A. Tentang Kurban
Hari raya idul adha merupakan salah satu hari besar dalam islam, dan pada hari itu juga umat islam disunahkan melakukan ibadah kurban tepat setelah melakukan ibadah sholat sunah ied berjamaah, seperti yang termaktub dalam firman Allah SWT dalam surah al-Kautsar ayat tiga: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (الكوثر) “maka laksanakanlah sholat Karena tuhanmu dan berkurbanlah”
Baginda Nabi Muhammad SAW juga bersabda: مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَوَجَّهَ قِبْلَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَلَا يَذْبَحْ حَتَّى يُصَلِّي (رواه مسلم) "barangsiapa yang melakukan sholatku, menghadapkan wajahnya kearah kiblatku, dan berkeinginan untuk beribadah kurban seperti kurbanku, maka hendaklah menyembelih setelah melakukan sholat" (hr. muslim).
Begitulah tuntunan rasululloh dalam melakukan ritual iroqotud dam (kurban).
Di indonesia masyarakat muslim begitu antusias untuk mengikuti sholat ied dan juga menghadiri serta menyaksikan penyembelihan hewan kurban, Tak ayal jika para tokoh masyarakat menempatkan penyembelihan binatang kurban dan pemotongan daging ditempat yang terbuka seperti di halaman masjid atau musholla-musholla.
Sebenarnya bagaimanakah tuntunan nabi dalam hal menyembelih hewan kurban?
Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita agar penyembelihan hewan kurban dilakukan oleh sang mudhohhy (orang yang berkurban) sebagaimana yang disampaikan oleh shahabat Anas ra dalam shohih muslim: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا(رواه مسلم) "nabi saw menyembelih dua domba besar berwarna putih serta bertanduk dengan tangan beliau sendiri, membaca bismillah, bertakbir dan meletakkan kaki beliau diatas leher domba tersebut"
Adapun jika penyembelihan dilakukan oleh orang lain maka hukumnya juga diperbolehkan. Hal ini pernah dilakukan oleh nabi Muhammad SAW seperti yang diceritakan oleh sahabat Jabir ra: ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى الْمَنْحَرِ، فَنَحَرَ ثَلَاثًا وَسِتِّينَ بِيَدِهِ، ثُمَّ أَعْطَى عَلِيًّا، فَنَحَرَ مَا غَبَرَ (رواه مسلم) "Nabi menyembelih sejumlah 63 kambing dengan tangan beliau sendiri setelah itu beliau menyerahkan sisanya kepada sayyiduna ali bin Abi Tholib"
kedua hadist diatas mengindikasikan bahwa penyembelihan hewan kurban bisa dilakukan oleh mudhohhy sendiri atau orang lain. Namun lebih baik dilakukan oleh si mudlohhy selama memang mampu untuk melakukannya sendiri, seperti yang dijelaskan dalam kitab Roudlut Tholib karya al imam Zakariya Al Anshori: والأفضل أن يذبح المضحي بنفسه للاتباع رواه الشيخان؛ ولأن التضحية قربة فتسن مباشرتها - أسنى المطالب في شرح روض الطالب (1/ 537)
Sebagian daerah di Indonesia, ibadah kurban biasanya ditangani penuh oleh panitia kurban yang dibentuk oleh masyarakat atau pemerintah sekitar, mulai dari membelikan dan memilihkan hewan sampai penyembelihan dan pembagian daging kurban, semuanya dilakukan oleh panitia kurban tersebut.
Namun, ada sebagian panitia kurban yang hanya menyediakan jasa tempat dan membagikan daging kurban kepada masyarakat, sedangkan penyembelihannya harus dilaksanakan oleh mudlohhy sendiri atau dengan membawa tukang jagal yang ongkosnya juga ditanggung sendiri.
Maka timbul Tanya di masyarakat bahwa sebenarnya apa status panitia kurban tersebut dan bagaimana hukum panitia mengharuskan mudlohhy mengurus penyembelihannya sendiri?
Anehnya lagi, banyak diantara anggota panitia tersebut yang seringkali mengembil jatah daging kurban sendiri tanpa sepengatahuan mudlohhy, hal ini tentu menjadi sorotan di masyarakat. Kira-kira bagaimana tanggapan syariat tentang tindakan panitia tersebut ?
B. Status panitia kurban
Telah kita ketahui dari hadist sayyiduna jabir ra diatas bahwa istinabah (meminta digantikan) dalam penyembelihan diperbolehkan seperti yang dilakukan oleh nabi. Dalam kajian fiqih praktek tersebut dikenal dengan istilah wakalah dan pelakunya dinamakan wakil. Seperti yang dkemukakan oleh syeikh thoifur ali wafa al madury dalam kitabnya: (مسالة ك) دفع لآخر شاة وقال له هذه أضحية من غير صيغة توكيل في ذبحها ثم وكل المدفوع له من يذبحها أجزأ ذلك عن أضحية المضحي على ما رجحه الإمام والغزالي لتضمنه النية وهو ضعيف والأصح الإجزاء. (بلغة الطلاب ص 362)
Maka dari itu, status panitia kurban menurut dimensi syariat adalah sebagai wakil dan mudlohhy adalah muwakkil.
C. Bisakah panitia mengharuskan penyembelihan diurus oleh mudlohhy?
Jika status panitia tersebut adalah wakil, maka akad yang terjalin diantara panitia dan mudlohhy adalah wakalah, dalam hal ini si mudlohhy hanya me-wakalah-kan salah satu pekerjaannya kepada panitia, yaitu membagikan daging kurban, Sedangkan untuk penyembelihannya tidak terjadi wakalah karena panitia sudah menolak untuk menyembelih hewan kurban sejak awal. واركانها اربعة موكل ووكيل وموكل فيه وصيغة ويكفى فيها اللفظ من احدهما وعدم الرد من الأخر كقول الموكل وكلتك في كذا او فوضته اليك ولو بمكاتبة اومراسلة اهـ (حاشية الباجوري للشيخ ابراهيم الباجوري ج 1 ص 571 )
D. Oknum tidak bertanggung jawab
Perihal tindakan panita yang mengembil jatah sendiri sebenarnya bergantung pada dua hal.
Yang pertama, tindakannya bisa dibenarkan menurut syariat jika si panitia adalah orang miskin, baik daging kurban sunah atau yang di nadzari, jika dia adalah orang kaya maka tidak boleh mengembilnya kecuali dalam kurban sunah saja.
قال الغَزَالِيُّ: (الحُكْمُ الثالِثُ في الأكْلِ) وَفِي جَوَازِ الأَكْلِ مِنَ المَنْذُورَةِ وَجْهَانِ* وَالمُتَطَوِّعُ بِهَا يَجْوزُ الأَكْلُ مِنْهَا وَإِطْعَامُ الأغْنِيَاءِ (العزيز شرح الوجيز المعروف بالشرح الكبير ط العلمية (12/ 105))
(الأكل من أضحية تطوع) وهديه بل يسن وقيل يجب لقوله تعالى {فكلوا منها} [الحج: 36] وللاتباع رواه الشيخان أما الواجبة فلا يجوز الأكل منها سواء المعينة ابتداء أو عما في الذمة (قوله: فلا يجوز الأكل منها) ينبغي ولا إطعام الأغنياء اهـ. سم قال المغني فإن أكل أي المضحي منها شيئا غرم بدله اهـ. (تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (9/ 363
Kedua, yang diambil harus ala kadarnya. Jika melebihi batas maka hukumnya haram.
قوت الحبيب الغريب لمسمى بالتوشيخ صـــ 153
(وإما ان يكون التوكيل في مالية مخضة كتفرقة الزكاة) أي كتفرقة كفارة ومنذور فيجوز التوكيل فيها مطلقا ولا يجوز له أخذ شيء منها لكن قال بعضهم يجوز لوكيل تفرقة لحم الغقيقة أن يأخذ منه قدر كفاية يوم فقط للغداء والعشاء, لان العادة تتسامح بذلك.
disarikan dari: Hasil musyawarah FKFQ (Forum Kajian Fathul Qorib)






0 comments:
Posting Komentar