Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Antara Ni'mat dan Musibah

Tidak terasa, 2025 telah usai kita lewati dan saat ini kita berada pada periode awal 2026, Rosululloh Muhammad SAW bersabda;

لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يتقارَبَ الزَّمانُ ، فتَكونُ السَّنةُ كالشَّهرِ، والشَّهرُ كالجُمُعةِ ، وتَكونُ الجمعةُ كاليَومِ، ويَكونُ اليومُ كالسَّاعةِ،

.... وَتَتَقاَرَبُ الأَسْوَاقُ .....

Maka kita patut untuk terus bersyukur atas segala anugerah, Karunia dan Ni'mat dari Tuhan yang ada di setiap episode kehidupan kita.

Alloh SWT berfirman: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Bagi sebagian kita, menganggap bahwa Rizki, kehidupan duniawi ini sangat mengasyikkan, sehingga sebagian dari kita mengingkari hari kebangkitan dan hari pembalasan. Coba lihat (anak kecil yang tengah bermain hingga lupa waktu).

Artinya semakin kita terlena atas An-ni'mat, maka semakin banyak pula kepuasan dan kesenangan yang kita peroleh. Akan tetapi, kita tidak mendapatkan apapun dari yang kita lakukan.

Oleh karenanya semakin dewasa, kita musti bisa membedakan antara An-ni'mat (النعمة) dan an-niqmah (النقمة), dua kata (mirip dalam sebutan) tetapi dalam bahasa Arab yang memiliki makna yang berlawanan.

An-ni'mah (النعمة) berarti (nikmat, karunia, atau kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada manusia). Sementara An-niqmah (النقمة) berarti (petaka, siksa, hukuman, atau musibah yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai balasan atas kesalahan atau dosa).

Lalu!!! Apakah rezeki yang sejauh ini kita gunakan bukan merupakan nikmat (sebaliknya) petaka?, tentu kesemuanya bergantung pada dampak yang ditimbulkan terhadap orang yang menerima rezeki itu. (Apakah dengan rezeki itu lantas bisa tetap bersyukur? -khidmah, taat, ibadah).

Alloh SWT berfirman: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras."

Syekh asy-Sya'rawi (Tilkal Hiya Al-Arzaq) menjelaskan¹:

الْمَالُ إِذَا جَاءَ لِيُطْغِيَكَ فَيَكُونُ نِقْمَةً وَلَيْسَ نِعْمَةً، وَإِذَا كَانَتْ قِلَّةُ الْمَالِ تَمْنَعُ طُغْيَانَكَ فَهِيَ نِعْمَةٌ وَلَيْسَتْ نِقْمَةً، وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (كلا إِنَّ الإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى)

Jika harta datang untuk membuatmu melampaui batas (dengan maksiat), maka itu adalah bencana dan bukan nikmat. Dan jika sedikitnya harta dapat mencegahmu dari perkara buruk (dalam agama), maka itu adalah nikmat, bukan bencana. Sebab itulah Allah SWT berfirman: كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ، أَن رَّآهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (QS. Al 'Alaq [96]:6–7)

Jadi, ketika rezeki dapat membawa kepada kebaikan, maka itulah sebenar-benarnya nikmat. Sebaliknya, bila suatu rezeki justru menjerumuskan seseorang pada keburukan, itulah hakikat dari petaka (istidroj-jebakan).

Allah SWT mengingatkan kita: سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ “akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-‘Araf 182-183).

Banyak orang yang terjebak dalam istidraj karena mereka merasa bahwa kenikmatan yang mereka dapatkan adalah anugerah yang memuliakan. Padahal, sebenarnya kenikmatan tersebut adalah sebuah ujian yang harus dihadapi. Istidraj bisa membuat manusia lupa kepada Allah SWT dan merasa bahwa mereka tidak membutuhkan-Nya lagi. Istidraj seringkali menipu manusia dengan mengalihkan perhatian mereka dari kebenaran yang sebenarnya dan membutakan mereka terhadap bahaya yang mengintai di balik kenikmatan yang mereka rasakan. Contoh dari Istidraj dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seseorang yang gemar melakukan maksiat, namun hidupnya terus dilimpahi kenikmatan.

Asy-Sya'rawi melanjutkan penjelasannya: وَاللَّهُ لَا يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَكَ مِنَ الْمَالِ مَا تَحْسَبُهُ أَنَّهُ أَغْنَاكَ عَنِ اللَّهِ فَتَطْغَى، وَهَذِهِ نِقْمَةٌ وَلَيْسَتْ نِعْمَةً، إِذَا فَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: «فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهِ إِن شَاءَ» Allah tidak ingin memberimu harta yang kamu duga bisa membuatmu berkecukupan (mandiri dari Allah) sehingga malah mengakibatkanmu melewati batas (agama) Ini adalah petaka, bukan nikmat.

Allah SWT berfirman: فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ ٱللّٰهُ مِن فَضْلِهِۦٓ إِن شَآءَ ۚ" ... maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki." (QS. At-Taubah [9:]28).

وَفِي ذَلِكَ إِبْقَاءٌ لِطَلَاقَةِ قُدْرَةِ اللَّهِ فِي الْكَوْنِ حَتَّى يَكُونَ الْإِغْنَاءُ لَيْسَ بِالْمَادَّةِ وَحْدَهَا وَلَا بِالْمَالِ وَحْدَهُ، وَلَكِنْ بِالْقِيَمِ أَيْضًا فَلَا يَذْهَبُ الْمَالُ قِيَمَ السَّمَاءِ وَلَا يُبْعِدُ عَنْ مَنْهَجِ اللَّهِ، وَيُؤَكِّدُ هَذَا قَوْلُ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: «إِنَّ اللّٰهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ» أَيْ عَلِيمٌ بِالْأَمْرِ الَّذِي يَصْلُحُ لَكُمْ حَكِيمٌ فِي وَضْعِ الْعَطَاءِ فِي مَوْضِعِهِ، وَالْمَنْعِ فِي مَوْضِعِهِ.

Hal tersebut merupakan bentuk pemeliharaan laju kekuasaan Allah di alam semesta sehingga kekayaan bukan hanya dengan materi dan harta benda semata, tetapi juga dengan adanya nilai-nilai luhur; (Menghargai pendapat orang lain, Kerja keras, Rendah hati, Mengutamakan persatuan, Rela berkorban, Melaksanakan keputusan bersama), sehingga harta tidak sampai menghilangkan nilai-nilai samawi (agama), dan tidak jauh menyimpang dari jalan ketetapan Allah.

Allah SWT berfirman: إِنَّ ٱللّٰهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. At Taubah:28)

Artinya, Allah Mengetahui apa yang membawa kebaikan untukmu, dan Maha Bijaksana dalam memberikan apa yang tepat sesuai posisinya, dan menahan apa yang tepat sesuai plotnya (alur cerita). وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sebagai penutup: bahwa Peralihan tahun adalah momentum yang tepat untuk kita bertekad dan bertransformasi menjadi insan yang lebih baik, dengan cara memohon ampun atas semua kekhilafan kita pada tahun sebelumnya, انَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ kemudian berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di sepanjang tahun yang baru ini.

______________

¹ Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi, Tilka Hiya al-Arzaq, hlm. 60.

0 comments: