Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Hakekat Hijrah

Rasulullah SAW bersabda: نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dan lalai terhadap keduanya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)

Jangan sampai kesehatan dan waktu luang yang Allah anugerahkan kepada kita justru membuat kita lupa bersyukur, lupa ngaji, lupa berzikir, dan lupa ibadah kepada Allah. Sebab hakikat seluruh nikmat yang Allah berikan adalah agar kita semakin dekat kepada-Nya.

Alhamdulillah, Kita telah ada dalam tahun baru Hijriah:1448. Karena itu hendaknya kita melakukan revolusi terhadap keimanan dan ketakwaan kita. Kita tingkatkan ibadah kita. Kita perdalam ilmu agama kita. Kita perbaiki akhlak dan muamalah kita, sehingga iman dan takwa semakin tumbuh dan bersemi di dalam hati kita.

Allah SWT berfirman: وَمَنْ يُهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ Barang siapa berhijrah di jalan Allah, يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيْرًا وَسَعَةً niscaya dia akan mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa: 100)

Ayat ini berkaitan dengan hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah. Namun, ayat ini juga sekaligus mengajarkan kepada kita tentang makna hijrah yang lebih dalam.

Sering kali kita memahami hijrah hanya sebagai perubahan penampilan. Padahal hijrah yang sesungguhnya bukan hanya perubahan fisik, melainkan perubahan menuju keadaan yang lebih baik di hadapan Allah.

Kita dikatakan berhijrah apabila ilmu agama kita semakin bertambah. Kita dikatakan berhijrah apabila sholat kita semakin baik. Kita dikatakan berhijrah apabila akhlak kita semakin mulia. Kita dikatakan berhijrah apabila hubungan kita dengan sesama manusia semakin baik.

Rasulullah SAW bersabda: مَنْ يُرِدِ اللّٰهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnul Qayyim Ra., menjelaskan bahwa hijrah itu ada dua: Yang Pertama adalah hijrah lahiriah, (intiqol) yaitu perubahan yang tampak. Misalnya dahulu belum menutup aurat lalu menutup aurat. Dahulu meninggalkan shalat lalu mulai menjaga shalat. Dahulu gemar bermaksiat lalu meninggalkannya. Yang Kedua, dan inilah yang paling penting, adalah hijrah hati (revolusi pola pikir)

Sebab seseorang tidak akan mampu istiqamah di jalan Allah jika hatinya tidak berubah. Seseorang tidak akan bertahan dalam kebaikan jika hatinya belum dibenahi.

Allah SWT berfirman: يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)

Saat seseorang ingin berubah menjadi lebih baik, pasti akan ada ujian, rintangan, dan godaan. Rasulullah SAW pernah dilempari batu di Thoif. Tubuh beliau berdarah. Hati beliau disakiti. Namun beliau tetap sabar.

Apa yang membuat beliau mampu bertahan? Jawabannya adalah karena hati beliau selalu terpaut kepada Allah.

Karena itu jangan sampai kita hanya memperbaiki penampilan luar, tetapi melupakan revolusi hati kita. Jangan sampai kita hanya sibuk menyatakan sudah hijrah dimata manusia, namun belum benar-benar hijrah di hadapan Allah.

Allah pernah menceritakan tentang orang² Arab Badui yang mengaku telah beriman, yang disebutkan dalam QS. Al-Hujurat 14: قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا “Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk (Islam).

Mengapa Allah menegur mereka? Karena imannya belum benar-benar meresap ke dalam hati mereka.

Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apakah selama ini kita hanya berhijrah secara fisik? Ataukah hati kita juga sudah berhijrah?

Rasulullah SAW bersabda: أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ “Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika hati benar-benar telah berhijrah, maka mata akan terjaga dari yang haram. Lisan akan terjaga dari dusta dan ghibah. Tangan akan terjaga dari mengambil yang bukan haknya. Kaki akan terjaga dari melangkah ke tempat maksiat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba² yang mampu berhijrah secara lahir dan batin, memperbaiki diri dari hari ke hari, hingga kelak menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Tahun baru semangat baru

Alhamdulillah, Kita telah ada dalam tahun yang baru, 1448 H. Karena itu hendaknya kita melakukan revolusi terhadap keimanan dan ketakwaan kita. Kita tingkatkan ibadah kita. Kita perdalam ilmu agama kita. Kita perbaiki akhlak dan muamalah kita, sehingga iman dan takwa tumbuh dan menghujam di dalam hati kita.

Kata Allah SWT: وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ pada ayat ini Allah memberi janji dan harapan bahwa barang siapa berhijrah di jalan Allah dengan niat hanya mengharap ridho Allah, niscaya akan mendapatkan tempat yang luas dan menemukan rezeki yang banyak.

Kita semua pasti ingin menjadi lebih baik. Kita ingin hidup lebih nyaman. Kita ingin meninggalkan dosa² masa lalu. Kita ingin menjadi pribadi yang lebih taat. Namun kenyataannya, berubah menjadi lebih baik tidaklah semudah yang kita bayangkan.

Karena itu petunjuk dari Allah jelas: إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ Ayat ini merupakan petunjuk bahwa perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Tidak ada perubahan tanpa kemauan untuk berubah. Tidak ada hijrah tanpa keberanian untuk melangkah, (tentu yang dimaksud adalah perubahan menuju kebaikan, bukan menuju keburukan).

Allah SWT berfirman: أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ، وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ، وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, satu lidah dan dua bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan" (QS. Al-Balad: 8-10)

Allah telah menunjukkan kepada manusia dua jalan; jalan kebaikan dan jalan keburukan. Tinggal manusia yang menentukan jalan mana yang akan dipilih. Namun memilih jalan kebaikan bukanlah perkara mudah. Allah mengibaratkannya sebagai jalan yang mendaki dan penuh perjuangan.

Allah berfirman: فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ، فَكُّ رَقَبَةٍ، أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ، يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ، أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ، ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ "Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki itu? Yaitu memerdekakan budak, memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat atau kepada orang miskin yang sangat fakir, kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman serta saling berpesan dalam kesabaran dan kasih sayang" (QS. Al-Balad: 11-17)

Dari ayat ini Allah menggambarkan kepada kita bahwa jalan menuju kebaikan adalah sebagai jalan yang mendaki. Artinya, diperlukan Perjuangan, diperlukan Pengorbanan, diperlukan Kesabaran, dan diperlukan Keikhlasan. Karena itulah Allah memerintahkan kepada kita: وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk" (QS. Al-Baqarah: 45)

Lalu bagaimana caranya agar kita mampu berhijrah (melangkah) dengan istiqamah dalam perubahan?, Setidaknya ada Tiga cara yang dapat menguatkan langkah hijrah kita: Pertama: Do'a (Memohonlah Hidayah dan Pertolongan Allah). Perjuangan menegakkan kebenaran harus diiringi dengan sabar dan sholat, sehingga menjadi ringan segala kesukaran dan cobaan, karena Allah senantiasa beserta orang² yang sabar. Alloh akan menolong, menguatkan dan memenangkan orang² yang berjuang menegakkan kebenaran agamanya

Dalam setiap rakaat sholat kita selalu membaca: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus" (QS. Al-Fatihah: 6)

Mengapa setiap hari kita terus meminta hidayah? Karena hidayah adalah nikmat yang sangat mahal. Hidayah adalah pembeda antara jalan kebenaran dan jalan kesesatan. Hidayah adalah pembeda antara surga dan neraka.

Manusia sekaliber Rosulullah SAW saja tidak mampu memberikan hidayah kepada orang yang paling beliau cintai, yaitu pamannya Abu Thalib. Allah berfirman: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki" (QS. Al-Qashash: 56)

Karena itu jangan pernah berhenti berdo'a agar Allah membimbing hati kita. Jangan pernah merasa aman dari kesesatan. Mintalah hidayah setiap saat, setiap hari hingga akhir hayat.

Kedua: Bersungguh-Sungguh Dalam Berubah. Hidayah harus dibarengi dengan kesungguhan. Dalam bahasa Arab disebut mujahadah, yang artinya perjuangan melawan hawa nafsu dan rasa malas.

Allah berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ "Orang² yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan² Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang² yang berbuat baik" (QS. Al-Ankabut: 69)

Jangan hanya berkata ingin berubah, tetapi tidak ada usaha. Jangan hanya berkata ingin dekat kepada Allah, tetapi masih malas melaksanakan sholat. Jangan hanya berkata ingin hijrah, tetapi masih mempertahankan kebiasaan yang menjauhkan diri dari Allah.

Hijrah membutuhkan kesungguhan. Hijrah membutuhkan pengorbanan. Hijrah membutuhkan air mata penyesalan dan perjuangan yang continue dan konsisten.

Ketiga: Ikuti Orang Soleh. Perjalanan hijrah tidak bisa ditempuh sendiri. Kita membutuhkan lingkungan yang baik. Kita membutuhkan sahabat yang soleh. Kita membutuhkan guru yang dapat menasihati dan mengingatkan ketika mut ibadah kita mulai lemah.

Allah berfirman: اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ "Ikutlah orang-orang yang tidak meminta imbalan kepada kalian dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. Yasin: 21)

Dekatilah orang² yang mengingatkan kita kepada Allah (Akhirat). Dekatilah majelis ilmu. Dekati para ulama dan orang² soleh. Sebab teman yang baik akan membantu kita tetap berada di jalan yang benar.

Dalam kitab Tanbihul Ghofilin disebutkan: مَنْ جَلَسَ مَعَ الصَّالِحِينَ زَادَهُ اللَّهُ الرَّغْبَةَ فِي الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابَ الْمَحَارِمَ "Barang siapa duduk (bergaul) bersama orang² soleh, maka Allah akan menambah keinginannya untuk melakukan ketaatan dan menjauhi hal² yang diharamkan" وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْعُلَمَاءِ زَادَهُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَالْوَرَعَ "Dan barang siapa duduk (bergaul) bersama para ulama, maka Allah akan menambah ilmu dan sikap waro' (hati² dalam urusan yang syubhat dan haram)"

Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Tidak ada hijrah tanpa kemauan untuk berubah. Tidak ada perubahan tanpa kesungguhan, teruslah memohon hidayah dan pertolongan Allah. Bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki diri dan Dekatilah orang² soleh agar mereka membimbing kita menuju jalan yang diridhai Allah.

Mudah²an Allah menjadikan kita sebagai hamba² yang terus memperbaiki diri, berhijrah menuju kebaikan, hingga kelak menghadap Allah dengan hati yang bersih dan amal yang diridhoi.