (ilmu), afektif (sikap dan perasaan “kesabaran, syukur”), dan psikomotorik (Perbuatan nyata, Amal), dengan tujuan utama agar manusia memperbaiki diri menuju ketakwaan.

Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata: وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا “dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Bahwa evaluasi diri lebih dini akan menguntungkan kita pada kehidupan kelak. Mengapa? Karena dengan mengevaluasi diri sendiri secara berkala manusia akan mengenali kekurangan²nya yang diharapkan dapat diperbaiki sesegera mungkin. Kondisi ini akan meminimalkan kesalahan sehinga tanggung jawab dalam kehidupan di akhirat nanti menjadi sangat ringan.

Jangan Mudah Menyerah.

Menjadi orang yang lebih baik itu bukan proses yang mudah. Akan ada banyak tantangan dan rintangan yang harus kita lalui. وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ Jangan mudah menyerah! Teruslah berjuang dan pantang putus asa.

Bersabar dan teruslah Bersyukur.

Bersyukurlah atas setiap kemajuan yang kamu capai, sekecil apapun itu. Bersabarlah dalam prosesnya. Menjadi orang yang lebih baik membutuhkan waktu dan usaha. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dari QS Ali Imron/200 ini sesungguhnya kita telah diajarkan tentang: اصْبِرُوا Bersabar: Sabar dalam menjalankan perintah Allah (taat) dan menjauhi larangan-Nya (meninggalkan maksiat), serta sabar menghadapi cobaan dan musibah. صَابِرُوا Kuatkan Kesabaran: Tidak hanya bersabar, tapi juga memperkuat kualitas kesabaran, bahkan berlomba dengan musuh dalam kesabaran agar tidak kalah. رَابِطُوا Tetap Siap Siaga: Siap siaga untuk berjihad dan menjaga agama, juga dapat diartikan sebagai waktu menunggu sholat. وَاتَّقُوا Bertaqwa: Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam segala keadaan. Yang tujuanya adalah لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Agar Beruntung: Hasil dari melaksanakan perintah adalah keberuntungan, yaitu kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat (surga).

Saudaraku, teruslah berbenah, Jangan menjadikan kesempatan Hidup kita ini untuk hal² yang tak membawa manfaat (memutar-mutar urusan orang lain tanpa sebab sesuai syari'at): وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ "Allah SWT senantiasa menolong hamba-nya selama hamba itu mau menolong saudaranya"

Maka gunakanlah tangan dan kesempatan kita untuk Terus berbenah menjadi lebih baik, menolong saudara² kita sehingga Alloh menjadikan kita sebagai orang-orang yang terus beruntung أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Antara Ni'mat dan Musibah

Tidak terasa, 2025 telah usai kita lewati dan saat ini kita berada pada periode awal 2026, Rosululloh Muhammad SAW bersabda;

لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يتقارَبَ الزَّمانُ ، فتَكونُ السَّنةُ كالشَّهرِ، والشَّهرُ كالجُمُعةِ ، وتَكونُ الجمعةُ كاليَومِ، ويَكونُ اليومُ كالسَّاعةِ،

.... وَتَتَقاَرَبُ الأَسْوَاقُ .....

Maka kita patut untuk terus bersyukur atas segala anugerah, Karunia dan Ni'mat dari Tuhan yang ada di setiap episode kehidupan kita.

Alloh SWT berfirman: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Bagi sebagian kita, menganggap bahwa Rizki, kehidupan duniawi ini sangat mengasyikkan, sehingga sebagian dari kita mengingkari hari kebangkitan dan hari pembalasan. Coba lihat (anak kecil yang tengah bermain hingga lupa waktu).

Artinya semakin kita terlena atas An-ni'mat, maka semakin banyak pula kepuasan dan kesenangan yang kita peroleh. Akan tetapi, kita tidak mendapatkan apapun dari yang kita lakukan.

Oleh karenanya semakin dewasa, kita musti bisa membedakan antara An-ni'mat (النعمة) dan an-niqmah (النقمة), dua kata (mirip dalam sebutan) tetapi dalam bahasa Arab yang memiliki makna yang berlawanan.

An-ni'mah (النعمة) berarti (nikmat, karunia, atau kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada manusia). Sementara An-niqmah (النقمة) berarti (petaka, siksa, hukuman, atau musibah yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai balasan atas kesalahan atau dosa).

Lalu!!! Apakah rezeki yang sejauh ini kita gunakan bukan merupakan nikmat (sebaliknya) petaka?, tentu kesemuanya bergantung pada dampak yang ditimbulkan terhadap orang yang menerima rezeki itu. (Apakah dengan rezeki itu lantas bisa tetap bersyukur? -khidmah, taat, ibadah).

Alloh SWT berfirman: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras."

Syekh asy-Sya'rawi (Tilkal Hiya Al-Arzaq) menjelaskan¹:

الْمَالُ إِذَا جَاءَ لِيُطْغِيَكَ فَيَكُونُ نِقْمَةً وَلَيْسَ نِعْمَةً، وَإِذَا كَانَتْ قِلَّةُ الْمَالِ تَمْنَعُ طُغْيَانَكَ فَهِيَ نِعْمَةٌ وَلَيْسَتْ نِقْمَةً، وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (كلا إِنَّ الإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى)

Jika harta datang untuk membuatmu melampaui batas (dengan maksiat), maka itu adalah bencana dan bukan nikmat. Dan jika sedikitnya harta dapat mencegahmu dari perkara buruk (dalam agama), maka itu adalah nikmat, bukan bencana. Sebab itulah Allah SWT berfirman: كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ، أَن رَّآهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (QS. Al 'Alaq [96]:6–7)

Jadi, ketika rezeki dapat membawa kepada kebaikan, maka itulah sebenar-benarnya nikmat. Sebaliknya, bila suatu rezeki justru menjerumuskan seseorang pada keburukan, itulah hakikat dari petaka (istidroj-jebakan).

Allah SWT mengingatkan kita: سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ “akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-‘Araf 182-183).

Banyak orang yang terjebak dalam istidraj karena mereka merasa bahwa kenikmatan yang mereka dapatkan adalah anugerah yang memuliakan. Padahal, sebenarnya kenikmatan tersebut adalah sebuah ujian yang harus dihadapi. Istidraj bisa membuat manusia lupa kepada Allah SWT dan merasa bahwa mereka tidak membutuhkan-Nya lagi. Istidraj seringkali menipu manusia dengan mengalihkan perhatian mereka dari kebenaran yang sebenarnya dan membutakan mereka terhadap bahaya yang mengintai di balik kenikmatan yang mereka rasakan. Contoh dari Istidraj dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seseorang yang gemar melakukan maksiat, namun hidupnya terus dilimpahi kenikmatan.

Asy-Sya'rawi melanjutkan penjelasannya: وَاللَّهُ لَا يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَكَ مِنَ الْمَالِ مَا تَحْسَبُهُ أَنَّهُ أَغْنَاكَ عَنِ اللَّهِ فَتَطْغَى، وَهَذِهِ نِقْمَةٌ وَلَيْسَتْ نِعْمَةً، إِذَا فَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: «فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهِ إِن شَاءَ» Allah tidak ingin memberimu harta yang kamu duga bisa membuatmu berkecukupan (mandiri dari Allah) sehingga malah mengakibatkanmu melewati batas (agama) Ini adalah petaka, bukan nikmat.

Allah SWT berfirman: فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ ٱللّٰهُ مِن فَضْلِهِۦٓ إِن شَآءَ ۚ" ... maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki." (QS. At-Taubah [9:]28).

وَفِي ذَلِكَ إِبْقَاءٌ لِطَلَاقَةِ قُدْرَةِ اللَّهِ فِي الْكَوْنِ حَتَّى يَكُونَ الْإِغْنَاءُ لَيْسَ بِالْمَادَّةِ وَحْدَهَا وَلَا بِالْمَالِ وَحْدَهُ، وَلَكِنْ بِالْقِيَمِ أَيْضًا فَلَا يَذْهَبُ الْمَالُ قِيَمَ السَّمَاءِ وَلَا يُبْعِدُ عَنْ مَنْهَجِ اللَّهِ، وَيُؤَكِّدُ هَذَا قَوْلُ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: «إِنَّ اللّٰهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ» أَيْ عَلِيمٌ بِالْأَمْرِ الَّذِي يَصْلُحُ لَكُمْ حَكِيمٌ فِي وَضْعِ الْعَطَاءِ فِي مَوْضِعِهِ، وَالْمَنْعِ فِي مَوْضِعِهِ.

Hal tersebut merupakan bentuk pemeliharaan laju kekuasaan Allah di alam semesta sehingga kekayaan bukan hanya dengan materi dan harta benda semata, tetapi juga dengan adanya nilai-nilai luhur; (Menghargai pendapat orang lain, Kerja keras, Rendah hati, Mengutamakan persatuan, Rela berkorban, Melaksanakan keputusan bersama), sehingga harta tidak sampai menghilangkan nilai-nilai samawi (agama), dan tidak jauh menyimpang dari jalan ketetapan Allah.

Allah SWT berfirman: إِنَّ ٱللّٰهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. At Taubah:28)

Artinya, Allah Mengetahui apa yang membawa kebaikan untukmu, dan Maha Bijaksana dalam memberikan apa yang tepat sesuai posisinya, dan menahan apa yang tepat sesuai plotnya (alur cerita). وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sebagai penutup: bahwa Peralihan tahun adalah momentum yang tepat untuk kita bertekad dan bertransformasi menjadi insan yang lebih baik, dengan cara memohon ampun atas semua kekhilafan kita pada tahun sebelumnya, انَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ kemudian berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di sepanjang tahun yang baru ini.

______________

¹ Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi, Tilka Hiya al-Arzaq, hlm. 60.