Dzikir
ini adalah dzikir yang mungkin telah banyak kita ketahui, telah sering
kita amalkan… Ya, dzikir itu adalah dzikir keluar rumah. Namun apakah
kita telah memahami kandungan yang sangat agung dibaliknya?
Dari Anas
bin Malik, ia berkata: bahwa Nabi SAW bersabda:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ
Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
(Dengan nama Allah; aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah).
Beliau melanjutkan:
قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ
Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya,
هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ
Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan dan mendapat penjagaan
فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ
Hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata,
كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ
Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan. (HR. Abu Dawud (4/325), no. 5094, dan at Tirmidziy (5/490), no. 3427; Shahiih at Tirmidziy)
Kalimat yang singkat ini, memiliki arti yang luas dalam masalah tawakal…
Imam Al-Ghazali, beliau berkata : “Tawakkal adalah penyandaran hati
hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata”. [Ihya' Ulumid Din, 4/259]
Al-Allamah Al-Manawi berkata : “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan
serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali” [Faidhul Qadir, 5/311]
Al-Mulla Ali Al-Qari berkata : “Hendaknya kalian ketahui secara yakin
bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan
bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau
pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau
sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang
maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah”. [Murqatul Mafatih, 9/156]
Sehingga ketika kita keluar rumah: kita sandarkan hati kita kepada
Allah, kita mengakui kelemahan dan ketidakmampuan kita dalam melakukan
apapun, yang mana seluruh kekuatan kita kembali kepada pertolonganNya,
seluruh manfaat yang kita peroleh dan seluruh mudharat yang terhindarkan
dari kita adalah karuniaNya.
Ia mengetahui bahwa tidak ada
yang dapat memberi manfa’at melainkan atas seizinNya, ia pun mengetahui
bahwa tidak ada yang dapat memberi mudharat melainkan atas seizinNya,
maka ia bertawakkal kepadaNya.
Ia mengetahui bahwa Allah Maha
Adil lagi Maha Bijaksana dalam menetapkan taqdir, ia mengetahui bahwa
Allah Maha Teliti lagi Maha Bijaksana dalam mengurusi seluruh urusanNya,
ia mengetahui bahwa kepadaNyalah kembali urusan rezeki dari seluruh
makhlukNya, maka ia bertawakkal kepadaNya dalam segala urusan.
Kalimat doa berikutnya :
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Kalimat al-Hawqolah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, mengandung
konsekuensi makna; “isti’aanah (memohon pertolongan) hanya kepada
Allah.”
Karena kalimat ini berisi ikrar hamba, bahwasanya ia
sedikitpun tidak memiliki daya dan kemampuan untuk meraih apa yang
diinginkan dan menghindar dari apa yang dibencinya, kecuali dengan daya
dan kekuatan (pertolongan) dari al-Maula, yaitu Allah semata.
Demikian pula Zuhair bin Muhammad pernah ditanya tentang makna “Laa hawla walaa quwwata illaa billaah”, lalu beliau menjawab:
لاَ تَأْخُذُ مَا تُحِبُّ إِلاِّ بِاللهِ، وَلاَ تَمْتَنِعُ مِمَّا تَكْرَهُ إِلاَّ بِعَوْنِ اللهِ
“Engkau tidak akan mampu meraih apa-apa yang engkau sukai kecuali
dengan pertolongan Allah, dan engkau tidak akan mampu menghindar dari
apa-apa yang engkau benci kecuali dengan pertolongan Allah pula.”
Kedua tafsiran tersebut diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam ad-Durul
Mantsuur: 5/393-394 [dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/282]






0 comments:
Posting Komentar