Syekh Abdurrahman Bajalhaban (Hadramaut), adalah seorang wali yang diuji dengan istri yang cerewet dan menyebalkan.
Syekh Abdurrahman Bajalhaban memiliki seorang istri yang dikenal sangat cerewet, tukang mengomel, menuntut ini dan itu, permintaan-permintaan unik yang terkadang memberatkan, seperti meminta digendong setiap naik dan turun tangga (rumah mereka tingkat) dan perilaku perilaku lain yang menyebalkan.
Meskipun dihadapkan pada ujian kesabaran yang luar biasa, Syekh Abdurrahman tidak pernah mengeluh, mendebat, apalagi membalas omelan istrinya dengan kemarahan. Beliau selalu berusaha memenuhi permintaan sang istri dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Beliau menjadikan sifat buruknya istri sebagai ladang ibadah sekaligus melatih kesabaran.
Suatu hari, Syekh Abdurrahman mungkin saking capeknya akhirnya memutuskan untuk menyendiri (berkholwat) mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Beliau lantas berpamitan kepada istrinya dan (sembari diomeli) pergi ke sebuah gua di bebukitan yang tidak jauh dari kampungnya. Di sana, beliau bertemu dengan beberapa (dua) orang soleh yang juga sedang berkholwat.
Ditengah malam yang dingin mereka merasakan lapar hingga keesokan harinya mereka tiga bersepakat untuk bergantian tugas mencari makanan, hari pertama orang pertama bertugas dan seketika setelah berdo'a, makanan turun siap makan satu nampan, demikian hari berikutnya pun demikian satu nampan, Syekh Abdurrahman takjub melihat dua orang soleh ini, di mana setiap kali mereka berdo'a memohon makanan, Alloh mengabulkannya dengan menurunkan satu nampan makanan siap santap. Setelah waktu berselang giliran tugasnya Syekh Abdurrahman. Karena penasaran, beliau mencoba berdo'a seperti orang orang soleh itu. Ajaibnya, ketika beliau Berdo'a, turun makanan dengan jumlah yang lebih banyak (tiga nampan sekaligus).
Kedua orang soleh itupun terkejut dan bertanya kepada syekh Abdurrahman, wahai syekh do'a apa yang engkau baca sehingga permintaanmu dikabulkan dengan kelebihan seperti ini. Syekh Abdurrahman pun terdiam dan tak menjawabnya (karena baru pertama kali mengalami hal itu). Akhirnya, kedua orang soleh itu berkata bahwa mereka sering bertawasul (sebelum berdo'a) kepada seorang wali yang bernama Syekh Abdurrahman Bajalhaban, yang dikenal memiliki derajat tinggi karena kesabarannya menghadapi istrinya yang cerewet. Syekh Abdurrahman Bajalhaban kaget (dalam hatinya dan baru menyadari bahwa dirinya-lah wali yang dimaksud).
Setelah menyadari karunia Allah tersebut, Syekh Abdurrahman bajalhaban memutuskan kembali pulang ke rumah menemui istri cerewetnya, setelah beberapa waktu berlalu sang istri mengetahui bahwa suaminya adalah seorang wali, akhirnya sang istri berangsur-angsur menjadi lebih lembut dan romantis.
Dibalik kisah ini kita bisa memetik pelajaran bahwa Allah mengangkat derajatnya Syekh Abdurrohman Bajalhaban bukan hanya karena ibadah-ibadah yang ia lakukan, tetapi juga karena kesabaran dan keridhoannya dalam menghadapi ujian rumah tangga berupa istri yang Cerewet yang penuh tuntutan dan sering menyebalkan.
Bahwa karomah turunnya makanan dari langit bukan hal yang mustahil. Dalam Al-Qur’an, kisah serupa terjadi pada sayidah Maryam binti Imron ibundanya Nabi Isa As., Allah sering memberikan makanan dari langit meski tidak ada yang membawanya. Nabi Zakaria heran ketika mendapati Maryam selalu memiliki hidangan di mihrobnya (kamar). وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًاۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَاۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ "Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrobnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan"
Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT., dalam berkehendak memberikan karomah serupa kepada para wali-Nya sebagai tanda kedekatan seorang hamba kepada-Nya.






0 comments:
Posting Komentar