BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakan
Secara sederhana sosiologi dipahami sebagai suatu disiplin
ilmu tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan,serta berbagai
gejala sosial yang saling berhubungan. Dalam sejarah perkembangannya, sosiologi
termasuk dalam disiplin ilmu yang masih muda usianya (dalam perspektif barat).
Berawal dari Ibn Khaldun, dengan konsep pemikirannya yang
sudah menjurus kepada pemahaman terhadap gejala sosial yang berkembang di
daerah arab dan beberapa daerah lain sekitarnya, menyusul kemudian Comte dengan
objek pengamatan yang sama (yaitu;masyarakat), dan diteliti dengan metode
ilmiah. Akhirnya di tangan Comte lahir suatu cabang ilmu yang diperkenalkannya
dengan nama”sosiologi”.[1]
Berkaitan dengan studi keislaman dan keberadaan masyarakat
muslim saat ini, maka dalam makalah ini nantinya akan diuraikan sosiologi
sebagai sebuah pendekatan dapat dijadikan sarana dan alat yang dapat membawa
studi-studi keislaman kepada pengkajian yang lebih dinamis terhadap
gejala-gejala yang terjadi dalam masyarakat.
Kajian terhadap bidang keilmuan tidak dapat meninggalkan
Pendekatan serta Metodologi, kedua hal tersebut acapkali disebut lebih penting
dari materi keilmuan itu sendiri. Sehingga tidak berlebihan jika Atho Mudzhar
menyatakan bahwa Pendekatan dan Metodologi sangat penting untuk mengetahui
derajat keilmuan yang dihasilkan dari sebuah studi tanpa terkecuali dalam studi
Islam.[2]
Mempelajari bagaimana Islam semestinya dikaji merupakan hal yang penting agar
pemahamaan tentang Islam tidak berhenti pada aspek normatif-dogmatif, tetapi
juga bagaimana ajaran-ajaran normatif dalam Islam dapat hidup di tengah-tengah
kehidupan masyarakat dan mempengaruhi kehidupan masyarakat atau biasa disebut
sebagai kajian Islam sosiologis.
Melihat dari pentingnya kajian Islam Sosiologis, dalam
tulisan ini ingin menjawab tentang bagaimana Islam sebagai agama dapat dikaji
dengan perangkat ilmu sosial (baca: sosiologi)? Serta bagaimana bentuk-bentuk
studi Islam dengan pendekatan sosiologi? Dan bagaimana fungsi teori dalam
penelitian sosial?Guna menjawab kesemua pertanyaan tersebut, terlebih dahulu
dijelaskan pengertian sosiologi sebagai ilmu, serta menjelaskan agama
sebagai budaya dan gejala sosial, dan perdebatan terkait kedudukan ilmu sosial
dalam kerangka keilmuan.
B.
Rumusan
Masalah
Dari kajian latar belakang masalah diatas penulis dapat merumuskan
masalah masalah yang erat kaitanya dengan :
1.
Apa
yang dimaksud dengan ilmu sosiologi ?
2.
Bagaimana
bentuk study Islam terhadap pendekatan Sosiologi ?
3.
Dan bagaimana fungsi teori social ?
C.
Tujuan
Pembahasan
Penulis dalam pembuatan Makalah ini tentu mempuanyai maksud dan
tujuan terkait isi makalah :
1.
Mengetahui
makna sesungguhnya apa itu sosiologi
2.
Mengetahui
bentuk bentuk pendekatan Sosiologis
3.
Mengetahui
dan membedakan teori dengan manfaat
mempelajari Ilmu sosiologi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN PENDEKATAN SOSIOLOGI
Secara
etimologi, kata sosiologi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata
Socius yang berarti teman dan Logos yang berarti berkata atau teman bicara.Jadi
sosiologi artinya berbicara tentang manusia yang berteman atau bermasyarakat.[3]
Sedangkan
secara terminologi sosiologi mengandung pengertian-pengertian sebagai berikut :
1.
Sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang luas
dan mencakup berbagai hal, dan ada banyak jenis sosiologi yang mempelejari
sesuatu yang berbeda dengan tujuan yang berbeda-beda pula.[4]
2.
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan,yakni hubungan antara manusia dengan
manusia,manusia dengan kelompok,kelompok dengan kelompok,baik formil maupun non
formil,baik statis maupun dinamis.[5]
Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan
memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat,
dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang
dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.
Sedangkan
istilah
“Pendekatan” merupakan kata terjemahan dari bahasa inggris, approach. Jadi
Maksudnya Pendekatan Sosiologi adalah sesuatu disiplin ilmu untuk dijadikan
landasan kajian sebuah studi atau penelitian menggunakan logika-logika dan
teori dalam masyarakat untuk menggambarkan fenomena sosial.[6]
Masih
banyak lagi defenesi-defenisi yang dikemukakan oleh berbagai tokoh
sosiologi,namun dapat dilihat dari setiap defenisi itu secara garis besar
terdapat persamaan dan keselarasan antara satu dengan lainnya,jadi
pengertian-pengertian yang dikemukakan dalam makalah ini, kiranya sudah dapat
mewakili dari berbagai defenisi lainnya.
B.
TEORI
PENDEKATAN SOSIOLOGI
Dalam pendekatan sosiologi setidaknya ada empat jenis teori pendekatan
sosiologi yang dipergunakan dalam mengkaji, yaitu :[7]
1. Teori Evolusionisme
Yaitu mencari pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam pola
masyarakat yang berbeda.
Contoh : paham wahabi di Indonesia. Bagaimana dapat
berkembang sama seperti paham wahabi di damaskus, Timur Tengah. Apakah pengaruh
proses globalisasi akan sama mempengaruhi keluarga muslim dinegara berkembang
sama seperti yang ditemui di barat.
2. Teori Intraksionisme
Yaitu memusatkan perhatian pada interaksi antara individu dan kelompok.
Interaksi ini terjadi bisa dengan menggunakan simbol-simbol masyarakat.
Contoh : Bulan-Bintang merupakan simbol bagi ummat muslim, begitu juga dengan
adanya masjid (tempat ibadah), masjid menjadi simbol bahwa masyarakat setempat
adalah pemeluk islam. Adzan digunakan sebagai isyarat bagi kaum muslim untuk
menunaikan ibadah.
3. Teori Fungsionalisme
Masyarakat dipandang sebagai suatu jaringan kerja sama satu kelompok yang
saling membutuhkan satu sama lain dalam suatu sistem yang harmonis. Salah satu
prinsip teori fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi
akan lenyap dengan sendirinya.
Contoh : hakim berperan dan berfungsi sebagai penegak keadilan. Ulama berperan
sebagai orang yang diikuti ijtihadnya.
4. Teori Konflik
Teori konflik yakni teori
yang kepercayaan bahwa setiap masyarakat mempunyai kepentingan (interst) dan
kekuasaan (power) yang merupakan pusat dari segala hubungan sosial.
Contoh : nilai dan gagasan-gagasan selalu dipergunakan sebagai senjata untuk
melegitimasi kekuasaan.
C. AGAMA
SEBAGAI FENOMENA SOSIOLOGI
Penjelasan yang bagaimanapun tentang agama, tidak akan pernah tuntas tanpa
menyertakan aspek sosiologisnya. Agama yang menyakut kepercayaan serta berbagai
prakteknya, benar-benar merupakan masalah sosial dan sampai saat ini senantiasa
ditemukan dalam setiap masyarakat manusia di mana kita memiliki catatan,
termasuk yang biasa diketengahkan dan ditafsirkan oleh ahli arkeologi.
Dalam masyarakat yang sudah mapan agama merupakan salah satu struktur
institusional penting yang melengkapi kesluruhan sistem sosial, akan tetapi
masalah agama berbeda dengan masalah hukum, yang lazim menyangkut alokasi serta
pengendalian kekuasaan. Berbeda dengan lembaga ekonomi yang berkaitan dengan
kerja, produksi dan pertukaran dan juga berbeda dengan lembaga keluarga yang
mengatur serta memolakan hubungan antar jenis kelamin, agar generasi yang diantaranya
berkaitan dengan pertalian keturunan serta kekerabatan.
Thomas F. Odea mengatakan “masalah inti dari agama tampaknya menyangkut
sesuatu yang masih kabur serta tidak dapat diraba, yang realitas empirisnya
sama sekali belum jelas, ia menyangkut dunia luar. Hubungan manusia dan
sikapnya terhadao dunia luar itu dan dengan apa yang dianggap manusia sebagai
implikasi praktis dari dunia luar tersebut terhadap kehidupan manusia”.[8]
Perbandingan aktivitas agama dengan aktivitas lain, atau perbandingan lembaga
keagamaan dengan lembaga sosial lain, menujukkan bahwa agama dalam pautannya
dengan masalah yang tidak dapat diraba tersebut merupakan sesuatu yang tidak
penting, sesuatu yang sepele dibandingkan dengan masalah pokok manusia.
Namun kenyataan menunjuk lain, sebenarnya lembaga keagamaan adalah
menyangkut hal yang penting tertentu, menyangkut masalah aspek kehidupan
manusia, yang dapat transedensinya mencakup sesuatu yang mempunyai arti penting
dan menonjol bagi manusia. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa lembaga-lembaga
keagamaan merupakan bentuk assosiasi manusia yang paling mungkin untuk terus
bertahan.
Disamping itu, agama telah diceritakan sebagai pemersatu aspirasi manusia
yang paling sublim, sebagai sejumlah sumber moralitas, sumber tatanan
masyarakat dan perdamaian batin individu sebagai sesutau memuliakan dan membuat
manusia beradab. Tetapi agama juga dituduh sebagai penghambat kemajuan manusia
dan mempertinggi fanatisme dan mempertinggi toleran, pengacuhan, pengabaian,
takhyul dan kesia-siaan.
Catatan sejarah yang ada menunjuk agama sebagai salah penghambat tatanan
sosial yang telah mapan. Tetapi agama juga memperlihatkan kemampuannya
melahirkan kecenderungan yang sangat revolusioner, seperti peristiwa
pemberontakan petani, pada abad ke-16 di Jerman. Emile Durkheim seorang pelopor
sosiologi agama di Prancis mengatakan bahwa agama merupakan sumber semua
kebudayaan yang sangat tinggi. Sedangkan Marx mengatakan bahwa agama adalah
candu bagi manusia.[9]
D.
SIGNIFIKASI DAN KONTRIBUSI
PENDEKATAN SOSIOLOGI DALAM STUDY ISLAM
Pentingnya pendekatan sosiologis dalam memahami agama dapat difahami karena
banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya
perhatian agama terhadap masalah sosial ini, selanjutnya mendorong kaum agama
memahami ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya. Jalaluddin Rahmat
telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini adalah
Islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut :[10]
1.
Dalam Alquran atau hadist, proporsi
terbesar kedua sember hukum Islam tersebut berkenaan dengan urusan mua’amalah.
Menurut Ayatullah Khomeini perbandingan antara ayat ibadah dengan ayat
kehidupan sosial adalah 1:100.
2. Bahwa
ditekankannya masalah mu’amalah atau sosial dalam masalah Islam adalah adanya
kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan mu’amalah
yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan.
3. Bahwa ibadah
yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah
yang bersifat perseorangan, karena itu shalat yang dilakukan berjama’ah adalah
lebih tinggi nilainya dari pada shalat yang dikerjakan sendirian.
4. Dalam Islam
terdapat ketentua bila urusan ibadah tidak dilakukan dengan sempurna, maka
kifaratnya ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
5. Dalam Islam
terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemaysarakatan mendapat amalan
lebih besar dari pada ibadah sunnah.
Maka melalui pendekatan sosiologi agama akan dapat
dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan
sosial.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pentingnya pendekatan
sosiologi dalam memahami agama dapat dipahami karena banyak ajaran agama yang
berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah
sosial ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat
untuk memahami agamanya. Dalam bukunya yang berjudul Islam Alternatif,
Jalaludin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama, dalam hal
ini islam, terhadap masalah sosial, dengan mengajukkan Empat alasan berikut :
Pertama, dalam Al-Quran atau kitab-kitab hadis proporsi terbesar kedua sumber
hukum islam itu berkenaan urusan muamalah. Menurut Aytul Khumaini dalam bukunya
Al-hukumah Al-islamiyah yang dikutip Jalaludin Rahmat yang mengungkapkan bahwa
perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan
sosial adalah suatu perbandingan seratus untuk satu ayat ibadah, dan seratus
muamalah (masalah sosial).
Kedua, ibadah yang mengandung segi masyarakat diberi ganjaran lebih besar
daripada ibadah yang bersifat perorangan. Oleh karena itu shalat yang dilakukan
salat berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya dari pada shalat sendirian
(munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.
Ketiga, dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak
sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, kifaratnya
(kifaratnya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
Bila puasa tidak mampu dilakukan misalnya, jalan keluarnya dengan jalan
membayar fidyah dalam bentuk memberi makan bagi orang miskin. Bila suami istri
bercampur di siang hari pada bulan ramadhan atau ketika istri dalam keadaan
haid, tebusannya adalah dinyatakan bahwa salah satu orang yang diterima
shalatnya ialah orang yang menyantuni orang miskin, anak yatim, janda, dan yang
mendapat musibah.
Keempat, Melalui pendekatan sosiologis, agama dapat dipahami dengan mudah karena
agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Al-Quran misalnya,
kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia lainnya, sebab-sebab yang
menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa, dan sebab-sebab yang
menyebabkan kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang
memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan
[2] Middleton (research on religion) dan (religious
research). (agama sebagai gejala sosial). Lihat Atho Mudzhar, Studi
Hukum…, hlm. 35-36
[3] Abdul Syani,Sosiologi dan perubahan
Masyarakat (Lampung:Pustaka Jaya,1995),h,2
[4] Stepen.K.Sanderson,Terj,Hotman M.Siahaan,Sosiologi
Makro (Jakarta:Raja Grapindo Persada 1995),h.2












