Beberapa hari kemaren ini kita disuguhkan dengan berbagai pertistiwa yang dipertontonkan sedemikian rupa kepada kita semua, mulai dari peristiwa: Kedaulatan bangsa, Orang benar di kriminalisasi, badai siklon (karena Tekanan Udara Rendah_Hutan gundul_manusia rakus) yang mengakibatkan Gempa, Banjir, Longsor, dan lain sebagainya...
Maka, dari peristiwa peristiwa ini menjadi penting untuk kemudian kita renungkan, bahwa hidup ini adalah perjalanan dalam pengabdian dan ketaatan, karena itu disetiap sudut dan perempatan jalan ada traffic light (untuk istirahat sejenak) sembari menghela nafas sudah seberapa jauh perjalanan ini dan setebal apa kadar keimanan kita kepada Alloh SWT., karena itu Allah berfirman: اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ. الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ Dalam ayat ini disebutkan bahwa ciri-ciri orang beriman diantaranya adalah:
Pertama, اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ apabila disebutkan nama Allah, maka bergetarlah hatinya. Orang beriman akan merasa takut apabila mereka tidak memenuhi tugas kewajiban sebagai hamba Allah, dan merasa berdosa apabila melanggar larangan-larangan-Nya.
Bergetarnya hati sebagai perumpamaan dari perasaan takut ini adalah sikap mental yang bersifat abstrak, yang hanya dapat dirasakan oleh seseorang yang memiliki kualitas iman paripurna seperti ulama' sebagaimana disebutkan Al-Qur'an اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُ sesungguhnya di antara hamba-hamba yang takut kepada Alloh hanyalah para ulama, (yakni orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah).
Kedua, وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا apabila dibacakan ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah, maka akan bertambah iman mereka. Bertambahnya iman mereka akan semakin menyadarkan bahwa dirinya adalah orang yang lemah di sisi Allah dan Allahlah Zat yang paling besar dan kuat serta maha kuasa. Dengan dibacakan dan melihat ayat-ayat Allah, orang-orang beriman akan semakin bertambah semangat dalam beribadah.
Ayat-ayat Allah ini bukan hanya ayat qauliyah saja (ayat yang dapat dipelajari dalam Al-Qur'an). Namun ayat-ayat Allah ada juga yang berbentuk ayat kauniyah, seperti segala ciptaan Allah di muka bumi, fenomena alam, sosial, dan sebagainya. Karena itu orang yang dengan kualitas iman paripurna dia akan menjadikan peristiwa alam dan sosial sebagai pelajaran., bahwa وما بكم فمن الله
Ketiga, وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ bertawakal (berserah diri) hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Orang beriman tidak berserah diri kepada selain Allah SWT., karena sikap tawakal merupakan senjata terakhir seseorang dalam mewujudkan serangkaian amal setelah berbagai sarana dan syarat-syarat yang diperlukan dipersiapkan. Orang beriman yakin bahwa setelah serangkaian usaha dan Do'a yang telah dilakukan, maka Allah lah yang akan mengabulkan dan mencukupi semuanya: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”.
Keempat, الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ orang yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dengan sempurna baik itu syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta ketepatan waktunya, dan khusyu’ semata karena Allah. Hal ini bisa dipahami bahwa seseorang yang tidak rajin dalam melaksanakan shalat lima waktu, maka keimanannya pun sangat patut dipertanyakan.
Mari tanyakan pada diri kita, sudahkah kita shalat lima waktu lengkap setiap hari? Ataukah kita shalat sesempatnya saja?. Atau apakah malah kita sama sekali tidak melaksanakan shalat yang merupakan salah satu Rukun Islam ini?. Hanya Allah dan hati kita yang bisa menjawabnya.
Kelima, وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ menginfakkan sebagian dari harta yang diberikan kepadanya. Yang dimaksud dalam hal ini adalah mengeluarkan titipan Allah berupa harta dalam bentuk mengeluarkan zakat, infak, sedekah, memberi nafkah kepada keluarga dekat ataupun jauh, atau membantu kegiatan sosial dan kepentingan agama, serta kemaslahatan umat. Orang beriman tidak akan khawatir jika bersedekah akan mengurangi hartanya. Namun sebaliknya, bersedekah akan mendatangkan kebahagiaan dan tidak akan mengurangi rezeki dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda: مَا نَقَصَ مَالُ مِنْ صَدَقَةٍ “Harta tidak berkurang karena bersedekah.”
Jika lima ciri ini sudah tertanam dalam setiap diri seseorang, maka اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌۚ“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.”
Didalam kitab Nashoikhul Ibad karya Imam Nawawi Al-Jawi beliau mengatakan bahwa termasuk ciri orang yang menegakkan keimanan adalah: Taqwa, Malu, Sabar dan Syukur.
TAQWA
(التقوى) وهو في الطاعة يراد به الاخلاص وفي المعصية يراد به الترك والحذر ، وقيل هو محافظة آداب الشريعة ، وقيل هو الاقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم قولا وفعلا
Taqwa, yaitu dalam ketaatan yang bermakna keikhlasan, dan dalam kemaksiatan bermakna meninggalkan serta berhati-hati. Ada pula yang mengatakan bahwa taqwa adalah menjaga adab-adab syariat. Dan ada yang mengatakan bahwa taqwa adalah meneladani Nabi Muhammad SAW., dalam ucapan dan perbuatan.
MALU
(والحياء) وهو نوعان : نفساني وهو الذي خلقه الله تعالى في النفوس كلها كالحياء من كشف العورة والجماع بين الناس ، وإيماني وهو أن يمنع المؤمن من فعل المعاصى خوفا من الله تعالى
Malu, yang terbagi menjadi dua jenis:
1). Malu yang bersifat naluriah, yaitu yang diciptakan Allah dalam setiap jiwa manusia, seperti (malu membuka aurat, malu tidak kerja, malu tidak konsisten, dlsbg) di hadapan orang lain.
2). Malu yang bersifat keimanan, seperti (melakukan maksiat, minum minuman keras, berbuat curang dlsbg) karena takut kepada Allah SWT.
SHABAR
(والصبر ) وهو ترك الشكوى من ألم البلوى لغير الله تعالى
Sabar, yaitu menahan diri untuk tidak mengeluh atas penderitaan dan cobaan kepada selain Allah SWT.
SYUKUR
(والشكر ) وهو الثناء على المحسن بذكر احسانه فالعبد يشكر الله أى يثنى عليه بذكر احسانه الذي هو نعمة
Syukur, yaitu memuji orang yang berbuat baik dengan menyebutkan kebaikannya (berterima kasih). Maka seorang hamba bersyukur kepada Allah, adalah dengan memuji-Nya dan menyebutkan kebaikan-Nya yang berupa nikmat.
Demikianlah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga manfaat dan kita bisa menjadikan diri kita sebagai orang-orang yang senantiasa memiliki motivasi untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Sehingga Allah SWT selalu melindungi dan menjaga kita untuk tetap dalam keadaan sejahtera dalam iman dan Islam tetkala menghadapi setiap peristiwa dan fenomena.