Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Mengevaluasi Syukur

Mengevaluasi rasa Syukur

Dalam kesempatan yang baik ini marilah kita senatiasa meningkatkan kadar kualitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT. karena Sesungguhnya Nikmat yang Allah anugerahkan kepada umat manusia sangatlah melimpah dan tidak dapat dihitung. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An Nahl Ayat 18: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Kenikmatan seperti (Kesehatan, harta, mata, telinga, lisan, anak yang berbakti, istri yang sholihah, teman yang setia, tetangga yang baik) dan lain sebagainya adalah merupakan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita manusia. namun demikian, kebanyakan manusia tidak bersyukur. Bahkan banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut adalah nikmat dan anugerah dari Allah SWT. Banyak pula di antara kita yang tidak mengetahui hakikat syukur dan bagaimana caranya bersyukur. Seperti yang digambarkan dalam QS. Al-Ghafir: 61 : “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang memberikan anugerah pada umat manusia. Hanya saja kebanyakan umat manusia tidak bersyukur

Syukur ada dua macam. Ada syukur yang wajib dan ada syukur yang sunnah. Syukur yang wajib adalah tidak menggunakan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita untuk berbuat maksiat kepada-Nya. Adapun Syukur yang sunnah adalah mengucapkan dengan lisan pujian yang menunjukkan bahwa Allah-lah Sang Pemberi nikmat dan yang menganugerahkannya kepada para hamba-Nya, semisal dengan ucapan alhamdulillah.

Suatu ketika Imam al-Junaid pernah ditanya tentang apa itu syukur?. Beliau menjawab: “(Syukur yang wajib adalah) tidak bermaksiat kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya.” Seseorang yang menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh perkara yang diharamkan, maka ia disebut manusia yang syaakir. Kemudian, jika ia tidak disibukkan dengan nikmat sehingga melalaikan syukur kepada Allah SWT dan ia menyadari betapa agungnya nikmat Allah yang selalu membersamainya dan perasaan itu semakin kokoh dalam dirinya serta ia memperbanyak amal-amal kebaikan lebih dari kewajibannya, maka ia disebut hamba yang syakuur (pandai bersyukur).

Dalam kaidah ilmu Nahwu, kata Syaakir ikut wazan Failun (isim fail) yang artinya orang yang bersyukur sedangkan kata Syakuur (isim masdar, Lissifat) yang artinya adalah orang yang paling banyak syukurnya.

Imam al-Qusyairi dalam kitab Ar-Risalah, bahwa “Syakir” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu yang ada, sementara “syakuur” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu yang tidak ada. sehingga level syakuur lebih tinggi dibanding syakir. Seorang hamba yang syakuur lebih sedikit jumlahnya daripada hamba yang syaakir. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. As-Saba’: 13 “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mencapai derajat syakuur”.

Dalam kesempatan yang sama pagi ini baru saja kita memasuki tahun baru 2025 yang merupakan awal tahun kalender Masehi, sekaligus merupakan awal masuknya bulan Rojab maka saya menjak kepada kita sekalian untuk sekaligus mengevalusi diri dengan berbekal Hadist yang diriwayatkan Imam Hakim, bahwa: "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka."

Sebagai penutup sekaligus refleksi akhir tahun 2024 menuju tahun 2025. saya mengajak kepada kita sekalain agar kita lebih efektif menggunakan waktu, sekaligus meminta kepada Allah SWT., agar dimampukan menjadi manusia-manusia yang selalu bersyukur atas nikmat-Nya, dengan level kualitas Syakuur (orang yang paling banyak syukurnya), memperbanyak perbuatan baik untuk mendapatkan ridhai Allah SWT., serta Memohon kepada Allah SWT., agaar selalu ingat untuk bertaubat dan istighfar dengan berdo’a أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikan lah (umur) kami hingga bulan Ramadan.


0 comments: