Optimis akan Rahmat dan Ampunan Allah SWT.
Oleh:
Zainuddin, M.Pd.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sering berbuat salah, dan yang paling baik dari mereka adalah yang bersegera untuk bertaubat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Artinya;
Seluruh anak Adam sering berbuat kesalahan. Dan yang terbaik dari mereka yang sering berbuat kesalahan adalah yang paling banyak bertaubat (HR. Ibnu Majah no. 4251; Imam Suyuti menilai hadits ini shahih).
Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa jika tidak ada lagi manusia pendosa, Allah SWT akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa dan Allah SWT akan mengampuni mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللَّهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ يَغْفِرُ لَهُمْ
Artinya;
Seandainya kalian tidak ada yang berdosa, maka Allah akan menciptakan makhluk lagi yang akan berbuat dosa dan akan mengampuni mereka (HR. Muslim no. 2748).
Ampunan dan kasih sayang Allah sangatlah luas. Sebagai seorang mukmin, hendaknya kita tetap optimis dan meyakini bahwa Allah SWT maha mengampuni seluruh dosa-dosa kita.
Maka, langkah pertama agar hati kita tetap merasa tenang dengan taubat adalah optimis bahwa Allah SWT mengampuni dosa kita. Sebagimana Allah berfirman dalam salah satu hadis Qudsiy:
قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Artinya:
Wahai anak Adam! Jika kamu berdo'a dan berharap kepadaKu, maka akan Aku ampuni segala dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam! Jika dosamu setinggi langit dan engkau memohon ampun kepadaKu niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa seisi bumi dan engkau menemuiKu (kembali kepadaKu) dengan keadaan tidak menyekutukanKu dengan suatu apapun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan seisi bumi pula (HR. Tirmidzi no. 3540).
Maksud hadis ini adalah, bahwa Allah SWT sangat menyukai hamba-nya yang bertaubat melebihi senangnya seseorang yang menemukan hartanya yang hilang.
Kita haruslah selalu optimis bahwa dengan bertaubat yang sebenar-benarnya pasti Allah SWT akan diterima dan dosa akan diampuni, karena dalam hadis Qudsiy yang lain Allah berfirman,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
Artinya;
Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku (HR. Bukhari no. 7505).
Taubat menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Al-Ghunyah, Disebutkan:
أما شروطها فثلاثة: أولها الندم على ما عمل من المخالفات وهو قول النبي صلى الله عليه وسلم الندم توبة. وعلامة صحة الندم رقة القلب وغزارة الدمع ولهذا روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: جالسوا التوابين فإنم أرق أفئدة. والثاني ترك الزلات في جميع الحالات والساعات. والثالث العزم على ألا يعود إلى مثل ما اقترف من المعاصى والخطيئات
Artinya, “Syarat tobat ada tiga:
Pertama, menyesali atas kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan, ini berdasarkan hadis Rasulullah, ‘Menyesali kesalahan adalah tobat’. Tanda dari penyesalan adalah lembutnya hati dan berderainya air mata. Sebab itu, Rasulullah mengatakan, ‘Berkumpullah bersama orang yang bertobat, karena hati mereka lembut’.
Kedua, meninggalkan setiap kesalahan di mana pun dan kapan pun.
Ketiga, berjanji dan berusaha untuk tidak kembali pada dosa dan kesalahan.
Rahmat dan kedermawanan Allah tidak terukur. Walaupun seseorang datang kepada-Nya dengan dosa seisi langit dan bumi, kasih sayang dan ampunan Allah lebih besar dari itu semua.
Allah SWT akan mengampuni semua dosa dengan syarat hamba-nya memohon ampun disertai iman di dalam hati dan menjauhi perbuatan syirik. Sebagaimana firman Allah SWT:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
Artinya;
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar (QS. An-Nisa 48).
Lantas bagaimana Tanda-tanda taubat yang diterima;
Sebagaimana disebutkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syeikh Nawawi Al-Bantani dijelaskan bahwa tanda diterimanya taubat seorang hamba bisa dilihat dalam 6 Perkara:
1. Orang tersebut akan merasa bahwa dirinya tidak terjaga dari maksiat, sehingga maksiat kemungkinan bisa terjadi kembali. Kemudian dia berusaha untuk menyempurnakan amalnya.
Maksudnya, ia tidak merasa telah suci dan berbangga hati bahwa ia tidak akan pernah berbuat dosa lagi. Hal ini menumbuhkan kehati-hatian dalam berucap, berbuat dan bersikap.
Maka betapa pentingnya menjaga lisan kita:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ حِفْظُ اللِّسَانِ
Artinya:
“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah menjaga lisan.”
2. Dia lebih banyak berempati, berkontemplasi, dan bersenang-senang secukupnya saja. (Bahagia secukupnya)
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW:
مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ قَلَّ فَرَحُهُ، وَقَلَّ حَسَدُهُ
Artinya, “Siapa yang banyak mengingat kematian akan sedikit gembiranya dan sedikit rasa hasudnya,” (HR. Ibnu al-Mubarak).
3. Bergaul dengan orang-orang baik dan menjauhi orang-orang dengan perilaku buruk.
Kita tahu bahwa bersama orang-orang baik akan membuat iman kita bertambah sekaligus mendekatkan kepada kebaikan-kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Artinya;
“Teman yang baik dan teman yang buruk dibaratkan seperti pembawa minyak wangi dan peniup selongsong api. Pembawa minyak wangi akan menghembuskan aroma wangi kepadamu. Sehingga engkau membeli minyak wanginya atau mencium aromanya. Sedangkan peniup selongsong api akan membakar pakaianmu atau engkau mencium bau asap darinya,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
4. Melihat bahwa harta dunia yang sedikit adalah banyak dan mengambil secukupnya saja.
Selanjutnya, melihat bahwa amal akhiratnya masih sedikit sehingga dia fokus memperbanyak amal akhirat.
التَّفَكُّرُ فِى عَظِمَةِ اللهِ وَجَنَّتِهِ وَنَارِهِ سَاعَةً خَيرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ
Artinya:
“Bertafakkur sejenak tentang keagungan Allah serta tentang surga dan neraka-Nya itu lebih baik dari pada shalat malam.”
5. Lebih banyak meluangkan diri untuk beribadah kepada Allah dan lebih santai dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Dia memahami bahwa rezeki sudah dijamin, sehingga ia tetap berikhtiar namun tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi.
Maksudnya tidak pernah resah dengan rezeki yang sudah ditetapkan, tetapi resah jika ketaatannya pada Allah belum maksimal.
تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ وَلَا تَفَكَّرُا فِى ذَاتِ اللهِ فَتَهْلِكُوْا
Artinya;
“Bertafakkurlah kalian tentang ciptaan Allah SWT., dan janganlah sekali-kali bertafakkur tentang Dzat Allah, sebab kalian akan celaka.”
6. Lebih bijak dan berhati-hati dalam bertutur kata.
Orang yang diterima taubatnya hanya berbicara hal yang bermanfaat dan menjauhi kesia-siaan. Dia juga banyak bertafakur mengenai keagungan Allah.
إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ ذُنُوْبًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ
Artinya;
“Sesungguhnya orang yang paling banyak dosanya pada hari Kiamat nanti adalah orang yang paling banyak bicaranya dalam hal yang tiada guna.” (HR. Ibnu Nashr).
Oleh karenanya, tidak heran jika menjaga lisan adalah termasuk amal yang paling dicintai Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits;
“Amal yang paling dicintai Allah adalah menjaga lisan,” (HR. Al-Baihaqi)
Kesimpulan
Al-Baqoroh 284
Merasa optimis bahwa rahmat dan ampunan Allah begitu luas kepada hamba-Nya adalah kunci ketenangan hati untuk orang yang bertobat.
Sebagai manusia kita juga perlu sadar bahwa kita tidak sempurna dan rentan melakukan kesalahan. Namun, kita tidak boleh berkecil hati karena Allah Maha Pengampun.
Hamba yang baik adalah mereka yang berusaha menyempurnakan amal kebaikan dan tidak merasa cukup dengan apa yang diperbuat. Kita juga harus senantiasa berusaha untuk hidup secara seimbang dengan mengejar akhirat dan tidak lupa berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup di bumi.






0 comments:
Posting Komentar