Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Sambut Romadhon dengan Bahagia

Bulan Romadhon adalah pemberi syafaat bagi orang-orang yang berpuasa شَهْرُ رَمَضَانَ شَفِيعٌ لِلصَّائِمِينَ tetapi kita sering terjebak dalam uforia Romadhon yang bersifat lahiriah (seperti mempersiapan menu takjil, padahal Romadhon bukan bulan vestival sambosa dan kuliner) lalu kemudian kita abai terhadap persiapan batiniah.

Allah SWT yberfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ "Jika penduduk tnegeri-negeri beriman (hati) dan bertakwa, pastilah Kami (melalui makhluknya) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (Al-A’raaf:96).

Gimana, apakah kita sudah siap menyambut Romadhon dengan Bahagia?

Dalam kitab Durratun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, disenyebutkan bahwa: مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ seiring dengan semangat itu, dalam Al-Qur'an Alloh SWT berfirman: قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ bahwa Dengan karunia Allah dan kasih sayang-Nya, hendaknya kita bergembira-beebahagia, sebab ekspresi bahagia itu lebih baik dan utama daripada kita cemberut-sedih (rawan kufur terhadap karunia-Nya).

Lalu apa saja yang musti kita siapkan ustadz agar bisa terus bahagia tetkala lapar?

Untuk mempersiapkan diri menjalani hari-hari bahagia, indah, penuh ampunan dan keberkahan sehingga menjadi golongan manusia yang bertakwa, لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ Nabi idris As., sesungguhnya telah memberikan wasiat, dan layak untuk kemudian kita jadikan sebagai hujjah: وَإِذَا دَخَلْتُمْ فِي الصِّيَامِ فَطَهِّرُوا نُفُوسَكُمْ مِنْ كُلِّ دِنْسٍ وَنَجَسٍ Dan apabila kalian memasuki bulan puasa, maka sucikanlah jiwa kalian dari segala macam kotoran dan najis وَصُومُوا لِلَّهِ بِقُلُوبٍ خَالِصَةٍ صَافِيَةٍ dan Berpuasalah untuk Allah dengan hati yang ikhlas, suci. ,ومُتَنَزِّهَةٍ عَنْ الْأَفْكَارِ السَّيِّئَةِ وَالْهَوَاجِسِ الْمُنْكَرَةِ dan jauhkan diri dari pikiran-pikiran buruk dan bisikan-bisikan jahat فَإِنَّ اللَّهَ يَسْتَنْجِسُ الْقُلُوبَ الْمُلَطَّخَةَ وَالنِّيَاتِ الْمَدْخُولَةَ maka Sesungguhnya Allah membersihkan hati yang kotor dan niat yang rusak.

Karenanya di bulan yang tinggal beberapa saat ini Romadhon nanti perbanyaklah bacaan Al-Quran, karena betapapun kotornya hewan ternak, kata Alloh; وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةًۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ Sesungguhnya pada hewan ternak itu ada (kotoran, darah) dalam perutnya, tetapi sadarkah kita bahwa atas kuasa Allah yang maha Rohman, susu murni yang semua kita meminumnya itu berasal dari sapi. (Maka beribadalah sesuai kemampuan).

Kadang mengapa kita sering merasa (Galau?) Ketika (awal, pertengan dan akhir) Romadhon?

Masalah utamanya adalah "gagap spiritual"; banyak dari kita yang ketika memasuki Romadhon tanpa pemanasan, sehingga ibadah di awal bulan terasa berat, dan pudar di pertengahan. Padahal ulama' (Abu Bakar Al-Balki Ra.,) mengatakan bahwa Romadhon bukanlah garis start, melainkan garis finish: رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ، وَرَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ

Dari masa ke masa Sesungguhnya Romadhon tidak pernah berubah, yang berubah adalah selera (hati) kita. Kerna itu mari kita perjuangkan Romadhon kali ini sebagai kesempatan untuk melakukan serangkaian kegiatan yang positif dan produktif penuh kebahagiaan (hati) dalam melaksanakan tugas mulia dari Alloh SWT.: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Rosululloh SAW bersabda; مَنْ صام رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Kata احْتِسَابًا memiliki arti menjalankan puasa dengan niat tulus untuk mendapatkan pahala dari Allah, bukan karena tekanan sosial, riya', atau sekadar mengikuti tradisi.

Dalam pandangan para ulama' احْتِسَابًا bermakna melakukan ibadah dengan penuh keikhlasan dan keinginan untuk memperoleh ridha Allah, bukan merasa berat atau terbebani.

Imam Al-Munawi menafsirkan احْتِسَابًا adalah: "Melakukan puasa dengan mengharap pahala dari Allah, bukan karena riya', kebiasaan, atau sekadar mengikuti lingkungan"

Sehingga kata إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا yang terdapat dalam Hadits diatas, memberikan pesan, bahwa kualitas puasa tidak hanya diukur dari fisik (laparnya), tetapi juga dari niat dan ketulusan dalam menjalaninya. Puasa yang dilakukan karena إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا (iman dan dengan mengharap pahala dari Allah) maka Alloh SWT akan menghapus dosa-dosa terdahulu, sebagaimana yang dijanjikan غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Banyak dari kita mungkin menjalankan puasa karena alasan sosial atau kebiasaan, tetapi tanpa IHTISABAN, puasanya menjadi kurang bermakna. Rasulullah SAW., mengingatkan kita: وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى disinilah letak urgensinya Niat.

Oleh karenanya, seseorang yang berpuasa dengan Ihtisaban akan tetap menjalankan ibadah ini meskipun tidak ada yang melihatnya, meskipun berada dalam kondisi sulit, dan meskipun tidak mendapatkan pujian dari manusia, karena yang kita harap hanyalah pahala dari Allah SWT.

Gimana Cara supaya bahagia?

Para ulama' mengajarkan kepada kita: أسرار السعادة ثلاثة؛ الصبر والشكر والإخلاص Sabar, Syukur dan Ikhlas.

Lalu Agar puasa kita benar-benar إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا sesuai, apa yang kita perlu lakukan ustadz?:

1. Murnikan niat dalam setiap ibadah.

2. Ibadah ini adalah penghambaan,ketaatan.

3. Hindari rasa berat dan mengeluh.

4. Hindari Perilaku Riya’.

5. Lakukan ibadah secara konsisten.

Rasulullah SAW., bersabda: إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ "Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya (ridho)"

Romadhon bukan sekadar ritual tahunan, tetapi adalah ajang penyucian jiwa dan pembuktian keimanan.

Dengan kesempatan yang baik ini mari kita tingkatkan kualitas puasa kita, bukan sebatas menahan الْجُوْع وَالْعَطْش (lapar dan haus), tetapi juga menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT., dengan penuh keyakinan dan harapan akan Rohman-Rohim-Nya.

Alloh SWT berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ "yang Tujuan utamanya adalah menjadikan kita sebagai manusia agar terus bertakwa"

Sebagai penutup, saya mohon maaf bila ada khilaf, Marilah kita berdo'a: اللّهُمَّ سَلِّمْنا إِلىَ رَمَضَانَ وَسَلِّمْنا رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنا مُتقَبَّلاً "Ya Alloh, sampaikanlah kami kepada bulan Romadhon, dan sampaikanlah Romadhon kepada kami, dan terimalah (amal-amal) kami di bulan Romadhon"

Demikian semoga manfaat.

0 comments: