Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Menjadi Manusia Terbalik

Sujud menuju Allah memiliki banyak makna, Tidak hanya sisi batin berupa hubungan dengan Allah, tapi juga sisi sosial dan kultural, yakni terbangunnya pola interaksi yang baik dan benar dalam berinteraksi dengan segenap makhluknya Allah SWT., sehingga kita diharapkan menjadi manusia-manusia yang tahu diri dan tahu batas, atas kesadaran itulah sehingga sudah seharusnya manusia agar saling memberi manfaat.

Alloh SWT berfirman dalam QS. At-Tin: لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS At-Tin: 4).

Banyak yang berpendapat bahwa kelebihan manusia di atas makhluk lainnya adalah karena potensi akal dan berpikir, bahkan Alloh SWT., menobatkan manusia menjadi khalifah fi al-ardh (pemimpin bumi): وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS Al-Baqarah: 30).

Karena seluruh tindakan manusia pada dasarnya adalah bentuk ibadah (Itu prinsip dasarnya) Maka selain sebagai kholifah, Peran manusia di bumi yang tidak kalah pentingnya adalah untuk senantiasa menyeru kepada kebaikan dan menebar kemanfaatan.

Prof. Quraish Shibab: bahwa manusia terbaik adalah manusia yang dapat menjalankan apa-apa yang menjadi tujuan ia diciptakan. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (QS Adz-Dzariyat 56).

Ibadah atau penghambaan adalah metode paling efektif untuk menemukan kesejatian diri kita. Tapi kalau ibadah hanya ditekankan pada sisi yang mahdho (wajib) saja, tentu manusia tidak perlu turun ke bumi. Cukup di surga saja.

Ibadah dirancang agar manusia menemukan kesadaran statusnya sebagai hamba yang difungsikan dan diberi amanah sebagai khalifah. Kesadaran itulah yang seharusnya menuntun manusia agar saling memberi manfaat.

Dengan memahami siapa diri kita, dari mana kita berasal, seperti apa karakter kita, hingga apa tujuan hidup kita, seseorang dapat menempatkan diri dengan lebih bijaksana di tengah kehidupan yang kompleks ini. (Para filsuf mengatakan: Tahu diri dan Tahu batas).

Lalu jika ada orang yang bertanya kepada kita tentang siapa manusia atau orang-orang terbaik itu?, tentu kita harus menjawab pertanyan itu berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW.

Manusia terbaik bukan mereka yang taat terhadap perintah Allah SWT, namun mereka yang mempunyai hati nurani yang tinggi.

Sebab setiap manusia mempunyai sisi baiknya sendiri, dan setiap manusia juga mempunyai sisi buruknya sendiri. Menurut Rasulullah SAW., manusia terbaik atau orang-orang adalah:

Pertama, orang terbaik adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Rasulullah SAW tidak saja mengajurkan kita belajar Al-Qur’an, tetapi juga mendorong siapa saja supaya mau mengajarkannya kepada orang lain. Artinya seseorang sesungguhnya tidak cukup jika hanya berhenti pada belajar Al-Qur’an. Ia sebaiknya juga mengajarkannya kepada orang lain setelah cukup menguasainya. Oleh karena itu dalam belajar Al-Qur’an sebaiknya hingga sampai tingkat mahir, yang tidak saja mahir membacanya, tetapi juga mahir memahami kandungannya, dan bahkan mahir mengamalkan isinya. Bukankah al-Quran bukan sekedar bacaan, tetapi sekaligus harus diamalkan karena merupakan kitab suci sebagai petunjuk dari Allah SWT bagi seluruh kaum Muslimin.    

Kedua, orang terbaik adalalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku"

Rasulullah SAW memberikan suri teladan bagaimana sebaiknya seorang suami bersikap kepada keluarganya. Beliau mengatakan bahwa beliau adalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarga. Ini artinya untuk menjadi suami yang baik, kita bisa mengikuti beliau.

Sayyidah Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW., sebagai seorang suami banyak melayani keluarga seperti menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Beliau bahkan menjahit pakaian sendiri, mengesol sandal sendiri, memerah susu kambing sendiri, hingga berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagaimana sabda beliau diatas, orang terbaik adalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya.

Ketiga, orang terbaik adalah orang yang paling bisa diharapkan kebaikannya dan paling sedikit keburukannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya dan (paling sedikit) keburukannya hingga orang lain merasa aman.”

Setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Orang terbaik adalah orang yang sisi kebaikannya jauh lebih besar dari pada sisi keburukannya hingga orang lain merasa aman di sampingnya. Dengan kata lain orang terbaik adalah mereka yang, di satu sisi, dapat memberikan manfaat besar kepada orang lain, di sisi lainnya, dapat mengendalikan potensi buruknya hingga banyak orang merasa aman dan tenang di dekatnya karena terhindar dari peri laku buruknya.

Keempat, orang terbaik adalah orang yang memberikan makanan kepada orang lain. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.”

Makanan sesungguhnya dibagi menjadi dua, yakni makanan jasmani dan makanan ruhani. Makanan jasmani adalah seperti nasi, roti, buah dan sebagainya yang berguna untuk pengembangan diri yang bersifat fisik atau material. Sedangkan makanan ruhani adalah seperti ilmu, nasihat, dan sebagainya yang berguna untuk pengembangan diri yang bersifat mental spiritual. Maka orang terbaik berdasarkan hadits ini adalah mereka yang bersedia memberikan makanan, baik jasmani maupun ruhani, kepada orang-orang yang membutuhkan demi menjaga keberlangsungan hidup dan kesehatan mereka baik jasmani maupun ruhani.

Kelima, orang terbaik adalah orang yang paling baik dalam membayar hutang. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebgai berikut: خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.”

Fakta membuktikan bahwa tidak setiap orang bisa menepati janji-janjinya terkait dengan hutang-hutangnya kepada orang lain. Maka ada dua macam pembayar hutang, yakni pembayar yang baik dan pembayar yang tidak baik. Pembayar yang baik adalah mereka yang bisa menyelesaikan kewajiban hutangnya sesuai waktu yang telah disepakati, atau bahkan lebih awal dari itu. Pembayar hutang yang tidak baik adalah mereka yang tidak disiplin, seperti para pengemplang dan sebagainya, hingga sering membuat marah orang yang telah berbaik hati memberikan pinjaman.

Selain 5 kriteria di atas, masih banyak kriteria orang-orang terbaik, sebagaimana pertanyaan seorang Arab Badui kepada Rasulullah SAW.يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi).

Orang-orang terbaik sesungguhnya tidak dimonopoli oleh kelompok orang tertentu, tetapi terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang ataupun ras, suku tertentu sebab substansinya adalah tentang seberapa besar kebermanfaatan seseorang kepada orang lainnya, Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan dari Jabir: المُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يَأْلَفُ ، وَلَا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ "Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia" (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Imam Hasan Al-Bashri memberikan gambaran yang sangat menarik mengenai klasifikasi manusia berdasarkan tingkat manfaat dan keberadaan mereka dalam masyarakat: الرِّجَالُ ثَلَاثَةٌ : فَرَجُلٌ كَالْغِذَاءِ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ ، وَرَجُلٌ كَالدَّوَاءِ لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ إِلَّا حِينًا بَعْدَ حِينٍ ، وَرَجُلٌ كَالدَّاءِ لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ أَبَدًا "Manusia terbagi menjadi tiga tipe berdasarkan peran dan manfaatnya dalam kehidupan bermasyarakat"

Pertama, orang yang keberadaannya sangat penting dan selalu dibutuhkan, seperti makanan yang menjadi sumber kehidupan dan kekuatan bagi tubuh. Tanpa kehadiran mereka, kehidupan sosial akan terasa kekurangan dan tidak berjalan dengan baik.

Kedua, orang yang manfaatnya terasa hanya pada saat-saat tertentu, layaknya obat yang diperlukan ketika tubuh sakit atau mengalami gangguan. Kehadiran mereka sangat berarti di waktu-waktu tertentu, namun tidak selalu dibutuhkan setiap saat.

Ketiga, orang yang keberadaannya justru membawa kerugian dan gangguan, seperti penyakit yang merusak kesehatan dan harus dihindari. Orang-orang ini tidak diinginkan kehadirannya karena dapat menimbulkan masalah dan merusak keharmonisan dalam masyarakat.

Dari ketiga gambaran diatas, kita dapat ambil pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya kita menempatkan diri ditengah masyarakat.

Maka di akhir kesempatan ini saya mengajak kepada kita semua pendengar RRI Fakfak, mari kita selalu berusaha untuk menjadikan diri kita istimewa, menjadikan seluruh aktivitas kita bermanfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain serta seluruh makhluk-nya Allah yang ada di bumi ini.

0 comments: