Surat Al-Fatihah seyogyanya dibaca dengan tartil (tertib, perlahan-lahan) lebih lebih disaat melaksanakan sholat, karena Surat Al-Fatihah merupakan rukun dalam sholat. setidaknya 17 kali sehari semalam kita membacanya, dan selama ini kita sering membacanya dengan tergesa-gesa dengan harapan agar segera cepat selesai shalat kita tanpa penghayatan.
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca Surat Al-Fatihah.”(HR. Bukhari)
مَنْ صَلَّى صَلَاةً، لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ، فَهِيَ خِدَاجٌ - ثَلاَثًا - غَيْرُ تَمَامٍ.
“Barangsiapa yang sholat lalu tidak membaca Ummul Qur’an, maka sholatnya kurang, beliau mengulanginya tiga kali, tidak sempurna.” (HR. Muslim).
Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah SWT. menjawab langsung setiap kali hamba-Nya membaca Surat istimewa ini. Maka sudah selazimnya ada jeda (tuma'ninah) antara satu ayat dengan ayat yang lain, karena sholat adalah merupakan dialog antara seorang hamba bersama Tuhanya.
Disebutkan dalam HR Muslim. Bahwa Nabi bersabda:
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ:{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ اللَّهُ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ:{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ:{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Artinya : “Rasulullah SAW bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Aku membagi sholat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia mohonkan.
Maka ketika hambaku berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(Segala Puji Hanya Bagi Allah, Tuhan semesta alam).
Allah SWT. berfirman:
حَمِدَنِي عَبْدِي
(Hambaku telah memuji-Ku)
dan ketika seorang hamba berkata:
الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ِ(Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
Allah SWT. berfirman:
أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي
(Hambaku telah menyanjung-Ku)
dan ketika seorang hamba berkata:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(Yang Menguasai di Hari Pembalasan),
Allah SWT. berfirman:
مَجَّدَنِي عَبْدِي
(Hambaku telah memuliakan Aku).
dan ketika seorang hamba berkata:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين
(Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan),
Allah SWT. berfirman:
هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
َ(ini adalah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya).
dan ketika seorang hamba berkata:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين
(Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat),
Allah SWT. berfirman:
هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
(Ini adalah bagi hambaku, dan bagi hambaku apa yang dia minta).










