Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Rahasia dibalik Huruf Sya'ban

Menata hati dan menata niat untuk seluruh aktivitas semata-mata karena Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang sekaligus dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.

Jangan sampai kita memiliki niat yang kurang tepat, sehingga kita tidak mendapatkan keutamaan dari ibadah, kerja, sholat yang kita lakukan.

Alhamdulillah, saat ini kita sudah berada di bulan Sya'ban, bulan yang penuh dengan makna dan hikmah, pembinaan jiwa, penyucian hati, bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam kalender Islam.

Para ulama mengibaratkan bulan Sya'ban sebagai bulan merawat tanaman amal: شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرٌ لِلزَّرْعِ وَ شَعْبَانُ شَهْرٌ لِلسّقِي وَ رَمَضَانُ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ Maksudnya, ini adalah waktu yang tepat buat kita membiasakan diri. Biar nanti pas Romadhon nggak kaget. Biar ibadah nggak cuma menjadi rutinitas tanpa kualitas.

Posisi Sya'ban sangat strategis bagi kita untuk prepare (mempersiapkan) diri, baik secara lahir maupun batin yang lebih matang, dalam menyongsong bulan suci Romadhon.

Kira² keistimewaannya apa, dan yang perlu kita persiapkan apa saja?

Dalam kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafa’is (Al-Imam Abdurraḥman As-Syafury) dijelaskan bahwa kata Sya’ban (شَعْبَانَ) dapat dipahami sebagai rangkaian nilai-nilai bermakna yang tersusun dari setiap hurufnya, yang sekaligus menjadi isyarat penting tentang karakter dan semangat yang seharusnya kita hidupkan selama bulan Sya’ban.

Huruf pertama, Syin (ش), yang bermakna Asy-Syaraf (الشَّرَفُ) atau kemuliaan., bahwa Sya’ban adalah bulan kemuliaan, waktu yang tepat untuk menjaga kehormatan diri sebagai hamba Allah.

Pada bulan ini, kita dianjurkan memperbaiki Akhlak, menjaga Lisan dan Perbuatan, serta meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah SWT karena pada bulan inilah catatan amalan kita akan diangkat dan disetorkan kepada-Nya. (Nisfu).

Rasulullah bersabda: فَذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ شَهْرِ رَجَبٍ وَشَهْرِ رَمَضَانَ، تُرْفَعُ فِيهِ أَعْمَالُ النَّاسِ، فَأُحِبُّ أَنْ لَا يُرْفَعَ عَمَلِي إِلَّا وَأَنَا صَائِمٌ “Itu (Sya’ban) bulan yang dilalaikan manusia antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Di bulan ini amal manusia diangkat/dilaporkan kepada Allah. Aku ingin amalku tidak diangkat kecuali aku sedang berpuasa,” (HR Nasa’i dan Ahmad).

Huruf kedua Ain (ع), yang dimaknai sebagai Uluwun (عُلُوُّ) atau derajat dan kedudukan yang tinggi lagi terhormat.

Makna ini mengisyaratkan bahwa Sya’ban adalah momentum peningkatan derajat keimanan dan ketakwaan.

Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, seperti puasa sunnah, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad serta memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an, mampu menjadi cara untuk mengangkat kedudukan seorang hamba di sisi Allah.Hal ini selaras dengan berfirman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13: اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Huruf ketiga Ba’ (ب), berarti Al-Birru (البِرُّ) yang artinya kebaikan. Sya’ban adalah bulan memperbanyak kebaikan dalam arti yang luas. Kebaikan tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual, tetapi juga dalam kepedulian sosial, (membantu sesama, menebarkan manfaat, serta menumbuhkan sikap empati dan solidaritas di tengah masyarakat).

Allah berfriman dalam surat Al-An’am 160: مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَاۚ وَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ “Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan).”

Huruf keempat adalah alif (ا) yang dimaknai sebagai Al-Ulfah (الأُلْفَة) yakni kasih sayang dan keakraban. Makna ini menegaskan bahwa Sya’ban adalah bulan untuk memperkuat persaudaraan dan keharmonisan.

Kita diingatkan untuk memperbaiki hubungan yang renggang, memaafkan kesalahan orang lain, dan menumbuhkan cinta kasih, baik dalam keluarga maupun di lingkungan sosial, salah satunya dengan cara berinfaq, sedekah, berbagi makan., sebagai bagian dari ciri orang bertakwa yang disebutkan dalam QS. Ali-Imron: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Huruf terakhir, Nun (ن), yang bermakna An-Nur (النُّوْرُ) atau cahaya.

Cahaya itu melambangkan hidayah, kejernihan hati, dan ketenangan jiwa. Bahwa: اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ "Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. ...... Allah memberi petunjuk (Al-Qur'an) menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki.

Ayat ini adalah merupakan landasan bagi umat manusia untuk mencapai predikat insan kamil (manusia yang sempurna), dengan perantaraan cahaya Allah yang masuk ke dalam hati setiap mukmin. Karena itu jadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk (baca, pahami dan implementasikan).

Rasulullah SAW bersabda, اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ “Bacalah Al-Qur’an sesungguhnya ia akan menjadi penolong pembacanya di hari kiamat.”

Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: إِذَا مَاتَ حَامِلُ القُرْآنِ أَوْحَى اللَّهُ إِلىَ الأَرْضِ لِأَكْلِ لَحْمِهِ قَالَ فَتَقُوْلُ الأَرْضُ وَكَيْفَ آكِلُ لَحْمَهُ وَكَلاَمَكَ فِي جَوْفِهِ "Ketika ahli (orang hafal) al-Quran meninggal maka Allah memberikan wahyu kepada bumi agar tidak memakan jasadnya, kemudian bumi berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa memakan jasadnya sementara kalamMu ada di dalamnya. (HR Dailami)"

Amal-amal yang dilakukan di bulan Sya’ban diharapkan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan kita, sekaligus menjadi bekal utama untuk memasuki Ramadhan dengan iman yang lebih kuat dan hati yang lebih bersih.

Maka, marilah kita menghidupkan bulan Sya’ban dengan memperbanyak amal kesalehan, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Karena itu, Jangan biarkan Sya’ban berlalu tanpa makna. Mari jadikan Sya’ban sebagai bulan persiapan ruhani agar ketika Ramadhan tiba, kita benar-benar siap memasukinya dengan hati yang bersih, iman yang kuat, dan semangat ibadah yang lebih baik. Aamiin.

0 comments: