Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Bahaya Hati yang Jauh dari Alloh SWT

Kata hati (Qolb) disebutkan 44 kali dalam Al-Qur'an, hampir seluruh makna kata qolb berkisar sekitar makna daya rasa terdalam dan akal manusia. Dengan demikian, kita tahu bahwasanya hati merupakan tempat watak atau karakter paling dasar yang suci dan kecenderungan batin yang beragam.

Disebutkan dalam QS Al-An'am 110 وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ "Alloh SWT akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) serta Alloh membiarkan mereka bingung dalam kesesatan"

Hati yang jauh dari Allah SWT., itu seperti tanah yang kering dan tandus, tidak ada kesuburan dan kehidupan di dalamnya. Sama halnya hati kita ketika jauh dari Alloh, maka kita akan rentan terhadap godaan hawa nafsu dan tipu daya setan, sehingga kita mudah melakukan perbuatan² tercela dan terjerumus dalam kehinaan.

Syekh Abi Bakr Syatto' dalam Kifayatul Atqiya, mengatakan: ‎لَا يَنَالُ خَيْرًا عَاجِلًا وَلَا آجِلًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَلَا يُدْفَعُ شَرٌّ عَاجِلًا وَلَا آجِلًا ظَاهِرًا وَلَا بَاطِنًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلأَوَّلِينَ وَالأَخِرِينَ "Tidaklah seseorang memperoleh kebaikan yang segera maupun yang akan datang kecuali dengan takwa. Dan tidaklah seseorang dapat menolak kejahatan yang segera maupun yang akan datang, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, kecuali dengan takwa. Takwa adalah wasiat Allah bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang."

Karena itu dalam pandangan ulama' takwa itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama Takwa Lahir, yaitu taqwa yang mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT yang tampak secara lahiriah, seperti shalat, puasa, zakat, sedekah, dan berbagai bentuk amalan lainnya. Termasuk juga menjauhi larangan-larangan Allah SWT., seperti meninggalkan zina, menjauhi minuman beralkohol, meninggalkan judi, korupsi, serta berbagai perbuatan tercela lainnya.

Kedua Takwa batin. adalah upaya menjaga kebersihan, kesucian dan kemurnian hati melalui amalan-amalan hati, yang mencakup perkara-perkara perintah syariat, seperti ikhlas, ridho, sabar, syukur, dan sifat-sifat terpuji lainnya, yang mencakup perkara-perkara larangan syariat, seperti berburuk sangka, iri, dengki, dendam, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Dalam praktek sehari-hari kita masih sering melihat diri kita hanya mementingkan ibadah-ibadah atau amalan-amalan yang bersifat ceremony dan amalan lahiriah saja, tanpa mempertimbangkan sisi-sisi amalan hati (batin) yang sejatinya tidak kalah penting, sebagaimana sabda Rasulullah: ‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ “Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian,” (HR Muslim).

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa penilaian Allah tertuju pada hal-hal yang lebih dalam dari sekadar yang tampak dari tubuh yang terkesan mewah di mata kebanyakan manusia. Bukan kesempurnaan fisik maupun kekayaan harta benda, tetapi pada kualitas hati dan mutu perbuatan hamba-Nya.

Imam Thabroni beliau meriwayatkan dari hadist nabi: فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian adalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa,” (HR. Ath-Thabrani).

Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa hati merupakan satu elemen penting bagi kehidupan orang mukmin. Di hati inilah tempat Alloh SWT., melihat baik dan buruknya kita, di hati ini juga menjadi tempat komando bagi anggota tubuh yang lainnya. Maka penting bagi kita untuk menjaga kebersihan dan kesucian hati, agar hati kita dipenuhi dengan ketakwaan. Jangan sampai hati kita kering, kotor dan dipenuhi dengan noda-noda kemaksiatan, sehingga hati kita merasa jauh dari Allah SWT., dan tidak dapat merasakan kehadiran-Nya.

Hati yang mati, kering, gersang adalah merupakan masalah yang serius, menyebabkan hina dunia dan akhirat. Di antaranya:

Pertama adalah hilangnya rasa malu. Sebab utama hilangnya perasaan malu dari hati adalah hilangnya perasaan diawasi oleh Allah SWT.

Kedua hilangnya ketenangan dan kedamaian di hati. Sebab hati yang tidak ada Alloh di dalamnya tidak akan merasa tenang. Sebab Alloh SWT., lah yang maha memberi ketenangan dan kedamaian dalam hati. Hal ini akan sangat berdampak pada kehidupan seseorang, dia akan mencari ketenangan dan kedamaian di tempat yang salah dengan melakukan hal-hal yang melanggar norma dan syariat.

Ketiga tidak terkabulkannya Do'a ‎وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ “Ketahuilah kalian semua, sesungguhnya Alloh tidak akan mengabulkan do'a dari orang yang hatinya lalai.” (HR At-Tirmidzi).

Keempat hati menjadi sulit menerima kebenaran. Hati yang mati maka akan sulit menerima nasihat kebenaran, hal ini disebabkan karena sejatinya hati adalah tempat cahaya ilahi bersemayam, apabila cahaya ilahi tersebut padam maka orang yang hatinya keras dan lalai dari Alloh SWT tidak akan mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.

Itulah empat rambu-rambu gelapnya hati, semoga Alloh SWT menjadikan hati kita senantiasa hidup, penuh cahaya kebaikan, keimanan dan ketakwaan, Rosulullah SAW bersabda: ‎أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR Bukhari).

Ciri Orang Beriman

Beberapa hari kemaren ini kita disuguhkan dengan berbagai pertistiwa yang dipertontonkan sedemikian rupa kepada kita semua, mulai dari peristiwa: Kedaulatan bangsa, Orang benar di kriminalisasi, badai siklon (karena Tekanan Udara Rendah_Hutan gundul_manusia rakus) yang mengakibatkan Gempa, Banjir, Longsor, dan lain sebagainya...

Maka, dari peristiwa peristiwa ini menjadi penting untuk kemudian kita renungkan, bahwa hidup ini adalah perjalanan dalam pengabdian dan ketaatan, karena itu disetiap sudut dan perempatan jalan ada traffic light (untuk istirahat sejenak) sembari menghela nafas sudah seberapa jauh perjalanan ini dan setebal apa kadar keimanan kita kepada Alloh SWT., karena itu Allah berfirman: اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ. الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ Dalam ayat ini disebutkan bahwa ciri-ciri orang beriman diantaranya adalah:

Pertama, اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ apabila disebutkan nama Allah, maka bergetarlah hatinya. Orang beriman akan merasa takut apabila mereka tidak memenuhi tugas kewajiban sebagai hamba Allah, dan merasa berdosa apabila melanggar larangan-larangan-Nya.

Bergetarnya hati sebagai perumpamaan dari perasaan takut ini adalah sikap mental yang bersifat abstrak, yang hanya dapat dirasakan oleh seseorang yang memiliki kualitas iman paripurna seperti ulama' sebagaimana disebutkan Al-Qur'an اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُ sesungguhnya di antara hamba-hamba yang takut kepada Alloh hanyalah para ulama, (yakni orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah).

Kedua, وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا apabila dibacakan ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah, maka akan bertambah iman mereka. Bertambahnya iman mereka akan semakin menyadarkan bahwa dirinya adalah orang yang lemah di sisi Allah dan Allahlah Zat yang paling besar dan kuat serta maha kuasa. Dengan dibacakan dan melihat ayat-ayat Allah, orang-orang beriman akan semakin bertambah semangat dalam beribadah.

Ayat-ayat Allah ini bukan hanya ayat qauliyah saja (ayat yang dapat dipelajari dalam Al-Qur'an). Namun ayat-ayat Allah ada juga yang berbentuk ayat kauniyah, seperti segala ciptaan Allah di muka bumi, fenomena alam, sosial, dan sebagainya. Karena itu orang yang dengan kualitas iman paripurna dia akan menjadikan peristiwa alam dan sosial sebagai pelajaran., bahwa وما بكم فمن الله

Ketiga, وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ bertawakal (berserah diri) hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Orang beriman tidak berserah diri kepada selain Allah SWT., karena sikap tawakal merupakan senjata terakhir seseorang dalam mewujudkan serangkaian amal setelah berbagai sarana dan syarat-syarat yang diperlukan dipersiapkan. Orang beriman yakin bahwa setelah serangkaian usaha dan Do'a yang telah dilakukan, maka Allah lah yang akan mengabulkan dan mencukupi semuanya: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”.

Keempat, الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ orang yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dengan sempurna baik itu syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, serta ketepatan waktunya, dan khusyu’ semata karena Allah. Hal ini bisa dipahami bahwa seseorang yang tidak rajin dalam melaksanakan shalat lima waktu, maka keimanannya pun sangat patut dipertanyakan.

Mari tanyakan pada diri kita, sudahkah kita shalat lima waktu lengkap setiap hari? Ataukah kita shalat sesempatnya saja?. Atau apakah malah kita sama sekali tidak melaksanakan shalat yang merupakan salah satu Rukun Islam ini?. Hanya Allah dan hati kita yang bisa menjawabnya.

Kelima, وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ menginfakkan sebagian dari harta yang diberikan kepadanya. Yang dimaksud dalam hal ini adalah mengeluarkan titipan Allah berupa harta dalam bentuk mengeluarkan zakat, infak, sedekah, memberi nafkah kepada keluarga dekat ataupun jauh, atau membantu kegiatan sosial dan kepentingan agama, serta kemaslahatan umat. Orang beriman tidak akan khawatir jika bersedekah akan mengurangi hartanya. Namun sebaliknya, bersedekah akan mendatangkan kebahagiaan dan tidak akan mengurangi rezeki dari Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: مَا نَقَصَ مَالُ مِنْ صَدَقَةٍ “Harta tidak berkurang karena bersedekah.”

Jika lima ciri ini sudah tertanam dalam setiap diri seseorang, maka اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌۚ“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.”

Didalam kitab Nashoikhul Ibad karya Imam Nawawi Al-Jawi beliau mengatakan bahwa termasuk ciri orang yang menegakkan keimanan adalah: Taqwa, Malu, Sabar dan Syukur.

TAQWA

(التقوى) وهو في الطاعة يراد به الاخلاص وفي المعصية يراد به الترك والحذر ، وقيل هو محافظة آداب الشريعة ، وقيل هو الاقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم قولا وفعلا

Taqwa, yaitu dalam ketaatan yang bermakna keikhlasan, dan dalam kemaksiatan bermakna meninggalkan serta berhati-hati. Ada pula yang mengatakan bahwa taqwa adalah menjaga adab-adab syariat. Dan ada yang mengatakan bahwa taqwa adalah meneladani Nabi Muhammad SAW., dalam ucapan dan perbuatan.

MALU

(والحياء) وهو نوعان : نفساني وهو الذي خلقه الله تعالى في النفوس كلها كالحياء من كشف العورة والجماع بين الناس ، وإيماني وهو أن يمنع المؤمن من فعل المعاصى خوفا من الله تعالى

Malu, yang terbagi menjadi dua jenis:

1). Malu yang bersifat naluriah, yaitu yang diciptakan Allah dalam setiap jiwa manusia, seperti (malu membuka aurat, malu tidak kerja, malu tidak konsisten, dlsbg) di hadapan orang lain.

2). Malu yang bersifat keimanan, seperti (melakukan maksiat, minum minuman keras, berbuat curang dlsbg) karena takut kepada Allah SWT.

SHABAR

(والصبر ) وهو ترك الشكوى من ألم البلوى لغير الله تعالى

Sabar, yaitu menahan diri untuk tidak mengeluh atas penderitaan dan cobaan kepada selain Allah SWT.

SYUKUR

(والشكر ) وهو الثناء على المحسن بذكر احسانه فالعبد يشكر الله أى يثنى عليه بذكر احسانه الذي هو نعمة

Syukur, yaitu memuji orang yang berbuat baik dengan menyebutkan kebaikannya (berterima kasih). Maka seorang hamba bersyukur kepada Allah, adalah dengan memuji-Nya dan menyebutkan kebaikan-Nya yang berupa nikmat.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga manfaat dan kita bisa menjadikan diri kita sebagai orang-orang yang senantiasa memiliki motivasi untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Sehingga Allah SWT selalu melindungi dan menjaga kita untuk tetap dalam keadaan sejahtera dalam iman dan Islam tetkala menghadapi setiap peristiwa dan fenomena.

Mencintai Nabi Muhammad SAW sepanjang waktu

Empat belas abad yang lalu Rasulullah SAW انتقل الى رفيق الاعلا, umat yang sekarang tidak pernah melihat fisik dan bagaimana Nabi hidup. Umat sekarang hanya mewarisi cerita-cerita kemuliaan Nabi lewat haditsnya dan cerita para sahabat-sahabatnya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam mahfudhot disebutkan “مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ ذِكْرُهُ” “siapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan sering mengingatnya atau menyebutnya.”

Sepanjang sejarah kehidupannya, Nabi Muhammad SAW., mendedikasikan hidupnya untuk menegakkan agama Alloh dan mendidik umatnya, tentang Kepedulian, dan Rosululloh Muhammad SAW sangat mencintai kita: Kecintaannya kepada kita ditunjukkan hingga akhir hayatnya, menjelang terpisahnya roh dari jasad yang terlintas dari benaknya hanyalah umatnya, bukan keluarganya, apalagi hartanya.

Dalam kitab shahih Imam Ibn Hibban diriwayatkan, bahwa Nabi berdo'a kepada Allah: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنَبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ، مَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ “Ya Allah, ampunilah ‘Aisyah, seluruh dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dosanya yang terlihat dan yang tersembunyi,” (HR Ibn Hibban). واللهِ إنَّها لَدعائي لِأُمَّتي في كلِّ صلاةٍ “Demi Allah, itulah doaku untuk umatku setiap sholat,” (HR Ibn Hibban).

Firman Alloh dalam QS. Al-Taubah 128: لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالـمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat meningginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Kepedulian dan kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada kita sangat luar biasa, dunia dan akhirat. Maka sungguh merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk mencintai beliau, karena mencintai beliau pada hakikatnya adalah mencintai Allah SWT.: قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ Katakanlah (Muhammad), apabila kalian mengakui mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (QS. Ali Imron 31).

Nabi Muhammad SAW merupakan utusan Allah yang diperintahkan untuk membimbing umat manusia, menegakkan keadilan, menyempurnakan akhlak dan meng-Esakan Alloh SWT.

Lalu bagaimana cara umat yang sekarang ini agar tetap selalu mencintai Rasululloh SAW.,? Tidak hanya sekedar mengingatnya tetapi mejadikannya sebagai sosok yang kita diidolakan.

Pertama: Ikuti Sunnahnya, Rosululloh SAW bersabda: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ "Tidak sempurna keimanan seseorang sehingga menjadikan aku (Muhammad) lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia" (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua: Baca dan Pahami Sejarah Hidupnya, Melalui Al-Qur'an, Hadist dan Syirohnya nabi serta bergaulah dengan orang orang soleh, ikut ngaji.

Ketiga: Membaca sholawat kepada-Nya, Sholawat selain untuk menimbulkan kecintaan, juga sebagai balas budi atas kebaikan dan keutamaan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita, Firman Alloh:إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْما “sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat kalian dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzâb : 56).

Keempat, Meneladani Akhlaknya Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW berarti berusaha meniru dan menerapkan nilai-nilai luhur yang beliau tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad saw diutus bukan hanya sebagai penyampai wahyu, tetapi juga sebagai teladan akhlak yang sempurna. Hal ini sebagaimana yang diwahyukan dalam QS. Al-Qalam ayat 4: وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Nabi SAW bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad).

Meneladani akhlak Nabi adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semakin kita meniru beliau, semakin mulia karakter kita di mata manusia dan Allah SWT. Sifat-sifat Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam kitab Aqidatul Awam أَرْسَلَ أَنْبِيَا ذَوِي فَطَانَهُ بِالصِّدْقِ وَالتَّبْلِيغِ وَالْأَمَانَهُ Allah telah mengutus para nabi yang memiliki (sifat) cerdas, jujur, menyampaikan dan dipercaya, yang tidak hanya menjadi ciri khas beliau, tetapi juga pedoman bagi kita semua dalam menjalani kehidupan: FATHONAH: Cerdas; Inovatif, SHIDiQ: Jujur; Serius, TABLIGH: Menyampaikan, Memberi Pemahaman; Komunikatif, AMANAH: Dapat dipercaya; Akuntable.

Kelima, membela agama Islam. Membela agama Islam adalah salah satu bentuk nyata dari cinta kepada Nabi Muhammad SAW., Orang yang benar-benar mencintai Nabi tidak hanya cukup dengan ucapan, tetapi membuktikannya lewat sikap dan tindakan dalam menjaga ajaran yang beliau bawa. Membela Islam berarti menjaga ajaran dan nilai-nilai yang Nabi Muhammad SAW., perjuangkan sepanjang hidupnya.

Membela Islam di zaman sekarang, terutama di negara yang merdeka dan damai seperti Indonesia, tidak cocok dengan senjata perang, apa lagi sampai menentengnya di jalan raya. Membela Islam di negeri ini bisa dengan menjaga ajarannya, memperbaiki akhlak masyarakatnya, dan memperbanyak menimba ilmu bagi generasi muda.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Hakikat cinta yang sejati menurut Imam Ghazali adalah kenikmatan cinta yang berasal dari penglihatan non fisik (batin), yakni kenikmatan hati. Kenikmatan hati yang disebabkan telah mengetahui perkara-perkara ilahiah yang mulia dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera merupakan sesuatu yang lebih mulia, lebih sempurna, dan lebih besar kenikmatannya.

Dengan demikian, meskipun kita atau siapa saja tidak sezaman, dan tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad, para sahabatnya, atau kalangan salafus sholeh, bukan berarti tidak bisa mendapatkan kenikmatan untuk mencintainya. Justru, meskipun mereka tidak bisa ditangkap dengan panca indera, kenikmatan untuk mencintainya akan tetap diperoleh, melalui kebaikan-kebaikan, sifat-sifat, serta ajaran-ajarannya.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Adapun manfaat mencintai Nabi bagi seorang mukmin diantaranya adalah, akan dikumpulkan bersamanya, meskipun ibadah-ibadah yang dilakukannya tidak sesempurna seperti ibadah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad, diceritakan ada seorang Arab Badui bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan kiamat datang? Rasulullah berkata: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Orang Arab Badui itu menjawab: “Aku tidak mempersiapkan banyak shalat-shalat dan puasa untuk menghadapi kiamat, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah bersabda: Almaru ma’a man ahabba (Seseorang akan bersama orang yang dicintainya).

Dalam QS an-Nisa ayat 69 Allah SWT berfirman: وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa [4]: 69).

Tsauban adalah budaknya Rasulullah SAW. Tsauban sangat mencintai Nabi, ia tidak kuat berlama-lama berpisah dengan Nabi. Ketika diceritakan tentang akhirat, ia sangat khawatir tidak dapat bersama Rasulullah SAW di surga, karena pastinya Nabi akan bersama-sama dengan para nabi yang lain. Tsauban pun khawatir dan cemas jika tidak bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW lagi, terlebih ketika Nabi Muhammad SAW wafat.

Ayat ini menginsyaratkan kepada kita bahwa dahsyatnya perasaan cinta akan menjadikan seseorang yang mencintai itu akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang dicintainya. Rosululloh Muhammad SAW bersabda: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ Dalam riwayat lain menyebutkan: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Bahwa menaati dan mencintai Nabi Muhammad SAW harus disertai dengan rasa cintanya dalam melaksanakan ajaran-ajarannya yang kemudian dibuktikan dengan kesholehan pribadi maupun sosial. Meskipun ibadah yang kita lakukan tidak akan sesempurna seperti ibadahnya Nabi SAW., paling tidak dengan mencintai Nabi Muhammad SAW, ibadah-ibadah yang kita lakukan akan bernilai tinggi. Inilah harapan kita semua.

Menjadi Manusia Terbalik

Sujud menuju Allah memiliki banyak makna, Tidak hanya sisi batin berupa hubungan dengan Allah, tapi juga sisi sosial dan kultural, yakni terbangunnya pola interaksi yang baik dan benar dalam berinteraksi dengan segenap makhluknya Allah SWT., sehingga kita diharapkan menjadi manusia-manusia yang tahu diri dan tahu batas, atas kesadaran itulah sehingga sudah seharusnya manusia agar saling memberi manfaat.

Alloh SWT berfirman dalam QS. At-Tin: لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS At-Tin: 4).

Banyak yang berpendapat bahwa kelebihan manusia di atas makhluk lainnya adalah karena potensi akal dan berpikir, bahkan Alloh SWT., menobatkan manusia menjadi khalifah fi al-ardh (pemimpin bumi): وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS Al-Baqarah: 30).

Karena seluruh tindakan manusia pada dasarnya adalah bentuk ibadah (Itu prinsip dasarnya) Maka selain sebagai kholifah, Peran manusia di bumi yang tidak kalah pentingnya adalah untuk senantiasa menyeru kepada kebaikan dan menebar kemanfaatan.

Prof. Quraish Shibab: bahwa manusia terbaik adalah manusia yang dapat menjalankan apa-apa yang menjadi tujuan ia diciptakan. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (QS Adz-Dzariyat 56).

Ibadah atau penghambaan adalah metode paling efektif untuk menemukan kesejatian diri kita. Tapi kalau ibadah hanya ditekankan pada sisi yang mahdho (wajib) saja, tentu manusia tidak perlu turun ke bumi. Cukup di surga saja.

Ibadah dirancang agar manusia menemukan kesadaran statusnya sebagai hamba yang difungsikan dan diberi amanah sebagai khalifah. Kesadaran itulah yang seharusnya menuntun manusia agar saling memberi manfaat.

Dengan memahami siapa diri kita, dari mana kita berasal, seperti apa karakter kita, hingga apa tujuan hidup kita, seseorang dapat menempatkan diri dengan lebih bijaksana di tengah kehidupan yang kompleks ini. (Para filsuf mengatakan: Tahu diri dan Tahu batas).

Lalu jika ada orang yang bertanya kepada kita tentang siapa manusia atau orang-orang terbaik itu?, tentu kita harus menjawab pertanyan itu berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW.

Manusia terbaik bukan mereka yang taat terhadap perintah Allah SWT, namun mereka yang mempunyai hati nurani yang tinggi.

Sebab setiap manusia mempunyai sisi baiknya sendiri, dan setiap manusia juga mempunyai sisi buruknya sendiri. Menurut Rasulullah SAW., manusia terbaik atau orang-orang adalah:

Pertama, orang terbaik adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Rasulullah SAW tidak saja mengajurkan kita belajar Al-Qur’an, tetapi juga mendorong siapa saja supaya mau mengajarkannya kepada orang lain. Artinya seseorang sesungguhnya tidak cukup jika hanya berhenti pada belajar Al-Qur’an. Ia sebaiknya juga mengajarkannya kepada orang lain setelah cukup menguasainya. Oleh karena itu dalam belajar Al-Qur’an sebaiknya hingga sampai tingkat mahir, yang tidak saja mahir membacanya, tetapi juga mahir memahami kandungannya, dan bahkan mahir mengamalkan isinya. Bukankah al-Quran bukan sekedar bacaan, tetapi sekaligus harus diamalkan karena merupakan kitab suci sebagai petunjuk dari Allah SWT bagi seluruh kaum Muslimin.    

Kedua, orang terbaik adalalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku"

Rasulullah SAW memberikan suri teladan bagaimana sebaiknya seorang suami bersikap kepada keluarganya. Beliau mengatakan bahwa beliau adalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarga. Ini artinya untuk menjadi suami yang baik, kita bisa mengikuti beliau.

Sayyidah Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW., sebagai seorang suami banyak melayani keluarga seperti menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Beliau bahkan menjahit pakaian sendiri, mengesol sandal sendiri, memerah susu kambing sendiri, hingga berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagaimana sabda beliau diatas, orang terbaik adalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya.

Ketiga, orang terbaik adalah orang yang paling bisa diharapkan kebaikannya dan paling sedikit keburukannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya dan (paling sedikit) keburukannya hingga orang lain merasa aman.”

Setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Orang terbaik adalah orang yang sisi kebaikannya jauh lebih besar dari pada sisi keburukannya hingga orang lain merasa aman di sampingnya. Dengan kata lain orang terbaik adalah mereka yang, di satu sisi, dapat memberikan manfaat besar kepada orang lain, di sisi lainnya, dapat mengendalikan potensi buruknya hingga banyak orang merasa aman dan tenang di dekatnya karena terhindar dari peri laku buruknya.

Keempat, orang terbaik adalah orang yang memberikan makanan kepada orang lain. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.”

Makanan sesungguhnya dibagi menjadi dua, yakni makanan jasmani dan makanan ruhani. Makanan jasmani adalah seperti nasi, roti, buah dan sebagainya yang berguna untuk pengembangan diri yang bersifat fisik atau material. Sedangkan makanan ruhani adalah seperti ilmu, nasihat, dan sebagainya yang berguna untuk pengembangan diri yang bersifat mental spiritual. Maka orang terbaik berdasarkan hadits ini adalah mereka yang bersedia memberikan makanan, baik jasmani maupun ruhani, kepada orang-orang yang membutuhkan demi menjaga keberlangsungan hidup dan kesehatan mereka baik jasmani maupun ruhani.

Kelima, orang terbaik adalah orang yang paling baik dalam membayar hutang. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebgai berikut: خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.”

Fakta membuktikan bahwa tidak setiap orang bisa menepati janji-janjinya terkait dengan hutang-hutangnya kepada orang lain. Maka ada dua macam pembayar hutang, yakni pembayar yang baik dan pembayar yang tidak baik. Pembayar yang baik adalah mereka yang bisa menyelesaikan kewajiban hutangnya sesuai waktu yang telah disepakati, atau bahkan lebih awal dari itu. Pembayar hutang yang tidak baik adalah mereka yang tidak disiplin, seperti para pengemplang dan sebagainya, hingga sering membuat marah orang yang telah berbaik hati memberikan pinjaman.

Selain 5 kriteria di atas, masih banyak kriteria orang-orang terbaik, sebagaimana pertanyaan seorang Arab Badui kepada Rasulullah SAW.يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi).

Orang-orang terbaik sesungguhnya tidak dimonopoli oleh kelompok orang tertentu, tetapi terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang ataupun ras, suku tertentu sebab substansinya adalah tentang seberapa besar kebermanfaatan seseorang kepada orang lainnya, Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan dari Jabir: المُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يَأْلَفُ ، وَلَا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ "Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia" (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Imam Hasan Al-Bashri memberikan gambaran yang sangat menarik mengenai klasifikasi manusia berdasarkan tingkat manfaat dan keberadaan mereka dalam masyarakat: الرِّجَالُ ثَلَاثَةٌ : فَرَجُلٌ كَالْغِذَاءِ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ ، وَرَجُلٌ كَالدَّوَاءِ لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ إِلَّا حِينًا بَعْدَ حِينٍ ، وَرَجُلٌ كَالدَّاءِ لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ أَبَدًا "Manusia terbagi menjadi tiga tipe berdasarkan peran dan manfaatnya dalam kehidupan bermasyarakat"

Pertama, orang yang keberadaannya sangat penting dan selalu dibutuhkan, seperti makanan yang menjadi sumber kehidupan dan kekuatan bagi tubuh. Tanpa kehadiran mereka, kehidupan sosial akan terasa kekurangan dan tidak berjalan dengan baik.

Kedua, orang yang manfaatnya terasa hanya pada saat-saat tertentu, layaknya obat yang diperlukan ketika tubuh sakit atau mengalami gangguan. Kehadiran mereka sangat berarti di waktu-waktu tertentu, namun tidak selalu dibutuhkan setiap saat.

Ketiga, orang yang keberadaannya justru membawa kerugian dan gangguan, seperti penyakit yang merusak kesehatan dan harus dihindari. Orang-orang ini tidak diinginkan kehadirannya karena dapat menimbulkan masalah dan merusak keharmonisan dalam masyarakat.

Dari ketiga gambaran diatas, kita dapat ambil pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya kita menempatkan diri ditengah masyarakat.

Maka di akhir kesempatan ini saya mengajak kepada kita semua pendengar RRI Fakfak, mari kita selalu berusaha untuk menjadikan diri kita istimewa, menjadikan seluruh aktivitas kita bermanfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain serta seluruh makhluk-nya Allah yang ada di bumi ini.

Meraih hikmah dalam ucapan dan tindakan

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang berbicara dan bertindak tanpa pertimbangan. Padahal, Islam mengajarkan pentingnya hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam menimbang setiap ucapan dan perbuatan. Hikmah adalah karunia Allah bagi mereka yang berpikir jernih dan berhati bersih.

Allah SWT berfirman: يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Allah meng-anugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh, ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” (QS al-Baqarah: 269).

Apasih Hikmah itu dan bagaimana cara mendapatkannya? Sehingga kita bisa menjadi manusia-manusia yang selamat dunia dan selamat di akhirat.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Apasih Hikmah itu? hikmah adalah ketepatan dalam berucap dan berbuat, kepada orang-orang yang Ia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi ketepatan dalam hal itu, maka ia telah dianugerahi kebaikan (ilmu) yang banyak.

Bahwa ilmu adalah hikmah, karena ilmu mencegah kebodohan bagi orang yang mengamalkannya. Hikmah meniscayakan tindakan yang tepat dan pada waktu yang tepat serta dengan cara yang tepat.

Hikmah adalah: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Tepat dalam ucapan dan tindakan.”

Hikmah adalah kekayaan hati dan jiwa. Betapa banyak orang yang kaya harta tetapi fakir ilmu dan hikmah. Bahkan, betapa banyak pemimpin yang menjerumuskan rakyatnya ke dalam berbagai kerusakan karena gaya kepemimpinan yang tidak bertumpu pada hikmah.

Di dalam kitab Tharhut Tatsrib dikatakan: الْحِكْمَةُ كُلُّ مَا مَنَعَ مِنَ الْجَهْلِ وَزَجَرَ عَنِ الْقَبِيْحِ “Hikmah adalah segala yang mencegah dari kebodohan dan menghalangi dari perilaku buruk.”

Manusia agung yang dianugerahi hikmah adalah para nabi, dan nabi yang paling agung di antara mereka adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka dapat dikatakan bahwa beliau adalah imam para ahli hikmah dan manusia paling bijaksana di antara para nabi yang bijaksana.

Orang yang cerdas adalah orang yang mengambil ibrah (pelajaran) dari sejarah hidup para nabi, lalu mengikuti mereka dalam kemuliaan akhlak, pergaulan yang baik, dan akidah yang lurus, yakni keyakinan bahwa Allah Mahasuci dari tempat dan arah, serta Mahasuci dari keserupaan dengan makhluk.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab 21: لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡآخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Kalau kita mampu memahami situasi di sekeliling kita (lingkungan), tepat dalam menyikapi keadaan dari setiap peristiwa, selalu berupaya untuk mencapai tujuan yang baik dengan cara yang baik dan benar, serta berucap dan bertindak dengan tepat, maka (dia, kita, kalian dan saya) adalah seorang hakim (bijak bestari) yang benar-benar telah dianugerahi hikmah.

Allah SWT memuji Luqman, seorang lelaki soleh, menurut pendapat lain, Luqman adalah seorang nabi, yang namanya di abadikan didalam Al-Qur’an: وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah!” (QS Luqman: 12).

Salah satu kisah hikmah dari Luqman yang cukup masyhur adalah kisahnya saat menunggangi keledai dengan putranya yang memberi pelajaran penting, bagaimana hidup sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial disaat yang bersamaan.

Bahwa dalam hidup ini kita harus punya prinsip, pendirian yang kuat dan harus tegas. Lakukan saja apa yang bermanfaat bagimu dan agamamu, jangan terlalu ambil pusing dengan perkataan orang lain.

Oleh karenanya kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra., Betapa penting dan agungnya menjadi seorang yang bijak, yang selalu berupaya menyucikan diri dari penyakit-penyakit hati yang melekat pada jiwa kita.

Sedangkan cara untuk mendapatkan hikmah adalah dengan cara, Meneladani para nabi, karena Allah mengutus mereka sebagai rahmat bagi umat manusia dan memerintahkan kita semua untuk menaati mereka.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa 64: وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah.”

Karena Allah telah menetapkan keselamatan dalam mengikuti jejak para nabi, maka siapa pun yang mendambakan keselamatan hendaklah menempuhnya melalui tuntunan mereka yang diwariskan kepada para pewaris nabi, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya.

Rasulullah SAW bersabda (At-Tirmidzi): وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang besar.”

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin meriwayatkan nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya: يَا بُنَيَّ جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ، فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan dekatkanlah dirimu kepada mereka, karena Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan dari langit.”

Rasulullah SAW., bersabda (At-Tirmidzi): الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا “Hikmah adalah barang hilang milik seorang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, dialah yang paling berhak atasnya.”

Oleh karenanya marilah kita jadikan ilmu dan hikmah sebagai bekal hidup, agar kita memperoleh keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Demikian, semoga manfaat dan membawa berkah bagi kita semua dan tentunya para pendengar setia Pro 1 RRI Fakfak.