Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Merawat Alam menghormati makhluk Alloh SWT.

Menjaga alam bukan sekadar tindakan ekologis "hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya)", tetapi juga bentuk ibadah dan rasa syukur kita kepada Allah atas amanah-Nya sebagai khalifah di bumi. Alam adalah makhluk Allah yang juga hidup, bertasbih, dan tunduk kepada-Nya. Maka merawat alam berarti menghormati ciptaan-Nya dan menunaikan tanggung jawab kita sebagai penjaga keseimbangan kehidupan.

Kaum muslimin pendengar RRI yra. Alam semesta yang kita pijak dan kita huni ini bukanlah benda mati yang tanpa jiwa (Rukh). Dalam pandangan Islam, seluruh alam adalah makhluk Allah yang hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Memiliki bentuk kehidupan sesuai kadar dan cara yang Allah kehendaki. Mereka tunduk kepada hukum Alloh, bertasbih dan memuji Alloh, meskipun! manusia sering kali tidak memahami bahasa tasbih mereka.: تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Alloh maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44).

Dari ayat ini kita menjadi tahu bahwa seluruh makhluk memiliki kesadaran untuk memuji Alloh. Batu, tanah, air, udara, bahkan partikel kecil yang tidak tampak oleh mata kita, semuanya hidup dalam keadaan zikir dan ketaatan kepada Alloh SWT., Alam tidak diam, dia terus berzikir, hanya saja manusia tidak dapat menangkap bahasa mereka. Kita sibuk dengan urusan dunia, sementara alam terus tunduk kepada perintah Alloh dengan caranya sendiri.

Kaum muslimin pendengar RRI yra. Apakah benar makhluk selain manusia mampu berdzikir dan saling mendo'akan antar sesama?

Ada beberapa kisah nyata tentang alam dan bukti nyata bahwa makhluk selain manusia memiliki kesadaran terhadap kebenaran dan antar sesama:

Pertama: Kisah batu yang merindukan Rosululloh, sampai ia ingin ikut bersama Rosululloh menuju langit.

Rasulullah SAW., sesungguhnya telah menunjukkan kepada kita tentang: إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ، إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ “Aku masih mengenal sebuah batu di Makkah yang selalu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi nabi, dan aku masih mengenalnya sekarang.” (HR. Muslim).

Dari Hadits ini, sesungguhnya kita telah di tunjukkan bahwa, batu yang tampak keras dan diam itu memiliki bentuk kehidupan dan kesadaran yang Allah berikan kepadanya.

Bahwa sebagian benda mati (batu) memiliki kemampuan membedakan dan mengenal, وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ “Tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya.” Allah menjadikan pada setiap makhluk kemampuan mengenal dan membedakan sesuai dengan kadar yang Dia kehendaki.

Termasuk katak, dalam kitab Sunnah Imam Nasai disebutkan bahwa Rasulullah SAW., melarang membunuh katak, sebab; نَقِيقُهَا تَسْبِيْحٌ "Suara katak adalah tasbihnya."

Kedua: Kisah dua ahli kubur yang sedang disiksa ketika Rasulullah SAW., melewati dua buah kuburan.

Rosululloh SAW bersabda: اِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ اَمَّا اَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَاَمَّا الْاٰخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ "Sesungguhnya keduanya sedang disiksa dan bukanlah keduanya disiksa karena dosa besar. Salah seorang di antara keduanya tidak pernah membersihkan diri setelah buang air kecil, sedangkan yang lainnya gemar mengadu domba."

Setelah itu Nabi mengambil sebuah pelepah kurma, lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menanamnya pada masing-masing dari dua kuburan tersebut. Dan setelah itu beliau bersabda: لَعَلَّهٗ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا "Mudah- mudahan siksanya diringankan selagi kedua pelepah kurma ini belum kering." karena keduanya tetap bertasbih selagi masih hijau warnanya; dan apabila telah kering, maka berhentilah tasbihnya.

Ketiga: Kisah lain yang juga menggambarkan bahwa alam hidup dan memiliki rasa adalah peristiwa batang pohon kurma yang menangis karena rindu kepada Rasulullah SAW.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Jabir bin Abdullah ra., disebutkan: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ، فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ، فَحَنَّ الْجِذْعُ كَحَنِينِ الْعِشَارِ، فَنَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ، فَسَكَنَ “Dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata: Nabi SAW dahulu berkhutbah bersandar pada batang pohon kurma. Ketika beliau membuat mimbar dan berpindah ke sana, batang itu pun menangis seperti unta betina yang sedang hamil. Lalu Nabi SAW turun dan memeluknya hingga tenang.” (HR. Bukhari).

Pelajaran penting dari beberapa peristiwa yang saya ceritakan tadi adalah bahwa Allah telah menciptakan kehidupan, akal, cinta dan rasa rindu bukan sekadar mukjizat, tetapi juga pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa makhluk di sekitar kita juga hidup, dan mereka pun merasakan sesuatu sesuai kehendak Alloh SWT., maka salinglah menjaga diantara kita.

Bahwa Manusia diciptakan sebagai khalifah: وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi, meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain" Dan: هُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ فِى الْاَرْضِۗ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۗ "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Siapa yang kufur, (akibat) kekufurannya akan menimpa dirinya sendiri"

Allah mempercayakan bumi kepada kita (manusia), bukan untuk dikeruk, dieksploitasi tanpa batas, tetapi untuk dijaga, dirawat, dan dimakmurkan. Maka ketika manusia menebang hutan tanpa kendali, mencemari air, menumpuk sampah, dan mengotori udara, sesungguhnya ia sedang mengganggu makhluk-makhluk Allah yang sedang berzikir dan tunduk kepada-Nya.

Oleh karenanya, Marilah kita secara bersama-sama merenungkan kembali hubungan kita dengan alam. وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ "Jangan berbuat rusak dibumi, karena Alloh tidak menyukainya"

Alam adalah saudara kita dalam ketaatan kepada Allah. Ia tunduk dan berserah, sementara kita sering lalai. وَهٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ فِيهِ الْحَيَاةَ وَالْعَقْلَ وَالشَّوْقَ، وَلِهٰذَا حَنّ "Dan ini menunjukkan bahwa Allah SWT., telah menciptakan padanya kehidupan, akal, dan kerinduan; karena itulah ia merintih (atau mengeluarkan suara rindu)"

Bagaimana menyikapi zaman yang semakin modern hubungannya dengan merawat alam semesta? Modernisasi adalah rasionalime bukan sekularisme, Modernisasi dalam Islam bukan berarti bebas kebohongan dan kebodohan, bukan (lantas) bebas dari hukum Alloh SWT. (Semua ada pertanggungjawaban nya).

Rosululloh SAW bersabda: الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

Bahwa, Alam akan menjadi saksi atas segala perbuatan manusia. Tanah akan bersaksi di mana kita sujud, air akan bersaksi terhadap apa yang kita cemari, dan udara akan bersaksi atas apa yang kita lepas dan hirup.

Maka jaga mereka, karena mereka juga makhluk Allah yang sama seperti kita. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur dan tidak merusak bumi yang telah Dia karuniakan kepada kita.


0 comments: