Bulan Sya'ban sering disebut dengan istilah Ruwah, Ruwah itu bahasa arabnya "Arwah", yang kemudian diserap dalam bahasa jawa menjadi "Ruwah". Pada akhir bulan Sya'ban masyarakat Nusantara (Jawa) memiliki tradisi Ruwahan atau Megengan yang merupakan tradisi turun temurun sejak periode wali songo.
Kegiatan ini rutin setiap tahun dilakukan oleh hampir seluruh umat muslim dunia dalam rangka kirim do'a untuk di hadiahkan kepada arwah para leluhurnya dan sekaligus menyambut haru (bahagia) atas datangnya bulan suci Romadhon. Hal ini sesuai dengan dawuhnya Rasulullah SAW:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ
“Barangsiapa yang berbahagia (menyambut) kedatangan bulan Romadhon, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk api neraka”.
Berdasar hadist diatas, ekspresi umat muslim dalam menyambut Romadhonpun mereka lakukan dengan beragam tradisi (kebaikan), ada yang melakukan pawai Targhib Romadhon, Berziarah kubur (Nyadran, Jawa), Megengan dan lain sebagainya, yang tentunya memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah: Pertama, Syiar Islam. Kedua, Ungkapan syukur kepada Allah SWT. Ketiga, Berkirim do'a untuk para leluhur. Keempat, Pemberian sedekah. Kelima, Bermohon kepada Allah SWT untuk diberikan kekuatan dan keteguhan dalam menjalani ibadah Romadhon. Dan yang terakhir adalah sebagai sarana Meneguhkan ukhuwah Basyariah.
Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah ia menjalin silaturrahim.” (HR. Buchori).
Bagi sebagian besar masyarakat Nusantara (Jawa), tradisi Megengan telah menjadi kebiasaan atau adat dan menjadi semacam keharusan, sehingga jika pada akhir bulan Sya'ban mereka meninggalkan tradisi Ruwahan atau Megengan, serasa ada yang kurang (hambar) dalam menyambut haru bulan suci Romadhon.










