Memori at PASCASARJANA
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.
STUDY ACADEMIC
STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".
MY FAMILY
BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.
MOTIVASI HIDUP
DALAM KEBINEKAAN.
FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED
TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.
MENUNAIKAN HAJI UNTUK KEDUA ORANG TUA / KERABAT
1. HR. Bukhari dari
Ibnu `Abbas :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا
أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ
جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ
أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا
قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ
قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ
Ibnu 'Abbas
radliallahu 'anhuma bahwa ada seorang wanita dari suku Juhainah datang menemui
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: "Sesungguhnya ibuku telah
bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga
meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?". Beliau menjawab: "Tunaikanlah
haji untuknya. Bagaimana pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu
wajib membayarkannya?. Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada
Allah lebih patut untuk dibayar".
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا قَالَ
جَاءَتْ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ عَامَ
حَجَّةِ الْوَدَاعِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى
عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ
يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ
نَعَمْ
Ibnu 'Abbas
radliallahu 'anhuma berkata; Ada seorang wanita dari suku Khats'am pada
pelaksanaan Haji Wada' lalu berkata: "Wahai Rasulullah, kewajiban yang
Allah tetapkan buat para hambaNya tentang haji sampai kepada bapakku ketika dia
sudah berusia lanjut sehingga dia tidak mampu untuk menempuh perjalanannya,
apakah terpenuhi kewajiban untuknya bila aku menghajikannya?. Beliau menjawab:
"Ya".
2. HR. Muslim dari
Buraidah
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ
عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ
إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ قَالَ فَقَالَ
وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ صُومِي عَنْهَا
قَالَتْ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ حُجِّي عَنْهَا
Abdullah bin Buraidah
dari bapaknya radliallahu 'anhu, ia berkata; Ketika saya sedang duduk di sisi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seorang wanita dan
berkata, "Aku pernah memberikan seorang budak wanita kepada ibuku, dan
kini ibuku telah meninggal. Bagaimana dengan hal itu?" beliau menjawab,
"Kamu telah mendapatkan pahala atas pemberianmu itu, dan sekarang
pemberianmu itu telah kembali kepadamu sebagai pusaka." Wanita itu
bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, Ibuku punya hutang puasa satu bulan,
bolehkah saya membayar puasanya?" beliau menjawab: "Ya, bayarlah
puasanya itu." wanita itu berkata lagi, "Ibuku juga belum menunaikan
haji, bolehkah aku yang menghajikannya?" beliau menjawab: "Ya,
hajikanlah ia."
3. HR. Abu Dawud dari
Ibn `Abbas
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ
شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ
لَا قَالَ حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ
Ibnu Abbas bahwa Nabi
shalla Allahu 'alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan; LABBAIKA 'AN
SYUBRUMAH (ya Allah, aku memenuhi seruanmu untuk Syubrumah), beliau bertanya:
"Siapakah Syubrumah tersebut?" Dia menjawab; saudaraku! Atau
kerabatku! Beliau bertanya: "Apakah engkau telah melaksanakan haji untuk
dirimu sendiri?" Dia menjawab; belum! Beliau berkata: "Laksanakan
haji untuk dirimu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah."
TENDENSI DZIKIR DAN BERDOA SETELAH SHALAT
TENDENSI DZIKIR DAN BERDOA SETELAH SHALAT
I.MENGERASKAN DZIKIR (jahr)
I.MENGERASKAN DZIKIR (jahr)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,,, ” (Al- baqarah:152),,,,,,
“maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bang gakan) nenek moyangmu” (Al- baqarah:200). Dan ayat- ayat lainnya.
“Sungguh mengeraskan suara Dzikir kala orang- orang selesai Shalat fardhu telah ada di masa Nabi SAW, Ibnu Abbas berkata: Aku mengetahui pemandangan itu karna aku mendengarnya” (HR.Bukhari dan Muslim/Shahih).
ُﻪْﻨَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ ِﻦْﺑﺍ ْﻦَﻋ ِﺓﺎَﻠَﺻ َﺀﺎَﻀِﻘْﻧﺍ ُﻑِﺮْﻋَﺃ ُﺖْﻨُﻛ :َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ) ِﺮﻴِﺒْﻜَّﺘﻟﺎِﺑ )
“Dari Ibnu Abbas RA berkata: Aku mengetahui rampungnya Shalat Nabi SAW dengan bacaan Takbir” (HR.Bukhari/ Shahih). Dan Hadits- Hadits yang semafhum.
II.DOA DENGAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN
ْﻲِﻴْﺤَﺘْﺴَﻳ ٌﻢْﻳِﺮَﻛ ٌّﻲَﺣ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ َّﻥِﺇ ْﻥَﺃ ِﻪْﻴَﻟِﺇ ِﻪْﻳَﺪَﻳ َﻊَﻓَﺭ ﺍَﺫِﺍ ِﻩِﺪْﺒَﻋ ْﻦِﻣ ﺔﻌﺑﺭﻷﺍ ﻪﺟﺮﺧﺃ) ﺍًﺮْﻔِﺻ ﺎَﻤُﻫَّﺩُﺮَﻳ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍ ﻻﺇ)
“Sungguh Tuhan kalian maha hidup nan dermawan, DIA malu tatkala dari hambanya mengangkat ke dua tangannya (berdoa) lalu kembali dalam keadaan tangan kosong” (HR.Imam Empat kecuali An-Nasai/ Shahih).
ِﻦْﻄَﺒِﺑ َﻪﻠﻟﺍ ُﻉْﺩﺎَﻓ َﻪﻠﻟﺍ َﺕْﻮَﻋَﺩ ﺍَﺫِﺇ ﺍَﺫِﺈَﻓ ,ﺎَﻤِﻫِﺮْﻬَﻈِﺑ ُﻉْﺪَﺗَﻻَﻭ َﻚْﻴَّﻔَﻛ َﻚَﻬْﺟَﻭ ﺎَﻤِﻬِﺑ ْﺢَﺴْﻣﺎَﻓ َﺖْﻏَﺮَﻓ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ) )
“Ketika kamu berdoa pada Allah maka bukalah kedua tapak tangan bagian dalam, dan jangan berdoa dengan tapak tangan bagian luar, apabila telah selesai berdoa maka usapkanlah kedua tapak tanganmu pada
wajahmu” (HR.Ibnu Majah/Hasan).Dll
III.SALAMAN SELEPAS SHALAT (mushofahah)
ِﻥﺎَﻴِﻘَﺘْﻠَﻳ ِﻦْﻴَﻤِﻠْﺴُﻣ ْﻦِﻣ ﺎَﻣ َﻞْﺒَﻗ ﺎَﻤُﻬَﻟ َﺮِﻔُﻏ ﺎَّﻟِﺇ ِﻥﺎَﺤَﻓﺎَﺼَﺘَﻴَﻓ ﻲﺑﺃﻭ ﺪﻤﺣﺃ ﻩﺍﻭﺭ) ﺎَﻗَّﺮَﻔــــــَﺘَﻳ ْﻥَﺃ ﻭ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﺩﻭﺩ ﺀﺎﻴﻀﻟﺍ)
“Tidak ada dua orang Muslim yang bertemu lalu keduanya mau bersalaman, kecuali di ampuni dosanya sebelum keduanya berpisah” (HR.Ahmad, Abu Daud dll/Hasan dan Shahih Sanadnya). Banyak Ulama memperluas pengertian dengan Sunahnya bersalaman setelah Shalat, dengan catatan belum bertemu sebelum
Shalat. Ada juga yang berpendapat bahwa di kala Shalat kita sowan pada Allah, sehingga ada kesunahan salaman tatkala selepas Shalat. Wallahu A’lam [Referensi: Shahih bukhari dan Muslim, Sunan Abi Daud, Al-Jami As-Saghir, Riyadus Shalihin, Mauidzah Al- Mukminin, Al- Muqtathofat li Ahlil
“maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bang gakan) nenek moyangmu” (Al- baqarah:200). Dan ayat- ayat lainnya.
“Sungguh mengeraskan suara Dzikir kala orang- orang selesai Shalat fardhu telah ada di masa Nabi SAW, Ibnu Abbas berkata: Aku mengetahui pemandangan itu karna aku mendengarnya” (HR.Bukhari dan Muslim/Shahih).
ُﻪْﻨَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ ِﻦْﺑﺍ ْﻦَﻋ ِﺓﺎَﻠَﺻ َﺀﺎَﻀِﻘْﻧﺍ ُﻑِﺮْﻋَﺃ ُﺖْﻨُﻛ :َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ) ِﺮﻴِﺒْﻜَّﺘﻟﺎِﺑ )
“Dari Ibnu Abbas RA berkata: Aku mengetahui rampungnya Shalat Nabi SAW dengan bacaan Takbir” (HR.Bukhari/ Shahih). Dan Hadits- Hadits yang semafhum.
II.DOA DENGAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN
ْﻲِﻴْﺤَﺘْﺴَﻳ ٌﻢْﻳِﺮَﻛ ٌّﻲَﺣ ْﻢُﻜَّﺑَﺭ َّﻥِﺇ ْﻥَﺃ ِﻪْﻴَﻟِﺇ ِﻪْﻳَﺪَﻳ َﻊَﻓَﺭ ﺍَﺫِﺍ ِﻩِﺪْﺒَﻋ ْﻦِﻣ ﺔﻌﺑﺭﻷﺍ ﻪﺟﺮﺧﺃ) ﺍًﺮْﻔِﺻ ﺎَﻤُﻫَّﺩُﺮَﻳ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍ ﻻﺇ)
“Sungguh Tuhan kalian maha hidup nan dermawan, DIA malu tatkala dari hambanya mengangkat ke dua tangannya (berdoa) lalu kembali dalam keadaan tangan kosong” (HR.Imam Empat kecuali An-Nasai/ Shahih).
ِﻦْﻄَﺒِﺑ َﻪﻠﻟﺍ ُﻉْﺩﺎَﻓ َﻪﻠﻟﺍ َﺕْﻮَﻋَﺩ ﺍَﺫِﺇ ﺍَﺫِﺈَﻓ ,ﺎَﻤِﻫِﺮْﻬَﻈِﺑ ُﻉْﺪَﺗَﻻَﻭ َﻚْﻴَّﻔَﻛ َﻚَﻬْﺟَﻭ ﺎَﻤِﻬِﺑ ْﺢَﺴْﻣﺎَﻓ َﺖْﻏَﺮَﻓ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ) )
“Ketika kamu berdoa pada Allah maka bukalah kedua tapak tangan bagian dalam, dan jangan berdoa dengan tapak tangan bagian luar, apabila telah selesai berdoa maka usapkanlah kedua tapak tanganmu pada
wajahmu” (HR.Ibnu Majah/Hasan).Dll
III.SALAMAN SELEPAS SHALAT (mushofahah)
ِﻥﺎَﻴِﻘَﺘْﻠَﻳ ِﻦْﻴَﻤِﻠْﺴُﻣ ْﻦِﻣ ﺎَﻣ َﻞْﺒَﻗ ﺎَﻤُﻬَﻟ َﺮِﻔُﻏ ﺎَّﻟِﺇ ِﻥﺎَﺤَﻓﺎَﺼَﺘَﻴَﻓ ﻲﺑﺃﻭ ﺪﻤﺣﺃ ﻩﺍﻭﺭ) ﺎَﻗَّﺮَﻔــــــَﺘَﻳ ْﻥَﺃ ﻭ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﺩﻭﺩ ﺀﺎﻴﻀﻟﺍ)
“Tidak ada dua orang Muslim yang bertemu lalu keduanya mau bersalaman, kecuali di ampuni dosanya sebelum keduanya berpisah” (HR.Ahmad, Abu Daud dll/Hasan dan Shahih Sanadnya). Banyak Ulama memperluas pengertian dengan Sunahnya bersalaman setelah Shalat, dengan catatan belum bertemu sebelum
Shalat. Ada juga yang berpendapat bahwa di kala Shalat kita sowan pada Allah, sehingga ada kesunahan salaman tatkala selepas Shalat. Wallahu A’lam [Referensi: Shahih bukhari dan Muslim, Sunan Abi Daud, Al-Jami As-Saghir, Riyadus Shalihin, Mauidzah Al- Mukminin, Al- Muqtathofat li Ahlil
Sholawat Haji
Sholawat Haji
يارب صل وسلم عل النبى خيرالأنام # زرنامكة وإلى زمزم محمدعليه السلام
واجعله حجامبروراوأجعله سعيامشكورا # وأجعله ذنبا مغفوراوأجعله عمرة مقبولة
وأجعلناكلناألخيرات وأجعلناأمةصالحة #
وسلمنامن ألافات فى ألدنياوالأخرة
بجاه ألمصطف ألرسول وجدناوبالقبول # سهلناحصول ألمسوول قربنابعدان ألمؤمول
ياألله بها ياألله بها ياألله بحسن الخاتمة # ياألله بها ياألله بها ياألله بتوبةوألقبول
أمين أمين أمين أمين أمين أمين أمين أمين # أمين
أمين أمين أمين ياألله ربالعا لمين
sertfikasi ulama
Wacana sertfikasi ulama yang dikemukakan Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme (BNPT) menuai kontroversi. Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Jember, Jawa Timur, menentang wacana itu. MUI Jember menilai, ulama
merupakan anugerah dari Allah yang pengakuannya datang dari masyarakat,
bukan dari lembaga negara.
Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Fatwa MUI Jember Abdullah Samsul Arifin dalam acara sosialisasi pemahaman ajaran Syiah di Aula Madrasah Aliyah Negeri Jember, Kamis (13/9). Ia berbicara di depan sejumlah pemuka agama dan tokoh masyarakat.
Samsul Arifin menyatakan, sertifikasi terhadap ulama tidak akan efektif jika dalihnya hanya untuk menanggulangi terorisme. Sebab, tidak ada satupun lembaga yang sanggup melakukan sertfikasi formal terhadap ulama. Karena selama ini pengakuan ulama datang dari masyarakat.
Pengakuan masyarakat pada ulama bersifat kultural-karismatik sesuai kepemimpinannya. Tidak dapat dibuat standarisasi formal. Sesuai doktrin dalam Alquran, seorang kiai belum tentu ulama. Sebaliknya ulama tidak harus kiai. MUI Jember khawatir, ide ini akan berdampak pada konflik sosial di tengah masyarakat. (Kumbang Ari/DOR)
Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Fatwa MUI Jember Abdullah Samsul Arifin dalam acara sosialisasi pemahaman ajaran Syiah di Aula Madrasah Aliyah Negeri Jember, Kamis (13/9). Ia berbicara di depan sejumlah pemuka agama dan tokoh masyarakat.
Samsul Arifin menyatakan, sertifikasi terhadap ulama tidak akan efektif jika dalihnya hanya untuk menanggulangi terorisme. Sebab, tidak ada satupun lembaga yang sanggup melakukan sertfikasi formal terhadap ulama. Karena selama ini pengakuan ulama datang dari masyarakat.
Pengakuan masyarakat pada ulama bersifat kultural-karismatik sesuai kepemimpinannya. Tidak dapat dibuat standarisasi formal. Sesuai doktrin dalam Alquran, seorang kiai belum tentu ulama. Sebaliknya ulama tidak harus kiai. MUI Jember khawatir, ide ini akan berdampak pada konflik sosial di tengah masyarakat. (Kumbang Ari/DOR)










