Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Fadhilah Burdah

Keutamaan dan Cara mengamalkan Qasidah Burdah.

Qasidah Burdah sangat mujarab untuk pemenuhan hajat dan berbagai kepentingan.

Salah satu shalawat yang sangat masyhur di Indonesia adalah shalawat atau Qasidah Burdah. Syair yang berisi pujian-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW., pesan moral, nilai spiritual dan semangat perjuangan, yang sering dibaca saat memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Qasidah Burdah juga sering menjadi bacaan rutin di pondok pesantren dan di tengah masyarakat. Qasidah Burdah disusun oleh ulama yang sangat tersohor alim, sufi, dan sangat mencintai Rasulullah SAW., yaitu Imam al-Bushiri.

Kecintaan Imam al-Bushiri kepada Rasulullah saw sangat tampak dalam syair-syair Qasidah Burdah. Di dalamnya tidak hanya menjelaskan bagaimana cara meningkatkan spiritual dan moral, namun juga mengajarkan hakikat cinta yang sebenarnya kepada Rasulullah saw, sekaligus pengakuan bagi umat Nabi Muhammad saw dalam hal tidak punya amalan apapun yang dapat diandalkan tanpa mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Biografi Singkat Penyusun: Imam al-Bushiri bernama lengkap Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Ia lahir di desa Dalas, salah satu desa Bani Yusuf di dataran tinggi Mesir pada 609 H. Al-Bushiri kecil kemudian tumbuh di Bushir, desa asal ayahnya. Nisbat atau sebutan al-Bushiri menunjuk pada desa tersebut. Al-Bushiri wafat pada tahun 696 H, ketika berumur 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil ‘Abbas al-Mursi di kota Iskandaria, Mesir.

Sejak kecil al-Bushiri dididik ilmu Al-Qur’an oleh ayahnya secara langsung. Ia besar dari keluarga yang sangat mencinta ilmu. Tidak heran jika ia kemudian menjadi sosok ulama yang sangat alim. Selain dari ayahnya, al-Bushiri juga mengembara untuk mencari ilmu kepada para guru. Di antara gurunya adalah Syekh Abul ‘Abbas al-Mursi, ulama yang dikenal sebagai wali qutb dan murid kesayangan Imam Abu Hasan as-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah. (‘Ali al-Qari, az-Zibdah fî Syarhil Burdah, [Turki, Hidâyatul ‘Ârifîn: 1991], halaman 13; dan Muhammad Yahya, al-Burdah Syarhan wa I'râban, [Damskus, Dârul Bairuti: 1999], halaman 6). 

Semangatnya dalam mencari ilmu menjadikan al-Bushiri sebagai ulama yang sangat alim sekaligus menjadi sufi dan sastrawan. Bukti dari keluasan ilmunya bisa dilihat dari berbagai karyanya, yaitu al-Hamziyyah, al-Haiyyah, al-Daliyyah, Qasîdahtul Mudhriyyah dan Tahdzîbul Fâdil A’miyyah. Namun yang paling terkenal adalah al-Kawâkibud Duriyyah fî Madhi Khairil Bariyyah yang lebih populer disebut dengan nama Qasidah Burdah.

Kemasyhuran Qasidah Burdah tidak lepas dari peran penulisnya yang sangat ikhlas dan penuh kecintaan disertai harapan syafaat kepada Rasulullah saw, sehingga menjadikan tulisannya sangat dikenal dan selalu menggema di belahan dunia. Bahkan Qasidah Burdah tidak hanya menjadi bahan bacaan, namun juga menjadi salah satu kitab yang banyak disyarahi oleh ulama. Di antara ulama yang mensyarahinya adalah, Syekh Ali al-Qari, Imam al-Baijuri, Syekh Badruddin Muhammad al-Ghazi dan ulama lainnya.

Sejarah Qasidah Burdah: Dalam Muqaddimah Syarhul Burdah karya Imam al-Baijuri diceritakan, penulisan Qasidah Burdah bermula ketika Imam al-Bushiri menderita sakit lumpuh. Ia tidak dapat melakukan apa pun, hanya berdiam tanpa dapat melakukan apa-apa. Akhirnya Imam al-Bushiri mengisi kekosongan waktunya dengan menulis pujian-pujian indah tentang Nabi Muhammmad SAW., dengan harapan agar mendapatkan syafaat darinya, sebagaimana dijelaskan:

رُوِيَ أَنَّهُ أَنْشَأَ هَذِهِ الْقَصِيْدَةَ حِيْنَ أَصَابَهُ فَالِجٌ، فَاسْتَشْفَعَ بِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى. وَلَمَّا نَامَ رَأَى النَّبِي فِي مَنَامِهِ، فَمَسَحَ بِيَدِهِ الْمُبَارَكَةِ بَدَنَهُ فَعُوْفِيَ

Artinya, “Diriwayatkan sesungguhnya Imam al-Bushiri menggubah Qasidah Burdah ini ketika sedang menderita sakit lumpuh, kemudian ia memohon syafaat kepada Allah SWT., dengannya. Lalu ketika tidur, beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW., kemudian Nabi Saw mengusap badan al-Bushiri dengan tangan yang penuh berkah, dan setelah itu al-Bushiri pun sembuh.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, [Mesir, Maktabah ash-Shafa: 2001], halaman 3).

Setelah bangun dari tidurnya dalam kondisi sehat, banyak orang mendatangi rumahnya, dan kemudian berkata: “Wahai Tuanku, saya berharap Engkau bisa memberikan qasidah yang di dalamnya ada pujian kepada Rasulullah.”

“Qasidah mana yang Engkau kehendaki?”, jawab Imam al-Bushiri.

“Qasidah yang diawali dengan syair ‘amin tadzakkuri jirânin”, kata mereka.

Kemudian Imam al-Bushiri memberikannya. Setelah itu, banyak orang mengambil berkah darinya sekaligus menjadikannya sebagai wasilah untuk kesembuhan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Baijuri, bukan berarti memohon keselamatan dan kesehatan dengan lafal-lafal yang ada dalam Qasidah Burdah dan menganggapnya memiliki otoritas untuk menyembuhkan penyakit, namun murni bertawassul kepada Rasulullah saw dengan perantara Qasidah Burdah. Lebih lanjut Imam al-Baijuri menegaskan:

أَصْبَحَ النَّاسُ يَتَبَرَّكُوْنَ بِهَا وَيَسْتَشْفِعُوْنَ بِهَا، عَلَى أَنَّ الْاِسْتِشْفَاءَ بِهَا لَيْسَ اسْتِشْفَاءً بِأَلْفَاظِهَا، وَاِنَّمَا هُوَ اِسْتِشْفَاءً بِرَسُوْلِ اللهِ

Artinya, “Banyak orang mengambil berkah Qasidah Burdah dan memohon syafaat dengannya, berdasarkan prinsip bahwa permohonan syafaat dengannya bukan dengan lafal-lafalnya, akan tetapi hupada hakikatnya adalah memohon syafaat dengan Rasulullah saw.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, halaman 4).

Kelebihan qasidah yang satu ini dibandingkan dengan qasidah lain terletak dari cara penyusunannya. Imam Al-Bushiri tidak hanya menulis pujian-pujian yang ditunjukkan kepada Rasulullah saw dan peningkatan spiritualitas kepada Allah, namun juga menjelaskan kelahiran Rasulullah SAW., mukjizat-mukjizat Al-Qur’an, nasab dan keturunan Rasulullah SAW., mengingatkan manusia dari bahaya hawa nafsu, menceritakan Isra’ Mi’raj, menjelaskan jihad dan peperangan Rasulullah saw, juga menjelaskan tawasul dan permohonan syafaat, kemudian ditutup dengan munajat dan ungkapan perasaan hina di hadapan Allah SWT.

Sholawat Burdah adalah selawat berisi syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW., serta mengandung nilai spiritual, pesan moral dan semangat perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Berikut ini akan dijabarkan bacaan Sholawat Burdah, mulai dari lirik Arab, latin, arti dan keutamaanya.

Bacaan Sholawat Burdah Beserta Artinya Dikutip dari buku berjudul Rahasia Sehat Berkah Shalawat oleh M. Syukron Maksum, Sholawat Burdah ditulis oleh Imam Busyiri.

Imam Busyiri merupakan seorang penyair asal Mesir. Sholawat Burdah tercipta saat Imam Al Bushiri menderita kelumpuhan dan kemudian bertemu dengan Nabi Muhammad di dalam mimpi.

Di Indonesia, Sholawat Burdah dinyanyikan oleh para pelantun selawat terkenal seperti Hadad Alwi, Veve Zulfikar, hingga Sulis.

Simak bacaan Sholawat Burdah lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya berikut ini.

Sholawat Burdah:

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ

(Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat dan keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk)

ِأَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِی سَلَم ِمَزَجْتَ دَمْعََا جَرَی مِنْ مُّقْلَةِِ بِدَم

(Aраkаh kаrеnа teringat tetаnggа уаng tіnggаl di "Dzі Salam". Sehingga engkau сuсurkаn airmata bеrсаmрur dаrаh уаng mеngаlіr dari matamu).

اَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ گاظِمَةِِ ِوَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِی الظَّلمَاءِ مِنْ إِضَم

(Ataukah kаrеnа tiupan angin kеnсаng уаng bеrhеmbuѕ dаrі аrаh "Kаzhіmаh". Atаu kаrеnа sinar kіlаt yang mеmbеlаh kеgеlараn mаlаm dari Gunung "Idhаm")

فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَاهَمَتَا ِوَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِم

(Mengapa saat kau tahan air matamu ia tetap basah? Dan mengapa pula saat kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah?)

ٌأَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِـم ِمَا بَيْنَ مُنْسَجِمِِ مِّنْهُ وَمُضْطَرِم

(Apakah sang kekasih mengira bahwa tersembunyi cintanya. Di antara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora).

لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمعاً عَلٰى طَلَلٍ وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَـمِ

(Jika bukan karena cinta tidak akan kau tangisi puing-puing rumahnya. Dan tidak akan pula kau begadang untuk mengingat pohon Ban dan gunung, dekat rumah orang yang engkau cintai yakni Nabi Muhammad.)

ْفَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَت بِهٖ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ

(Dapatkah engkau pungkiri cintamu, sedang air mata dan derita telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta?)

وَأَثْبَتَ الْوَجد خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنَى ِمِثْلُ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَم

(Kesedihanmu menimbulkan dua garis tangis yang kurus lemah. Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah)

ْنَعَمْ سَرٰى طَيْفُ مَنْ أَهْوى فَأَرَّقَنِي وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ

(Benar! Ia terlintas di dalam mimpiku, hingga aku susah tidur. Cintaku menghalangiku dari berbagai bentuk kenikmatan karena rasa sakit yang ku derita)

ِيَا لَائِمِيْ فِى الْهَوَى الْعُذْرِيِّ مَعْذِرَة مني إليك ولو أنصفت لم تلمِ

(Wahai para pencaci gelora cintaku! Izinkan aku memohon maaf kepadamu. Namun seandainya kau bersikap adil, niscaya engkau tidak akan mencela diriku)

عَدَتْكَ حَالِيَ لَا سِرِّيْ بِمُسْـتَتِرِِ عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِيْ بِمُنْحَسِمِ

(Kini kau tahu keadaanku. Bahkan rahasiaku tidak bisa tertutupi lagi bagi para pemfitnah yang mau merusak cintaku. Sedangkan penyakitku tak juga kunjung sembuh).

مَحَضْتَنِى النُّصْحَ لٰكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهٗ إنّ الْمُحِبِّ عَنِ الْعُذَّالِ فِيْ صَمَمِ

(Begitu tulus nasihatmu, akan tetapi aku tak kan pernah mendengarnya karena telinga sang pecinta tuli bagi para pencaci).

إنِّى اؐتَّهَمْتَ نَصِيْحَ الشَّيْبِ فِيْ عَذَلِيْ وَالشَّيْبُ أبْعَدُ فِيْ نُصْحِِ عَنِ التُّهَمِ

(Akupun menuduh ubanku turut serta mencercaku. Padahal ubanku pastilah tulus dalam memperingatkanku)

Keutamaan Membaca Sholawat Burdah. Membaca Sholawat Burdah diyakini dapat mengingatkan kita pada sosok Nabi Muhammad SAW dan segala perjuangannya, sehingga membuat hati terasa lebih tenang.

Selain itu, terdapat beberapa keutamaan yang bisa didapatkan dari membaca serta mengamalkan selawat ini dalam kehidupan sehari-hari yakni sebagai berikut.

Mujarab sebagai obat dari berbagai macam penyakit, Terhindar dari gangguan setan, jin, santet dan hal-hal gaib lainnya, Meningkatkan keimanan dan rasa cinta kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW., Segala permohonan doa akan terkabul, Sebaiknya dibaca ketika menempati rumah baru agar terbebas dari gangguan jin, Menjadi benteng pelindung bagi rumah, pondok dan desa dari marabahaya, Melindungi tempat yang jarang dihuni dari gangguan jin atau setan pengganggu.


Demikian yang dapat kami sajikan, Semoga bermanfaat.

Syari'at, Thoriqoh, Hakikat dan makrifat

Pada tulisan ini, kita akan membahas apa itu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat. Izinkan kami menggunakan bahasa ala milenial.

Pertama, supaya lebih mudah ngerti kita coba ilustrasikan dulu, Ya. Imam Nawawi Al-Bantani, seorang ulama asal Banten yang menjadi mahaguru ulama-ulama di Nusantara, memberikan analogi dalam Kitab Maraqi Al-Ubudiyyah bi Syarhi Bidayah Al-Hidayah sebagai berikut:

“Sebagian ulama memberikan permisalan bahwa syariah itu ibarat perahu, thoriqah ibarat lautan, dan hakikat Ibarat mutiara. Seseorang tidak akan mendapat mutiara kecuali dari lautan dan tidak bisa mengarungi lautan tanpa perahu”.

“Sebagian ulama memberikan permisalan dari ketiganya ibarat kelapa. Syariat itu ibarat kulit luarnya. Thoriqah itu ibarat daging buah kelapa. Hakikat itu ibarat minyak yang ada dalam daging buah”

Analogi tersebut juga ada dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhaju Al-Ashfiya’ Karya Sayyid Bakri bin Muhammad Syatho Al-Dimyati. Perahu itu sebagai sebab untuk mencapai tujuan, dan penyelamat dari tenggelam. Lautan itu tempat tujuan (mutiara) tersebut berada. Sehingga, mutiara enggak akan bisa ditemukan kecuali di dasar lautan dan enggak akan bisa mengarungi lautan tanpa perahu.

Gimana sudah faham analoginya? Oke, kita lanjut ke pengertian dan korelasi dari syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Menurut Syeikh Ahmad bin Ajibah dalam Mi’raju At-Tasyawwuf Ila Haqaiq At-Tasawwuf, syariat adalah pembebanan pada aspek-aspek dzahir. Tarekat adalah memperbaiki aspek-aspek batin untuk mempersiapkan terbitnya cahaya- cahaya hakikat. Hakikat adalah penyaksian (musyahadah) terhadap Al-Haq di dalam manifestasi (tajalli-tajalli) yang dzahir. Syariat itu untuk memperbaiki aspek dzahir. Tarekat itu untuk memperbaiki aspek batin. Hakikat itu menghiasi ruh (sarair).

Kayaknya tambah mumet aja, Nih. Ya sudah, kongkritnya begini, kalian beribadah melakukan yang wajib, dan sunnah, dan meninggalkan yang makruh dan haram. Itu semua adalah ranah syariat (pada aspek dzahir). Lalu, kalian masuk thoriqah mengamalkan wirid dan suluk untuk penyucian jiwa (nafs) dengan bimbingan guru mursyid. Itu adalah thoriqah. Jika Allah memberikan anugrah maka kalian akan mendapat cahaya-cahaya hakikat, berupa penyingkapan (mukasyafah) dan penyaksian (musyahadah) Al-Haq.

Gimana udah agak ngerti? Oke kita lanjut. Untuk ngebahas makrifat, mari kita simak penjelasan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dalam Kitab Sirru Al-Asrar. Makrifat adalah ilmu batin. Makrifat dapat terwujud setelah hilangya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati (qalbu) dan terus berupaya membersihkannya hingga dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam (kanzu al-makhfiyy) di dalam sir-lub-qolbu (Banyak istilah-istilah yang susah dimengerti ya? Jangan khawatir insyaAllah kita akan bahas di tulisan tersendiri untuk pembahasan qolbu, lub, dan sir).

Sebagai penutup, masih dalam Sirru Al-Asrar bahwa manusia itu terdiri dari dua bagian, jasmani (bagian umum) dan ruhani (bagian khusus). Jasmani manusia bisa kembali ke tempat asalnya jika ia mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, dan ma’rifat. Ruhani bisa kembali ke tempat asalnya sebab mengamalkan ilmu hakikat.

Semoga kita semua menjadi bagian hamba-hamba Allah yang mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat.


Wallahu a’lam

Saat Rosulullah dalam kandungan hingga kelahirannya

Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami (909-974 H) dalam kitab Ni’matul Kubro halaman-19 menceritakan bahwa: Saat Rasulullah masih dalam kandungan ibundanya, Tepatnya di Usia kandungan menginjak satu bulan yakni pada Bulan Rojab Al-Ashom, suatu malam di saat sayidah aminah terlelap tidur, tiba-tiba datang kepadanya seorang laki-laki yang indah wajahnya, semerbak harum baunya dan diliputi cahaya yang berkemilauan. Lelaki itu berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad SAW. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aminah lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Adam AS., bapaknya seluruh umat manusia”. Lalu Nabi adam memberi kabar gembira dengan mengatakan: berbahagialah engkau ya aminah. Sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung Junjungan seluruh umat manusia.

Pada bulan kedua dikandung, yaitu Sya'ban bermimpi didatangi oleh Nabi Idris, (dalam keterangan lain Nabi Syit).

Pada bulan ketiga dalam kandungan, yaitu Romadhon, bermimpi didatangi oleh Nabi Nuh.

Pada bulan keempat, yaitu Syawwal, bermimpi didatangi oleh Nabi Ibrohim.

Pada bulan kelima, yaitu Dzul-Qo'dah, bermimpi didatangi oleh Nabi Ismail.

Pada bulan keenam, yaitu Dzul-Hijjah, bermimpi didatangi oleh Nabi Musa.

Pada bulan ketujuh, yaitu bulan Muharrom, beliau bermimpi didatangi oleh Nabi Dawud.

Pada bulan kedelapan, yaitu bulan Shofar, bermimpi didatangi oleh Nabi Sulaiman.

Dan pada bulan kesembilan Rosululloh dikandung, yaitu bulan Robi'ul Awwal, Sayyidah Aminah bermimpi didatangi oleh Nabi Isa putra Maryam.

Semua memberikan kabar dengan gembira mengucapkan selamat kepada Sayidah Aminah karena akan lahir dari rahim beliau sosok nabi akhir zaman yang agung dan mulia sebagai rahmatan bagi seluruh alam.

Seluruh Nabi yang datang juga berpesan agar bayi yang dikandung bila lahir nanti agar diberi nama Muhammad.

Beberapa hari sebelum Rasulallah dilahirkan yakni pada malam tanggal 1 bulan robiul awal Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga Beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah SWT.

Pada malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya ”Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT”.

Pada malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.

Pada malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim AS Khalilullah.

Pada malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah SAW memenuhi segala penjuru alam semesta.

Pada malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.

Pada malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan ”Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah SWT Pencipta alam semesta..”

Pada malam tanggal 9 Allah SWT semakin mengucurkan limpahan Belas Kasih Sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Thoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Pada malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Pada malam 12 Bulan Rabi’ul Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayyid Abdul Muthalib sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah, dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah, tanpa ada seorangpun yang menemaninya, tiba-tiba Beliau Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun dan cantik yang diliputi cahaya yang memancar berkemilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan.

Perempuan mulia tersebut adalah sayidah Hawa duduk di sebelah kanan beliau, sayidah Sarah duduk di sebelah kiri beliau, sayidah Asiyah binti muzahim duduk dibagian belakang dan sayidah Maryam ibunda Nabi Isya AS., Maka, keempat wanita suci mulia dan agung di sisi Allah SWT tersebut kemudian merapat dan mengelilingi Ibunda Rasulullah Muhammad SAW., Sayyidah Aminah Binti Wahab, sehingga Ibunda Rasulullah SAW semakin merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasulullah SAW saat itu, tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Dengan penuh rasa syukurnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, abu Tholib yang ketika itu mendengar bahwa cucunya telah lahir ke dunia, maka kemudian abu Tholib segera mendatangi Aminah untuk menggendong dan membawanya berkeliling di Ka'bah dan kemudian memerintahkan kepada seluruh anak buahnya untuk memotong beberapa unta dan kambing untuk pesta merayakan syukuran atas kelahiran cucu kebanggaannya.

Lantas Siapakah orang pertama kali yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW? Orang yang pertama kali mengadakan seremonial maulid nabi adalah seorang penguasa Irbil, yaitu Raja Muzhaffar Abu Said Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Dia juga memiliki rekam jejak yang bagus. Dan, dia lah orang yang meneruskan pembangunan Masjid al-Muzhaffari di kaki gunung Qasiyun, seorang pengusaha sukses yang begitu cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Ukuran dan Hukum dalam istilah Fiqih

ISTILAH UKURAN DALAM FIQH


Satu QIROTH menurut imam Tsalasah 0,215 Gr

Satu DIRHAM menurut imam Tsalasah 2,715 Gr

Satu MITSKOL menurut imam Tsalasah 3,879 Gr

Satu DANIQ menurut imam Tsalasah 0,430 Gr

Satu DZIRO’ Al-Mu’tadil menurut Aktsarin-Nas 48 Cm

Menurut Al Makmun 41,666625 Cm

Menurut An-Nawawi 44,720 Cm

Menurut Ar-Rofi’i 44,820 Cm

Satu MUD Menurut Imam Tsalatsah 9,22 Cm (P x L x T ) = 0,766 Ltr

Satu SHO Menurut Imam Tsalatsah 14,65 Cm (P x L x T ) = 3,145 Ltr

Satu WASAQ Menurut Imam Tsalatsah 57,32 Cm (P x L x T ) = 188,712 Ltr

Satu SHO’ Gandum (Hinthoh) Menurut Imam An-Nawawi 1.862,18 Gr

Satu MUD Gandum (Hinthoh) Menurut Imam An-Nawawi 456,54 Grm

Satu SHO’ Beras putih 2.719,19 Grm

Satu Mud Beras putih 679,79Grm

Air DUA KULAH menurut An-Nawawi 55,9 Cm ( P x L x T ) = 174,580 Ltr

Menurut Ar-Rofi’iy 56,1 Cm (P x L x T ) = 176,245 Ltr

Menurut Ahli Iraq 63,4 Cm (P x L x T ) = 245,325 Ltr

Menurut Aksarin-Nas 60 Cm (P x L x T ) = 187,385 Ltr

Zakat Fitrah adalah satu SHO’ 2.719,19 Grm = 2,71919 Kg

Jarak Qosor Sholat menurut:

Kitab Tanwirul Qulub 80,640 Km

Al-Ma`Mun 89,999992 Km

Ahmad Husain 94,500 Km

Aksarul Fuqha 119,99988 Km

Hanafiyyah 96 km

Kitab Fiqh al-Islâmy 88, 74 km

Versi Imam Ahmad Husain al-Mishry 94, 5 km

Mîl al-Hâsyimy:

Versi Imam Makmûn 1, 666665 km

Versi Imam Ahmad Husain al-Mishry 1, 76041 km

Versi Mayoritas ulama’ 2, 4999975 km

Farsakh:

Versi Imam Makmûn 4, 99995 km

Versi Imam Ahmad Husain al-Mishry 5, 28125 km

Versi Mayoritas ulama’ 7, 4999925 km

RITL BAGDAD menurut:

An-Nawawi 349,16 Grm

Ar-Rofi’i 353,49 Grm

NISHOB SARIQOH emas menurut Imam Tsalasah 0,97 Grm

Satu UQIYAH 12 Dirham

Satu DIRHAM 2 Gram


DAFTAR NISOB DAN ZAKAT HARTA ZAKAWIY


Perak 543,35Gr 1/40=13,584Gr 2,5% Dikeluarkan setelah 1 thn

Tambang Perak 543,35Gr 1/40=13,584Gr 2,5% Dikeluarkan seketika

Rikaz Perak 543,35Gr 1/5=108,67Gr 20% Dikeluarkan seketika

Harta dagang dgn modal perak 543,35Gr 1/40 =13,584 Gr 2,5% Ditaksir dengan perak dan dikeluarkan setelah 1 thn

Emas 77,58Gr 1/40 =1,9395 Gr 2,5% Dikeluarkan setelah 1 thn

Tambang Emas 77,58Gr 1/40 =1,9395 Gr 2,5% Dikeluarkan seketika

Rikaz Emas 77,58Gr 1/5=15,516Gr 20% Dikeluarkan seketika

Harta dagang dgn modal emas 77,58Gr 1/40 =1,9395 Gr 2,5% Ditaksir dgn emas dan dikeluarkan setelah 1 thn

9 Gabah 1.323,132Kg 1/10=132,3132Kg 10% Tanpa biaya pengairan. 1.323,132Kg 1/20=66,1566Kg 5% Dgn biaya pengairan.


Padi gagang 1.31,516 Kg 1/10=163,1516Kg 10% Tanpa biaya pengairan. 1.31,516 Kg 1/20=81,5758Kg 5% Dgn biaya pengairan.

Beras 815,758 Kg 1/10=81,5758Kg 10% Tanpa biaya pengairan. 815,758 Kg 1/20=40,7879Kg 5% Dgn biaya pengairan.

Gandum 558,654 Kg 1/10=55,8654Kg 10% Tanpa biaya pengairan. 558,654 Kg 1/20=27,9327Kg 5% Dgn biaya pengairan.

Kacang tunggak 756,697 Kg 1/10=75,6697Kg 10% Tanpa biaya pengairan. 756,697 Kg 1/20=37,83485Kg 5% Dgn biaya pengairan.

Kacang Hijau 780,036Kg 1/10=78,0036Kg 10% Tanpa biaya pengairan. 780,036Kg 1/20=39,0018Kg 5% Dgn biaya pengairan.

Jagung kuning 720 Kg 1/10=72 Kg 10% Tanpa biaya pengairan. 720 Kg 1/20=36 Kg 5% Dgn biaya pengairan.

Jagung Putih 714 Kg 1/10=71,4 Kg 10% Tanpa biaya pengairan. 714 Kg 1/20=35,7Kg 5% Dgn biaya pengairan.


KETERANGAN :

Perhitungan awal tahun pd zakat hewan ternak dimulai dari memilikinya dlm jumlah 1 nishob, begitu juga pada emas & perak. Sedangkan utk barang dagang maka:

Bila modal dagang diambilkan dari emas/perak yg sudah genap 1 nishob baik dipakai semua atau tdk, maka penghitungan tahun dimulai dari pemilikan emas/perak


Bila modal dagang berasal dari selain emas/perak yg telah mencapai 1 nishob, maka penghitungan tahun dimulai dari permulaan berdagang.


Daftar nishob dan ukuran di atas dikutif dari kitab “FATHIL-QODIR” susunan Syaikh Ma’sum bin Ali Quwaron, Jombang.

Yang dimaksud dgn Imam Tsalatsah di atas adalah Imam Maliki, Imam Syafi’I dan Imam Hambali.

Nishob emas pada daftar di atas adalah nishob emas murni (emas dgn kadar 100%). Sedangkan utk mencari nishob emas yg tdk murni (emas dgn kadar kurang dari 100%) yaitu dgn cara: Nishob emas murni (77,58) dibagi kadar emas yg tdk murni kemudian hasilnya dikalikan dgn kadar emas murni (100)

Contoh :


Untuk pencarian Nishob emas dgn kadar 90%:


Nishob = 77,58 : 90 x 100 = 86,2 Gr


Zakat yg harus dikeluarkan – 2,5% (1/40) = 2,155 Gr


2,0% (1/50) = 17,24 Gr

Untuk pencarian Nishob emas dgn kadar 75%:


Nishob = 77,58 : 75 x 100 = 103,44 Gr


Zakat yg harus dikeluarkan – 2,5% (1/40) = 2,586 Gr


2,0% (1/50) = 20,688 Gr

Nishob dan ukuran utk jenis biji-bijian dengan menggunakan berat/gram sebagai mana daftardi atas adalah hanya pendekatan saja. Sebeb ukuran yang asal menurut Syara’ adalah dengan menggunakan Sho’ / Wasaq yang ada pada jaman Rasululloh SAW, maka dihimbau kepada kaum muslimin apabila ada perbedaan pendapat dalam menentukan berat kadar nishob, agar mengambil kadar yang ukurannya telah diyakini tidak kurang dari kadar yang telah ditentukan Syara’. ( Fathul Wahhab 1/114 dan S. Taufiq : 41).

Sholawat Tarhim sebelum Adzan

 Sholawat Tarhim:


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu, duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah.

 

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu, duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik.


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ

۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ

Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu, Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah, Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu, Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi, Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur.


وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ

 وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞

يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞

صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞

Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam, Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemulianmu, dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu, Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah, Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluarg

amu dan sahabatmu.