Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Terus semangat jangan kendor

Bulan Romadhon adalah ajang perlombaan untuk berupaya meningkatkan ketaatan شَهْرَ رَمَضَانَ مِضْمَارًا لِلتَّسَابُقِ فِي الطَّاعَاتِ bulan romadhon adalah musimnya untuk menyucikan jiwa dan meningkatkan kedudukan وَمَوْسِمًا لِتَزْكِيَةِ النُّفُوسِ وَرَفْعِ الدَّرَجَاتِ karenanya istimewakan keberadaannya, sebagaimana kita yang juga ingin di istimewakan oleh Alloh SWT.

Ibnu Rojab dalam kitab Lathoiful Ma’arif, hal. 306 menjelaskan: اعلَمْ أنَّ المؤمنَ يجتَمعُ له في شَهر رمضَان جهادَان لنَفْسِه Ketahuilah sesungguhnya seorang mukmin melakukan dua jihad di bulan Romadhon جهادٌ بالنَّهار على الصِّيام، Jihad di siang hari dengan berpuasa وجهادٌ باللَّيل على القِيام jihad di malam hari dengan sholat malam فمَن جمعَ بينَ هذَيْن الجهادَيْن، maka barang siapa yang melakukan dua jihad ووَفَّى بحُقُوقهما dan menunaikan hak-hak yang berkaitan dengan keduanya وصَبَر عليهما lalu terus bersabar ketika melakukan "jihad" nya وفَّى أجرَه بغَير حسَابٍ maka ia (jihadis) akan diberi ganjaran di sisi Allah dengan pahala tanpa ukuran.

Kita sering lupa atau tidak ingat bahkan tidak tahu, bahwa: Bulan romadhon itu memiliki 3 dimensi ibadah: Pertama Jihad atau perjuangan karena lapar, haus, capek dan letih semua itu membutuhkan perjuangan, وجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ, وَأَنْفُسِكُمْ, وَأَلْسِنَتِكُمْ "dan berjihadlah dengan hartamu, jiwamu dan lidahmu" "Perang Badar"). Kedua Ijtihad, yaitu pendalaman dalam pelaksanaan ibadah Romadhon, sembari menambah ilmu pengetahuan (Agama) yang bermanfaat untuk kepentingan Dunia dan Akhirat, Qiyam dan Siyam akan lebih membawa keberkahan ketika dilakukan dengan ilmu, وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ"dan Setiap orang yang beramal atau melakukan perbuatan dengan tanpa ilmu, أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ maka segala amalnya "berpotensi" ditolak dan tidak terima. Ketiga Mujahadah yang berarti menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kebutuhan mental spiritualitas kita, membangun kedekatan dengan Allah SWT melalui sarana yang diberikan oleh Alloh SWT., (malam-malam Lailatul Qodar) dengan kegiatan-kegiatan Kontemplasi, (Dzikir, Qiyamullail, Tadarus) yang sungguh-sungguh. اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً فَنَدَامَةُ العُقْبىَ لِمَنْ يَتَكاَسَلُ "Bersungguh²lah, jangan bermalas-malasan dan jangan pula lengah, karena penyesalan itu hanya menimpa orang-orang yang malas.

Karenanya di bulan Romadhon yang istimewa ini kita musti memaksa diri kita untuk tetap semangat, seperti ketika berada di awal bulan kemaren, hati kita terasa ringan, masjid, mushola penuh lantaran semangat menyambut bahagia kehadirannya.

Rosululloh SAW ketika memerintahkan muad bin Jabal berangkat ke Yaman,اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ (Bertakwalah kepada Allah SWT., di manapun engkau berada. Iringilah kejelekan "kemalasan" itu dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapus (kejelekan,malas,putus asa). Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik. Hadist ini kemudian direspon oleh Alloh SWT وقوله: (واتقوا الله) أي: في جميع أموركم وأحوالكم، ( لعلكم تفلحون ) أي: في الدنيا والآخرة 

Seiring berjalannya hari, sering kali semangat itu kendor dan mulai melemah. Capek, lelah, malas, Ibadah terasa berat yang kemudian menyita fokus perhatian kita, Rasulullah SAW bersabda: إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً (رواه أحمد) (Setiap amal ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada masa lemahnya). Hadits ini sangat manusiawi. Islam memahami bahwa iman kita bisa naik dan bisa turun. Tetapi yang berbahaya adalah bukan turunnya semangat, melainkan berhentinya mental beramal kita.

Inilah ujian sesungguhnya. Bukan bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita terus bertahan. Karenanya, kata Alloh: فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ (Maka tetaplah engkau "Muhammad" di jalan yang benar sebagaimana yang diperintahkan).

Istiqomah itu tidak mudah. Bahkan Rasulullah SAW yang maksum pun diperintahkan untuk istiqomah. Apalagi kita yang penuh kekurangan.

Semangat beribadah itu seperti api. Jika tidak dijaga, ia akan redup. Jika tidak diberi bahan bakar, ia akan cepat padam.

Romadhon hanya sebulan. Sangat singkat dibanding sebelas bulan lainnya. Maka jangan biarkan Romadhon berlalu tanpa kesungguhan, (Bayangkan jika Romadhon ini adalah yang terakhir bagi kita. Apakah kita masih ingin menunda taubat? dan Apakah kita serius ingin mengurangi ibadah?) jawabannya semua ada dalam sanubari kita.

Allah SWT., berfirman: وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ (Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu). Bersegera berarti jangan menunggu nanti. Jangan menunggu saat hati lebih siap. Jangan menunggu saat waktu lebih longgar. Karena waktu ini sesungguhnya tidak pernah benar-benar longgar.

Lalau bagaimana caranya agar tetap stabil dalam melaksanakan tugas ibadah ini ustadz? Caranya adalah: Kalau capek, lelah, ingatlah pahala. Kalau bosan, ingatlah surga. Kalau malas, ingatlah dosa-dosa yg ingin kita bersihkan. Kemudian dekatkan diri kita dengan lingkungan yang baik. Seringlah datang ke masjid, mushola, temui orang-orang soleh di majelis Dzikir dan Ta'lim. Perbanyak baca Al-Qur’an, dan Kurangi hal-hal yang melalaikan Akhirat dan Tuhan.

Jangan biarkan waktu habis untuk hal-hal yang tidak bernilai akhirat. Jangan biarkan Romadhon berlalu hanya dengan rutinitas tanpa ruh, dan yang juga tidak kalah pentingnya, mohonlah kepada Alloh SWT agar diberi kesehatan dan kekuatan. Karena tanpa pertolongan Alloh, kita tidak akan mampu.

Teruslah beDo'a sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Alhasil: Betapa besar hadiah yang Allah siapkan untuk kita, dengan bekal Siyam dan Qiyam Romadhon yang إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا InsyaaAlloh, kita akan menjadi manusia manusia yang paripurna; lebih sabar, lebih jujur dan lebih bertawakkal, sehingga kita mendapatkan derajat yang غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Penutup: Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya semangat di awal, tetapi semangat dan kuat hingga akhir. Yang tidak hanya ramai di permulaan, tetapi istiqomah sampai penutupan. Karena yang dinilai Alloh bukan hanya awal kita, tetapi adalah akhir kita.

Mari kita berdo'a: اللَّهُمَّ قَوِّ إِيمَانَنَا، وَجَدِّدْ نِيَّاتِنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ, اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ فَتَرَ فَتَرَكَ، وَلَا مِمَّنْ ضَعُفَ فَانْقَطَعَ، بَلِ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُسْتَقِيمِينَ حَتَّى نَلْقَاكَ

Karakter Puasa Romadhon

Bagi umat Islam, Puasa Romadhon tidaklah sekadar kewajiban, tetapi sudah menjadi aktivitas sosial dan budaya. Puasa romadhon adalah merupakan bentuk pengorbanan kita untuk Alloh SWT., yang melibatkan pengendalian diri dari segala sesuatu yang kita cintai demi cinta yang hakiki kita untuk Allah SWT.

Secara literatur, kata Ash-Shaum dan Ash-Shiyam berasal dari kata/wazan صام يصوم صوما وصياما yang artinya imsak (menahan, mengekang, mencegah). Namun secara Istilah, kata صوم para ulama' berbeda pandangan. Dalam kita asrorus shoum disebutkan Bahwa Kata صوم terbentuk dari tiga karakter huruf yakni Shod, Wau dan Mim.

Pertama: صاده): تشير إلى الصبر yang berarti kesabaran, Sabar itu bukan diam tapi keteguhan dalam menerima ketentuan Alloh dengan terus berikhtiar sampai menemukan solusi. إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابِ

Kedua: واوه): يشير إلى الورع: ترك الشبهات خوفا عن الوقائي yang berarti kehati-hatian (mencegah): meninggalkan perkara yang samar mencegah perkara yang haram.

Ketiga: والميم): إشارة إلى محسن، أى صاحب الإحسان الذي هو أمر جامع لكل خير memiliki arti kedermawanan, maksudnya siapapun yang mendapati bulan romadhon lalu kemudian dia banyak memberi kemanfaatan untuk orang lain maka baginya seluruh kebaikan.

Dari ketiga definisi karakter صوم ini dapat kita pahami bahwa Bersabar dalam ketaatan (menjalankan puasa) yang diikuti dengan Kehati-hatian dalam berucap dan bertindak serta berbuat kebaikan yang dilakukan dengan إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا secara continue (terus-menerus) yang disertai komitmen (Istiqomah) maka insyaAllah Amaliah Romadhon yang kita tunaikan ini tidak hanya sekedar bernilai pengampunan tetapi ridhonya Alloh SWT.

Sebab Puasa adalah cinta. Maka berpuasalah. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi keindahan antara hamba dan Tuhannya, saat jiwa belajar diam, hati belajar rindu, dan setiap lapar menjadi bahasa halus yang mengantarkan kita semakin dekat kepada-Nya dan memahami arti kemanusiaan. فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ inilah kemesraan dan indah yang disampaikan oleh Alloh SWT untuk kita.

Selanjutnya, Kata "رمضان" jika merujuk pada penjelasan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah li Thalib Thariq al-Haqq Azza wa Jalla. Beliau menjelaskan bahwa رمضان setiap hurufnya memiliki makna masing².! Kata "رمضان ” tersusun dari lima huruf hijaiyyah, yakni : ر م ض ا ن

الراء : رضوان الله

١ - Kehendak Allah. Artinya bahwa, siapapun yang pada bulan mulia ini, yang senantiasa memperbanyak ibadah dan melakukan amal-amal kesalehan dengan iman, niat tulus dan ikhlas akan mampu menyampaikan dirinya pada pengampunan Alloh SWT.


الميم : محاباة الله عن العصاة

٢ - Keberpihakan Alloh SWT kepada orang yang berdosa (bagi mereka yang Condong pada ketaatan). Pada bulan yang suci mulia ini, umat Islam yang menyibukkan diri, menghidupkan hari-harinya dengan ibadah dan amal kebaikan akan mudah untuk mendapatkan cintanya Alloh SWT.


الضاد : ضمان الله

٣ - Jaminan Allah SWT., Tidak terhitung Jaminan Pahala bagi mereka yang gemar untuk berbuat ketaatan. كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ


الألف : ألفة الله

٤ - Kasih sayang Allah SWT., Harmoni-Nya. Kasih-Nya melimpah pada bulan ini. Seluruh Amaliah di lipat gandakan, keberkahan diberikan. كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ. وَ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ


النون : نور الله

٥ - Cahaya Allah SWT. Cahaya Allah SWT., akan memantul dalam setiap jiwa yang dibarengi ketakwaan.


Romadhon adalah tempat bagi setiap jiwa untuk kembali pulang kepada pemilik kehidupan, Oleh karenanya, sebagai bentuk aktualisasi karakter huruf صوم dan رمضان Melalui puasa, kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih disiplin, lebih peduli terhadap sesama, serta lebih taat kepada Allah SWT.


Dan bentuk ketaatan kita kepada Alloh SWT sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah melaksanakan puasa dan membaca Al-Qur'an: اَلصُّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ اَلصِّيَامُ أيْ رَبِّ مَنَعْتُهُُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتَ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فَيْهِ وَيَقُوْلُ اْلقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِالَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ قَالَ فَيُشَفِّعَانِ "Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari” dan Al-Qur’an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur di malam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat (HR Ahmad).


Sehingga dengan Puasa Romadhon satu bulan penuh, Sholat Tarowih tiap malam, membaca Al-Qur'an setiap waktu, Ibadah-ibadah mahdho dan ghoiru mahdo lainnya, kita akan mendapatkan pengampunan, keberkahan, kesejahteraan serta mahabbah dari Alloh SWT.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

مَنْ صام رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Alhasil: Dari dua Hadis ini mengingatkan kepada kita bahwa Siyam dan Qiyam yang kita kerjakan pada bulan Romadhon dengan disertai Niat yang Tulus ايمانا dan Ikhlas واحتسابا insyaAllah akan mengantarkan kita semua pada Ridhoan-Nya Alloh SWT.

Istilah populer bulan Romadhon

Saat bulan Ramadhan ada istilah-istilah populer yang sering digunakan di Indonesia. Tahukah Sobat SurGa kalau sebagian istilah-istilah itu diserap dari bahasa Arab atau bahasa lainnya? Arti aslinya kadang berbeda dengan pengertian kita selama ini. Yuk kita kupas satu-satu.
PUASA
Kata puasa dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Sanskerta उपवास "upavasa". Sedangkan bahasa Arab untuk kata puasa adalah: الصوم (shaum), yang kemudian diserap menjadi "saum" dalam bahasa Indonesia. Shaum ataupun shiyam terbentuk dari akar kata صام – يصوم yang berarti "imsâk" (menahan), "shamt" (diam tidak bicara), "rukûd" (diam tidak bergerak), dan "wuqûf" (berhenti). 
SAHUR
Sahur dalam bahasa Arab diambil dari kata "sahara" (سحر) yang berarti penghujung malam. Makan sahur merujuk pada aktifitas makan dan minum yang sunnah dilakukan di penghujung malam menjelang fajar bagi yang akan melaksanakan ibadah puasa.(آخر الليل قبيل الفجر )
BUKA PUASA
Dalam bahasa Arab, buka puasa adalah Ifthar (إفطار). Aslinya, ifthar berarti sarapan. Intinya adalah makanan pertama. Gak peduli itu di pagi atau senja disebut ifthar. Ini sama dengan breakfast dalam bahasa Inggris. Break-fast: membatalkan puasa. Coba perhatikan Sobat SurGa, dalam bahasa Arab, kata "fitrh" (فطر) bermakna makan atau makanan dan bukan suci. Pembentukan kata dasar ini bisa menjadi makan pagi, yaitu "fathur" (فطور), dan juga bermakna berbuka puasa, yaitu ifthar (إفطار). InsyaAllah akan kita bahas pengertian 'Idul Fithri di lain kesempatan.
IMSAK
Kata "Imsãk" (إمساك) adalah masdar dari kata kerja "amsaka" yang artinya menahan, kebalikan dari kata kerja "arsala" ( ارسل, melepas). Imsãk  di sini bukan “waktu imsak” dalam pengertian kita selama ini lho ya, jadi bukan batas waktu makan sahur.
Dalam kamus al-’Ayn, kamus pertama dalam peradaban Islam karya Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (718 – 789 M), shaum ataupun shiyam terbentuk dari akar kata صام – يصوم yang berarti imsâk (menahan), shamt (diam tidak bicara), rukûd (diam tidak bergerak), dan wuqûf (berhenti). Jadi kedua kata tersebut secara bahasa berarti meninggalkan atau tidak makan-minum, tidak berbicara, dan tidak melakukan aktivitas apapun. Makna harfiah ini kemudian menjadi makna pakem yang melekat pada istilah shaum dan shiyam sampai saat ini, sebagaimana yang termaktub dalam kamus kontemporer al-Mu’jam al-Wasîth karya Majma’ul Lughah al-Arabiyah Mesir. 
TAKJIL
Banyak yang keliru, mengartikan takjil sebagai makanan atau hidangan berbuka puasa. Padahal arti kata tersebut tidak ada hubungannya dengan makanan baik dalam bahasa Arab sebagai asal ‘kata takjil’ maupun dalam kamus Indonesia. Kata Takjil berasal dari bahasa Arab yg seharusnya ditulis TA’JIL yang artinya ‘bersegera atau percepat’. Ta’jil berasal dari kata عَجَّلَ. Jika ditashrif akan menjadi عَجَّلَ – يُعَجِّلُ – تَعْجِيْلاً ( تَعْجِيْل ) =Menyegerakan berkedudukan sebagai mashdar
Terkait kata ta'jil dalam hadits disebutkan:
لا يَزَالُ اَلنَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senatiasa berada dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan buka puasa.”
Pengertian TAKJIL berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia juga memiliki arti ‘Mempercepat atau penyegeraan’ dalam berbuka puasa. Cuma dalam penulisannya saja agak berbeda yang seharusnya Ta’jil huruf mati dari 'Ain (ع) dalam kamus KBBI ditulis huruf mati dari Kaf (ﻙ) menjadi Takjil. 
TARAWIH
Istilah Tarawih adalah bahasa Arab (تراويح) yang merupakan bentuk jamak/plural dari kata 'Tarwihah' (ترويحة) bentuk mashdar/noun dari رَوَّحَ - يُرَوِّح yang bermakna istirahat, rehat atau rahat. Alasan penamaannya karena pada zaman dahulu para shahabat ketika melaksanakan sholat Tarawih selalu istirahat sejenak untuk berdzikir atau yang lain setelah 2 kali salam atau 4 roka'at. Dan bahkan hingga kini sering kita temui di masjid-masjid ketika tarawih dan selesai salam, maka dilanjutkan dengan doa atau dzikir. Ini bentuk dari Tarawih (istirahat) itu sendiri.
Dari sini diketahui bahwa istilah Tarawih baru muncul di masa shahabat. Artinya, Nabi Muhammad ﷺ belum menamakan ibadah ini dengan nama Tarawih, akan tetapi Qiyam (قيام رمضان).
NGAJI atau TADARUS
Ngaji sekarang lebih banyak dimaknai sebagai membaca Al-Quran. Padahal, mengaji satu akar kata dengan mengkaji, artinya ya seperti tadarus: mempelajari. Jadi, bukan sekadar membaca  Al-Quran. Kata تَدَارُسٌ (tadaarusun) jika diwaqaf menjadi tadaarus berasal dari kata دَرَسَ (darasa) yang artinya adalah belajar. Kemudian mengikuti wazan تَفَاعَلَ (tafaa’ala), sehingga mauzunnya menjadi تَدَارَسَ (tadaarasa). Fi’il yang mengikuti wazan ini salah satunya mempunyai arti لِلْمُشَارِكَةِ fa’il (subjek) dan maf’ulnya (objek) bersamaan dalam melakukan perbuatan, sehingga artinya menjadi saling mempelajari. Kemudian ditashrif : تَدَارَسَ – يَتَدَارَسُ – تَدَارُساً
Sehingga mendapatkan kata تَدَارُساً tadaarusan, yang berkedudukan sebagai mashdar. Sehingga artinya adalah pembelajaran secara bersama-sama,  Seperti yang terdapat pada kalimat: وَيتَدَارَسُوْنَهُ بَينَهُم “Dan mereka saling mempelajarinya di antara mereka,”Kata يتَدَارَسُوْنَ (yatadaarasuuna), terdiri dari kata يَتَدَارَسُ (yatadaarasu) dan dhomir muttashil هُمْ (mereka). Sehingga artinya menjadi: mereka saling mempelajari.

Jenis maksiat perut

Dalam Kitab Sulam Taufik dijelaskan:

فَصْلٌ : في مَعاصِي البَطْنِ

ومِنْ مَعاصِي البَطْنِ: أكْلُ الرِّبا؛ و[أكْلُ] المَكْسِ [أي الضَّرائِبِ] ؛ و[أكْلُ] الغَصْبِ؛ و[أكْلُ] السَّرِقَةِ؛ و[أكْلُ] كُلِّ مَأْخُوذٍ بِمُعامَلَةٍ حَرَّمَها الشَّرْعُ؛

وشُرْبُ الخَمْرِ، وحَدُّ الشّارِبِ [أي عُقُوبَتُهُ المُحَدَّدَةُ في الشَّرْعِ] أَرْبَعُونَ جَلْدَةً لِلْحُرِّ، ونِصْفُها لِلرَّقِيقِ، ولِلإمامِ الزِّيادَةُ تَعْزِيرًا [أي تَأْدِيبًا] ؛ ومنها أكْلُ [وشُرْبُ] كُلِّ مُسْكِرٍ؛ و[أكْلُ وشُرْبُ] كُلِّ نَجِسٍ؛ و[أكْلُ وشُرْبُ كلِّ] مُسْتَقْذَرٍ؛ وأكْلُ مالِ اليَتِيمِ؛ أو [أكْلُ] الأَوْقافِ على خِلافِ شَرْطِ الواقِفِ؛ و[أكْلُ] المَأْخُوذِ بِوَجْهِ الحَياءِ.

Diantara maksiat perut ialah:

1. Memakan barang riba.

2. Pungutan liar (pajak liar).

3. Menggasab (memakan atau mengambil barang orang lain dengan terang-terangan tanpa izin).

4. Mencuri, yaitu mengambil barang orang lain dengan sembunyi-sembunyi dan untuk di miliki serta setiap penganmbilan atau penerimaan barang dengan cara yang diharamkan oleh hokum syara’.

5. Minum arak dan hukumannya ialah dengan 40 kali dera pada badan bagi orang merdeka dan 20 kali bagi hamba sahaya, sedangkan bagi imam (pemerintah) boleh menambahnya dengan hukuman ta’zir.

6. Memakan minum barang yang memabukkan (misalnya madat, ganja, narkotik dsb)

7. Memakan setiap barang yang najis (misalnya darah, bangkai dan daging hewan yang haram dimakan) dan barang yang dianggap menjijikan (misalnya ingus, dan sebagainya yang dianggap menjijikan oleh kebanyakan orang yang beradab).

8. Makan harta benda anak yatim tanpa hak atau harta wakaf dengan menyalahi persyaratan yang ditentukan oleh wakif, dan barang yang diberikan oleh pemberi karena merasa malu atau takut kalau ia tidak memberikannya (misalnya suapan dsb).

Mengapa harus puasa Romadhon

Kenapa puasa romadhon diwajibkan? Karena Allah sayang kepada kita, Kok bisa? فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

Allah SWT berfirman dalam Surah Al Furqon 43: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?"

Ayat ini menerangkan kepada kita, bahwa hawa nafsu yang tidak dikendalikan dapat mendorong syahwat yang membahayakan. (Seperti dorongan ingin berkuasa, menguasai yang bukan haknya. Begitu kuatnya hawa nafsu, hingga kita menjadikannya sebagai tuhan).

Makanya kita disuruh puasa sunah (ayamul bidh): صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, وذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ selain menjadi pemelihara diri kita, kita juga dijanjikan pahala, tetapi kita masih enggan, makanya diwajibkan sekalian biar kita semua terpaksa masuk surga, kurang sayang bagaimana coba!!!

Memang apa untungnya ustadz bagi Allah memerintahkan hamba-Nya untuk puasa? Kenapa tidak langsung dimasukkan ke surga saja? Kenapa harus puasa terlebih dulu?

Tidak ada untungnya bagi Allah. Kita kenyang atau kita lapar, Alloh tetap Alloh yang Maha kuasa dan Maha segalanya لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ Lalu manfaatnya bagi kita apa, kok Allah memerintahkan kita berpuasa?

Jawabnya Biar kita merasakan Lapar dan Haus, sehingga kita bisa taqwa, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ Karena sumber segala kebahagian dan keberuntungan adalah taqwa sedangkan sumber segala bencana, musibah, kesulitan hidup, kegalauan, dan penderitaan di dunia, maupun penderitaan di akhirat adalah Maksiyat.

Memangnya lapar bisa menjadikan diri kita bertaqwa dan bisa menjauhkan maksiyat? Bisa, karena sumber maksiyat itu adalah: Syahwat dan Syetan.

Bahwa Nafsu mampu menggerakkan manusia ke sisi baik maupun buruk, Allah membekali nafsu kepada manusia diantara tujuanya adalah agar manusia dapat mengembangkan potensinya sebagai khalifah di muka bumi.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa nafsu manusia terbagi menjadi tiga: Nafsu Ammarah النَّفْسُ الأَمَّارَةُ Nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan. Dipenuhi sifat tamak, sombong, dengki, marah, rakus. Contoh: seseorang yang hanya ikut hawa nafsu tanpa peduli halal/haram. وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ "Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Yusuf : 53)

Nafsu Lawwamah النَّفْسُ اللَّؤَامَةُ Nafsu yang mencela diri sendiri setelah berbuat dosa. Sudah ada kesedaran tetapi masih jatuh dalam kesalahan. Contoh: selepas berbuat dosa, dia menyesal dan menangis, namun kadang masih mengulanginya (Terbelenggu) وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ "Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)," (QS. Al-Qiyamah: 2).

Nafsu Mutmainnah النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ Nafsu yang tenang, tenteram dengan zikrullah. Menerima ujian dengan sabar, ridho dengan takdir Allah. Inilah yang disebut Allah dalam Al-Quran, Jiwa yang Sempurna: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku," (QS. Al-Fajr 27 - 30).

Ibn Atha’illah dalam kitabnya Al-Hikam menyebutkan: أَصْلُ كلُّ مَعصِيَّةٍ وَغَفلةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضاَ عَنِ النفْسِ، واصْلُ كُلِّ طَاعةٍ وَيَقَظَةٍ وَعفَةٍ عَدَمُ الرِّضاَ مِنْكَ عَنْهاَ Sebab dari segala maksiat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Sikap tersebut akan selalu mendorong seseorang berusaha menutup-nutupi aib dan kesalahannya sehingga yang buruk akan dijadikannya baik. Siapa yang puas dengan keadaan dirinya akan menganggap baik semua kondisi pribadinya dan merasa nyaman dengan semua kondisi itu. Siapa yang menganggap baik semua kondisi pribadinya akan lalai mengendalikan bisikan-bisikan syahwatnya. Akibatnya, ia dikuasai oleh syahwat. Siapa yang dikuasai oleh syahwat, tentu akan mudah terjerumus pada maksiat.

Allah memang menciptkan nafsu pada diri setiap manusia. Jika manusia mampu melawan nafsunya dengan tidak menurutinya, maka ia akan dimudahkan menuju jalan ketaatan. Sebaliknya, jika manusia justru terlena dengan nafsu yang memang watak dalam dirinya, ia akan mendekat ke gerbang-gerbang kelalaian, maksiat, dan syhawat. Hal tersebut senada dengann kalam Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 14: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Syahwat itu tempatnya ada di dalam perut dan di bawah perut (farji/kelamin), sedangkan Syetan tempatnya di dalam aliran darah. إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Syahwat dan Syetan hanya bisa dikendalikan dengan perut yang dalam keadaan lapar dan haus.

Abu Bakr Ibn al-'Arabi dalam kitab al-Masalik menyebutkan: إِنَّمَا سُمِّيَ الصَّوْمُ صَوْمًا؛ لِأَنَّهُ حَبْسٌ لِلنَّفْسِ عَنِ الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ وَالشَّهَوَاتِ "Sesungguhnya dinamakan shaum karena bisa menahan diri bagi jiwa dari makanan, minuman, dan syahwat."

Saya kurang faham ustadz, tolong diperjelas! Baik. Segala kesulitan hidup bersumber dari maksiyat. Segala maksiyat dan kejahatan itu awalnya didorong oleh Syahwat.

Syahwat adalah alatnya syetan untuk menguasai manusia. Syahwat itu tempatnya ada di dalam perut dan di bawah berut. Orang nyuri, orang korupsi, orang menipu, itu semua karena pengin dapet uang untuk memenuhi kepuasan perut dan bawah perut.

Orang yang mengganggu orang lain (seperti istri atau suami orang), Skandal pejabat, dll, itu semua karena kepuasan perut dan bawah perut. Untuk memenuhi itu semua butuh Duit dan untuk mendapat duit secara instan muncullah berbagai kejahatan. Aborsi, menikam, membunuh, itu awalnya adalah karena urusan perut dan bawah perut.

Jadi satu-satunya cara mengendalikan syahwat/nafsu, ya harus Lapar dan Haus, Puasa itu latihan lapar, intinya harus sering lapar biar syahwat bisa terkendali. Percuma siang puasa kalo malam kekenyangan, percuma Senin Kamis puasa kalo Selasa Rabu Jumat Sabtu Ahad gak pernah lapar. JADI harus lapar setiap hari.

Yang bener ustadz!!! jangan jangan ini hanya akal akalannya ustadz saja. Emang Ada dalilnya?إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ ” ، ذَكَرَهُ فِي الْإِحْيَاءِ ، قَالَ الْعِرَاقِيُّ : مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيثِ صَفِيَّةَدُونَ قَوْلِهِ: فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوع "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah anak Adam, maka persempitlah jalan masuknya dengan lapar.

Setan menguasai manusia melaui syahwat. Syahwat bisa diturunkan tensinya dengan lapar. Setan pun kesulitan bergerak dalam tubuh orang yang lapar. Al-Qadhi 'Iyadh dalam kitab Masyariq al-Anwar menyebutkan: وَسُمِّيَ الصَّوْمُ صَبْرًا لِثَبَاتِ الصَّائِمِينَ وَحَبْسِهِمْ أَنْفُسَهُمْ عَنْ شَهَوَاتِهِمْ "Dinamakan puasa sebagai sabar karena keteguhan orang-orang yang berpuasa dan penahanan diri mereka dari syahwat-syahwat mereka."

Wadhu, saya hobinya makan ustadz, apakah harus dikurangi nih? Bukan dikurangi tapi harus diatur dengan porsi yang pas, harus sering lapar, tidak boleh sering kekenyangan. Sebab ber-Bahaya bagi orang yang sering kenyang dan jarang lapar, disebutkan oleh imam Al-Ghazali (Ihya, vol 3, hlm. 81):

1. Hatinya keruh, sering galau, sulit berfikir, tidak cerdas, membutakan hati.

2. Sulit menikmati dzikir, dzikir hanya terucap di lisan tak bisa masuk ke hati karena hatinya keras.

3. Kurang empati terhadap orang faqir miskin karena menganggap semua orang selalu kenyang seperti dirinya.

4. Sulit mengingat adzab, diberi ancaman neraka tidak akan takut karena jarang merasakan sakitnya orang kelaparan. Di neraka itu gak ada makan minum kecuali kotoran kotoran mendidih yang tidak mengenyangkan.

5. Syahwat sulit dikendalikan. Orang yg banyak makan pasti libidonya (dorongan sex) naik, lalu matanya jelalatan, pikirannya porno, bisa jadi tangannya nakal atau mendekati zina. Kalaupun bisa menghindari zina yang nyata, tidak akan mampu menghindari zina mata. Kalo lihat cewek bening matanya melotot tidak bisa dikedipkan. Kalaupun bisa merem matanya, pikirannya negatif (porno) tetep tidak bisa dikendalikan. Bahkan kata Al-Ghazali mengatakan, orang seperti itu sering berpikiran jorok meskipun sedang sholat.

Lalu bagaimana Caranya ustadz Agar Romadhon Benar-Benar Mengubah kita?

1. Tingkatkan Kesadaran Diri (Muraqabah), Sadari bahwa Allah melihat setiap niat, perkataan, dan perbuatan kita.

2. Jadikan Setiap Amal (Pekerjaan) Maksimal, Jangan menunda sedekah, Do'a, Sholat sunnah, dan tilawah Qur’an.

3. Perbaiki Akhlak, Romadhon adalah waktu menghapus amarah, iri, dengki, hasud dan dendam.

4. Refleksi Diri Setiap Hari, Renungkan amal dan perilaku kita setiap malam. Tanyakan kepada diri sendiri kita masing-masing: Apakah aku lebih dekat kepada Allah hari ini? Karena romadhon adalah waktu yang tepat untuk berbicara kepada diri sendiri.

Ramadhan bukan hanya kalender atau ritual tahunan. Romadhon adalah uji transformasi hati. Jika Ramadhan datang dan kita tetap sama ( tetap suka marah², tetap malas beribadah, hati tetap keras) maka ini adalah peringatan serius dari Allah: jangan tunggu bulan lain, jangan menunda taubat. Dan Jika Romadhon masih tidak merubahmu, lalu apa lagi yang bisa mengubah hatimu?