PERISTIWA MI'RAJ MEMBUKTIKAN BAHWA LOKASI ALLAH DI ATAS?
Oleh: Abdul Wahab Ahmad
Mi'raj adalah berangkatnya Nabi ke atas sidratul muntaha. Beliau menerima perintah sholat di sana. Tak ada penyebutan Arasy setahu saya. Kejadiannya sama dengan peristiwa ketika Nabi Musa mendapat perintah langsung di puncak gunung Tursina. ini semua berbicara tentang tempat hambanya menerima wahyu, bukan tempat Allah SWT.
Nabi bolak balik dari tempatnya di atas sidratul muntaha ke tempatnya Nabi Musa di langit ke tujuh lalu ke atas lagi untuk memohon keringanan. Dalam riwayat-riwayat yang sohih kita dapati bahwa yang naik dan turun adalah Nabi Muhammad SAW., Beliau naik ke tempat ia menerima wahyu dan turun ke tempat Nabi Musa lalu naik lagi ke tempat menerima wahyu sebelumnya dan itu terjadi berulang-ulang. Tempat yang kita bicarakan ini adalah tempat hambanya, bukan tempat Allah SWT. Kalau Allah mau, Dia bisa memberikan wahyunya secara langsung di manapun hambanya berada seperti yang terjadi pada Jibril As. yang menerima wahyu dari Allah SWT., di mana pun ia berada secara langsung.
Sama sekali tak ada bahasan tentang tempat Allah SWT. dalam riwayat-riwayat itu kecuali dalam persangkaan orang yang gagal paham yang menyangka bahwa bagi Allah SWT. juga berlaku hukum alam sebagaimana kita kenal di dunia ini. Padahal Allah SWT. sendirilah yang menciptakan alam beserta seluruh hukumnya, tapi mereka yang gagal paham ini mewajibkan agar hukum alam itu juga berlaku pada Allah SWT sendiri. Dalam benak mereka. kalau kita berbicara dengan seorang manusia pastilah berada di suatu tempat, maka kalau Allah SWT berfirman pada hambanya juga disimpulkan Allah SWT berada dalam suatu tempat. Tak pernahkah mereka membaca sekian banyak riwayat yang berisi tentang tempat Malaikat Jibril menerima wahyu di mana saja? Lalu apa yang mereka pikirkan tentang itu? Tak ingatkah bahwa Nabi Musa "bertemu" dan bercakap-cakap dengan Allah SWT di gunung Tursina? maka apa yang bisa disimpulkan dari itu? Apakah berarti Allah sering berpindah tempat dari langit ke bumi dan muat di dalamnya?
Kita sendiri juga sering pergi masjid bolak-balik hanya untuk menyampaikan untaian do'a yang kita panjatkan ke Allah SWT. Bahkan banyak dari kita menabung supaya bisa bolak-balik ke Masjidil Haram untuk melakukannya. Apakah dari sini bisa disimpulkan bahwa kita meyakini bahwa Allah SWT berada di masjid atau di ka'bah? Para pendakwah salafi di masjid Nabawi pada sewot kalau ada jamaah yang berdo'a ke Allah dalam keadaan menghadap ke makam Rasulullah SAW sebab tak menghadap ke kiblat. Apakah ini berarti Allah berada di arah kiblat? Kita juga mengenal arti kata "mendekatkan diri ke Allah" (taqarrub) yang sama sekali tak bermakna mendekat secara fisik. Lalu kenapa dalam peristiwa mi'raj kata mendekatkan diri lantas berubah menjadi makna fisik? Sempit sekali pemahaman mereka ini.
Lalu untuk apa Nabi dipanggil ke langit? menurut ayat al-Qur'an isra' itu untuk memperlihatkan sebagian ayatnya (linuriyahu min ayatina) sedangkan saat mi'raj ayat-ayat yang besar juga nampak (laqad ra'a min ayati rabbihil kubra). Ini penuturan al-Qur'an yang seharusnya kita terima bulat-bulat bahwa isra' dan mi'raj itu hanya soal memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan membawa Nabi ke tempat Allah SWT. Selain itu para ulama menunjukkan hikmah bahwa ini untuk menunjukkan keagungan sholat sehingga perintahnya diberikan di langit sana, bukan di bumi seperti perintah lainnya.
Mereka yang memaksakan diri barkata bahwa mi'raj adalah pembuktian keberadaan Allah secara fisik di langit mengalami kontradiksi parah dengan ucapan mereka sendiri. Di antara kontradiksinya adalah:
1. Katanya Allah selalu bersemayam di atas Arasy, di tempat tertinggi yang tak ada siapapun setinggi itu. Lalu mulai kapan Allah turun ke Sidratul Muntaha? Ataukah jangan-jangan Sidratul Muntaha adalah Arasy? Ataukah jangan-jangan info al-Qur'an dan hadis salah ketika menyebut Sidratul Muntaha?
2. Kalau dimaknai bahwa Nabi Muhammad menemui Allah di Arasy, maka bukankah itu berarti mengatakan bahwa ketinggian Allah bisa dicapai juga oleh makhluk? Lalu apa spesialnya sifat uluw yang biasa mereka maknai sebagai ketinggian fisik untuk Allah kalau toh akhirnya bisa disaingi oleh seorang manusia? Selain itu katanya Arasy di atas Air, apakah kata naik ke atas dalam peristiwa mi'raj berarti Nabi nyebrang melewati air bukan betul-betul ke atas?
3. Katanya lokasi Allah terpisah dari makhluknya (ba'inun min khalqihi) tapi kenapa dalam kasus mi'raj bilang berada dalam satu tempat dengan Nabi?
4. Katanya tempat Allah itu pada hakikatnya adalah tempat ketiadaan (al-makan al-'adami) yang tak ada batasnya, tapi kenapa dalam kasus mi'raj bilang berada dalam satu tempat dengan Nabi? Apakah Nabi yang keberadaannya berbetuk fisik itu juga juga berada di al-Makan al-Adami itu?
5. Katanya Allah turun tiap sepertiga malam terakhir ke langit dunia (langit pertama) secara hakikat, lalu kenapa saat itu Allah SWT ada di atas sana padahal di bumi sedang ada lokasi yang mengalami sepertiga malam terakhir? Memangnya Allah ada berapa? Kenapa tak menemui Allah di langit dunia saja kalau demikian?
Itulah sederet inkonsistensi mereka yang memahami peristiwa mi'raj dengan cara sederhana seperti pemahaman anak kecil itu. Silakan sanggah seluruh poin di atas kalau tidak sepakat. Jangan hanya mampu menyanggah satu dua saja dengan mengulang dalil yang kita sudah tahu semua bahwa itu maknanya bersayap sebab kalau hanya satu dua maka argumen saya takkan runtuh. Jangan juga membuang waktu saya dengan membawakan nukilan riwayat mi'raj yang meski sanadnya sohih tapi matannya bermasalah sebab bertentangan dengan nash al-Qur'an. Periksalah dulu kitab-kitab syarah hadis sebelum memenuhi kolom komentar dengan riwayat hadis. Dan tentu saja, janganlah berdalil dengan jurus pokoknya ikuti saja, pokoknya diam saja, dan pokoknya ini yang benar.
Semoga bermanfaat.






0 comments:
Posting Komentar