Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Trik Retorika Rapat agar Pendapatmu Didengar di Lingkungan Sosial

Di dunia yang penuh dengan suara dan informasi seperti sekarang, memiliki pendapat saja tidak cukup. Tantangannya adalah bagaimana membuat suara Anda menonjol dan didengarkan, baik dalam rapat kerja, diskusi dengan teman, atau bahkan dalam percakapan di media sosial. Retorika, seni berbicara yang persuasif, adalah kuncinya. Berikut adalah trik-triknya yang bisa Anda terapkan segera.

  1. Mulailah dengan Hook yang Memikat Lima detik pertama Anda berbicara menentukan apakah orang akan mendengarkan atau mengabaikan Anda. Hindari kalimat klise seperti, "Menurut saya...". Sebaliknya, mulailah dengan pertanyaan provokatif, statistik mengejutkan, atau pernyataan yang relate dengan audiens. Misalnya, "Pernah nggak sih merasa waktu kita habis untuk rapat yang tidak produktif? Data menunjukkan kita kehilangan 70% waktu kerja karena hal ini. Hari ini, saya punya satu solusi sederhana."
  2. Rumuskan Pesan Anda dengan Struktur yang Jelas Otak manusia menyukai keteraturan. Sampaikan pendapat Anda dengan struktur yang mudah diikuti. Salah satu formula terbaik adalah Problem-Solution-Benefit. Pertama, jelaskan masalah yang semua orang hadapi (buat mereka setuju dengan Anda). Kedua, tawarkan ide atau solusi Anda sebagai jawabannya. Ketiga, gambarkan keuntungan jelas yang akan mereka dapatkan jika solusi Anda diterapkan. Ini membuat argumen Anda logis dan mudah dicerna.
  3. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Konkret Hindari jargon dan bahasa yang terlalu teknis. Semakin mudah sebuah ide dipahami, semakin besar kemungkinan orang menerimanya. Ganti kata-kata abstrak dengan gambaran yang nyata. Alih-alih mengatakan, "Kita perlu mengoptimalkan efisiensi operasional," coba katakan, "Mari kita persingkat proses ini dari lima langkah menjadi dua langkah, sehingga kita semua bisa pulang lebih cepat."
  4. Manfaatkan Kekuatan Storytelling Cerita adalah perekat yang membuat ide Anda melekat di benak orang lain. Orang mungkin lupa data, tetapi mereka akan ingat cerita. Saat memberi pendapat, selipkan cerita singkat tentang pengalaman pribadi, pelanggan, atau bahkan studi kasus yang relevan. Cerita memberikan bukti emosional dan konteks yang membuat argumen Anda tidak mudah dilupakan.
  5. Sesuaikan Gaya Bahasa dengan Media yang Digunakan Cara Anda menyampaikan pendapat di grup WhatsApp akan sangat berbeda dengan di rapat Zoom atau di kolom komentar Instagram. Di chat grup, gunakan kalimat pendek, poin-poin, dan emoji untuk menyampaikan nada. Dalam rapat virtual, pastikan suara Anda jelas dan gunakan fitur "raise hand". Menyesuaikan gaya menunjukkan kecerdasan komunikasi sosial Anda.
  6. Akuilah Keberatan dan Sudut Pandang Lain Retorika yang kuat bukan tentang memaksakan pendapat, tapi tentang membujuk. Tunjukkan bahwa Anda telah mempertimbangkan sisi lain. Gunakan frasa seperti, "Saya memahami kekhawatiran tentang budget, dan itu valid. Mari kita lihat bagaimana solusi ini justru bisa menghemat biaya dalam jangka panjang." Ini membuat Anda terlihat objektif dan kolaboratif, bukan hanya ingin menang sendiri.
  7. Akhiri dengan Call to Action yang Spesifik Jangan biarkan pendapat Anda mengambang. Tutup dengan permintaan atau langkah selanjutnya yang sangat jelas dan dapat ditindaklanjuti. Alih-alih, "Ya, kira-kira begitu pendapat saya," coba katakan, "Jadi, langkah yang saya usulkan adalah A dan B. Apakah kita bisa komit untuk mencobanya minggu depan? Siapa yang bisa mendukung?" Ini mengubah pembicaraan menjadi aksi.

Intinya, retorika bukan tentang menjadi yang paling keras atau paling banyak bicara. Ini tentang berbicara dengan lebih cerdas, lebih empatik, dan lebih terstruktur. Dengan melatih trik-trik ini, Anda tidak hanya akan didengar, tetapi juga dihargai.

Jenis hati dan sifat-sifatnya

Dalam Al-Qur'an, disebutkan berbagai jenis hati dengan sifat-sifatnya yang menunjukkan kedekatan atau jauhnya seseorang dari Allah.

1. Hati yang Selamat (القلب السليم)

Hati yang tulus kepada Allah, bersih dari kekufuran, kemunafikan, dan dosa: إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (QS. Asy-Syu'ara: 89).

2. Hati yang Bertobat (القلب المنيب)

Hati yang selalu kembali kepada Allah, penuh taubat, dan patuh kepada-Nya: مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (QS. Qaf: 33).

3. Hati yang Tunduk (القلب المخبت)

Hati yang khusyuk, tenang, dan patuh kepada Allah: فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ (QS. Al-Hajj: 54).

4. Hati yang Takut (القلب الوجل)

Hati yang khawatir jika amalannya tidak diterima dan takut akan azab Allah: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (QS. Al-Mu'minun: 60).

5. Hati yang Bertakwa (القلب التقي)

Hati yang menghormati dan memuliakan syiar-syiar Allah: ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (QS. Al-Hajj: 32).

6. Hati yang Diberi Petunjuk (القلب المهدي)

Hati yang ridha dengan takdir Allah dan berserah kepada-Nya: وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ (QS. At-Taghabun: 11).

7. Hati yang Tenang (القلب المطمئن)

Hati yang merasa damai dengan mengingat Allah: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (QS. Ar-Ra'd: 28).

8. Hati yang Hidup (القلب الحي)

Hati yang memahami dan mengambil pelajaran dari peringatan Allah: إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ (QS. Qaf: 37).

9. Hati yang Sakit (القلب المريض)

Hati yang dihinggapi penyakit seperti keraguan, kemunafikan, atau cinta pada maksiat: فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ (QS. Al-Ahzab: 32).

10. Hati yang Buta (القلب الأعمى)

Hati yang tidak dapat melihat kebenaran atau mengambil pelajaran: وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (QS. Al-Hajj: 46).

11. Hati yang Lalai (القلب اللاهي)

Hati yang lalai dari Al-Qur'an dan sibuk dengan urusan duniawi: لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ (QS. Al-Anbiya: 3).

12. Hati yang Berdosa (القلب الآثم)

Hati yang menyembunyikan kebenaran dan menolak menyampaikan kesaksian yang benar: وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ (QS. Al-Baqarah: 283).

13. Hati yang Sombong (القلب المتكبر)

Hati yang tinggi hati, tidak mau tunduk kepada kebenaran, dan sering berlaku zalim: قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ (QS. Ghafir: 35).

14. Hati yang Keras (القلب الغليظ)

Hati yang tidak memiliki kasih sayang atau kelembutan: وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ (QS. Ali Imran: 159).

15. Hati yang Tertutup (القلب المختوم)

Hati yang tidak bisa menerima petunjuk dan tertutup dari hidayah: خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ (QS. Al-Baqarah: 7).

16. Hati yang Keras Membatu (القلب القاسي)

Hati yang tidak terpengaruh oleh peringatan atau kebenaran: وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً (QS. Al-Ma'idah: 13).

17. Hati yang Lalai (القلب الغافل)

Hati yang berpaling dari mengingat Allah dan lebih memilih hawa nafsu: وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا (QS. Al-Kahf: 28).

18. Hati yang Tertutup Rapat (القلب الأغلف)

Hati yang tertutup dan tidak dapat menerima nasihat atau kebenaran: وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ (QS. Al-Baqarah: 88).

19. Hati yang Menyimpang (القلب الزائغ)

Hati yang condong kepada kebatilan dan menjauh dari kebenaran: فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ (QS. Ali Imran: 7).

20. Hati yang Ragu (القلب المريب)

Hati yang diliputi keraguan dan kebimbangan: وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ (QS. At-Taubah: 45).

Itulah dua puluh macam hati yang disebutkan di dalam Al Qur'an, dan marilah kita berdo'a dengan Do'a berikut: اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا سَلِيمَةً مُطْمَئِنَّةً، وَامْلَأْهَا بِالإِيمَانِ وَالْيَقِينِ. اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِنَا إِلَى الْحَقِّ، وَوَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Ciri Wali Allah dalam Al Qur'an

Ciri-ciri Wali Allah dalam Al Qur'an:

  1. Tidak pernah merasa khawatir dan tidak pernah merasa susah أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ "Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati" (QS. Yunus: 62)
  2. Menetapi keimanan dan selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa" (QS. Yunus: 63)
  3. Selalu Istiqomah dan ikhlas dalam ketaatan dan mengikuti tuntunan Nabi إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Fushshilat : 30)
  4. Lebih memilih kematian dari pada kehidupan إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ "Jika kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar" (QS. Al Jumuah: 6)

Nasihat Sunan Kalijaga

DASA PITUTUR (10 Nasihat Sunan Kalijaga)

  1. Urip Iku Urub. Hidup itu Nyala! Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara. Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
  3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti. Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
  4. Ngluruk tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake, Sekti tanpa Aji-Aji, Sugih tanpa Bandha. Berjuang tanpa perlu membawa massa; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kekayaan atau kekuasaan, keturunan; kaya tanpa didasari kebendaan.
  5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan. Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri! Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu!
  6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman. Jangan mudah terheran-heran! Jangan mudah menyesal! Jangan mudah terkejut-kejut! Jangan mudah kolokan atau manja!
  7. Aja Kethungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman. Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi!
  8. Aja Kuminter Mundhak Keblinger, Aja Cidra Mundhak Cilaka. Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah! Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka!
  9. Aja Melik Barang kang Melok, Aja Mangro Mundhak Kendho. Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah! Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat!
  10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna. Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti!

Membersihkan Kuburan

Sebagai anak tetap dapat berbakti kepada orang tua sepeninggal mereka. Anak2 itu dapat menziarahi makam kedua orang tua. Ziarah ke makam kedua orang tua memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana riwayat berikut ini.

وَقَدْ رَوَى الْحَكِيمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدِيهِ 

Artinya, “Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dgn keadaan marfu’, ‘Siapa saja yang menziarahi sekali makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap Jumat, niscaya Allah mengampuninya dan ia tercatat sebagai anak yg berbakti kepada keduanya,’” (Lihat Al-Bujairimi, kitab Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573). .

Kedatangan anak dgn ziarah ke makam kedua orang tua saja sudah cukup. Alangkah baiknya di sana mereka mengkhatamkan Al-Qur’an atau membaca beberapa surat dalam Al-Qur’an sebagaimana riwayat berikut ini.

وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا فَقَرَأَ عِنْدَهُ يَس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً وَحَرْفًا وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ كَحَجَّةٍ

Dan dalam satu riwayat, siapa pun yang mengunjungi kuburan orang tuanya atau salah satu dari mereka setiap hari Jumat dan membaca Surah Ya-Sin dan Al-Qur'an di sana, dia akan diampuni untuk setiap ayat dan huruf yang dibacanya. Dan dalam riwayat lain, siapa pun yang mengunjungi kuburan orang tuanya atau salah satu dari mereka pada hari Jumat, itu seperti dia telah melaksanakan ibadah haji.

Membersihkan kotoran, sampah, daun2 kering atau merapikan rerumputan yg tumbuh secara berlebihan, atau menghilangkan rerumputan yg sudah mati yg ada di areal makam adalah sesuatu yg sudah diketahui kebaikan atau kemaslahatannya. 

Hal itu sesuai dengan keindahan yg disukai Allah dan rasul-Nya, dan bagian dari pengamalan hadits “kebersihan itu adalah sebagian dari iman”. 

Namun ada satu riwayat dalam kitab I’anah at Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Syatho ad Dimyathi (1849-1892 M) yang mengatakan:

ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار

Dalam redaksi kitab di atas, Imam Abu Bakar Muhammad Syatho ad Dimyathi mempunyai pendapat bahwa tidak boleh mencabut rumput yg masih segar. Namun, kalau hanya merapikan masih boleh misalkan rumputnya terlalu rimbun atau sudah mati. Karena tumbuh2an tersebutlah yg mendoakan si mayit.

Jadi sebaiknya, kita sapu kotoran sampah area makam, kita rapikan saja rumput2 itu dgn gunting, arit, atau benda tajam lainnya. Yang masih segar biarkan, karena yg penting adalah merapikan, karena kebersihan dan kerapian adalah sebuah bentuk kemaslahatan.

Oleh karena itu, tradisi ini baik untuk dilakukan kapan saja seperti tradisi yang berkembang di masyarakat. Oleh karenanya perbuatan tsb kembali pada hukum asal; yakni mubah (boleh). Lebih2 bila dalam membersihkan kuburan tersebut ada manfaat.