Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Hukum dan Pelaksanaan Aqiqah

Aqiqah:

Ajaran tentang aqiqah sudah sangat terang-benderang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Dalam salah satu sabdanya beliau mengatakan, bahwa seorang bayi itu tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan dicukur rambutnya dan diberi nama.

الْغُلاَمُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ اْلسَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسَهُ وَيُسَمَّى

"Seorang anak tergadaikan dengan (tebusan) aqiqah yang disembelih untuknya di hari yang ke tujuh, dicukur rambut kepalanya dan diberi nama".

Pesan penting yang ingin dikatakan dalam hadits tersebut adalah anjuran untuk mempublikasikan kebahagian, kenikmatan, dan nasab. Dengan demikian aqiqah adalah salah satu (Sunnah) bentuk taqarrub kepada Allah dan manifestasi rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang telah dilimpahkan.

Telah disebutkan dalam Kitab Fathul Qorib

والعقيقةمستحبة وهي الذبيحة عن المولود يوم سابعه ويذبح عن الغلام شاتان و عن الجارية شاة،ويطعم الفقراء والمساكين

Aqiqah hukumnya sunah, secara bahasa Aqiqoh adalah nama rambut yang berada di atas kepala anak yang dilahirkan. secara syara’ adalah binatang yang disembelih sebab bayi yang dilahirkan pada hari ketujuh hingga anak tersebut baligh, Disunnahkan menyembelih dua ekor kambing sebagai aqiqah untuk anak laki-laki, dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Bagi orang yang melaksanakan aqiqah, maka harus memberi makan kaum faqir dan kaum miskin.

Tentunya ketentuan-ketentuan dan kriteria tentang kambing yang bagaimana yang layak dijadikan sebagai aqiqoh sama dengan kambing yang layak untuk berkurban.

Dalam kitab Kifayatul Akhyar dikatakan bahwa menurut pendapat yang paling sahih (al-ashshah) aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing (al-ghanam). Namun pendapat lain menyatakan, yang paling utama adalah aqiqah dengan kambing sesuai bunyi hadits yang ada (li zhahiris sunah).

وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْبَدَنَةَ وَالْبَقَرَةَ أَفْضَلُ مِنَ الْغَنَمِ وَقِيلَ بَلِ الْغَنَمُ أَفْضَلُ أَعْنِي شَاتَيْنِ فِي الْغُلَامِ وَشَاةً فِي الْجَارِيَةِ لِظَاهِرِ السُّنَّةِ

“Menurut pendapat yang paling sahih, aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing. Namun dalam pendapat lain dikatakan bahwa aqiqah dengan kambing lebih utama, yang saya maksudkan adalah dengan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan, karena sesuai dengan bunyi sunah,” (Lihat Taqiyuddin Al-Hushni, Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar, Beirut, Darl Fikr, halaman 535).


Do'a menyembelih hewan aqiqah:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ ...

Dengan menyebut asma Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya … (sebutkan nama bayi).


Do'a mencukur rambut bayi:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ, اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah SAW, dan segala puji Bagi Allah, Tuhan semesta alam.


Do'a meniup ubun-ubun bayi setelah dicukur:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk.


Do'a Walimah Aqiqoh:

اللهم احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُوْدَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِهَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللهم اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ

"Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela".

Kewajiban orang tua terhadap Anak

Kewajiban orang tua terhadap Anak.


حَقِّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: أَنْ يُحْسِنَ اِسْمَهُ إِذَا وُلِدَ، وَيُعَلِّمَهُ الْكِتَابَ إِذَا عَقَلَ، وَيُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ.

“Hak anak atas orang tuanya ada tiga: diberikan nama yang baik ketika lahir, diajarkan al-Quran ketika sudah berakal (tamyiz) dan menikahkanya ketika sudah menemukan.”

Anak adalah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Orang tua wajib mendidik anak-anaknya menjadi saleh, patuh, dan berbakti kepada Allah SWT. Anak itu ibarat pohon melati, jika tidak diberi lanjaran sejak kecil, maka tingginya akan berkelok tidak beraturan. Orang tua dapat menangis karena bahagia melihat anak-anaknya saleh berprestasi. Sebaliknya orang tua juga bisa menangis karena sikap buruk anak-anaknya.

Sehingga Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥)

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara isteri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar" (QS At-Taghabun[64]: 14-15).

Tanggung Jawab Pendidikan dan agama Islam memerintahkan pemeluknya untuk menjaga diri sendiri dan juga keluarganya dari berbagai hal buruk yang dapat menjerumuskan pada kerugian di dunia, lebih-lebih kerugian di akhirat. Al-Qur’an berpesan: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (٦)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS At-Tahrim[66]: 6).

Salah satu instrumen penting dalam menjaga anak dari mudarat-mudarat tersebut adalah melalui pendidikan. Prosesnya dilakukan bisa sejak anak masih bayi. Secara garis besar, pendidikan untuk sang buah hati meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Pendidikan aqidah

Pendidikan aqidah pertama kali melalui lantunan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri ketika anak dilahirkan. Jika dirinci setidaknya terdapat 26 kalimat sebagai bentuk pendidikan aqidah, yaitu:

a. 10 kalimat takbir

b. 3 kalimat syahadat tauhid

c. 3 kalimat syahadat rasul

d. 3 seruan shalat

e. 3 seruan meraih kebahagiaan yang haqiqi

f. 2 pernyataan ditegakkannya shalat

g. 2 kalimat tahlil

2. Pendidikan Ibadah

Sebagaimana masuk dalam 26 kalimat tersebut di atas terdapat 3 kalimat susunan untuk melaksanakan shalat. Ini menunjukkan pentingnya shalat sebagai bentuk ketundukan seorang hamba kepada sang khalik. Sebagai muslim minimal 5 kali sehari semalam menjalankan shalat.

3. Tujuan hidup manusia

Dengan dasar aqidah yang kuat dibarengi dengan istiqamah menjalankan ibadah manusia akan meraih kebahagiaan yang haqiqi, kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Sebagaimana yang terdapat dalam adzan dan iqamah hayya ‘alal falah.

4. Pendidikan akhlak

Pendidikan akhlak pertama kali dikenalkan orang tua melalui ibadah sunnah aqiqah. Sesuai dengan hadits Rasulullah: “Bahwa setiap anak tergadai dengan akikah yang disembelih pada hari ke tujuh kelahiran anak.” (HR. Ahmad).

Dengan akikah diharapkan seorang anak akan memberikan pertolongan kepada orang tuanya kelak di hari kiamat. Tentu orang tua pun berkewajiban mendidik kesalehan anak sehingga menjadi ahli surga yang dapat menyelamatkan orang tuanya.

5. Pendidikan ekonomi

Selain sebagai pendidikan akhlak, akikah juga mengandung nilai pendidikan ekonomi. Sebab binatang akikah merupakan hasil kerja keras orang tua. Dan cara memperolehnya haruslah dengan cara yang halal.

6. Pendidikan kesehatan

Pentingnya makan makanan yang baik dan halal adalah terciptanya kesehatan diri baik jasmani maupun rohani. Doa Orang Tua untuk Anak dan Keturunannya Setiap orang tua tentu menginginkan buah hati yang sempurna, sehat jasmani rohani, cerdas, berbudi, shaleh dan berprestasi.

Semua itu sebenarnya telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As. yang tercantum dalam Al-Qur’an. Diantaranya adalah tentang:

1. Memohon keturunan yang soleh

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (١٠٠)

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh” (QS Ash-Shaffat: 100).

2. Memohon lingkungan yang aman dan ketauhidan

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (٣٥)

“…dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala” (QS Ibrahim: 35)

3. Doa agar istiqamah menjalankan shalat

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (٤٠)

“Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku” (QS Ibrahim: 40).

4. Doa agar diberikan kecukupan rezeki

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٢٦)

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafir pun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali" (QS al-Baqarah: 126).

5. Mendoakan keturunan menjadi pemimpin 

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (١٢٤)

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji. Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim" (QS al-Baqarah: 124).

Mengevaluasi Syukur

Mengevaluasi rasa Syukur

Dalam kesempatan yang baik ini marilah kita senatiasa meningkatkan kadar kualitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT. karena Sesungguhnya Nikmat yang Allah anugerahkan kepada umat manusia sangatlah melimpah dan tidak dapat dihitung. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An Nahl Ayat 18: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Kenikmatan seperti (Kesehatan, harta, mata, telinga, lisan, anak yang berbakti, istri yang sholihah, teman yang setia, tetangga yang baik) dan lain sebagainya adalah merupakan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita manusia. namun demikian, kebanyakan manusia tidak bersyukur. Bahkan banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut adalah nikmat dan anugerah dari Allah SWT. Banyak pula di antara kita yang tidak mengetahui hakikat syukur dan bagaimana caranya bersyukur. Seperti yang digambarkan dalam QS. Al-Ghafir: 61 : “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang memberikan anugerah pada umat manusia. Hanya saja kebanyakan umat manusia tidak bersyukur

Syukur ada dua macam. Ada syukur yang wajib dan ada syukur yang sunnah. Syukur yang wajib adalah tidak menggunakan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita untuk berbuat maksiat kepada-Nya. Adapun Syukur yang sunnah adalah mengucapkan dengan lisan pujian yang menunjukkan bahwa Allah-lah Sang Pemberi nikmat dan yang menganugerahkannya kepada para hamba-Nya, semisal dengan ucapan alhamdulillah.

Suatu ketika Imam al-Junaid pernah ditanya tentang apa itu syukur?. Beliau menjawab: “(Syukur yang wajib adalah) tidak bermaksiat kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya.” Seseorang yang menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh perkara yang diharamkan, maka ia disebut manusia yang syaakir. Kemudian, jika ia tidak disibukkan dengan nikmat sehingga melalaikan syukur kepada Allah SWT dan ia menyadari betapa agungnya nikmat Allah yang selalu membersamainya dan perasaan itu semakin kokoh dalam dirinya serta ia memperbanyak amal-amal kebaikan lebih dari kewajibannya, maka ia disebut hamba yang syakuur (pandai bersyukur).

Dalam kaidah ilmu Nahwu, kata Syaakir ikut wazan Failun (isim fail) yang artinya orang yang bersyukur sedangkan kata Syakuur (isim masdar, Lissifat) yang artinya adalah orang yang paling banyak syukurnya.

Imam al-Qusyairi dalam kitab Ar-Risalah, bahwa “Syakir” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu yang ada, sementara “syakuur” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu yang tidak ada. sehingga level syakuur lebih tinggi dibanding syakir. Seorang hamba yang syakuur lebih sedikit jumlahnya daripada hamba yang syaakir. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. As-Saba’: 13 “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mencapai derajat syakuur”.

Dalam kesempatan yang sama pagi ini baru saja kita memasuki tahun baru 2025 yang merupakan awal tahun kalender Masehi, sekaligus merupakan awal masuknya bulan Rojab maka saya menjak kepada kita sekalian untuk sekaligus mengevalusi diri dengan berbekal Hadist yang diriwayatkan Imam Hakim, bahwa: "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka."

Sebagai penutup sekaligus refleksi akhir tahun 2024 menuju tahun 2025. saya mengajak kepada kita sekalain agar kita lebih efektif menggunakan waktu, sekaligus meminta kepada Allah SWT., agar dimampukan menjadi manusia-manusia yang selalu bersyukur atas nikmat-Nya, dengan level kualitas Syakuur (orang yang paling banyak syukurnya), memperbanyak perbuatan baik untuk mendapatkan ridhai Allah SWT., serta Memohon kepada Allah SWT., agaar selalu ingat untuk bertaubat dan istighfar dengan berdo’a أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikan lah (umur) kami hingga bulan Ramadan.


Bahaya minum keras

Di dalam kitab Tafsir Ayat Al-Ahkam disebutkan bahwa sesuatu yang paling mahal dan paling berharga yang ada di dalam diri manusia adalah akalnya. Maka, jika seorang manusia telah hilang akalnya, tiada lagi perbedaan antara dirinya dan hewan.

أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

"Mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih hina"

Salah satu cara agar akal kita tetap sehat adalah dengan senantiasa menjaganya dari hal-hal yang dapat merusak fungsi positifnya. Maka, dari sinilah kita mengerti mengapa Allah secara keras mengharamkan khamr atau minuman keras/beralkohol, dan segala hal yang memabukkan dan mendisfungsi akal sehat manusia, seperti narkoba.

Dalam QS. Al-Maidah ayat 90-91 disebutkan bahwa:

يأيها الذين آمنوا إنما الخمرُ و الميسر و الأنصاب و الأزلام رجس من عمل الشيطان, فاجتنبوه لعلكم تفلحون. إنما يريد الشيطان أن يُوقِعَ بينكم العداوة و البغضاء فى الخمر و الميسر, و يصدُّكم عن ذكر الله و عن الصلوة, فهل أنتم منتهون.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, mempersembahkan sesajian untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah, perbuatan-perbutan itu agar kalian beruntung. Dengan minuman keras dan berjudi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian, dan menghalang-halangi kalian dari mengingat Allah dan dari melaksanakan shalat. Maka tidakkah kalian berhenti.

Nabi Muhammad SAW. bersabda,” Khamr dilaknat (oleh Allah SWT) dalam sepuluh sisinya; zat atau barangnya, (para) pekerja produksinya, (para) pemilik produksinya, penjualnya, pembelinya, pensuplainya, agennya, semua yang mendapat keuntungan darinya, peminumnya, dan yang menuangkannya.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasa'i).

Penyebutan jumlah sepuluh hanyalah untuk contoh (lil mitsâl), bukan restriksi (lil hashr). Artinya, segala hal yang berhubungan dengan produksi, distribusi dan konsumsi khamr dan zat yang memabukkan lainnya, walau lebih dari sepuluh sisi, tetaplah tertimpa laknat Allah Swt. Termasuk di dalamnya adalah para investornya dan para pembuat aturan yang melegalkannya.

Hanya dengan akal yang sehatlah manusia tetap memiliki rasa malu, dan rasa malulah yang menjadi benteng utama guna menghindari diri dari perbuatan keji dan munkar. Namun, bila rasa malu telah hilang, yang salah satunya disebabkan karena mabuk, manusiapun telah hilang kemanusiaannya. Akhirnya, perbuatan senista dan sekeji apapun dapat ia lakukan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw,” Jika engkau telah kehilangan rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari).

Hilangnya akal, yang salah satunya disebabkan karena mabuk, adalah pintu gerbang semua kejahatan. Abu Dardâ’ berkata bahwa Rasulullah berwasiat,” Janganlah meminum khamr, karena ia adalah kunci dari semua kejahatan.” (HR. Ibnu Majah)

Bahkan lebih tajam lagi, Rasulullah SAW. bersabda,”Tidaklah seorang itu meminum khamr, ketika ia meminumnya, padahal ia dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari & Muslim).

Maka, Wahai para orang tua, jaga dan jauhkanlah keluarga kita dari jangkauan miras (juga narkoba). Wahai para guru dan ulama, terus tegaskan sikap penolakan kita terhadap miras.. Wahai para pemimpin dan pemangku kebijakan, jangan pernah membuat aturan atau kebijakan apapun yang memuat legalisasi miras, apapun bentuknya. Ingat…legalisasi miras jelas bertentangan dengan spirit keagamaan yang termuat dalam sila pertama Pancasila, bertentangan dengan keadaban manusia yang termuat dalam sila kedua Pancasila, dan seterusnya. Jangan khianati agama! Jangan khianati Pancasila!

Semoga, diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, dan bangsa kita dapat terhindar dari laknat Allah SWT.

Empat masa yang dimiliki oleh manusia

Empat masa yang dimiliki oleh manusia.


قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْعَبَّاسِ الْمُرْسِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

Berkata Sayyidi Abul ‘Abbas Al-mursiy Ra: 


أَوْقَاتُ الْعَبْدِ أَرْبَعَةٌ لاَ خَامِسَ لَهَا٬

Seorang manusia (hamba) hanya memiliki empat masa dalam kehidupan, tidak lebih dari itu,


اَلنِّعْمَةُ وَالْبَلِيَّةُ وَالطَّاعَةُ وَالْمَعْصِيَةُ٬ 

Yaitu : Masa mendapat ni’mat dari Allah, Masa mendapat musibah (diuji oleh Allah), Masa bisa ta’at kepada Allah dan Masa berma'siat.


وَلِلّٰهِ تَعَالىٰ عَلَيْكَ فِي كُلِّ وَقْتٍ مِنْهَا سَهْمٌ مِنَ الْعُبُوْدِيَّةِ يَقْتَضِيْهِ الْحَقُّ مِنْكَ بِحُكْمِ الرُّبُوْبِيَّةِ٬ 

Dan Allah SWT senantiasa menuntut ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) pada waktu-waktu tersebut : 


فَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الطَّاعَةُ فَسَبِيْلُهُ شُهُوْدُ الْمِنَّةِ مِنَ اللهِ عَلَيْهِ أَنْ هَدَاهُ لَهَا وَوَفَّقَهُ لِلْقِيَامِ بِهَا٬

1. Apabila dalam keadaan melakukan ta’at kepada Allah, maka hendaknya dia melihat bahwasanya semua itu adalah pemberian dari Allah SWT. sehingga mendapat taufiq dapat beribadah kepada Allah, 


وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الْمَعْصِيَةُ فَمُقْتَضَى الْحَقِّ مِنْهُ وُجُوْدُ الْاِسْتِغْفَارِ وَالنَّدَمِ٬

2. Apabila dalam keadaan terpeleset melakukan ma’shiat, maka tuntutan Allah (yang harus dilakukan) adalah agar dia cepat-cepat bertaubat, beristighfar dan menyesalinya.


وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ النِّعْمَةُ فَسَبِيْلُهُ الشُّكْرُ وَهُوَ فَرَحُ الْقَلْبِ بِاللهِ٬ 

3. Apabila dalam keadaan mendapat ni’mat, maka hendaknya dia bersyukur yaitu bahagia dengan apa yang Allah berikan padanya.


وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الْبَلِيَّةُ فَسَبِيْلُهِ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالصَّبْرِ.

4. Apabila dalam keadaan tertimpa musibah (diuji oleh Allah), maka hendaknya dia rela dengan ketentuan Allah dan sabar menghadapinya.