Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Fathul Qulub

Sinten mawon ingkang apal sekabehane Fuqoha Sab'ah (7 orang ahli fiqih) mongko gampang olehe ke-futuh, alias kebuka' atine lan gampang dadi wong alime.


(Syaikhona Maimoen Zubair)

"Barangsiapa menghafal Fuqoha' Sab'ah, maka ia dimudahkan dalam futuhnya, atau terbuka hatinya dan mudah menjadi orang alim".


Fuqoha' Sab'ah adalah ahli fikih dari kalangan tabi'in yang hidup di Madinah dan menjadi rujukan masalah fiqih pada masanya. Mereka adalah:

1. Ubaidillah bin Abdillah bin Mas'ud Al-Hudzali, wafat 94 H.

2. Urwah bin Al-Zubair bin Al-Awwam, wafat 94 H.

3. Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar, wafat 106 H.

4. Sa'id bin Musayyib, wafat 94 H.

5. Abu Bakar bin Abdurrahman Al-Makhzumi, wafat 94 H.

6. Sulaiman bin Yasar, wafat 107 H.

7. Khorijah bin Zaid, wafat 99 H.


Qowaidul Fiqhiyyah:

Agar mudah dihafal, ketujuh ahli fikih itu dirangkum dalam syi'ir berikut:


ألا كل من لا يقتدي بأئمة * فقسمته ضيزى عن الحق خارجة

فخذهم عبيد الله عروة قاسم * سعيد أبو بكر سليمان خارجه


Alaa Kullu Man Laa Yaqtadii Bi-aimmati

Faqismatuhuu Dliizaa Anil Haqqi Khoorijah

Fakhudzhum Ubaidulloohi Urwatu QoosimuS Sa'iidunAbuu Bakrin Sulaimaanu Khoorijah.


Wahyudi

HAKIKAT GURU

Hakikat guru menurut Al-Imam Ibnu Athoillah al-Askandary Ra: 


ليس شيخك من سمعت منه

Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja.


وإنما شيخك من أخذت عنه

Tapi, dia adalah seorang yang menjadi tempatmu didalam mengambil hikmah dan akhlaq


و ليس شيخك من واجهتك عبارته 

Bukanlah guru sejati, seseorang yang hanya membimbingmu sekedar makna dari kata-kata


وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته

Tapi, orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu.


وليس شيخك من دعاك الى الباب

Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu.


وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب

Tapi, yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya.


وليس شيخك من واجهك مقاله

Bukanlah gurumu, orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu


وإنما شيخك الذى نهض بك حاله

Tapi, yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat.


شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى

Gurumu yang sejati adalah yang membebaskan mu dari penjara hawa nafsu, lalu memasukan mu ke ruangan Tuhan mu


شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك

Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa menjernihkan cermin hatimu, sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.

Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh...⁣

Aamiin...

Nama-nama Surga dalam Al-Qur an

Nama-nama Surga dalam Al-Qur an:


1. Jannattul Khuldi

قُلْ أَذَلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاء وَمَصِيرًا

Katakanlah: "Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau Jannatul Khuldi (surga yang kekal) yang telahdijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?" Diamenjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?" (Al-Furqan: 15)


2. Al-Maqam Al-Amin

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ (51) فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (52) يَلْبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَقَابِلِينَ (53)

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam Al-Maqam Al-Amin (tempat yang aman). Yaitu di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air. Mereka memakai sutera yang halus dan suterayang tebal, (duduk) berhadap-hadapan. (Ad-Dukhan: 51-53)


3. Al-Firdaus

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (Al-Kahfi: 107)


4. Al-Raudhah

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَهُمْ فِي رَوْضَةٍ يُحْبَرُونَ

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam Raudhah (taman) bergembira. (Ar-Rum: 15)


5. Jannatu ‘And

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَآؤُونَ كَذَلِكَ يَجْزِي اللّهُ الْمُتَّقِينَ

(yaitu) surga Adn yang mereka masuk kedalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, didalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (An-Nahl: 31)


6. Darussalam

لَهُمْ دَارُ السَّلاَمِ عِندَ رَبِّهِمْ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga)pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan. (Al-An’am: 127)


7. Jannatul Ma’wa

أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلًا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka Jannatul Ma’wa (surga-surga tempat kediaman), sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah: 19)


8. Jannatu Na’im

أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ أَن يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam Jannatu Na’im(surga yang penuh kenikmatan)? (Al-Ma’arij:38)


9. Darul Muttaqin

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْاْ مَاذَا أَنزَلَ رَبُّكُمْ قَالُواْ خَيْرًا لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik Darul Muttaqin (tempat bagi orang yang bertakwa). (An-Nahl: 30)


10. Darul Muqamah

الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

Yang menempatkan kami dalam Darul Muqamah (tempat yang kekal) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu". (Fathir: 35)


_____

Semoga kita diizinkan Allah SWT menjadi salah satu penghuni nya.

Tujuan berMaulid Nabi

Maulid Muhammad Bin Abdullah memiliki 4 tujuan utama yang diantaranya:


Lisyukri, yaitu sebagai bentuk wujug syukur kita kepada Allah SWT. atas dilahirkannya Nabi Muhammad SAW.


Lil Imdah, yaitu untuk memuji Nabi Muhammad SAW. Karena sungguh alam ini tak akan tercipta jika tidak ada Nur Muhammad.


Lit Thalabul Ilmi, yaitu untuk mencari ilmu dalam rangka mempertebal keimanan dan aqidah kita terhadap ajaran tauhid Allah, serta pemahaman terhadap hukum-hukum yang ada dalam Islam.


Lil Uswah, dalam Al-Quran dijelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah suri tauladan bagi kita.

Sholawat saat khutbah berlangsung

Assalamu ’alaikum wr. wb
Ketika khatib sudah naik mimbar, semua jamaah shalat Jumat tidak boleh saling berbicara tetapi harus menyimak dan mendengar dengan baik khutbah. Yang ingin kami tanyakan, ketika khatib dalam khutbahnya membaca ayat innallaha wamalaikatahu yushalluna ‘alan nabiy, apakah boleh jamaah mengucapkan shalawat dengan mengeraskan suaranya? Mohon penjelasannya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu ’alaikum wr. wb (Sutikno/Pemalang)

Jawaban
Assalamu’alaikum wr. wb
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Allah dan para malaikat-Nya selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk bershalawat kepadanya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Ahzab sebagai berikut,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershawalat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya,” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 56).

Menurut para ulama, shalawat dari Allah mengandung pengertian memberi rahmat, dari malaikat memohonkan ampunan, dan dari orang-orang beriman mengandung pengertian berdoa agar diberi rahmat.

Para ulama telah bersepakat bahwa shalawat kepada Nabi SAW hukumnya adalah wajib. Sedang ukuran shalawat yang wajib baca adalah allahumma shalli ‘ala muhammad dan selebihnya adalah sunah, seperti allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad.

Namun mereka berbeda pendapat mengenai kapan membaca shalawat itu diwajibkan? Apakah kewajiban tersebut hanya sekali seumur hidup atau hanya dalam shalat, atau kewajiban tersebut hanya berlaku ketika nama beliau disebut?

Dalam hal ini ada tiga pendapat. Pendapat pertama yang merupakan pendapat yang dianut kebanyakan ulama menyatakan bahwa kewajiban membaca shalawat kepada Nabi saw hanya sekali dalam seumur hidup.

Pendapat kedua menyatakan bahwa kewajiban membaca shalawat itu adalah dalam setiap shalat pada tasyahud akhir. Ini adalah pendapat yang dianut Madzhab Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Pendapat ketiga menyatakan bahwa membaca shalawat adalah wajib ketika nama Nabi saw disebutkan. Pendapat ini dipilih oleh Ath-Thahawi salah seorang ulama kesohor dari kalangan Madzhab Hanafi dan Al-Halimi salah seorang ulama pengikut Madzhab Syafi’i.

اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى وُجُوبِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ اخْتَلَفُوا فقِيلَ تَجِبُ فِي الْعُمْرِ مَرَّةً وَهُوَ الْأَكْثَرُ وَقِيلَ : تَجِبُ فِي كُلِّ صَلَاةٍ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيِر وَهُوَ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ وَقِيلَ : تَجِبُ كُلَّمَا ذُكِرَ وَاخْتَارَهُ الطَّحَاوِيُّ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَلِيمِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْوَاجِبُ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَمَا زَادَ سُنَّةٌ

“Para ulama telah sepakat atas wajibnya membaca shalawat kepada Nabi SAW, kemudian mereka berselisih pendapat, ada yang mengatakan (qila) wajib sekali dalam seumur hidup dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Ada juga yang mengatakan (qila) wajib dalam setiap shalat dalam tasyahhud akhir, ini adalah pendapat Madzhab Syafi’i dan salah satu riwayat dari imam Ahmad bin Hanbal. Dan pendapat lain mengatakan (qila) wajib ketika nama Rasulullah SAW disebutkan, dan Ath-Thahawi salah seorang ulama dari Madzhab Hanafi dan Al-Halimi salah satu ulama dari Madzhab Syafi’i memilih pendapat ini. Sedangkan yang wajib adalah membaca allahumma shalli ‘ala muhammad dan selebihnya adalah sunah,” (Al-Khazin, Lubab at-Ta`wil fi Ma’ani at-Tanzil, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, V, h. 274)

Nah dari sini tampak jelas bahwa secara umum bershalawat kepada Nabi SAW adalah wajib. Para ulama hanya berbeda pendapat mengenai soal kapan dan di mana wajibnya bershalawat kepada Nabi SAW. Misalnya, Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bershalawat kepada Nabi SAW wajib di dalam setiap shalat dalam tasyahhud akhir.

Pertanyaannya bagaimana jika khatib dalam khutbah membaca ayat innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan nabiy...., apakah jamaah boleh membaca atau bershalawat kepada Nabi SAW dengan suara yang tinggi atau keras?

Dalam kasus ini menurut An-Nawawi dan para ulama lainnya bahwa ketika khatib dalam khutbahnya membaca ayat innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan nabiy...tidaklah dimakruhkan bagi orang yang mendengarkan khutbah atau para jamaah untuk meninggikan suaranya tanpa berlebihan dalam bershalawat kepada Nabi SAW.

قَالَ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ: وَلَا يُكْرَهُ أَيْضًا رَفْعُ الصَّوْتِ بِلَا مُبَالَغَةٍ فِي الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ (ص) إِذَا قَرَأَ الْخَطِيبُ: ( إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ )

Muhyiddin Syarf An-Nawawi dan ulama yang lain berpendapat bahwa tidak makruh mengeraskan atau meninggikan suara tanpa berlebihan dalam membaca shalawat kepada Nabi SAW ketika khatib membaca ayat innallah wa malaikatahu yushalluna ‘alan nabiy’,” (Lihat, Ibnu Hajar Al-Haitsami, Al-Fatawil Kubra Al-Fiqhiyyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, I, h. 253).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami perbanyaklah shalawat kepada Nabi SAW dan kebaikan pada setiap hari Jumat karena insya Allah hal tersebut akan membawa manfaat baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb