Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Zikir Keluar Rumah

Dzikir ini adalah dzikir yang mungkin telah banyak kita ketahui, telah sering kita amalkan… Ya, dzikir itu adalah dzikir keluar rumah. Namun apakah kita telah memahami kandungan yang sangat agung dibaliknya?

Dari Anas bin Malik, ia berkata: bahwa Nabi SAW bersabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ
Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
(Dengan nama Allah; aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah).

Beliau melanjutkan:

قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ
Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya,

هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ
Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan dan mendapat penjagaan

فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ
Hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata,

كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ
Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan. (HR. Abu Dawud (4/325), no. 5094, dan at Tirmidziy (5/490), no. 3427; Shahiih at Tirmidziy)

Kalimat yang singkat ini, memiliki arti yang luas dalam masalah tawakal…

Imam Al-Ghazali, beliau berkata : “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata”. [Ihya' Ulumid Din, 4/259]

Al-Allamah Al-Manawi berkata : “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali” [Faidhul Qadir, 5/311]

Al-Mulla Ali Al-Qari berkata : “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah”. [Murqatul Mafatih, 9/156]

Sehingga ketika kita keluar rumah: kita sandarkan hati kita kepada Allah, kita mengakui kelemahan dan ketidakmampuan kita dalam melakukan apapun, yang mana seluruh kekuatan kita kembali kepada pertolonganNya, seluruh manfaat yang kita peroleh dan seluruh mudharat yang terhindarkan dari kita adalah karuniaNya.

Ia mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memberi manfa’at melainkan atas seizinNya, ia pun mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memberi mudharat melainkan atas seizinNya, maka ia bertawakkal kepadaNya.

Ia mengetahui bahwa Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana dalam menetapkan taqdir, ia mengetahui bahwa Allah Maha Teliti lagi Maha Bijaksana dalam mengurusi seluruh urusanNya, ia mengetahui bahwa kepadaNyalah kembali urusan rezeki dari seluruh makhlukNya, maka ia bertawakkal kepadaNya dalam segala urusan.

Kalimat doa berikutnya :
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Kalimat al-Hawqolah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, mengandung konsekuensi makna; “isti’aanah (memohon pertolongan) hanya kepada Allah.”

Karena kalimat ini berisi ikrar hamba, bahwasanya ia sedikitpun tidak memiliki daya dan kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan dan menghindar dari apa yang dibencinya, kecuali dengan daya dan kekuatan (pertolongan) dari al-Maula, yaitu Allah semata.

Demikian pula Zuhair bin Muhammad pernah ditanya tentang makna “Laa hawla walaa quwwata illaa billaah”, lalu beliau menjawab:

لاَ تَأْخُذُ مَا تُحِبُّ إِلاِّ بِاللهِ، وَلاَ تَمْتَنِعُ مِمَّا تَكْرَهُ إِلاَّ بِعَوْنِ اللهِ
“Engkau tidak akan mampu meraih apa-apa yang engkau sukai kecuali dengan pertolongan Allah, dan engkau tidak akan mampu menghindar dari apa-apa yang engkau benci kecuali dengan pertolongan Allah pula.”

Kedua tafsiran tersebut diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur: 5/393-394 [dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/282]

0 comments: