Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Maksud Do'a

Do'a 

Apapun yang kamu ucapkan atau utarakan dalam hati kepada Allah, itu sama sekali tidak informatif bagi Allah. Dia sudah mengetahui segala hal tentang dirimu, tentang keinginanmu, tentang masalahmu, tanpa menunggumu menyampaikan kata apapun.

Sebenarnya doa hanyalah cara "menata hati kita sendiri" bagaimana menghadapi kehidupan ini. Doa adalah upaya menanamkan dalam jiwa bahwa kita tidak punya kuasa kecuali atas pengaturan Allah. Mengakui kelemahan diri dan mengakui kekuasaan Allah. Menyadari kita ini milik Allah. Itu saja. Perasaan itulah inti dari sebuah penghambaan.

Maka kata Rasulullah ﷺ :

الدعاء مخ العبادة

"Doa adalah inti dari ibadah"

قد كفاني علم ربي من سؤالي واختياري 

فدعائي وابتهالي شاهد لي بافتقاري

Lalu setelah berdoa, apakah akan dikabulkan keinginanmu? 

Kamu terlalu memaksa. Sampai kamu mencari ijazah dari banyak kyai, meminta bacaan yang menurutmu akan bisa MEMAKSA Allah menuruti kemauanmu. Kamu baca mantra (ijazah doa) yang menurutmu jika dibaca maka Allah akan ikut kemauanmu. Padahal sebelum kamu mampu berdoa, masih janin di dalam perut ibumu, sudah dicukupi segala keperluanmu oleh Allah. Dia yang sebaik itu mau kau anggap pelit hanya karena kebaikanNya tidak sesuai nafsumu?

Nasihat Fudhail bin Iyadh

Fudhail bin Iyadh (seorang ulama besar) berkata kepada seseorang yang telah mencapai umur 45, 55, 60, 70 tahun, Maka nasihat Fudhail kepadanya : Berarti  kamu sekarang  berjalan menuju kepada Tuhanmu dan hampir sampai... Lakukan yang terbaik pada sisa usia senja-mu, lalu akan diampuni dosa-dosamu yang lalu. Tapi jika engkau masih berbuat dosa di usia senjamu, kamu pasti dihukum akibat dosa masa lalu dan masa kini sekaligus...!

Maka para alim ulama memberi nasihat cara menjalani umur yang sudah mencapai 45, 55, 60, 70 tahun:

1. JANGAN banyak BERGURAU dan terjebak dalam hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.

2. JANGAN berlebih-lebihan, BERHIAS,  BERSOLEK, dan BERPAKAIAN.

3. JANGANLAH BERLEBIH-LEBIHAN makan, minum, dan berbelanja barang yang kurang diperlukan untuk mendukung amal soleh.

4. JANGAN  BERKAWAN dengan orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal kepada kita.

5. JANGAN banyak berjalan dan MELANCONG ke sana sini tanpa MANFAATNYA yang dapat mendekatkan diri pada kehidupan akhirat.

6. JANGAN gelisah, berkeluh kesah, dan kesal dengan kehidupan sehari-hari. Selalu penuhi diri dengan rasa sabar dan bersyukur.

7. PERBANYAK Do'a mengharap keridhoan ALLAH agar husnul Khatimah (mati dalam kesudahan yang baik) dan dijauhkan dari Su'ul Khatimah (mati yang tak baik).

8. TAMBAHKAN ilmu agama, perbanyak mengingat kematian, dan bersiap menghadapinya.

9. Siapkan/tuliskan WASIAT yang berguna untuk kaum kerabatmu.

10. Kerap menjalin SILATURAHIM dan mendekatkan hubungan yang telah renggang  sebelumnya.

11. MINTA MAAF dan berbuat baik terhadap pihak yang pernah dizalimi

12. TINGKATKAN amal SOLEH terutama amal yang dapat terus memberi pahala dan syafa'at setelah kita mati

13. MAAFkan kesalahan orang kepada kita walau seberat apapun kesalahan itu

14. Bereskan segala HUTANG yang ada dan jangan buat HUTANG BARU walaupun untuk menolong orang lain

15. Berhentilah dari melakukan semua MAKSIAT!!!

16. MATA, berhentilah memandang yg tidak halal bagimu.

17. TANGAN, berhentilah dari meraih yang bukan hak mu.

18. MULUT, berhentilah makan yang tidak baik dan yang tidak halal bagimu, berhentilah dari GHIBAH (mengumpat ), FITNAH, dan berhentilah menyakiti hati orang lain

19. TELINGA, berhentilah mendengar hal-hal haram dan tak bermanfaat

20. Berbaik sangka lah kepada ALLAH atas segala sesuatu yang terjadi dan menimpa

21. Penuhi terus hati dan lisan kita dengan istighfar & taubat untuk diri sendiri, orang tua, dan semua orang beriman, di setiap saat dan setiap waktu

22. Banyakkan bersedekah dan sucikan harta dengan mengeluarkan zakat

Semoga bermanfaat bagi kita semua dan ALLAH lindungi kita dari segala musibah. Aaminn.

Bersabarlah kepada mereka yang sedang di uji dengan kesusahan, kesedihan, kesakitan, kelaparan. 

Ya ALLAH.. Angkatlah segala ujian dan musibah ini.

Do'a Maulid

 اَللّهُمَّ اجْعَلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنْ كَلاَمِكَ الْعَظِيْمِ وَبَرَكَةَ مَا تَلَوْنَاهُ مِنْ كَلاَمِكَ الْحَكِيْمِ هَدِيَّةً مِنَّا اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ اْلمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَاَوْلادِهِ وَذُرِّيَتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ اَجْمَعِيْنَ


نَوَيْنَا قِرَاءَةَ الْمَوْلِدِ الدِّيْبَعِيْ مِثْلَ مَا نَوَى صَاحِبُ الْمَوْلِدِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمٰنِ الدِّيْبَعِيُّ وَمِثْلَ مَا نَوَى مَشَايِخُنَا ومرابى روحينا ولمن حضرا في مجلسنا 


اللهُ يُدْخِلُ نِيَّاتِنَا فِيْ نِيَّاتِهِمْ وَأَعْمَالَنَا فِيْ أَعْمَالِهِمْ وَ أَخْلَاقَنَا فِيْ أَخْلَاقِهِمْ بِنِيَّةِ أَنَّ اللهَ يَشْفِ مَرْضَانَا وَيُعَافِيْ مُبْتَلَانَا وَيُكَثِّرْ مِنَ الْحَلَالِ أَرْزَاقَنَا وَيَخْتِمْ أَعْمَارَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ


اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Nasihat Bijak untuk para pemimpin

Betapa menggiurkannya kekuasaan bagi mereka yang mencari atau mati-matian mempertahankannya. Sekitar 3 abad sebelum Machiavelli, Imam al-Ghazali telah lebih dulu menuliskan nasihatnya untuk penguasa.

Machiavelli yang menyarankan untuk menghalalkan segala cara dan menafikan moralitas dalam kekuasaan (read: The Prince), Imam al-Ghazali justru mengkritik para ulama sebagai biang kerusakan rakyat dan penguasa, beliau menyebutkannya dalam kitab Ihya’.

Pertama, Ihya’ Juz 2 halaman 238: ما فسدت الرعية إلا بفساد الملوك وما فسدت الملوك إلا بفساد العلماء "Tidaklah terjadi kerusakan rakyat itu kecuali dengan kerusakan penguasa, dan tidaklah rusak para penguasa kecuali dengan kerusakan para ulama."

Kedua, Ihya’ Juz 2 halaman 357: ‎ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال "Maka kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Dan rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan. Sesiapa yang terpedaya akan kecintaan terhadap dunia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal kecil, bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar? Semoga Allah menolong kita dalam semua hal."

Dan diantara sebab sebab diatas yang perlu kita ketahui dan pahami adalah janganlah kalian sesekali mengesampingkan pesan pesan kenabian yang di bawah oleh para ulama' karena mereka adalah merupakan pewaris ilmu nabi SAW.

Jauh sebelum pesan imam Al Ghazali menulis dalam kitabnya, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa:

‏ﺳﻴﺎٔﺗﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍٔﻣﺘﻲ ﻳﻔﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ،ﻓﻴﺒﺘﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺜﻼﺙ ﺑﻠﻴﺎﺕ ﺍٔﻭﻻﻫﺎ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻦ ﻛﺴﺒﻬﻢ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻳﺴﻠّﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺍٕﻳﻤﺎﻥ Akan datang suatu masa kepada ummatku di mana mereka lari dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu, menghilangkan berkah dari rizki mereka, menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman.

Dari kedua Nasihat imam Al Ghazali dan sabda Rasulullah SAW memiliki korelasi yang saling berhubungan, bahwa kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk saling menjaga dalam ketaatan kepada Allah SWT.

وتكون يا اولي الالباب Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.

Nasihat Walimah Pernikahan

Dalam Kitab Fathul Qorib dijelaskan bahwa: 


Annikahu smustahabbuun Liman yahtaju bihi.

Dan dijelaskan dalam Hadits:

مااكرم النساء الا كريم ومااهانهن الا لءيم 


Tidaklah memulyakan perempuan kecuali dia itu pribadi yang mulia dan tidaklah ia menghinakan seorang perempuan kecuali dia orang yang terhina.


Pertama: Niat.

Hal pertama yang harus diperhatikan untuk pasangan suami istri yang baru menikah adalah niat. Jika niatnya ditata dengan baik, maka insya Allah perjalanan hidup akan dijalani dengan baik. Niat nikah untuk ibadah dan mengikuti sunnah kanjeng Rasul SAW. Niat supaya bisa awet dan berbuat baik yang tidak hanya kepada pasangan saja, tetapi kepada siapa saja.


Kedua: Tetaplah menjadi manusia.

Artinya pasanganmu itu bukan malaikat apalagi setan. Malaikat itu tidak pernah salah begitupun Setan, ia tidak pernah benar. Sedangkan manusia bisa benar bisa juga salah. Manusia juga bisa ingat dan bisa lupa. Jadi, karena memandang pasangannya sebagai manusia, maka kita bisa memaklumi kalau ada khilaf dan alpha, sehingga Harus mengerti dalil masing-masing sebagai suami atau istri. Jangan dibalik-balik, salah satu dalil seorang istri kepada suaminya adalah ayat Ar-Rijaalu qawwaamuuna alan nisaa’ (Laki-laki / suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) (Q.S. An-Nisa’/34). Sedangkan dalil yang harus dipegang oleh suami agar selalu menghormati istrinya di antaranya adalah مااكرم النساء الا كريم ومااهانهن الا لءيم Orang yang memuliakan perempuan hanyalah orang yang mulia, sedangkan orang yang hina adalah orang yang menghinakan perempuan, yang artinya sama dengan menghina Allah SWT.


Ketiga: Jangan Berlebihan.

Supaya kalian bisa konsisten / Istiqomah dalam berbuat baik dengan pasangan, maka jangan berlebih-lebihan dalam segala hal. Karena Orang yang suka berlebih-lebihan dalam segala hal, pasti ia tidak akan dapat berbuat adil. Bahkan sejak berpikir. Ia tidak bisa istiqomah, karena syarat adil dan istiqamah itu tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.


Keempat: Sholat.

Ketika ada apapun, sekecil apapun pulangkan kepada pemiliknya (masalah), dan sebesar apapun, mintalah kepada  Allah SWT. Bagaimanapun kemampuanmu dan kehebatanmu, jangan pernah lupa Allah SWT.