Saat ini kita menyaksikan ketidakteraturan di berbagai lini kehidupan; Krisis ekonomi, ketimpangan sosial, hingga hilangnya adab. Lantas kitapun bertanya: "Sesungguhnya Apa yang salah dengan tatanan dunia kita?"
Fenomena hari ini menunjukkan adanya pergeseran nilai. Banyak orang merasa nyaman karena dunia bisa diatur dengan teknologi, modal finansial. Namun, sebagai orang yang beriman, kita meyakini adanya tatanan spiritual dan sosial yang bersifat tawazun (seimbang). Bahwa sebagus apapun zaman dan teknologinya, hukum Allah jelas: jika Baik ya Halal jika Buruk ya Harom, maka jangan tinggalkan yang Wajib-Ain untuk mengejar yang sunnah. (Gus baha).
Bahwa Dunia ini tetap akan eksis, dan barokah bukan karena kecanggihan teknologi dan kekuatan finansial, namun lebih pada karena keberadaan empat golongan manusia yang menjalankan fungsinya. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW.: قِوَامُ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءِ. أَوَّلُهَا بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ وَالثَّانِي بِعَدْلِ الْأُمَرَاءِ وَالثَّالِثُ بِسَخَاوَةِ الْأَغْنِيَاءِ وَالرَّابِعُ بِدَعْوَةِ الْفُقَرَاءِ "tegaknya dunia karena Empat pilar, yaitu: Ilmunya ulama, Adilnya para pemimpin, Kedermawanan orang² kaya dan Do'a-nya orang² miskin"
Jika salah satu dari empat pilar ini rapuh, maka kehidupan akan pincang. Jika semua pilar runtuh, maka kehancuran akan semakin meluas.
Berikut yang bisa kami rincikan:
Pilar Pertama: أَوَّلُهَا بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ Ilmunya Ulama Ulama adalah pelita umat. Tanpa ilmu, manusia mudah tersesat meskipun niatnya baik. Allah SWT., berfirman: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ (سورة المجادلة: ١١) “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ilmu ulama bukan untuk kebanggaan pribadi, tetapi untuk membimbing umat, meluruskan yang menyimpang, menenangkan yang gelisah, dan menghidupkan hati yang mati. Rasulullah SAW., bersabda: اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” Jika ulama diam dari kebenaran, enggan mengingatkan keluarganya, para pemimpin atau ilmunya tidak diamalkan, maka masyarakat akan dis orientasi, kehilangan arah.
Pilar Kedua: وَالثَّانِي بِعَدْلِ الْأُمَرَاءِ Adilnya Pemimpin. Pemimpin yang adil adalah nikmat besar dari Allah. Dengan keadilan, keamanan terjaga, hak terlindungi, dan rakyat merasa tentram.
Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَىٰ مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ “Sesungguhnya orang-orang yang adil kelak di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya.” Adil bukan berarti menyenangkan semua pihak, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya, meskipun berat dan berisiko. Keadilan pemimpin mampu menahan murka Allah, sedangkan kezaliman pemimpin dapat mendatangkan azab yang meluas.
Pilar Ketiga: وَالثَّالِثُ بِسَخَاوَةِ الْأَغْنِيَاءِ Kedermawanan Orang Kaya. Harta bukanlah milik mutlak manusia, tetapi titipan Allah. Orang kaya diuji dengan bagaimana hartanya dibelanjakan.
Allah SWT., berfirman: خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا (سورة التوبة: ١٠٣) "Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka"
Kedermawanan orang kaya: mengurangi kesenjangan sosial, menguatkan ukhuwah, mendatangkan keberkahan harta. Rasulullah SAW., bersabda: مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ "Harta tidak akan berkurang karena sedekah" Nabi SAW., bersabda: إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ "Sungguh semua umatku akan didatangi cobaan dan fitnah dan di antara fitnah bagi umatku adalah hartanya" (HR. Imam Bukhari).
Pilar Keempat: وَالرَّابِعُ بِدَعْوَةِ الْفُقَرَاءِ Do'a-nya Orang Miskin Sering diremehkan, padahal do'a orang miskin adalah senjata yang dahsyat. Mereka yang tidak memiliki apa-apa di dunia, seringkali memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT.
Rasulullah SAW., bersabda: هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ "Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki karena orang² lemah di antara kalian?"
Pengemis jalanan adalah orang mampu dan kuat yang hanya malas bekerja, padahal di balik itu juga mereka kaya. Rasulullah SAW., bersabda: لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا "Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak” (HR. Bukhari no. 1476).
Do'a orang miskin tidak ada hijab antara dia dan Allah. Nabi SAW., bersabda: إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ "Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang² lemah (miskin) mereka di antara mereka, yaitu dengan Do'a, Shalat, dan Keikhlasan mereka” (HR. An Nasai no. 3178.
Karenanya Empat pilar ini harus berjalan bersama. Ilmu tanpa keadilan akan kering. Kekuasaan tanpa kedermawanan akan zalim. Kekayaan tanpa kepedulian akan membawa murka. Dan masyarakat yang meremehkan orang miskin akan kehilangan keberkahan.
Setiap kita memiliki peran penting dalam menegakkan pilar kehidupan di dunia ini sesuai posisi dan porsinya masing-masing, karenanya kita musti segera sadar bahwa, وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ dan setiap hamba dalam hidupnya di dunia tidak luput dari pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya. Mulai dari aktivitasnya, kegiatannya, pekerjaannya, pergaulannya, termasuk anggota badannya terhadap apa yang mereka perbuat. Rosululloh Muhammad SAW, bersabda: لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ) "Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat kelak hingga ia ditanya mengenai empat perkara: (1) Umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) Jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) Ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) Hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan" (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).
Pertama yang akan dipertanggungjawabkan pada hari kiamat kelak adalah umur kita عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ Sejak kita menginjak usia baligh, seluruh apa yang kita yakini, kita ucapkan dan kita perbuat, akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Jika kita telah melakukan seluruh kewajiban dan menjauhkan diri kita dari semua yang diharamkan, maka kita akan selamat dan bahagia. Sebaliknya, jika tidak, maka kita akan binasa dan merana.
Kedua, kita akan ditanya mengenai jasad kita وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ Jika seluruh anggota badan kita gunakan untuk berbuat ketaatan kepada Allah, maka kita akan senang dan beruntung. Sebaliknya, jika kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita akan rugi dan buntung.
Ketiga, kita akan ditanya mengenai ilmu kita وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ Kita akan ditanya, apakah kita telah mempelajari bagian ilmu agama yang fardlu ain untuk kita pelajari atau tidak. Dan jika kita telah mempelajarinya, apakah sudah kita amalkan ataukah tidak. Ilmu agama yang hukum mempelajarinya fardlu ain adalah seperti dasar-dasar ilmu syari'at (aqidah, fiqih "hukum dasar terkait bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, maksiat-maksiat anggota badan dan lain sebagainya). Dalam sebuah hadits diriwayatkan: وَيْلٌ لِمَنْ لَا يَعْلَمُ“Sungguh sangat celaka orang yang tidak belajar (ilmu agama yang fardlu ain), وَوَيْلٌ لِمَنْ عَلِمَ ثُمَّ لَا يَعْمَلُ dan sungguh sangat celaka orang yang mempelajarinya tetapi tidak mengamalkannya.”
Keempat, kita akan ditanya mengenai harta وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ dari mana kita memperolehnya dan untuk apa kita belanjakan. Dalam masalah harta, manusia terbagi menjadi tiga golongan, dua celaka dan satu yang selamat. Dua golongan yang celaka pada hari kiamat adalah mereka yang mengumpulkan harta dengan cara yang haram atau dari sumber yang haram, dan mereka yang mengumpulkan harta dengan cara yang halal tapi membelanjakannya untuk hal-hal yang diharamkan, sementara golongan yang selamat adalah golongan manusia kaya yang cara dapat dan penggunaannya halal. Rosullullah SAW bersabda: نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ) “Sebaik-baik harta adalah harta milik orang yang sholeh.” (HR Ahmad dalam al-Musnad).
Kesimpulan: Ulama' kita, guru-guru kita senantiasa wewanti-wanti kita agar menggunakan kesempatan hidup ini untuk ikut berjuang sesuai hadist Rosululloh: مَنْ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِمَالِهِ، وَمَنْ كَانَ لَهُ قُوَّةٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِقُوَّتِهِ، وَمَنْ كَانَ لَهُ عِلْمٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِعِلْمِهِ "Barangsiapa memiliki harta, maka sedekahlah dengan hartanya. Barangsiapa memiliki kekuasaan (kekuatan), maka sedekahlah dengan kekuatannya. dan Barangsiapa memiliki ilmu, maka sedekahlah dengan ilmunya"
Demikian, semoga manfaat.






0 comments:
Posting Komentar