Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Istilah populer bulan Romadhon

Saat bulan Ramadhan ada istilah-istilah populer yang sering digunakan di Indonesia. Tahukah Sobat SurGa kalau sebagian istilah-istilah itu diserap dari bahasa Arab atau bahasa lainnya? Arti aslinya kadang berbeda dengan pengertian kita selama ini. Yuk kita kupas satu-satu.
PUASA
Kata puasa dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Sanskerta उपवास "upavasa". Sedangkan bahasa Arab untuk kata puasa adalah: الصوم (shaum), yang kemudian diserap menjadi "saum" dalam bahasa Indonesia. Shaum ataupun shiyam terbentuk dari akar kata صام – يصوم yang berarti "imsâk" (menahan), "shamt" (diam tidak bicara), "rukûd" (diam tidak bergerak), dan "wuqûf" (berhenti). 
SAHUR
Sahur dalam bahasa Arab diambil dari kata "sahara" (سحر) yang berarti penghujung malam. Makan sahur merujuk pada aktifitas makan dan minum yang sunnah dilakukan di penghujung malam menjelang fajar bagi yang akan melaksanakan ibadah puasa.(آخر الليل قبيل الفجر )
BUKA PUASA
Dalam bahasa Arab, buka puasa adalah Ifthar (إفطار). Aslinya, ifthar berarti sarapan. Intinya adalah makanan pertama. Gak peduli itu di pagi atau senja disebut ifthar. Ini sama dengan breakfast dalam bahasa Inggris. Break-fast: membatalkan puasa. Coba perhatikan Sobat SurGa, dalam bahasa Arab, kata "fitrh" (فطر) bermakna makan atau makanan dan bukan suci. Pembentukan kata dasar ini bisa menjadi makan pagi, yaitu "fathur" (فطور), dan juga bermakna berbuka puasa, yaitu ifthar (إفطار). InsyaAllah akan kita bahas pengertian 'Idul Fithri di lain kesempatan.
IMSAK
Kata "Imsãk" (إمساك) adalah masdar dari kata kerja "amsaka" yang artinya menahan, kebalikan dari kata kerja "arsala" ( ارسل, melepas). Imsãk  di sini bukan “waktu imsak” dalam pengertian kita selama ini lho ya, jadi bukan batas waktu makan sahur.
Dalam kamus al-’Ayn, kamus pertama dalam peradaban Islam karya Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (718 – 789 M), shaum ataupun shiyam terbentuk dari akar kata صام – يصوم yang berarti imsâk (menahan), shamt (diam tidak bicara), rukûd (diam tidak bergerak), dan wuqûf (berhenti). Jadi kedua kata tersebut secara bahasa berarti meninggalkan atau tidak makan-minum, tidak berbicara, dan tidak melakukan aktivitas apapun. Makna harfiah ini kemudian menjadi makna pakem yang melekat pada istilah shaum dan shiyam sampai saat ini, sebagaimana yang termaktub dalam kamus kontemporer al-Mu’jam al-Wasîth karya Majma’ul Lughah al-Arabiyah Mesir. 
TAKJIL
Banyak yang keliru, mengartikan takjil sebagai makanan atau hidangan berbuka puasa. Padahal arti kata tersebut tidak ada hubungannya dengan makanan baik dalam bahasa Arab sebagai asal ‘kata takjil’ maupun dalam kamus Indonesia. Kata Takjil berasal dari bahasa Arab yg seharusnya ditulis TA’JIL yang artinya ‘bersegera atau percepat’. Ta’jil berasal dari kata عَجَّلَ. Jika ditashrif akan menjadi عَجَّلَ – يُعَجِّلُ – تَعْجِيْلاً ( تَعْجِيْل ) =Menyegerakan berkedudukan sebagai mashdar
Terkait kata ta'jil dalam hadits disebutkan:
لا يَزَالُ اَلنَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senatiasa berada dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan buka puasa.”
Pengertian TAKJIL berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia juga memiliki arti ‘Mempercepat atau penyegeraan’ dalam berbuka puasa. Cuma dalam penulisannya saja agak berbeda yang seharusnya Ta’jil huruf mati dari 'Ain (ع) dalam kamus KBBI ditulis huruf mati dari Kaf (ﻙ) menjadi Takjil. 
TARAWIH
Istilah Tarawih adalah bahasa Arab (تراويح) yang merupakan bentuk jamak/plural dari kata 'Tarwihah' (ترويحة) bentuk mashdar/noun dari رَوَّحَ - يُرَوِّح yang bermakna istirahat, rehat atau rahat. Alasan penamaannya karena pada zaman dahulu para shahabat ketika melaksanakan sholat Tarawih selalu istirahat sejenak untuk berdzikir atau yang lain setelah 2 kali salam atau 4 roka'at. Dan bahkan hingga kini sering kita temui di masjid-masjid ketika tarawih dan selesai salam, maka dilanjutkan dengan doa atau dzikir. Ini bentuk dari Tarawih (istirahat) itu sendiri.
Dari sini diketahui bahwa istilah Tarawih baru muncul di masa shahabat. Artinya, Nabi Muhammad ﷺ belum menamakan ibadah ini dengan nama Tarawih, akan tetapi Qiyam (قيام رمضان).
NGAJI atau TADARUS
Ngaji sekarang lebih banyak dimaknai sebagai membaca Al-Quran. Padahal, mengaji satu akar kata dengan mengkaji, artinya ya seperti tadarus: mempelajari. Jadi, bukan sekadar membaca  Al-Quran. Kata تَدَارُسٌ (tadaarusun) jika diwaqaf menjadi tadaarus berasal dari kata دَرَسَ (darasa) yang artinya adalah belajar. Kemudian mengikuti wazan تَفَاعَلَ (tafaa’ala), sehingga mauzunnya menjadi تَدَارَسَ (tadaarasa). Fi’il yang mengikuti wazan ini salah satunya mempunyai arti لِلْمُشَارِكَةِ fa’il (subjek) dan maf’ulnya (objek) bersamaan dalam melakukan perbuatan, sehingga artinya menjadi saling mempelajari. Kemudian ditashrif : تَدَارَسَ – يَتَدَارَسُ – تَدَارُساً
Sehingga mendapatkan kata تَدَارُساً tadaarusan, yang berkedudukan sebagai mashdar. Sehingga artinya adalah pembelajaran secara bersama-sama,  Seperti yang terdapat pada kalimat: وَيتَدَارَسُوْنَهُ بَينَهُم “Dan mereka saling mempelajarinya di antara mereka,”Kata يتَدَارَسُوْنَ (yatadaarasuuna), terdiri dari kata يَتَدَارَسُ (yatadaarasu) dan dhomir muttashil هُمْ (mereka). Sehingga artinya menjadi: mereka saling mempelajari.

Jenis maksiat perut

Dalam Kitab Sulam Taufik dijelaskan:

فَصْلٌ : في مَعاصِي البَطْنِ

ومِنْ مَعاصِي البَطْنِ: أكْلُ الرِّبا؛ و[أكْلُ] المَكْسِ [أي الضَّرائِبِ] ؛ و[أكْلُ] الغَصْبِ؛ و[أكْلُ] السَّرِقَةِ؛ و[أكْلُ] كُلِّ مَأْخُوذٍ بِمُعامَلَةٍ حَرَّمَها الشَّرْعُ؛

وشُرْبُ الخَمْرِ، وحَدُّ الشّارِبِ [أي عُقُوبَتُهُ المُحَدَّدَةُ في الشَّرْعِ] أَرْبَعُونَ جَلْدَةً لِلْحُرِّ، ونِصْفُها لِلرَّقِيقِ، ولِلإمامِ الزِّيادَةُ تَعْزِيرًا [أي تَأْدِيبًا] ؛ ومنها أكْلُ [وشُرْبُ] كُلِّ مُسْكِرٍ؛ و[أكْلُ وشُرْبُ] كُلِّ نَجِسٍ؛ و[أكْلُ وشُرْبُ كلِّ] مُسْتَقْذَرٍ؛ وأكْلُ مالِ اليَتِيمِ؛ أو [أكْلُ] الأَوْقافِ على خِلافِ شَرْطِ الواقِفِ؛ و[أكْلُ] المَأْخُوذِ بِوَجْهِ الحَياءِ.

Diantara maksiat perut ialah:

1. Memakan barang riba.

2. Pungutan liar (pajak liar).

3. Menggasab (memakan atau mengambil barang orang lain dengan terang-terangan tanpa izin).

4. Mencuri, yaitu mengambil barang orang lain dengan sembunyi-sembunyi dan untuk di miliki serta setiap penganmbilan atau penerimaan barang dengan cara yang diharamkan oleh hokum syara’.

5. Minum arak dan hukumannya ialah dengan 40 kali dera pada badan bagi orang merdeka dan 20 kali bagi hamba sahaya, sedangkan bagi imam (pemerintah) boleh menambahnya dengan hukuman ta’zir.

6. Memakan minum barang yang memabukkan (misalnya madat, ganja, narkotik dsb)

7. Memakan setiap barang yang najis (misalnya darah, bangkai dan daging hewan yang haram dimakan) dan barang yang dianggap menjijikan (misalnya ingus, dan sebagainya yang dianggap menjijikan oleh kebanyakan orang yang beradab).

8. Makan harta benda anak yatim tanpa hak atau harta wakaf dengan menyalahi persyaratan yang ditentukan oleh wakif, dan barang yang diberikan oleh pemberi karena merasa malu atau takut kalau ia tidak memberikannya (misalnya suapan dsb).

Mengapa harus puasa Romadhon

Kenapa puasa romadhon diwajibkan? Karena Allah sayang kepada kita, Kok bisa? فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

Allah SWT berfirman dalam Surah Al Furqon 43: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?"

Ayat ini menerangkan kepada kita, bahwa hawa nafsu yang tidak dikendalikan dapat mendorong syahwat yang membahayakan. (Seperti dorongan ingin berkuasa, menguasai yang bukan haknya. Begitu kuatnya hawa nafsu, hingga kita menjadikannya sebagai tuhan).

Makanya kita disuruh puasa sunah (ayamul bidh): صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, وذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ selain menjadi pemelihara diri kita, kita juga dijanjikan pahala, tetapi kita masih enggan, makanya diwajibkan sekalian biar kita semua terpaksa masuk surga, kurang sayang bagaimana coba!!!

Memang apa untungnya ustadz bagi Allah memerintahkan hamba-Nya untuk puasa? Kenapa tidak langsung dimasukkan ke surga saja? Kenapa harus puasa terlebih dulu?

Tidak ada untungnya bagi Allah. Kita kenyang atau kita lapar, Alloh tetap Alloh yang Maha kuasa dan Maha segalanya لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ Lalu manfaatnya bagi kita apa, kok Allah memerintahkan kita berpuasa?

Jawabnya Biar kita merasakan Lapar dan Haus, sehingga kita bisa taqwa, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ Karena sumber segala kebahagian dan keberuntungan adalah taqwa sedangkan sumber segala bencana, musibah, kesulitan hidup, kegalauan, dan penderitaan di dunia, maupun penderitaan di akhirat adalah Maksiyat.

Memangnya lapar bisa menjadikan diri kita bertaqwa dan bisa menjauhkan maksiyat? Bisa, karena sumber maksiyat itu adalah: Syahwat dan Syetan.

Bahwa Nafsu mampu menggerakkan manusia ke sisi baik maupun buruk, Allah membekali nafsu kepada manusia diantara tujuanya adalah agar manusia dapat mengembangkan potensinya sebagai khalifah di muka bumi.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa nafsu manusia terbagi menjadi tiga: Nafsu Ammarah النَّفْسُ الأَمَّارَةُ Nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan. Dipenuhi sifat tamak, sombong, dengki, marah, rakus. Contoh: seseorang yang hanya ikut hawa nafsu tanpa peduli halal/haram. وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ "Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Yusuf : 53)

Nafsu Lawwamah النَّفْسُ اللَّؤَامَةُ Nafsu yang mencela diri sendiri setelah berbuat dosa. Sudah ada kesedaran tetapi masih jatuh dalam kesalahan. Contoh: selepas berbuat dosa, dia menyesal dan menangis, namun kadang masih mengulanginya (Terbelenggu) وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ "Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)," (QS. Al-Qiyamah: 2).

Nafsu Mutmainnah النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ Nafsu yang tenang, tenteram dengan zikrullah. Menerima ujian dengan sabar, ridho dengan takdir Allah. Inilah yang disebut Allah dalam Al-Quran, Jiwa yang Sempurna: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku," (QS. Al-Fajr 27 - 30).

Ibn Atha’illah dalam kitabnya Al-Hikam menyebutkan: أَصْلُ كلُّ مَعصِيَّةٍ وَغَفلةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضاَ عَنِ النفْسِ، واصْلُ كُلِّ طَاعةٍ وَيَقَظَةٍ وَعفَةٍ عَدَمُ الرِّضاَ مِنْكَ عَنْهاَ Sebab dari segala maksiat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Sikap tersebut akan selalu mendorong seseorang berusaha menutup-nutupi aib dan kesalahannya sehingga yang buruk akan dijadikannya baik. Siapa yang puas dengan keadaan dirinya akan menganggap baik semua kondisi pribadinya dan merasa nyaman dengan semua kondisi itu. Siapa yang menganggap baik semua kondisi pribadinya akan lalai mengendalikan bisikan-bisikan syahwatnya. Akibatnya, ia dikuasai oleh syahwat. Siapa yang dikuasai oleh syahwat, tentu akan mudah terjerumus pada maksiat.

Allah memang menciptkan nafsu pada diri setiap manusia. Jika manusia mampu melawan nafsunya dengan tidak menurutinya, maka ia akan dimudahkan menuju jalan ketaatan. Sebaliknya, jika manusia justru terlena dengan nafsu yang memang watak dalam dirinya, ia akan mendekat ke gerbang-gerbang kelalaian, maksiat, dan syhawat. Hal tersebut senada dengann kalam Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 14: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Syahwat itu tempatnya ada di dalam perut dan di bawah perut (farji/kelamin), sedangkan Syetan tempatnya di dalam aliran darah. إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Syahwat dan Syetan hanya bisa dikendalikan dengan perut yang dalam keadaan lapar dan haus.

Abu Bakr Ibn al-'Arabi dalam kitab al-Masalik menyebutkan: إِنَّمَا سُمِّيَ الصَّوْمُ صَوْمًا؛ لِأَنَّهُ حَبْسٌ لِلنَّفْسِ عَنِ الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ وَالشَّهَوَاتِ "Sesungguhnya dinamakan shaum karena bisa menahan diri bagi jiwa dari makanan, minuman, dan syahwat."

Saya kurang faham ustadz, tolong diperjelas! Baik. Segala kesulitan hidup bersumber dari maksiyat. Segala maksiyat dan kejahatan itu awalnya didorong oleh Syahwat.

Syahwat adalah alatnya syetan untuk menguasai manusia. Syahwat itu tempatnya ada di dalam perut dan di bawah berut. Orang nyuri, orang korupsi, orang menipu, itu semua karena pengin dapet uang untuk memenuhi kepuasan perut dan bawah perut.

Orang yang mengganggu orang lain (seperti istri atau suami orang), Skandal pejabat, dll, itu semua karena kepuasan perut dan bawah perut. Untuk memenuhi itu semua butuh Duit dan untuk mendapat duit secara instan muncullah berbagai kejahatan. Aborsi, menikam, membunuh, itu awalnya adalah karena urusan perut dan bawah perut.

Jadi satu-satunya cara mengendalikan syahwat/nafsu, ya harus Lapar dan Haus, Puasa itu latihan lapar, intinya harus sering lapar biar syahwat bisa terkendali. Percuma siang puasa kalo malam kekenyangan, percuma Senin Kamis puasa kalo Selasa Rabu Jumat Sabtu Ahad gak pernah lapar. JADI harus lapar setiap hari.

Yang bener ustadz!!! jangan jangan ini hanya akal akalannya ustadz saja. Emang Ada dalilnya?إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ ” ، ذَكَرَهُ فِي الْإِحْيَاءِ ، قَالَ الْعِرَاقِيُّ : مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيثِ صَفِيَّةَدُونَ قَوْلِهِ: فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوع "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah anak Adam, maka persempitlah jalan masuknya dengan lapar.

Setan menguasai manusia melaui syahwat. Syahwat bisa diturunkan tensinya dengan lapar. Setan pun kesulitan bergerak dalam tubuh orang yang lapar. Al-Qadhi 'Iyadh dalam kitab Masyariq al-Anwar menyebutkan: وَسُمِّيَ الصَّوْمُ صَبْرًا لِثَبَاتِ الصَّائِمِينَ وَحَبْسِهِمْ أَنْفُسَهُمْ عَنْ شَهَوَاتِهِمْ "Dinamakan puasa sebagai sabar karena keteguhan orang-orang yang berpuasa dan penahanan diri mereka dari syahwat-syahwat mereka."

Wadhu, saya hobinya makan ustadz, apakah harus dikurangi nih? Bukan dikurangi tapi harus diatur dengan porsi yang pas, harus sering lapar, tidak boleh sering kekenyangan. Sebab ber-Bahaya bagi orang yang sering kenyang dan jarang lapar, disebutkan oleh imam Al-Ghazali (Ihya, vol 3, hlm. 81):

1. Hatinya keruh, sering galau, sulit berfikir, tidak cerdas, membutakan hati.

2. Sulit menikmati dzikir, dzikir hanya terucap di lisan tak bisa masuk ke hati karena hatinya keras.

3. Kurang empati terhadap orang faqir miskin karena menganggap semua orang selalu kenyang seperti dirinya.

4. Sulit mengingat adzab, diberi ancaman neraka tidak akan takut karena jarang merasakan sakitnya orang kelaparan. Di neraka itu gak ada makan minum kecuali kotoran kotoran mendidih yang tidak mengenyangkan.

5. Syahwat sulit dikendalikan. Orang yg banyak makan pasti libidonya (dorongan sex) naik, lalu matanya jelalatan, pikirannya porno, bisa jadi tangannya nakal atau mendekati zina. Kalaupun bisa menghindari zina yang nyata, tidak akan mampu menghindari zina mata. Kalo lihat cewek bening matanya melotot tidak bisa dikedipkan. Kalaupun bisa merem matanya, pikirannya negatif (porno) tetep tidak bisa dikendalikan. Bahkan kata Al-Ghazali mengatakan, orang seperti itu sering berpikiran jorok meskipun sedang sholat.

Lalu bagaimana Caranya ustadz Agar Romadhon Benar-Benar Mengubah kita?

1. Tingkatkan Kesadaran Diri (Muraqabah), Sadari bahwa Allah melihat setiap niat, perkataan, dan perbuatan kita.

2. Jadikan Setiap Amal (Pekerjaan) Maksimal, Jangan menunda sedekah, Do'a, Sholat sunnah, dan tilawah Qur’an.

3. Perbaiki Akhlak, Romadhon adalah waktu menghapus amarah, iri, dengki, hasud dan dendam.

4. Refleksi Diri Setiap Hari, Renungkan amal dan perilaku kita setiap malam. Tanyakan kepada diri sendiri kita masing-masing: Apakah aku lebih dekat kepada Allah hari ini? Karena romadhon adalah waktu yang tepat untuk berbicara kepada diri sendiri.

Ramadhan bukan hanya kalender atau ritual tahunan. Romadhon adalah uji transformasi hati. Jika Ramadhan datang dan kita tetap sama ( tetap suka marah², tetap malas beribadah, hati tetap keras) maka ini adalah peringatan serius dari Allah: jangan tunggu bulan lain, jangan menunda taubat. Dan Jika Romadhon masih tidak merubahmu, lalu apa lagi yang bisa mengubah hatimu?

Sambut Romadhon dengan Bahagia

Bulan Romadhon adalah pemberi syafaat bagi orang-orang yang berpuasa شَهْرُ رَمَضَانَ شَفِيعٌ لِلصَّائِمِينَ tetapi kita sering terjebak dalam uforia Romadhon yang bersifat lahiriah (seperti mempersiapan menu takjil, padahal Romadhon bukan bulan vestival sambosa dan kuliner) lalu kemudian kita abai terhadap persiapan batiniah.

Allah SWT yberfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ "Jika penduduk tnegeri-negeri beriman (hati) dan bertakwa, pastilah Kami (melalui makhluknya) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (Al-A’raaf:96).

Gimana, apakah kita sudah siap menyambut Romadhon dengan Bahagia?

Dalam kitab Durratun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, disenyebutkan bahwa: مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ seiring dengan semangat itu, dalam Al-Qur'an Alloh SWT berfirman: قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ bahwa Dengan karunia Allah dan kasih sayang-Nya, hendaknya kita bergembira-beebahagia, sebab ekspresi bahagia itu lebih baik dan utama daripada kita cemberut-sedih (rawan kufur terhadap karunia-Nya).

Lalu apa saja yang musti kita siapkan ustadz agar bisa terus bahagia tetkala lapar?

Untuk mempersiapkan diri menjalani hari-hari bahagia, indah, penuh ampunan dan keberkahan sehingga menjadi golongan manusia yang bertakwa, لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ Nabi idris As., sesungguhnya telah memberikan wasiat, dan layak untuk kemudian kita jadikan sebagai hujjah: وَإِذَا دَخَلْتُمْ فِي الصِّيَامِ فَطَهِّرُوا نُفُوسَكُمْ مِنْ كُلِّ دِنْسٍ وَنَجَسٍ Dan apabila kalian memasuki bulan puasa, maka sucikanlah jiwa kalian dari segala macam kotoran dan najis وَصُومُوا لِلَّهِ بِقُلُوبٍ خَالِصَةٍ صَافِيَةٍ dan Berpuasalah untuk Allah dengan hati yang ikhlas, suci. ,ومُتَنَزِّهَةٍ عَنْ الْأَفْكَارِ السَّيِّئَةِ وَالْهَوَاجِسِ الْمُنْكَرَةِ dan jauhkan diri dari pikiran-pikiran buruk dan bisikan-bisikan jahat فَإِنَّ اللَّهَ يَسْتَنْجِسُ الْقُلُوبَ الْمُلَطَّخَةَ وَالنِّيَاتِ الْمَدْخُولَةَ maka Sesungguhnya Allah membersihkan hati yang kotor dan niat yang rusak.

Karenanya di bulan yang tinggal beberapa saat ini Romadhon nanti perbanyaklah bacaan Al-Quran, karena betapapun kotornya hewan ternak, kata Alloh; وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةًۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ Sesungguhnya pada hewan ternak itu ada (kotoran, darah) dalam perutnya, tetapi sadarkah kita bahwa atas kuasa Allah yang maha Rohman, susu murni yang semua kita meminumnya itu berasal dari sapi. (Maka beribadalah sesuai kemampuan).

Kadang mengapa kita sering merasa (Galau?) Ketika (awal, pertengan dan akhir) Romadhon?

Masalah utamanya adalah "gagap spiritual"; banyak dari kita yang ketika memasuki Romadhon tanpa pemanasan, sehingga ibadah di awal bulan terasa berat, dan pudar di pertengahan. Padahal ulama' (Abu Bakar Al-Balki Ra.,) mengatakan bahwa Romadhon bukanlah garis start, melainkan garis finish: رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ، وَرَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ

Dari masa ke masa Sesungguhnya Romadhon tidak pernah berubah, yang berubah adalah selera (hati) kita. Kerna itu mari kita perjuangkan Romadhon kali ini sebagai kesempatan untuk melakukan serangkaian kegiatan yang positif dan produktif penuh kebahagiaan (hati) dalam melaksanakan tugas mulia dari Alloh SWT.: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Rosululloh SAW bersabda; مَنْ صام رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Kata احْتِسَابًا memiliki arti menjalankan puasa dengan niat tulus untuk mendapatkan pahala dari Allah, bukan karena tekanan sosial, riya', atau sekadar mengikuti tradisi.

Dalam pandangan para ulama' احْتِسَابًا bermakna melakukan ibadah dengan penuh keikhlasan dan keinginan untuk memperoleh ridha Allah, bukan merasa berat atau terbebani.

Imam Al-Munawi menafsirkan احْتِسَابًا adalah: "Melakukan puasa dengan mengharap pahala dari Allah, bukan karena riya', kebiasaan, atau sekadar mengikuti lingkungan"

Sehingga kata إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا yang terdapat dalam Hadits diatas, memberikan pesan, bahwa kualitas puasa tidak hanya diukur dari fisik (laparnya), tetapi juga dari niat dan ketulusan dalam menjalaninya. Puasa yang dilakukan karena إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا (iman dan dengan mengharap pahala dari Allah) maka Alloh SWT akan menghapus dosa-dosa terdahulu, sebagaimana yang dijanjikan غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Banyak dari kita mungkin menjalankan puasa karena alasan sosial atau kebiasaan, tetapi tanpa IHTISABAN, puasanya menjadi kurang bermakna. Rasulullah SAW., mengingatkan kita: وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى disinilah letak urgensinya Niat.

Oleh karenanya, seseorang yang berpuasa dengan Ihtisaban akan tetap menjalankan ibadah ini meskipun tidak ada yang melihatnya, meskipun berada dalam kondisi sulit, dan meskipun tidak mendapatkan pujian dari manusia, karena yang kita harap hanyalah pahala dari Allah SWT.

Gimana Cara supaya bahagia?

Para ulama' mengajarkan kepada kita: أسرار السعادة ثلاثة؛ الصبر والشكر والإخلاص Sabar, Syukur dan Ikhlas.

Lalu Agar puasa kita benar-benar إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا sesuai, apa yang kita perlu lakukan ustadz?:

1. Murnikan niat dalam setiap ibadah.

2. Ibadah ini adalah penghambaan,ketaatan.

3. Hindari rasa berat dan mengeluh.

4. Hindari Perilaku Riya’.

5. Lakukan ibadah secara konsisten.

Rasulullah SAW., bersabda: إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ "Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya (ridho)"

Romadhon bukan sekadar ritual tahunan, tetapi adalah ajang penyucian jiwa dan pembuktian keimanan.

Dengan kesempatan yang baik ini mari kita tingkatkan kualitas puasa kita, bukan sebatas menahan الْجُوْع وَالْعَطْش (lapar dan haus), tetapi juga menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT., dengan penuh keyakinan dan harapan akan Rohman-Rohim-Nya.

Alloh SWT berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ "yang Tujuan utamanya adalah menjadikan kita sebagai manusia agar terus bertakwa"

Sebagai penutup, saya mohon maaf bila ada khilaf, Marilah kita berdo'a: اللّهُمَّ سَلِّمْنا إِلىَ رَمَضَانَ وَسَلِّمْنا رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنا مُتقَبَّلاً "Ya Alloh, sampaikanlah kami kepada bulan Romadhon, dan sampaikanlah Romadhon kepada kami, dan terimalah (amal-amal) kami di bulan Romadhon"

Demikian semoga manfaat.

Lirik Sholawat Romadhon Tajalla

Lirik Sholawat Romadhon Tajalla

Ramadhan telah tampak dan tersenyum, beruntunglah hamba yang memanfaatkannya

Mencari keridhaan Tuhannya dengan apa yang dijalankannya, beruntunglah jiwa dengan taqwanya

Ramadhan adalah waktu berkah, ramadhan adalah waktu kebaikan

Ramadhan adalah tempat shalawat, menyelamatkan jiwa dengan Tuhannya

Ramadhan adalah penyucian jiwa, ramadhan adalah waktu kegembiraan

Ramadhan adalah cahaya perbaikan, bagi dunia manusia dan akhiratnya

Ramadhan menghapuskan dosa-dosa, dari kesalahan manusia dan yang bercampur

Semoga dari pengampunan Allah ada pemberian, bagi hati umat yang dijaganya.