Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Mintalah Hanya Kepadaku

Jika engkau mengetuk pintu rumah orang (manusia) boleh jadi penghuninya sedang tidak ada atau pemilik rumah sedang dalam  kesibukannya dan begitupun ketukan ketukan selanjutnya yang ada hanyalah kesia-siaan belaka... Jika itu terus kamu lakukan bisa jadi pemilik rumah akan semakin naik amarahnya.

Begitulah yang terjadi ketika engkau meminta dan berharap kepada mahluk yang namanya manusia, jika engkau sering meminta kepadanya mereka akan menjauh dan menganggapmu semakin hina dimatanya.

Tapi ketika pola dan pikirmu kau ubah, hatimu kau cuci dan kembali untuk mengetuk pintu rahmat dan karunia dari  Allah SWT. Allah akan selalu dan dipastikan ada untuk selamanya...

Allah tahu, Allah mendengar akan semua yang menjadi harapanmu jika kamu mengetuk pintuNya, niscaya Allah akan mendengar jeritan hatimu.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْن 

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Maka semakin sering kamu memanggil (mengetuk) nama-Nya, semakin dekat dirimu dan diriNya, semakin intim hubunganmu denganNya, sungguh Allah SWT telah mempersiapkan segala yang indah menurutNya untukmu, hanya terkadang engkau tidak sadari itu dan selalu terburu oleh nafsu su'mu.

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila dia berdo'a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186).


يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ


“Wahai Rabb Yang Maha hidup, Wahai Rabb Yang Maha berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”

Optimis akan Rahmat dan Ampunan Allah SWT

Optimis akan Rahmat dan Ampunan Allah SWT.

Oleh:

Zainuddin, M.Pd.


Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sering berbuat salah, dan yang paling baik dari mereka adalah yang bersegera untuk bertaubat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:


 كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ 


Artinya;

Seluruh anak Adam sering berbuat kesalahan. Dan yang terbaik dari mereka yang sering berbuat kesalahan adalah yang paling banyak bertaubat (HR. Ibnu Majah no. 4251; Imam Suyuti menilai hadits ini shahih).


Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa jika tidak ada lagi manusia pendosa, Allah SWT akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa dan Allah SWT akan mengampuni mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:


لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللَّهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ يَغْفِرُ لَهُمْ


Artinya;

Seandainya kalian tidak ada yang berdosa, maka Allah akan menciptakan makhluk lagi yang akan berbuat dosa dan akan mengampuni mereka (HR. Muslim no. 2748).


Ampunan dan kasih sayang Allah sangatlah luas. Sebagai seorang mukmin, hendaknya kita tetap optimis dan meyakini bahwa Allah SWT maha mengampuni seluruh dosa-dosa kita.


Maka, langkah pertama agar hati kita tetap merasa tenang dengan taubat adalah optimis bahwa Allah SWT mengampuni dosa kita. Sebagimana Allah berfirman dalam salah satu hadis Qudsiy: 


قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً


Artinya:

Wahai anak Adam! Jika kamu berdo'a dan berharap kepadaKu, maka akan Aku ampuni segala dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam! Jika dosamu setinggi langit dan engkau memohon ampun kepadaKu niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa seisi bumi dan engkau menemuiKu (kembali kepadaKu) dengan keadaan tidak menyekutukanKu dengan suatu apapun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan seisi bumi pula (HR. Tirmidzi no. 3540).


Maksud hadis ini adalah, bahwa Allah SWT sangat menyukai hamba-nya yang bertaubat melebihi senangnya seseorang yang menemukan hartanya yang hilang.


Kita haruslah selalu optimis bahwa dengan bertaubat yang sebenar-benarnya pasti Allah SWT akan diterima dan dosa akan diampuni, karena dalam hadis Qudsiy yang lain Allah berfirman, 


أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي 


Artinya;

Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku (HR. Bukhari no. 7505). 


Taubat menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Al-Ghunyah, Disebutkan:


أما شروطها فثلاثة: أولها الندم على ما عمل من المخالفات وهو قول النبي صلى الله عليه وسلم الندم توبة. وعلامة صحة الندم رقة القلب وغزارة الدمع ولهذا روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: جالسوا التوابين فإنم أرق أفئدة. والثاني ترك الزلات في جميع الحالات والساعات. والثالث العزم على ألا يعود إلى مثل ما اقترف من المعاصى والخطيئات


Artinya, “Syarat tobat ada tiga:

Pertama, menyesali atas kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan, ini berdasarkan hadis Rasulullah, ‘Menyesali kesalahan adalah tobat’. Tanda dari penyesalan adalah lembutnya hati dan berderainya air mata. Sebab itu, Rasulullah mengatakan, ‘Berkumpullah bersama orang yang bertobat, karena hati mereka lembut’.

Kedua, meninggalkan setiap kesalahan di mana pun dan kapan pun.

Ketiga, berjanji dan berusaha untuk tidak kembali pada dosa dan kesalahan.


Rahmat dan kedermawanan Allah tidak terukur. Walaupun seseorang datang kepada-Nya dengan dosa seisi langit dan bumi, kasih sayang dan ampunan Allah lebih besar dari itu semua.


Allah SWT akan mengampuni semua dosa dengan syarat hamba-nya memohon ampun disertai iman di dalam hati dan menjauhi perbuatan syirik. Sebagaimana firman Allah SWT:


اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا


Artinya;

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar (QS. An-Nisa 48).


Lantas bagaimana Tanda-tanda taubat yang diterima;


Sebagaimana disebutkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syeikh Nawawi Al-Bantani dijelaskan bahwa tanda diterimanya taubat seorang hamba bisa dilihat dalam 6 Perkara:


1. Orang tersebut akan merasa bahwa dirinya tidak terjaga dari maksiat, sehingga maksiat kemungkinan bisa terjadi kembali. Kemudian dia berusaha untuk menyempurnakan amalnya.


Maksudnya, ia tidak merasa telah suci dan berbangga hati bahwa ia tidak akan pernah berbuat dosa lagi. Hal ini menumbuhkan kehati-hatian dalam berucap, berbuat dan bersikap.


Maka betapa pentingnya menjaga lisan kita:


أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ حِفْظُ اللِّسَانِ


Artinya:

“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah menjaga lisan.”


2. Dia lebih banyak berempati, berkontemplasi, dan bersenang-senang secukupnya saja. (Bahagia secukupnya)


Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW:


مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ قَلَّ فَرَحُهُ، وَقَلَّ حَسَدُهُ   


Artinya, “Siapa yang banyak mengingat kematian akan sedikit gembiranya dan sedikit rasa hasudnya,” (HR. Ibnu al-Mubarak).


3. Bergaul dengan orang-orang baik dan menjauhi orang-orang dengan perilaku buruk.


Kita tahu bahwa bersama orang-orang baik akan membuat iman kita bertambah sekaligus mendekatkan kepada kebaikan-kebaikan.


Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً


Artinya;

“Teman yang baik dan teman yang buruk dibaratkan seperti pembawa minyak wangi dan peniup selongsong api. Pembawa minyak wangi akan menghembuskan aroma wangi kepadamu. Sehingga engkau membeli minyak wanginya atau mencium aromanya. Sedangkan peniup selongsong api akan membakar pakaianmu atau engkau mencium bau asap darinya,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


4. Melihat bahwa harta dunia yang sedikit adalah banyak dan mengambil secukupnya saja.


Selanjutnya, melihat bahwa amal akhiratnya masih sedikit sehingga dia fokus memperbanyak amal akhirat.


التَّفَكُّرُ فِى عَظِمَةِ اللهِ وَجَنَّتِهِ وَنَارِهِ سَاعَةً خَيرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ


Artinya:

“Bertafakkur sejenak tentang keagungan Allah serta tentang surga dan neraka-Nya itu lebih baik dari pada shalat malam.”


5. Lebih banyak meluangkan diri untuk beribadah kepada Allah dan lebih santai dalam memenuhi kebutuhan hidup.


Dia memahami bahwa rezeki sudah dijamin, sehingga ia tetap berikhtiar namun tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi.


Maksudnya tidak pernah resah dengan rezeki yang sudah ditetapkan, tetapi resah jika ketaatannya pada Allah belum maksimal.


تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ وَلَا تَفَكَّرُا فِى ذَاتِ اللهِ فَتَهْلِكُوْا


Artinya;

“Bertafakkurlah kalian tentang ciptaan Allah SWT., dan janganlah sekali-kali bertafakkur tentang Dzat Allah, sebab kalian akan celaka.”


6. Lebih bijak dan berhati-hati dalam bertutur kata.


Orang yang diterima taubatnya hanya berbicara hal yang bermanfaat dan menjauhi kesia-siaan. Dia juga banyak bertafakur mengenai keagungan Allah.


إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ ذُنُوْبًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ   


Artinya;

“Sesungguhnya orang yang paling banyak dosanya pada hari Kiamat nanti adalah orang yang paling banyak bicaranya dalam hal yang tiada guna.” (HR. Ibnu Nashr).


Oleh karenanya, tidak heran jika menjaga lisan adalah termasuk amal yang paling dicintai Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits;


“Amal yang paling dicintai Allah adalah menjaga lisan,” (HR. Al-Baihaqi)


Kesimpulan

Al-Baqoroh 284


Merasa optimis bahwa rahmat dan ampunan Allah begitu luas kepada hamba-Nya adalah kunci ketenangan hati untuk orang yang bertobat.


Sebagai manusia kita juga perlu sadar bahwa kita tidak sempurna dan rentan melakukan kesalahan. Namun, kita tidak boleh berkecil hati karena Allah Maha Pengampun. 


Hamba yang baik adalah mereka yang berusaha menyempurnakan amal kebaikan dan tidak merasa cukup dengan apa yang diperbuat. Kita juga harus senantiasa berusaha untuk hidup secara seimbang dengan mengejar akhirat dan tidak lupa berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup di bumi.

Mutiara yang lekang oleh Zaman

Mutiara yang lekang oleh Zaman

Marilah kita kembali menambah kadar ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan menghindar dari berbagai larangan-Nya dan juga menjauhi berbagai perkara yang dibenci Rasul-Nya. Sesungguhnya hanya dengan taqwalah kita akan menghadapi kehidupan ini secara sempurna.

Tidak selayaknya kita membicarakan keburukan, kema'siyatan demi kemaksiatan yang terjadi di muka bumi ini terus-menerus terjadi. Apalagi kemaksiatan yag terjadi di sekitar kita, yang kerap kali melibatkan orang-orang dekat kita. Alangkah baiknya jika kita mulai melangkah untuk menyelesaikan dan membenahi keburukan itu, tidak sekedar membicarakannya.

Betapa merosotnya keadaan di sekitar kita, hingga berbagai fatwa ulamapun dianggap angin lalu. Guna berbenah itulah kita harus tahu persis akar permasalahan dari keburukan itu. Agar treatmen yang akan diberikan tidak salah sasaran.

Di dalam Kitab Nurul Abshar fi manaqibi an-Nabi al Mukhtar Karya Syaikh Mu'min bin Hasan Asy Syablanji. diceritakan bahwa ketika baginda Rasulullah SAW dalam kondisi sakit di bulan safar, datang kepada Rasulullah SAW seorang malaikat. Kemudia beliau bertanya kepada Malaikat: "Wahai Jibril, akankah engkau masih turun ke bumi setelah aku tiada?" Jawab Jibril As. "Masih Ya Rasulullah, aku akan turun ke bumi untuk mengambil 10 Mutiara hidup sepeninggalnya engkau." Lalu baginda Nabi Muhammad SAW. bertanya kembali: "Mutiara apakah yang engkau akan ambil wahai Jibril?"

Malaikat Jibril lantas Menjawab: 

1. Pertama (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِنَ الأَرْضِا

Mutiara pertama yang akan kuambil dari muka bumi ini adalah barakah (keberkahan). 

Barokah adalah ziyadatul khair. Yang dapat diartikan ‘bertambah baik’. Artinya, sesuatu itu dianggap memiliki kebarokahan jika memang dapat melahirkan kebaikan dari kebaikan yang lain. Misalkan berdagang yang berkah itu akan menjadikan pelaku / pedagangnya makin intens dan berkualitas dalm bersedekah dan tambah rajin beribadah. Begitu pula ilmu yang barokah itu akan menjadikan pemiliknya berperilaku semakin baik, bukan malah semakin buruk. Ilmu akuntansi yang memiliki barokah tidak akan disalah gunakan oleh pemiliknya untuk berlaku curang dst...

2. Kedua ( وَالثََّانىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِنْ قُلُوْبِ الخَلْقِ

Mutiara kedua yang akan kuambil dari bumi adalah rasa cinta (Mahabbah) dari hati manusia.

3. Ketiga (وَالثََّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِنْ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ 

Mutiara ketiga yang akan kuambil dari bumi ini adalah rasa kasih sayang di antara keluarga.

4. Keempat (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِنَ الأُمَراَءِ 

Mutiara keempat yang akan kuambil dari bumi ini adalah keadilan di hati para pemimpin.

Mengenai hal ini kita semu telah pandai menilai. Apakah kekuasaan yang ada di sekitaran kita, ditingkat global dan nasional masih ada keadilan para pemimpin kita? Dapatkah disebut ke adilan jika terjadi tebang pilih dalam penegakan hukum dan perilaku perilaku kebermanfaatan lainya? Na’udzubillah min dzalik.

Jika melihat situasi yang ada ini sudahkah malaikat Jibril turun? Dan di mana dia turun?

5. Kelima (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَياَءَ مِنَ النِّساَءِ 

Mutiara kelima yang akan kuambil dari bumi ini adalah rasa malu dari para wanita-wanita (yang banyak berkata, berpenampilan, dan bersikap tidak pantas). Padahal sesungguhnya rasa malu itu sebagian dari iman.

Kini rasa malu itu telah dirubah menjadi rasa bangga. Seperti misalnya Bangga menjadi perempuan simpanan. Bangga menjadi perempuan yang memiliki gratifikasi terhadap selain muhrim, bahkan sebagian menggunakan alasan seni demi menutupi kemaluan yang telah hilang.

6. Keenam (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِنَ الفُقَراَءِ 

Mutiara keenam yang akan kuambil dari bumi adalah rasa sabar orang-orang fakir (miskin).

Diakui maupun tidak diakui bahwa faktor yang mengondisikan suatu negeri itu miskin dan berkembang tetap aman dan tertata adalah kesabaran para fakir dalam menerima bagian mereka. Namun, ketika golongan fakir miskin ini sudah tidak memiliki kesabaran dengan nasib mereka, maka kesenjangan social bisa berubah menjadi kerusakan dan kekacauan. sebab Do'a mereka tidak terhijab antar langit dan bumi.

7. Ketujuh (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِنَ اْلعُلَماَءِ 

Mutiara ketujuh yang akan kuambil dari bumi adalah sikap Wara' dan Zuhud dari para ulama.

Wara' adalah perilaku cukup dan berhati-hati menjaga diri dari yang syuhbat dan yang haram. Sedangkan zuhud itu (hati) yang tidak mementingkan harta-dunia. Keduanya merupakan ciri seorang ulama. Jika wara' dan zuhud telah hilang dari ulama maka nilai jati dirinya tergores dan nilai keulamannyapun mulai berkurang.

Nampaknya inilah yang terjadi pada ulama kita saat ini. wajarlah jika akhir-akhir ini berbagai fatwa mereka (ulama') tidak di dengar lagi oleh masyarakat. Pengajian-pengajiannya yang ada hanya dianggap sebagai tontonan bukan tuntutan.

8. Kedelapan (وَالثََّامِنُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِنَ الأَغْنِياَءِ 

Mutiara kedelapan yang akan kuambil dari bumi adalah dermawannya orang-orang kaya.

Diantara unsur yang dapat melanggengkan sirkulasi kehidupan ekonomi, budaya dan sosial di suatu masyarakat adalah kesabaran para fakir miskin dan kedermawanan orang-orang kaya. Keduanya akan saling mengisi. Namun jika keduanya tidak sinergis maka semua itu lenyap dan harmonisme dalam satu masyarakat dapat hilang tergantikan dengan unharmonism.

9. Kesembilan (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآنَ 

Mutiara kesembilan yang akan kuambil dari bumi adalah mengangkat Al-Qur'an. Yaitu menghilangkan Al-Qur'an sebagai panduan dalam kehidupan.

Lebih tepatnya menghilangkan ruh al-Qur’an. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi kini makin mempermudah telinga kita mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an. melalui mp3, mp4, dan media media online bahkan tafsirnya pun dapat diperoleh dengan mudah. Akan tetapi semangat Al-Qur’an itu sendiri saat ini semakin pudar bersama dengan makin mudahnya mendengarkan Al-Qur’an.

Meski demikian kita harus tetap berusaha memohon kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa agar Jibril tidak tergesa-gesa turun dan mengambil Al-Qur'an dari bumi ini.

10. Kesepuluh (العاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِيْماَنَ 

Mutiara kesepuluh yang akan kuambil dari bumi adalah iman. Ini adalah mutiara paling berharga di antara sembilan mutiara lainnya.

Boleh jadi ini adalah urutan mutiara yang paling akhir yang akan diambil oleh Jibril. Sebagaimana struktur teks hadits ini yang memposisikannya paling akhir.

Iman, ada di hati dan kita senantiasa berharap kepada Allah SWT. semoga Allah SWT. menetapkan iman dalam hati kita hingga saat dimana nanti kita kembali kepada-Nya tetap dalam keadaan Istiqomah dengan Iman dan Khusnul Khatimah.

Demikian tulisan ini, semoga saya, kita dan para pembaca yang Budiman dapat mengambil ibroh / pelajaran dari sepenggal tulisan yang saya tulis ini sehingga dapat memberikan dan membumikan kemanfaatan bagi seluruh alam.

Melestarikan Kebaikan Paskah Ramadhan

Melestarikan Kebaikan Paskah Ramadhan.

Sebelum Ramadhan datang, kita selalu menantinya dengan penuh kerinduan. Setelah ia pergi meninggalkan kita, mustinya kita tetap melakukan kebaikan dan tidak harus lekang oleh waktu kecuali dengan datangnya kematian. Shiyam, Qiyam, Infaq, Sedekah dan berbagai ibadah kebaikan lainya tetap dianjurkan sepanjang hayat. Islam memberikan kesempatan kepada kita untuk meneruskan dan melestarikan ibadah.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an: Maka mari kita tetap saling mengingatkan untuk senantiasa mempertahankan dan meningkatkan semangat ibadah kita pasca-Ramadhan, Bulan Syawal Secara bahasa, “Syawal” (شَوَّالُ) berasal dari kata “Syala” (شَالَ) yang memiliki arti “irtafaá” (اِرْتَفَعَ) yakni meningkatkan. Makna definisi ini tentu menjadi inspirasi bagi kita semua kaum muslimin dan muslimat untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita di bulan Syawal dan bulan-bulan ke depannya dengan melakukan tiga hal yakni: muhasabah (evaluasi diri), mujahadah (bersungguh-sungguh), dan muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah). Dengan tiga ikhtiar ini kita berharap tren positif kualitas dan kuantitas ibadah kita di bulan Ramadhan bisa kita pertahankan dan kita tingkatkan di bulan Syawal dan bulan-bulan selanjutnya.

Muhasabah adalah melakukan introspeksi diri terhadap perjalanan ibadah di bulan Ramadhan. Muhasabah ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri tentang: Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan? Apakah kita sudah memiliki niat yang benar dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan? Apa yang menjadikan kita semangat beribadah di bulan Ramadhan? Pernahkan kita melanggar kewajiban-kewajiban di bulan Ramadhan?. Dan tentunya pertanyaan-pertanyaan introspektif lainnya untuk mengevaluasi ibadah kita selama ini. Muhasabah ini sangat penting karena akan menjadi pijakan kita untuk melangkah selanjutnya di bulan Syawal. Allah SWT. mengingatkan kita untuk senantiasa melakukan evaluasi dengan melihat masa lalu kita sebagai modal untuk menghadapi masa depan. sebagaiamana yang dijelaskan dalam Surat Al-Hasyr: 18.

Maka pada kesempatan yang baik ini mari kita berMuhasabah dan mengingat-ingat kembali apa yang telah kita lakukan pada bulan yang penuh keberkahan itu. Apabila kita telah beramal dengan baik selama Ramadhan, marilah kita pertahankan dan tingkatkan setelah Ramadhan. Jika kita termasuk orang-orang yang lalai dalam melakukan kewajiban atau teledor dalam menjauhi larangan selama Ramadhan, marilah kita segerakan diri kita untuk bertaubat dengan taubatan nashuha. Segera kita perbaiki diri kita sebelum maut menjemput. Perintah Taubat dalam QS An-Nur ayat 31:

Setelah muhasabah, selanjutnya yang kita lakukan adalah Mujahadah yakni bersungguh-sungguh dalam berjuang untuk mempertahankan tren positif ibadah bulan Ramadhan. Di bulan Syawal ini, kita harus tancapkan tekad untuk terus melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif selama Ramadhan. Perjuangan ini tentu akan banyak menghadapi tantangan, baik dari lingkungan sekitar kita maupun dari diri kita sendiri. Oleh karenanya, kita harus memiliki tekad kuat dan benar agar hambatan dan tantangan yang mengendurkan semangat ibadah kita ini bisa kita kalahkan.

Setelah bermuhasabah dan bermujahadah, selanjutnya kita bisa melakukan muraqabah kepada Allah. Muraqabah adalah upaya kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Upaya kita untuk dekat dengan Allah ini akan memunculkan keyakinan di dalam hati bahwa kita selalu dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Dan ketika Allah senantiasa mengawasi kita, maka perasaan akan muncul rasa takut untuk melakukan segala hal yang dilarang oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam HadistArtinya: “Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab meski engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu...”

Semakin kuat tekad kita untuk bermuroqabah, maka secara otomatis akan menjadikan kita sadar bahwa kita sangat lemah dan miskin amal ibadah sehingga akan muncul kesadaran untuk terus melipatgandakan ibadah dan kebaikan kita sebagai wujud penghambaan kepada Allah. Semoga kita bisa melakukan Muhasabah, Mujahadah, dan Muroqabah ini sehingga hari ini akan lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Dunia adalah waktu untuk beramal dan akhirat adalah waktu untuk mempertanggung jawabkan amal. Penyesalan di akhirat tiada guna dan manfaat. Jangan sampai kita tergolong mereka yang mengatakan di akhirat.

Walimatul Hamli

 Walimatul Hamli:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَۗ


Artinya: "Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. "Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). "Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik." QS. Al-Mu'minun 12-14.

Hadits riwayat Muhammad Ismail al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Fikr, 1422), juz IV, hal. 111, hadits nomor 3208:


قَالَ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ، وَرِزْقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ،

“Sesungguhnya setiap orang di antaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah, (empat puluh hari kemudian), kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula (40 hari berikutnya). Kemudian diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya menuliskan empat hal; ketentuan rejekinya, ketentuan ajalnya, ketentuan amalnya, dan ketentuan celaka atau bahagianya …”


Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa proses kejadian manusia terdiri dari 3 fase sebagai berikut:

• 40 hari pertama berupa nutfah atau cairan kental.

• 40 hari kedua menjadi ‘alaqah atau segumpal darah.

• 40 hari ketiga menjadi mudhghah atau segumpal daging.


Berikut Do'a nya;


Tawasul Fatihah...

Sholawat Nariah...


قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ - ٢٦

تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ - ٢٧


أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ وَمِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ وَلَا غَالِبَ إِلَّا اللهُ وَلَا يُفَوِّتُهُ هَارِبٌ مِنَ اللهِ وَهُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، نُعِيْذُ هٰذَا الْحَمْلَ الْبَالِغَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ بِاللهِ اللَّطِيْفِ الْحَفِيْظِ الَّذِيْ لَآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ وَنُعِيْذُهُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ وَبِأَسْمَآئِكَ الْعَظِيْمَةِ وَآيَاتِهِ الْكَرِيْمَةِ وَحُرُوْفِهَا الْمُبَارَكَةِ مِنْ شَرِّ الْإِنْسِ وَالْجَآنِّ وَمِنْ مَكْرِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْاٰوَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ الْفِتَنِ وَالْبَلَايَا وَالْعِصْيَانِ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ وَلَدًا صَالِحًا كَرِيْمًا كَامِلًا عَاقِلًا عَلِيْمًا نَافِعًا مُبَارَكًا حَلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ زَيِّنْهُ بِزِيْنَةِ الْأَخْلَاقِ الْكَرِيْمَةِ وَالصُّوْرَةِ الْجَمِيْلَةِ ذِي الْهَيْبَةِ وَالْهَيْئَةِ الْمَلِيْحَةِ وَالرُّوْحِ عَلَى الْفِطْرَةِ الْجَزِيْلَةِ. اَللّٰهُمَّ اكْتُبْهُ فِيْ زُمْرَةِ الْعُلَمَآءِ الصَّالِحِيْنَ وَحَمَلَةِ الْقُرْاٰنِ الْعَامِلِيْنَ وَارْزُقْهُ عَمَلاً يُقَرِّبُهُ إِلَى الْجَنَّةِ مَعَ النَّبِيِّيْنَ يَآ أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ وَيَا خَيْرَ الرَّازِقِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْهُ وُأُمَّهُ فِيْ طَاعَتِكَ الْمَقْبُوْلَةِ وَذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ الْمُرْضِيَّةِ وَاحْفَظْهُ مِنَ السَّقْطِ وَالنَّقْصِ وَالْعِلَّةِ وَالْكَسَلِ وَالْخِلْقَةِ الْمَذْمُوْمَةِ حَتَّى وَضَعَتْهُ أُمُّهُ عَلَى صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَسُهُوْلَةٍ وَيُسْرَةٍ مِنْ غَيْرِ مَرَضٍ وَتَعَبٍ وَعُسْرَةٍ بِشَفَاعَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ