Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Bulan Rojab yang Mulia

Bulan Rojab hadir sebagai pengingat umat Islam untuk kembali menata hati (introspeksi), memperbanyak pertaubatan, memperhalus Akhlaq, dan menumbuhkan rindu menuju Romadhon, Bulan Rojab adalah bulan istimewa dan mulia (Peristiwa: Pada bulan Rojab, ditiupkan Nur Muhammad kepada Sayyidah Aminah binti Wahab, Isro' Mi'roj, dlsbg...), yang merupakan salah satu dari empat bulan-bulan suci sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Imam Ibnu Katsir menjelaskan (tafsirnya): اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثُ مُتَوَالِيَاتُ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ "Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab yang biasa diagungkan oleh Bani Mudhor (kelompok suku Arab Utara yang paling kuat) yang kedudukannya diantara Jumadil Tsani dan Sya'ban."

Rasulullah SAW menyebut: Rojab Mudhor, (karena posisinya di antara Jumad dan Sya'ban), disebut Rojab karena diambil dari kata Tarjib, yang artinya mengAgungkan atau memuliakan, sebab kaum Arab sejak dahulu telah memuliakan bulan ini.

Secara harfiah, kata Rojab (رجب) terdiri dari tiga huruf: فَرَجَبُ ثَلاَثَةُ أَحْرُفٍ، رَاءٌ وَجِيْمٌ وَبَاءٌ. فَالرَّاءُ رَحْمَةُ اللهِ، وَالْجِيْمُ: جُوْدُ اللهِ، وَالْبَاءُ: بِرُّ اللهِ“Rojab memiliki tiga huruf, yaitu ro’; jim; dan ba’. Ro’ berarti rahmat Allah, jim berarti kedermawanan Allah, dan ba’ berarti kebaikan Allah.” (Syekh Abdul Qadir, Al-Ghunyah li Thalibi Thoriqil Haq Azza wa Jall, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah], juz I, halaman 319).

Selanjutnya: فَمِنْ أَوَّلِ هَذَا الشَّهْرِ اِلىَ أَخِرِهِ مِنَ اللهِ ثَلاَثُ عَطَايَا لِلْعِبَادِ، رَحْمَةٌ بِلاَ عَذَابٍ، وَجُوْدٌ بِلاَ بُخْلٍ، وَبِرٌّ بِلاَ جَفَاءٍ“Maka dari awal keberadaan bulan (Rojab) ini hingga akhirnya, terdapat tiga pemberian (hadiah) dari Allah SWT, yaitu kasih sayang tanpa siksa, kedermawanan tanpa kikir, dan kebaikan tanpa antipati"

Dan Rojab adalah bulan suci yang datang sendirian, tidak beriringan dengan tiga bulan haram lainnya, yang juga memiliki nama lain, Al-Asamm (yang tuli) karena tidak terdengar suara senjata atau peperangan di dalamnya, dan Al-Asabb (yang tercurah) karena konon rahmat tercurahkan padanya.

Kemuliaan bulan-bulan haram (ذُو الْقَعْدَةِ ذُو الْحِجَّةِ مُحَرَّمُ وَرَجَبُ) ini membawa dua pelajaran penting bagi kita.

1. Larangan Berperang dan Menumpahkan Darah: Bahwa pada bulan-bulan ini Allah haramkan peperangan sebagai bentuk pensyariatan dan pengagungan.

2. Dilipatgandakannya Kebaikan dan Keburukan: Para ulama menetapkan bahwa amalan saleh akan dilipatgandakan pahalanya, dan sebaliknya, perbuatan maksiat dan dosa akan dilipatgandakan dosanya. Allah menekankan, “Janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

Oleh karena itu, Kewajiban terbesar kita di setiap bulan Rojab ini diantaranya adalah meninggalkan segala bentuk maksiat dan kedzoliman terhadap diri sendiri lebih-lebih kepada orang lain, sebab kedzoliman dan dosa di waktu/bulan yang mulia ini akan menjadi lebih besar nilai keburukannya di sisi Allah SWT.

Bahwa, ibadah kepada Allah SWT berlaku di setiap waktu dan tempat. Tingkatkanlah ibadah dan ketaatan kita sepanjang tahun, dan lebih-lebih dalam ibadah pada bulan Rajab.

Tugas utama kita di bulan Rojab adalah dua:

1. Menghindari Kedzoliman dan Dosa: (Perbanyak Muhasabah diri. Segeralah bertaubat dan jauhi segala bentuk maksiat, karena dosanya menjadi lebih berat di bulan yang mulia ini).

2. Meningkatkan Amal Soleh, seperti: (Perbanyak shalat sunnah, laksanakan puasa sunnah, sedekah, do'a dan dzikir)

Sejak malam pertama bulan Rajab, segala macam do'a dikabulkan oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: « خمس ليال لا تُرَدُّ فيهنَّ الدعوة : أول ليلة من رجب ، وليلة النصف من شعبان ، وليلة الجمعة ، وليلة الفطر ، وليلة النحر » أخرجه السيوطي رحمه الله تعالى في « الجامع » : عن ابن عساكر ، عن أبي أمامة رضي الله تعالى عنه "Terdapat 5 malam yang tidak tertolak do'a didalamnya, yaitu malam pertama bulan Rojab, malam nisfu Sya'ban, malam Jum'at, dan dua malam hari raya Idul Fitri dan Adha)"

Syekh Wahab bin Munabbih menyampaikan: bahwa semua sungai (mata air) di berbagai belahan dunia bersambung dengan air zamzam pada bulan Rojab.

Oleh karenanya Mari kita gunakan bulan Rojab ini sebagai awal persiapan kita sekaligus refleksi menuju bulan Sya'ban, dan sekaligus menyambut datangnya Romadhon yang penuh keberkahan dengan terus berdo'a: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ serta senantiasa mengamalkan istigfar sebagaimana yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW: Sayidul (raja) istigfar: اللَّهُمَّ أنْتَ رَبّي لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ وأنا على عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عليَّ وأبُوءُ بِذَنْبي فاغْفِرْ لي فإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ "Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada janjiku pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Kuakui segala nikmat-Mu atasku dan aku akui segala dosaku (yang aku perbuat). Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau"

Alloh SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [الحج: 77] “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan (Puasa, Infaq, Sedekah dlsbg), supaya kamu mendapat kemenangan.

Islam mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk memperbanyak amal kebaikan di bulan Rojab, termasuk Puasa (meskipun tidak ada nash secara khusus).

Disebutkan dalam hadist Shahih Muslim, no .1960: عن عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ "Dari Utsman bin Hakim Al Anshori bahwa ia berkata: Saya bertanya kepada sahabat Sa'id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab: Saya telah mendengar Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa"

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim menyatakan bahwa tidak ada nash yang secara khusus menyebutkan sunnah ataupun larangan terkait puasa Rajab, sehingga hukumnya disamakan dengan puasa di bulan lainnya.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra menyebutkan bahwa meskipun hadits tentang keutamaan puasa Rojab tidak shohih, sebagian besar berstatus dha'if tetap boleh diamalkan dalam konteks fadha'ilul a'mal (keutamaan amal kebaikan).

Do'a yang diminta oleh Syekh Abdul Qadir Jilani pada malam pertama bulan Rajab: اِلٰهِيْ؛ تَعَرَّضَ لَكَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُتَعَرِّضُونَ، وَقَصَدَكَ الْقَاصِدُونَ، وَأَمَّلَ فَضْلَكَ وَمَعْرُوفَكَ الطَّالِبُونَ؛ وَلَكَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ نَفَحَاتٌ وَجَوَائِزُ، وَعَطَايَا وَمَوَاهِبُ، تَمُنُّ بِهَا عَلَى مَنْ تَشَاءُ مِنْ عِبَادِكَ، وَتَمْنَعُهَا مِمَّنْ لَمْ تَسْبِقْ لَهُ الْعِنَايَةُ مِنْكَ، وَهٰأَنَذَا عَبْدُكَ الْفَقِيرُ إِلَيْكَ، الْمُؤَمِّلُ فَضْلَكَ وَمَعْرُوفَكَ؛ فَإِنْ كُنْتَ يَا مَوْلايَ تَفَضَّلْتَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، وَجُدْتَ عَلَيْهِ بِعَائِدَةٍ مِنْ عَطْفِكَ، فَصَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، وَجُدْ عَلَيَّ بِطَوْلِكَ وَمَعْرُوفِكَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Di bulan Rojab ini, mari kita kurangi kelalaian yang berulang-ulang, perbanyak Do'a, Dzikir, dan Amal kebaikan lainnya, Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, menguatkan iman kita, dalam mempersiapkan dan menyambut bulan-bulan penuh keberkahan berikutnya اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

SAMBUTAN PADA ACARA PEMBAGIAN RAPORT

SAMBUTAN PADA ACARA PEMBAGIAN RAPORT

Assalamualaikum Wr. Wb.

Selamat pagi/siang Bapak/Ibu orang tua yang saya hormati.

1. Pembukaan & Apresiasi.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir pada kegiatan pembagian rapor hari ini. Kehadiran Bapak/Ibu menunjukkan perhatian besar terhadap tumbuh kembang anak. Kami sangat menghargainya.

2. Tujuan Pertemuan.

Hari ini kita bukan hanya mengambil rapor, tetapi juga melihat bersama bagaimana perkembangan anak selama satu semester. Raport ini bukan penilaian benar-salah atau pintar-tidak pintar, tetapi catatan proses belajar sesuai tahap perkembangan mereka.

3. Informasi Perkembangan Anak.

Secara umum, anak-anak menunjukkan perkembangan yang baik. Ada yang sangat menonjol di aspek sosial-emosional, ada yang kuat di bahasa atau motorik, dan ada juga yang butuh waktu lebih dalam beberapa kemampuan. Itu semua wajar, karena setiap anak punya ritme tumbuhnya masing-masing.

4. Penekanan yg Tegas tapi Tetap Santai.

Kami berharap Bapak/Ibu wali murid tidak membandingkan anak dengan teman yang lain. Fokus kita adalah mendampingi mereka sesuai kemampuan dan kebutuhannya. Bila ada catatan pada rapor, itu bukan teguran, melainkan panduan agar kita bisa bekerja sama memberikan stimulasi yang tepat.

5. Kerja Sama Sekolah & Orang Tua.

Kami mengajak Bapak/Ibu untuk terus bersinergi dengan sekolah. Komunikasi tetap terbuka-baik tentang perkembangan anak, kebiasaan di rumah, maupun hal-hal kecil yang perlu diperhatikan bersama.

6. Penutup.

Demikian Semoga manfaat dan pertemuan hari ini membawa pemahaman yang baik dan suasana yang baik kedepannya.

Terima kasih atas kerja sama yang selama ini Bapak/Ibu berikan. Mari terus mendampingi anak-anak kita bertumbuh dengan bahagia.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Pengertian Sabar dalam beberapa prespektif

Pengertian Sabar dalam beberapa prespektif:

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab I'ddah ash-Shabirin wa Dzakhirah ash-Syakirin, secara bahasa Sabar (الصبر) memiliki arti dasar "المنع والحبس" (Mencegah dan Menahan).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa hakikat sabar secara global dapat diartikan: خُلُقُ فَاضِلٌ مِنْ أَخْلاقِ النَّفْسِ يَمْتَنِعُ بِهِ مِنْ فِعْلِ مَا لَا يُحْسِنُ وَلَا يُجْمِلُ وَهُوَ قُوَّةٌ مِنْ قُوَى النَّفْسِ الَّتِي بِمَا صَلَاحُ شَأْنِهَا وَقِوَامُ أَمْرِهَا "Suatu akhlak mulia dari sejumlah akhlak jiwa yang mampu mencegah terjadinya tindakan yang tidak baik dan tidak elok. Sabar juga merupakan sebuah kekuatan jiwa yang dengannya segala urusan jiwa menjadi baik dan lurus. "

Adapun Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya' 'Ulumiddin mendefinisikan sabar sebagai: ثَبَاتُ بَاعِثِ الدِّينِ الَّذِي هُوَ فِي مُقَابَلَةِ بَاعِثِ الشَّهْوَةِ وَثَبَاتُ بَاعِثِ الدِّينِ حَالٌ تَثْمِرُهَا الْمَعْرِفَةُ بِعَدَاوَةِ الشَّهَوَاتِ وَمُصَادَاتِهَا لِأَسْبَابِ السَّعَادَاتِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ "Kokohnya (menangnya) pendorong (motivasi) agama dalam menghadapi motivasi syahwat, yakni kukuhnya motivasi agama itu dihasilkan oleh pengetahuan akan permusuhan dan perlawanan syahwat terhadap sebab-sebab kebahagiaan dunia akhirat."

Imam al-Ghazali juga menjelaskan bahwa kesabaran memiliki berbagai macam hukum. Tidak semua bentuk kesabaran yang dianggap baik dan mulia. Ada beberapa bentuk kesabaran yang malah dinilai tidak baik dan kurang tepat. Kesabaran pun sebenarnya harus tahu tempatnya supaya tidak terjebak pada kesabaran yang diharamkan. واعلم أن الصبر أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم فالصبر عن المحظورات فرض وعلى المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة ويسكت على ما يجري على أهله فهذا الصبر محرم "Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan hukumnya: sabar wajib, sunah, makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara menahan diri dari yang makruh merupakan sabar sunah. Sedangkan menahan diri dari sesuatu yang dapat membahayakan merupakan terlarang (haram) seperti menahan diri ketika disakiti. Misalnya orang yang dipotong tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya berdiam saja. contoh lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain sehingga membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa cemburunya. Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu keluarganya. Semua itu sabar yang diharamkan"

Bahwa dalam sabar ada tempatnya sendiri. Justru ketika ia bersabar malah terjebak dalam kesalahan dan keharaman. Seperti yang dicontohkan di atas, ketika melihat orang yang tertimpa musibah, maka sebaiknya kita langsung menolong orang tersebut, apalagi bila korbannya berada dalam kondisi darurat. Begitu pula ketika seorang istri yang diganggu orang lain. Sabar dalam kondisi ini termasuk sabar yang diharamkan.

Firman Alloh SWT dalam Az-Zumar, 10 sebagaimana pandangan tafsir jalalain: اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ (على الطاعة وما يبتلون به) اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (بغير مكيال ولا ميزان) "Sesungguhnya hanya orang- orang yang bersabarlah (dalam ketaatan dan dalam menghadapi ujian) yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (tanpa ukuran atau timbangan)"

Bahwa sabar dibagi menjadi tiga jenis:

1. Sabar atas Ketaatan (الصبر على الطاعة): Yaitu dengan istiqomah dan terus-menerus (دَوَام) dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

2. Sabar dalam menjauhi Kemaksiatan (الصبر عن المعصية): Yaitu dengan istiqomah dan terus-menerus (دَوَام) dalam meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah.

3. Sabar atas Musibah/Bala' (الصبر على البلاء) Cobaan / Ujian / Musibah tetap harus disikapi dengan sabar. Hati harus Qonaah (menerima). Yakinlah bahwa ujian yang diberikan pada makhluk sudah disesuaikan dengan kadar kemampuan hambanya.

Janji Alloh untuk Orang sabar.

Sabar adalah salah satu sifat mulia yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Allah menjanjikan pahala besar bagi hamba-Nya yang tetap tabah menghadapi ujian hidup. Al-Qur’an, banyak ayat yang mengajarkan tentang pentingnya kesabaran dan bahwa orang sabar akan mendapatkan keberuntungan, ampunan, rahmat, hingga mendapatkan surga.

Sabar adalah merupakan pondasi kokohnya hati dan sekaligus menjadi sumber ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Allah Bersama Orang yang Sabar, QS. Al-Baqarah 153: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran adalah kunci pertolongan Allah. Orang sabar tidak pernah sendiri, karena Allah selalu membersamainya.

Ujian Hidup Sebagai Jalan Kesabaran, QS. Al-Baqarah Ayat 155: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Setiap ujian hidup adalah bagian dari janji Allah. Orang yang sabar akan mendapatkan kabar gembira berupa pahala dan rahmat-Nya.

Balasan Tanpa Batas untuk Orang Sabar, QS. Az-Zumar Ayat 10: اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Kesabaran adalah amalan istimewa yang pahalanya tak terhitung jumlahnya. Inilah salah satu janji Allah yang paling agung bagi hamba-Nya yang tabah.

Kesabaran Membawa Kemenangan, QS. Al-Imran Ayat 200: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Kesabaran bukan hanya menahan diri, tetapi juga kekuatan mental dalam perjuangan hidup. Allah menjanjikan kemenangan bagi orang yang sabar.

Sabar Mendatangkan Pahala Besar, QS. Hud Ayat 115: وَاصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Allah menegaskan bahwa setiap kesabaran akan berbuah pahala. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia bagi hamba yang tabah dan istiqamah.

Kekuatan Sabar dalam Kehidupan Bersama, QS. Al-Anfal Ayat 46: وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu; dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ayat ini menegaskan bahwa sabar menjaga persatuan dan kekuatan umat. Tanpa kesabaran, mudah sekali muncul perpecahan.

Surga untuk Orang yang Bersabar, QS. Al-Insan Ayat 12: وَجَزٰىهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَّحَرِيْرًاۙ “Dan memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra.”

Janji Allah yang paling indah untuk orang sabar adalah surga. Mereka yang tabah dalam ketaatan dan ujian akan mendapatkan balasan yang kekal.

Dari beberapa ayat-ayat di atas, ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil, bahwa sabar bukan sekadar menahan emosi. Sabar adalah bentuk keteguhan hati, keimanan, dan keyakinan pada janji Allah SWT.

Kesabaran menghadirkan banyak manfaat: Mendapat pertolongan Allah. Mendapat pahala tanpa batas. Meraih ketenangan hati. dan Dijanjikan surga.

Kesimpulan, Kesabaran adalah salah satu sifat utama seorang Muslim, bahwa Allah memberikan ganjaran besar: pahala, rahmat, keberuntungan, dan surga bagi mereka yang senantiasa bersabar. Maka, jadikanlah sabar sebagai teman hidup dalam menghadapi ujian, karena janji Allah adalah pasti.

Bahaya Hati yang Jauh dari Alloh SWT

Kata hati (Qolb) disebutkan 44 kali dalam Al-Qur'an, hampir seluruh makna kata qolb berkisar sekitar makna daya rasa terdalam dan akal manusia. Dengan demikian, kita tahu bahwasanya hati merupakan tempat watak atau karakter paling dasar yang suci dan kecenderungan batin yang beragam.

Disebutkan dalam QS Al-An'am 110 وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ "Alloh SWT akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) serta Alloh membiarkan mereka bingung dalam kesesatan"

Hati yang jauh dari Allah SWT., itu seperti tanah yang kering dan tandus, tidak ada kesuburan dan kehidupan di dalamnya. Sama halnya hati kita ketika jauh dari Alloh, maka kita akan rentan terhadap godaan hawa nafsu dan tipu daya setan, sehingga kita mudah melakukan perbuatan² tercela dan terjerumus dalam kehinaan.

Syekh Abi Bakr Syatto' dalam Kifayatul Atqiya, mengatakan: ‎لَا يَنَالُ خَيْرًا عَاجِلًا وَلَا آجِلًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَلَا يُدْفَعُ شَرٌّ عَاجِلًا وَلَا آجِلًا ظَاهِرًا وَلَا بَاطِنًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلأَوَّلِينَ وَالأَخِرِينَ "Tidaklah seseorang memperoleh kebaikan yang segera maupun yang akan datang kecuali dengan takwa. Dan tidaklah seseorang dapat menolak kejahatan yang segera maupun yang akan datang, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, kecuali dengan takwa. Takwa adalah wasiat Allah bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang."

Karena itu dalam pandangan ulama' takwa itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama Takwa Lahir, yaitu taqwa yang mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT yang tampak secara lahiriah, seperti shalat, puasa, zakat, sedekah, dan berbagai bentuk amalan lainnya. Termasuk juga menjauhi larangan-larangan Allah SWT., seperti meninggalkan zina, menjauhi minuman beralkohol, meninggalkan judi, korupsi, serta berbagai perbuatan tercela lainnya.

Kedua Takwa batin. adalah upaya menjaga kebersihan, kesucian dan kemurnian hati melalui amalan-amalan hati, yang mencakup perkara-perkara perintah syariat, seperti ikhlas, ridho, sabar, syukur, dan sifat-sifat terpuji lainnya, yang mencakup perkara-perkara larangan syariat, seperti berburuk sangka, iri, dengki, dendam, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Dalam praktek sehari-hari kita masih sering melihat diri kita hanya mementingkan ibadah-ibadah atau amalan-amalan yang bersifat ceremony dan amalan lahiriah saja, tanpa mempertimbangkan sisi-sisi amalan hati (batin) yang sejatinya tidak kalah penting, sebagaimana sabda Rasulullah: ‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ “Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian,” (HR Muslim).

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa penilaian Allah tertuju pada hal-hal yang lebih dalam dari sekadar yang tampak dari tubuh yang terkesan mewah di mata kebanyakan manusia. Bukan kesempurnaan fisik maupun kekayaan harta benda, tetapi pada kualitas hati dan mutu perbuatan hamba-Nya.

Imam Thabroni beliau meriwayatkan dari hadist nabi: فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian adalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa,” (HR. Ath-Thabrani).

Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa hati merupakan satu elemen penting bagi kehidupan orang mukmin. Di hati inilah tempat Alloh SWT., melihat baik dan buruknya kita, di hati ini juga menjadi tempat komando bagi anggota tubuh yang lainnya. Maka penting bagi kita untuk menjaga kebersihan dan kesucian hati, agar hati kita dipenuhi dengan ketakwaan. Jangan sampai hati kita kering, kotor dan dipenuhi dengan noda-noda kemaksiatan, sehingga hati kita merasa jauh dari Allah SWT., dan tidak dapat merasakan kehadiran-Nya.

Hati yang mati, kering, gersang adalah merupakan masalah yang serius, menyebabkan hina dunia dan akhirat. Di antaranya:

Pertama adalah hilangnya rasa malu. Sebab utama hilangnya perasaan malu dari hati adalah hilangnya perasaan diawasi oleh Allah SWT.

Kedua hilangnya ketenangan dan kedamaian di hati. Sebab hati yang tidak ada Alloh di dalamnya tidak akan merasa tenang. Sebab Alloh SWT., lah yang maha memberi ketenangan dan kedamaian dalam hati. Hal ini akan sangat berdampak pada kehidupan seseorang, dia akan mencari ketenangan dan kedamaian di tempat yang salah dengan melakukan hal-hal yang melanggar norma dan syariat.

Ketiga tidak terkabulkannya Do'a ‎وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ “Ketahuilah kalian semua, sesungguhnya Alloh tidak akan mengabulkan do'a dari orang yang hatinya lalai.” (HR At-Tirmidzi).

Keempat hati menjadi sulit menerima kebenaran. Hati yang mati maka akan sulit menerima nasihat kebenaran, hal ini disebabkan karena sejatinya hati adalah tempat cahaya ilahi bersemayam, apabila cahaya ilahi tersebut padam maka orang yang hatinya keras dan lalai dari Alloh SWT tidak akan mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.

Itulah empat rambu-rambu gelapnya hati, semoga Alloh SWT menjadikan hati kita senantiasa hidup, penuh cahaya kebaikan, keimanan dan ketakwaan, Rosulullah SAW bersabda: ‎أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR Bukhari).