Dalam kitab Syu'abul Iman, Sayyidina Ali bin Abi Tholib Ra. berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, bahwa: الدُّنْيَا حَلَالُهَا حِسَابٌ Dunia ini halalnya adalah hisab وَحَرَامُهَا عِقَابٌ dan haramnya adalah siksa" Artinya; Harta di dunia ini, yang halal saja akan dihisab, apalagi yang haram, jelas hisabnya dan jelas pula siksanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali diperhadapkan pada berbagai macam tantangan² yang memerlukan solusi agar cepat bisa keluar dari zona keterpurukan.
Bagaimana Caranya agar bisa keluar dari zona keterpurukan: Ada tiga M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental (spiritual) yang kuat, dan Misi yang lurus (ikhlas). Tanpa ketiganya, semua cita-cita, niat dan rencana hanya akan berhenti sebagai mimpi. dalam kitab kitab Lathaiful Isyarat jilid 1 halaman 266: حَقُّ التَّقْوَى أَنْ يَكُونَ عَلَى وَفْقِ الْأَمْرِ لَا يَزِيدُ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ وَلَا يَنْقُصُ "Hakikat takwa adalah mengikuti perintah (Allah) tanpa menambah atau mengurangi sesuai dengan hawa nafsu sendiri."
Dan Ini bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tapi apakah tujuan hidup kita sudah benar dalam pandangan Alloh SWT? Karenanya: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ Maka, اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Kejarlah dunia secukupnya dan raihlah ridho Alloh seutuhnya.
Artinya: Dalam hal dunia kita disuruh "Jalan", tapi untuk urusan akhirat Alloh menyuruh kita "Lari" didalam Al-Quran Alloh SWT sudah menginstruksikan hal ini lantaran Ada rahasia "kecepatan" yang selama ini kita abaikan.
Kita sering terbalik untuk kepentingan Dunia yang sudah dijamin وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا (هود: ٦) "Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya"
Tapi kita sering Berlari (menghabiskan waktu) sampai burnout (lelah jiwa, raga, dan tekanan yang berkepanjangan) hingga lupa ibadah. Tapi untuk Allah (urusan akhirat) yang kita berharap mendapatkan ridha-Nya, kita justru jalan santai (tenang masih mudah, masih lama dlsb), menunda-nunda, dan sering telat.
Urusan Sholat: "bersegeralah" فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ "maka bersegeralah kamu mengingat Allah" (QS. Al-Jumu'ah: 9). Allah menggunakan kata فَاسْعَوْا artinya bukan jalan santai, tapi melangkah dengan serius, penuh niat, prioritas tinggi (kesusu, bergegas).
Urusan Rezeki (sandang, pangan, papan): "berjalanlah" فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا "Maka berjalanlah di segala penjurunya..." (QS. Al-Mulk: 15). Allah menggunakan kata فَامْشُوا yang artinya jalan santai. Sebab: Rezeki itu sudah dijamin. Cukup jemput dengan sewajarnya, jangan sampai lari lalu kemudian kehilangan arah.
Alloh SWT mengingatkan kita bahwa: اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُۗ Allah melonggarkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yg dikehendaki وَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ dan Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ padahal kehidupan Dunia dibanding dengan akhirat hanyalah kesenangan sesaat.
Maka Kembalikan Posisinya AKHIRAT (di hati) karena Al-Qur'an mendidik kita agar tidak meletakkan DUNIA di atas segalanya.
Dunia cukup di kaki (dijalani), akhirat harus di hati (dikejar). "Barangsiapa mengejar akhirat, dunia akan datang berlutut di kakinya."
Urusan Allah (Zakat, Qurban, Haji, sedekah dlsbg "Wajib/Sunnah) : "larilah!" فَفِرُّوا إِلَى اللهِ "Maka berlarilah kamu menuju Allah (QS. Adz-Dzariyat: 50).
Kata فَفِرُّوا Ini lari dengan level kecepatan tertinggi. yang berarti lari dengan kecepatan penuh (gass pool) seperti orang yang sedang dikejar bahaya dan mencari perlindungan paling aman.
Urusan Ampunan: "berlombah²lah" وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ "Dan bersegeralah (berlomba-lombalah) menuju ampunan Tuhanmu..." (QS. Ali-Imran: 133).
Kata سَارِعُوا yang berarti bergegaslah dalam berkompetisi artinya Jangan mau kalah sama orang lain dalam urusan tobat dan surga, maka Kecepatannya musti naik lagi.
Alhasil: Dunia memiliki porsi Akhirat adalah hisab yang pasti, karenanya kembalikan seluruh urusan pada posisi yang dikehendaki Alloh SWT., sebagaimana sabdanya Nabi, اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Kejarlah dunia secukupnya dan raihlah ridho Alloh seutuhnya.










