Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Mengapa harus puasa Romadhon

Kenapa puasa romadhon diwajibkan? Karena Allah sayang kepada kita, Kok bisa? فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

Allah SWT berfirman dalam Surah Al Furqon 43: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?"

Ayat ini menerangkan kepada kita, bahwa hawa nafsu yang tidak dikendalikan dapat mendorong syahwat yang membahayakan. (Seperti dorongan ingin berkuasa, menguasai yang bukan haknya. Begitu kuatnya hawa nafsu, hingga kita menjadikannya sebagai tuhan).

Makanya kita disuruh puasa sunah (ayamul bidh): صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, وذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ selain menjadi pemelihara diri kita, kita juga dijanjikan pahala, tetapi kita masih enggan, makanya diwajibkan sekalian biar kita semua terpaksa masuk surga, kurang sayang bagaimana coba!!!

Memang apa untungnya ustadz bagi Allah memerintahkan hamba-Nya untuk puasa? Kenapa tidak langsung dimasukkan ke surga saja? Kenapa harus puasa terlebih dulu?

Tidak ada untungnya bagi Allah. Kita kenyang atau kita lapar, Alloh tetap Alloh yang Maha kuasa dan Maha segalanya لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ Lalu manfaatnya bagi kita apa, kok Allah memerintahkan kita berpuasa?

Jawabnya Biar kita merasakan Lapar dan Haus, sehingga kita bisa taqwa, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ Karena sumber segala kebahagian dan keberuntungan adalah taqwa sedangkan sumber segala bencana, musibah, kesulitan hidup, kegalauan, dan penderitaan di dunia, maupun penderitaan di akhirat adalah Maksiyat.

Memangnya lapar bisa menjadikan diri kita bertaqwa dan bisa menjauhkan maksiyat? Bisa, karena sumber maksiyat itu adalah: Syahwat dan Syetan.

Bahwa Nafsu mampu menggerakkan manusia ke sisi baik maupun buruk, Allah membekali nafsu kepada manusia diantara tujuanya adalah agar manusia dapat mengembangkan potensinya sebagai khalifah di muka bumi.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa nafsu manusia terbagi menjadi tiga: Nafsu Ammarah النَّفْسُ الأَمَّارَةُ Nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan. Dipenuhi sifat tamak, sombong, dengki, marah, rakus. Contoh: seseorang yang hanya ikut hawa nafsu tanpa peduli halal/haram. وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ "Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Yusuf : 53)

Nafsu Lawwamah النَّفْسُ اللَّؤَامَةُ Nafsu yang mencela diri sendiri setelah berbuat dosa. Sudah ada kesedaran tetapi masih jatuh dalam kesalahan. Contoh: selepas berbuat dosa, dia menyesal dan menangis, namun kadang masih mengulanginya (Terbelenggu) وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ "Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)," (QS. Al-Qiyamah: 2).

Nafsu Mutmainnah النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ Nafsu yang tenang, tenteram dengan zikrullah. Menerima ujian dengan sabar, ridho dengan takdir Allah. Inilah yang disebut Allah dalam Al-Quran, Jiwa yang Sempurna: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku," (QS. Al-Fajr 27 - 30).

Ibn Atha’illah dalam kitabnya Al-Hikam menyebutkan: أَصْلُ كلُّ مَعصِيَّةٍ وَغَفلةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضاَ عَنِ النفْسِ، واصْلُ كُلِّ طَاعةٍ وَيَقَظَةٍ وَعفَةٍ عَدَمُ الرِّضاَ مِنْكَ عَنْهاَ Sebab dari segala maksiat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Sikap tersebut akan selalu mendorong seseorang berusaha menutup-nutupi aib dan kesalahannya sehingga yang buruk akan dijadikannya baik. Siapa yang puas dengan keadaan dirinya akan menganggap baik semua kondisi pribadinya dan merasa nyaman dengan semua kondisi itu. Siapa yang menganggap baik semua kondisi pribadinya akan lalai mengendalikan bisikan-bisikan syahwatnya. Akibatnya, ia dikuasai oleh syahwat. Siapa yang dikuasai oleh syahwat, tentu akan mudah terjerumus pada maksiat.

Allah memang menciptkan nafsu pada diri setiap manusia. Jika manusia mampu melawan nafsunya dengan tidak menurutinya, maka ia akan dimudahkan menuju jalan ketaatan. Sebaliknya, jika manusia justru terlena dengan nafsu yang memang watak dalam dirinya, ia akan mendekat ke gerbang-gerbang kelalaian, maksiat, dan syhawat. Hal tersebut senada dengann kalam Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 14: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Syahwat itu tempatnya ada di dalam perut dan di bawah perut (farji/kelamin), sedangkan Syetan tempatnya di dalam aliran darah. إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Syahwat dan Syetan hanya bisa dikendalikan dengan perut yang dalam keadaan lapar dan haus.

Abu Bakr Ibn al-'Arabi dalam kitab al-Masalik menyebutkan: إِنَّمَا سُمِّيَ الصَّوْمُ صَوْمًا؛ لِأَنَّهُ حَبْسٌ لِلنَّفْسِ عَنِ الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ وَالشَّهَوَاتِ "Sesungguhnya dinamakan shaum karena bisa menahan diri bagi jiwa dari makanan, minuman, dan syahwat."

Saya kurang faham ustadz, tolong diperjelas! Baik. Segala kesulitan hidup bersumber dari maksiyat. Segala maksiyat dan kejahatan itu awalnya didorong oleh Syahwat.

Syahwat adalah alatnya syetan untuk menguasai manusia. Syahwat itu tempatnya ada di dalam perut dan di bawah berut. Orang nyuri, orang korupsi, orang menipu, itu semua karena pengin dapet uang untuk memenuhi kepuasan perut dan bawah perut.

Orang yang mengganggu orang lain (seperti istri atau suami orang), Skandal pejabat, dll, itu semua karena kepuasan perut dan bawah perut. Untuk memenuhi itu semua butuh Duit dan untuk mendapat duit secara instan muncullah berbagai kejahatan. Aborsi, menikam, membunuh, itu awalnya adalah karena urusan perut dan bawah perut.

Jadi satu-satunya cara mengendalikan syahwat/nafsu, ya harus Lapar dan Haus, Puasa itu latihan lapar, intinya harus sering lapar biar syahwat bisa terkendali. Percuma siang puasa kalo malam kekenyangan, percuma Senin Kamis puasa kalo Selasa Rabu Jumat Sabtu Ahad gak pernah lapar. JADI harus lapar setiap hari.

Yang bener ustadz!!! jangan jangan ini hanya akal akalannya ustadz saja. Emang Ada dalilnya?إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ ” ، ذَكَرَهُ فِي الْإِحْيَاءِ ، قَالَ الْعِرَاقِيُّ : مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيثِ صَفِيَّةَدُونَ قَوْلِهِ: فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوع "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah anak Adam, maka persempitlah jalan masuknya dengan lapar.

Setan menguasai manusia melaui syahwat. Syahwat bisa diturunkan tensinya dengan lapar. Setan pun kesulitan bergerak dalam tubuh orang yang lapar. Al-Qadhi 'Iyadh dalam kitab Masyariq al-Anwar menyebutkan: وَسُمِّيَ الصَّوْمُ صَبْرًا لِثَبَاتِ الصَّائِمِينَ وَحَبْسِهِمْ أَنْفُسَهُمْ عَنْ شَهَوَاتِهِمْ "Dinamakan puasa sebagai sabar karena keteguhan orang-orang yang berpuasa dan penahanan diri mereka dari syahwat-syahwat mereka."

Wadhu, saya hobinya makan ustadz, apakah harus dikurangi nih? Bukan dikurangi tapi harus diatur dengan porsi yang pas, harus sering lapar, tidak boleh sering kekenyangan. Sebab ber-Bahaya bagi orang yang sering kenyang dan jarang lapar, disebutkan oleh imam Al-Ghazali (Ihya, vol 3, hlm. 81):

1. Hatinya keruh, sering galau, sulit berfikir, tidak cerdas, membutakan hati.

2. Sulit menikmati dzikir, dzikir hanya terucap di lisan tak bisa masuk ke hati karena hatinya keras.

3. Kurang empati terhadap orang faqir miskin karena menganggap semua orang selalu kenyang seperti dirinya.

4. Sulit mengingat adzab, diberi ancaman neraka tidak akan takut karena jarang merasakan sakitnya orang kelaparan. Di neraka itu gak ada makan minum kecuali kotoran kotoran mendidih yang tidak mengenyangkan.

5. Syahwat sulit dikendalikan. Orang yg banyak makan pasti libidonya (dorongan sex) naik, lalu matanya jelalatan, pikirannya porno, bisa jadi tangannya nakal atau mendekati zina. Kalaupun bisa menghindari zina yang nyata, tidak akan mampu menghindari zina mata. Kalo lihat cewek bening matanya melotot tidak bisa dikedipkan. Kalaupun bisa merem matanya, pikirannya negatif (porno) tetep tidak bisa dikendalikan. Bahkan kata Al-Ghazali mengatakan, orang seperti itu sering berpikiran jorok meskipun sedang sholat.

Lalu bagaimana Caranya ustadz Agar Romadhon Benar-Benar Mengubah kita?

1. Tingkatkan Kesadaran Diri (Muraqabah), Sadari bahwa Allah melihat setiap niat, perkataan, dan perbuatan kita.

2. Jadikan Setiap Amal (Pekerjaan) Maksimal, Jangan menunda sedekah, Do'a, Sholat sunnah, dan tilawah Qur’an.

3. Perbaiki Akhlak, Romadhon adalah waktu menghapus amarah, iri, dengki, hasud dan dendam.

4. Refleksi Diri Setiap Hari, Renungkan amal dan perilaku kita setiap malam. Tanyakan kepada diri sendiri kita masing-masing: Apakah aku lebih dekat kepada Allah hari ini? Karena romadhon adalah waktu yang tepat untuk berbicara kepada diri sendiri.

Ramadhan bukan hanya kalender atau ritual tahunan. Romadhon adalah uji transformasi hati. Jika Ramadhan datang dan kita tetap sama ( tetap suka marah², tetap malas beribadah, hati tetap keras) maka ini adalah peringatan serius dari Allah: jangan tunggu bulan lain, jangan menunda taubat. Dan Jika Romadhon masih tidak merubahmu, lalu apa lagi yang bisa mengubah hatimu?

0 comments: