Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Do'a Maulid

 اَللّهُمَّ اجْعَلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنْ كَلاَمِكَ الْعَظِيْمِ وَبَرَكَةَ مَا تَلَوْنَاهُ مِنْ كَلاَمِكَ الْحَكِيْمِ هَدِيَّةً مِنَّا اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ اْلمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَاَوْلادِهِ وَذُرِّيَتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ اَجْمَعِيْنَ


نَوَيْنَا قِرَاءَةَ الْمَوْلِدِ الدِّيْبَعِيْ مِثْلَ مَا نَوَى صَاحِبُ الْمَوْلِدِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمٰنِ الدِّيْبَعِيُّ وَمِثْلَ مَا نَوَى مَشَايِخُنَا ومرابى روحينا ولمن حضرا في مجلسنا 


اللهُ يُدْخِلُ نِيَّاتِنَا فِيْ نِيَّاتِهِمْ وَأَعْمَالَنَا فِيْ أَعْمَالِهِمْ وَ أَخْلَاقَنَا فِيْ أَخْلَاقِهِمْ بِنِيَّةِ أَنَّ اللهَ يَشْفِ مَرْضَانَا وَيُعَافِيْ مُبْتَلَانَا وَيُكَثِّرْ مِنَ الْحَلَالِ أَرْزَاقَنَا وَيَخْتِمْ أَعْمَارَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ


اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Nasihat Bijak untuk para pemimpin

Betapa menggiurkannya kekuasaan bagi mereka yang mencari atau mati-matian mempertahankannya. Sekitar 3 abad sebelum Machiavelli, Imam al-Ghazali telah lebih dulu menuliskan nasihatnya untuk penguasa.

Machiavelli yang menyarankan untuk menghalalkan segala cara dan menafikan moralitas dalam kekuasaan (read: The Prince), Imam al-Ghazali justru mengkritik para ulama sebagai biang kerusakan rakyat dan penguasa, beliau menyebutkannya dalam kitab Ihya’.

Pertama, Ihya’ Juz 2 halaman 238: ما فسدت الرعية إلا بفساد الملوك وما فسدت الملوك إلا بفساد العلماء "Tidaklah terjadi kerusakan rakyat itu kecuali dengan kerusakan penguasa, dan tidaklah rusak para penguasa kecuali dengan kerusakan para ulama."

Kedua, Ihya’ Juz 2 halaman 357: ‎ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال "Maka kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Dan rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan. Sesiapa yang terpedaya akan kecintaan terhadap dunia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal kecil, bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar? Semoga Allah menolong kita dalam semua hal."

Dan diantara sebab sebab diatas yang perlu kita ketahui dan pahami adalah janganlah kalian sesekali mengesampingkan pesan pesan kenabian yang di bawah oleh para ulama' karena mereka adalah merupakan pewaris ilmu nabi SAW.

Jauh sebelum pesan imam Al Ghazali menulis dalam kitabnya, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa:

‏ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ Akan datang suatu masa kepada ummatku di mana mereka lari dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu, menghilangkan berkah dari rizki mereka, menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman.

Dari kedua Nasihat imam Al Ghazali dan sabda Rasulullah SAW memiliki korelasi yang saling berhubungan, bahwa kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk saling menjaga dalam ketaatan kepada Allah SWT.

وتكون يا اولي الالباب Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.

Nasihat Walimah Pernikahan

Dalam Kitab Fathul Qorib dijelaskan bahwa: 


Annikahu smustahabbuun Liman yahtaju bihi.

Dan dijelaskan dalam Hadits:

مااكرم النساء الا كريم ومااهانهن الا لءيم 


Tidaklah memulyakan perempuan kecuali dia itu pribadi yang mulia dan tidaklah ia menghinakan seorang perempuan kecuali dia orang yang terhina.


Pertama: Niat.

Hal pertama yang harus diperhatikan untuk pasangan suami istri yang baru menikah adalah niat. Jika niatnya ditata dengan baik, maka insya Allah perjalanan hidup akan dijalani dengan baik. Niat nikah untuk ibadah dan mengikuti sunnah kanjeng Rasul SAW. Niat supaya bisa awet dan berbuat baik yang tidak hanya kepada pasangan saja, tetapi kepada siapa saja.


Kedua: Tetaplah menjadi manusia.

Artinya pasanganmu itu bukan malaikat apalagi setan. Malaikat itu tidak pernah salah begitupun Setan, ia tidak pernah benar. Sedangkan manusia bisa benar bisa juga salah. Manusia juga bisa ingat dan bisa lupa. Jadi, karena memandang pasangannya sebagai manusia, maka kita bisa memaklumi kalau ada khilaf dan alpha, sehingga Harus mengerti dalil masing-masing sebagai suami atau istri. Jangan dibalik-balik, salah satu dalil seorang istri kepada suaminya adalah ayat Ar-Rijaalu qawwaamuuna alan nisaa’ (Laki-laki / suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) (Q.S. An-Nisa’/34). Sedangkan dalil yang harus dipegang oleh suami agar selalu menghormati istrinya di antaranya adalah مااكرم النساء الا كريم ومااهانهن الا لءيم Orang yang memuliakan perempuan hanyalah orang yang mulia, sedangkan orang yang hina adalah orang yang menghinakan perempuan, yang artinya sama dengan menghina Allah SWT.


Ketiga: Jangan Berlebihan.

Supaya kalian bisa konsisten / Istiqomah dalam berbuat baik dengan pasangan, maka jangan berlebih-lebihan dalam segala hal. Karena Orang yang suka berlebih-lebihan dalam segala hal, pasti ia tidak akan dapat berbuat adil. Bahkan sejak berpikir. Ia tidak bisa istiqomah, karena syarat adil dan istiqamah itu tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.


Keempat: Sholat.

Ketika ada apapun, sekecil apapun pulangkan kepada pemiliknya (masalah), dan sebesar apapun, mintalah kepada  Allah SWT. Bagaimanapun kemampuanmu dan kehebatanmu, jangan pernah lupa Allah SWT.

Sebaik-baik Manusia

Manusia mana yang tidak menginginkan menjadi baik? Apalagi jika bisa dikatakan menjadi sebaik-baik manusia. 

Setiap kita, ingin rasanya kita bisa menjadi sebaik-baik manusia tidak hanya di mata manusia, tapi lebih dari itu adalah menjadi sebaik-baik manusia di mata Allah SWT berikut Nabi-Nya.

Andai label ‘Sebaik-baik Manusia’ itu bisa dibeli, maka tentu saja orang-orang berharta akan lebih dulu mendapatkan predikat ‘Sebaik-baik Manusia’ itu. Tapi, bersyukurlah kita terlahir sebagai seorang muslim yang mukmin. Karena rupanya, untuk mendapatkan titel ‘Sebaik-baik Manusia’ itu tak perlulah merogoh receh yang banyak, tapi perlu perjuangan yang besar dan keimanan yang kuat.

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

Sesungguhnya sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari kejahatannya.

Maksudnya adalah tergantung akhlaknya kepada orang lain. Akhlak yang baik menjadi barometer dan atau ukuran untuk menjadi sebaik-baik manusia. Mengingat, Nabi SAW. diutus ke bumi ini adalah dalam rangka untuk menyempurnakan akhlak manusia yang ketika itu sesat dan saling menyesatkan.


KAUMSARUNGAN

eLMG

Bukan karena tumpulnya pena

Ketika Pena Tak Bertinta

Apa jadinya kalau pena yang mau kita goreskan kata ternyata tak bertinta? Sehuruf pun tentu tak bakal terlihat. Cuma bayang goresan pangkal pena saja yang pasti membekas di atas kertas. Tentunya, siapapun tak dapat membaca makna dari bayang goresan di kertas itu, kecuali si penulis sendiri. Ide seluar biasa apapun tak akan dapat dinikmati pembaca. Ironisnya, ide itu kandas hanya dalam benak sang penulisnya sendiri.

Kondisi ini tentu saja sangat awam dialami oleh banyak penulis. Masing-masing penulis memiliki penanya sendiri, cuma tintanya saja yang berbeda. Bagi penulis yang punya banyak amunisi tentu bisa menggunakan tinta bermerek. Dengan begitu, ide dalam benaknya bisa mengalir deras bak air bah di atas kertas menciptakan karya yang spektakuler atau paling tidak karya yang populer bagi pembacanya. Lalu, bagaimana dengan penulis bertipe ibarat ‘mati segan hidup tak mau?’, tinta yang digunakan pun dibawah standar kadang kala sering macet. Karya yang dihasilkan tentu saja juga standar, paling tidak hasilnya bisa sekedar melepaskan dahaga yang haus atau perut yang lapar. Kalau begitu, bagaimana dengan penulis yang mempunyai pena tapi sama sekali tak bertinta? Hasilnya tong kosong nyaring bunyinya. Idenya boleh segudang tapi karyanya nol besar. Oh, sungguh menyedihkan. Inilah kenyataan yang sedang saya alami bersama kedua rekan saya sesama penulis.

Kami bertiga sepakat bahwa pena yang kami miliki tintanya sudah mengering. Kami ingin menjerit, meronta dan berteriak ‘Pena kami kering!’, ‘Pena kami tak bisa menggoreskan apapun!’ ‘Pena kami cuma bisa melihat pena lain yang masih menarik di atas kertas dengan lincah.’ Rasanya tentu saja sangat pahit bak empedu. Sakitnya tiada tara. Rasa empedu itu pun kami kunyah bersama-sama. Kami lumatkan bersama-sama. Di samping, kami tetap berupaya mencari dokter, paranormal, psikolog hingga dukun beranak. “Mungkin kita sudah gila, hingga tidak bisa lagi berkarya,” kata seorang temanku gundah.

“Itu mungkin di sebabkan kita terjebak rutinitas. Aktivitas yang melelahkan menyebabkan kita kelelahan sehingga ide tak lagi bisa diasah,” jawabku ringan.

“Terjebak aktivitas. Tentu tidak! Bukan itu alasan kita tak lagi bisa berkarya,” temanku ini begitu ngotot kalau aktivitas bukan penghalang penulis menjadi mandek dan stagnan ditempat. Aku pun membenarkan pendapatnya. Temanku ini mulai membeberkan perjalanan kreatif penulis novel The Firm dan The Client, John Grisham yang dengan kesibukannya sebagai seorang lawyer dan politikus tapi masih bisa meluangkan waktunya menulis di atas notes kecil yang dibawanya kemana saja setiap hari. “Bisa dibayangkan sibuk kalinya si John itu. Tapi masih bisa dia berkarya. Nah, kita bulshitlah..,”kata temanku yang satu lagi.

John Grisham merupakan satu novelis yang berkarya dengan meluangkan waktunya di tengah kesibukannya. Penulis ini mengerjakan bukunya satu hingga dua lembar per hari. “Saya meneruskan menulis buku itu sekalipun saat menderita flu, saat bertamasya dan kerap kehilangan waktu tidur..,” ujar Jhon ketika suatu kali mengungkap proses kreatifnya kepada media. Buku pertama Jhon ditolak hingga 251 kali oleh penerbit tapi Jhon tak pernah kenal putus asa dan terus berkarya kini buku-bukunya sudah terjual lebih dari 235 juta eksemplar di seluruh dunia. Pengalaman Jhon Grisham yang tak mengenal kata berputus asa ini pun senada dengan pengalaman novelis popular JK Rowling yang menghasilkan novel Harry Potter yang mampu membius pembaca di seluruh dunia. JK Rowling pun merupakan penulis yang awalnya ditolak penerbit hingga berulang kali, tapi dia tetap terus berkarya dan karyanya kini meledak di pasaran, bukunya diterbitkan hingga berulang kali dan terjual hingga jutaan eksemplar.


Kalau melihat pengalaman sekelas novelis Jhon Grisham dan JK Rowling sebenarnya tak ada alasan mengapa kita tak berkarya. “Atau mungkin kita harus kelaparan dulu seperti kisah di novel Laparnya Knut Hamsun, peraih nobel sastra dan penulis asal Roma Norwegia itu,” ujar temanku lagi. Temanku ini pun membeberkan kisah tokoh utama dalam novel Knut yang harus lapar dulu baru bisa menulis. Tapi setelah dia mendapatkan royalty dari novelnya diapun makan yang lezat dan menghabiskan uangnya, tapi dia tak mampu menulis sepatah katapun. Dia hanya bisa menulis kalau dirinya di saat sedang lapar.