Betapa pentingnya kecerdasan itu
dimiliki oleh setiap orang. Orang cerdas berbeda dari orang bodoh, biasanya
lebih cepat menyelesaikan masalah. Berbekalkan kecerdasan, seseorang akan mampu
memahami apa yang ada pada dirinya dan juga apa yang ada di lingkungannya.
Sebaliknya, orang yang tidak cerdas akan sulit mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi. Selain itu, orang yang kurang cerdas juga tidak mengetahui kekurangan
dan kelebihan dirinya sendiri.
Sementara ini banyak orang berpendapat
bahwa kecerdasan itu letaknya di akal dan bukan di tempat lain. Oleh karena
itu, berbagai upaya, apalagi pendidikan diarahkan pada peningkatan kualitas
akal. Upaya itu misalnya melalui pelatihan, perbaikan kurikulum secara terus
menerus, peningkatan kualitas guru, pemenuhan sarana, lingkungan, dan
lain-lain. Ada keyakinan yang dipegang teguh bahwa, seseorang yang akalnya
terdidik secara tepat akan menjadi cerdas. Akal dianggap menjadi penentu
segala-galanya. Maka akallah yang harus dicerdaskan, dan bukan yang lain.
Melalui akal cerdas, maka berbagai
problem kehidupan bisa diselesaikan, hingga yang rumit sekalipun. Bermodalkan
akal cerdas pula, banyak hal bisa diciptakan, bisa direkayasa, bisa diatur,
sehingga kehidupan bisa dijalani dengan mudah. Sekarang ini, dengan akal
cerdas, bisa diciptakan alat komunikasi modern, yang sebelumnya tidak
terbayangkan, seperti HP, internet, dan lain-lain. Demikian pula, alat
transportasi seperti pesawat terbang super cepat, kapal selam yang tidak
terdeteksi radar, dan lain-lain, semua berhasil diciptakan dari kemampuan akal
itu.
Sebaliknya orang yang berakal lembek
atau bodoh, dan apalagi tidak mau belajar, mereka akan tertinggal jauh dari
siapapun yang cerdas. Persaingan, saling mempengaruhi, berebut, dan bahkan
saling mengambil keuntungan di antara sesama dalam kehidupan ini, sebenarnya
masih saja berlangsung. Penjajahan yang bersifat fisik pada umumnya sudah tidak
dilakukan lagi. Namun tidak berarti bahwa hal itu sudah hilang. Penjajahan
masih ada, hanya bentuknya saja berubah.
Alat persaingan dan jajah menjajah
sekarang ini sudah menggunakan ilmu dan teknologi. Siapa saja yang mampu
mengembangkan kekuatan tersebut, maka mereka yang menang. Persaingan pada saat
sekarang terletak di wilayah itu. Negara yang mampu mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi akan menawarkan produk-produk baru yang semakin hebat
dan dibutuhkan oleh masyarakat modern. Sebaliknya, mereka yang tidak mampu
mengembangkan dua kekuatan tersebut, hanya akan menjadi pasar dan atau konsumennya.
Padahal tidak ada ceritanya, konsumen atau pembeli lebih beruntung dibanding
para penjualnya.
Bangsa-bangsa yang lambat dalam
mengembangkan ilmu dan teknologi akan berposisi sebagai pasar. Oleh karena
pasar sedemikian penting bagi industri maka selain mereka diperebutkan, juga
diupayakan agar ilmu dan teknologinya tetap tidak berkembang selama-lamanya. Di
sinilah sebenarnya bentuk penjajahan di zaman modern atau di era kompetisi yang
semakin tajam. Tentu, orang yang berada pada posisi sebagai pasar, selamanya
tidak akan beruntung. Bahkan oleh karena tidak tersedia modal dan selalu lemah
di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, keadaannya akan semakin tergantung
pada pemilik berbagai jenis kelebihan sebagaimana yang dimaksudkan itu.
Hal tersebut merupakan gambaran dari
kekuatan akal yang dimiliki oleh manusia. Namun, di tengah-tengah perbincangan
terhadap kehebatan akal, ternyata ada pertanyaan mendasar, yaitu apakah memang
benar bahwa akal memiliki kekuatan dahsyat sebagaimana diyakini selama ini, dan
bukan pada bagian tubuh lainnya. Pertanyaan itu muncul dari kenyataan bahwa,
akal ternyata seringkali lupa mengingat sesuatu. Selain itu, tatkala keadaan
seseorang sedang galau, maka akalnya juga tidak mampu berpikir secara jernih.
Demikian pula ketika seseorang sedang marah, sedang lapar, sedang sakit, sedang
bertengkar, atau sedang keadaan emosi, maka akal tidak bisa berbuat apa-apa.
Apalagi ketika sedang tidur, maka akal akan beristirahat total.
Kekurangan lainnya, akal tidak mampu
melihat apa saja di luar jangkauannya. Sekalipun ilmu pengetahuan dipercaya
mampu memprediksi tentang apa yang akan terjadi, namun ternyata hasilnya juga
tidak ada kepastian. Seringkali prediksi yang dihasilkan oleh para ilmuwan
ternyata tidak selalu tepat, kecuali hal yang memang bersifat pasti atau eksak.
Bahkan, akal tidak bisa mengetahui kekurangan yang sedang dialami oleh
pemiliknya sendiri. Kemampuan akal kadang terlalu terbatas, tidak akan
menjangkau sesuatu yang tidak tersedia data atau informasinya.
Di balik kekurangan akal itu,
ternyata manusia masih dibekali kekuatan lagi yang lebih dahsyat, yaitu apa
yang disebut dengan hati. Namun, kekuatan itu terasa kurang mendapatkan
perhatian. Dianggap bahwa akal adalah segala-galanya. Padahal sebenarnya
kekuatan itu justru terletak pada hati. Kekuatan hati bisa menjangkau apa, di
mana, dan kapan saja. Melalui hati, seseorang bisa merasakan dan juga mengingat
sesuatu kejadian yang sudah berlangsung amat lama dan berada di tempat jauh
hingga tidak terbatas. Sekarang ini misalnya, hati kita masih bisa membayangkan
wajah kakek, nenek, ayah dan ibu, padahal misalnya, mereka itu sudah lama
wafat.
Sebagai contoh yang mudah dan
sederhana lagi, ketika kita sedang berada di perjalanan ke kantor misalnya, dan
ada sesuatu yang tertinggal, maka hati kita akan memberi tahu. Hati menjadi
gelisah atau tidak tenang untuk menunjukkan bahwa masih ada sesuatu yang belum
sempurna atau tertinggal. Demikian pula, ketika kita selesai menulis artikel,
dan ada kekurangan yang harus diperbaiki, maka hati merasa gelisah. Dalam
keadaan seperti itu rupanya ia memberi tahu, bahwa tulisan dimaksud masih perlu
dibaca dan dikoreksi kembali agar disempurnakan. Hal tersebut terasa sangat
berbeda ketika segala sesuatu sudah komplit atau dalam hal menulis sudah sempurna.
Hati menjadi merasa tenang. Dengan demikian, hati selalu menunjukkan dan
memmberi tahu tentang apa yang seharusnya kita lakukan.
Masih merupakan contoh sederhana
lainnya, yaitu ketika menjelang tidur dan berniat akan shalat tahajut malam itu
misalnya, maka pada waktunya, sekalipun tidak ada bunyi alarm, ternyata bisa
terbangun. Demikian pula ketika di bulan puasa, pada waktunya makan sahur, kita
selalu terbangun, Maka artinya, hati itu lebih hebat dibanding akal. Pada saat
tidur, akal ikut tidur. Sementara itu, hati tidak pernah ketiduran. Seringkali
terasakan bahwa akal melakukan kesalahan mengolah informasi atau
memperhitungkan sesuatu, sementara itu hati, sebagaimana Rasulullah, memiliki
sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Berbekalkan kekuatan itu, hati
memiliki kemampuan lebih dibanding akal.
Namun sayangnya, bagian tubuh yang
amat penting itu ternyata tidak selalu dikenali dan diperhitungkan, bahkan oleh
pemiliknya sendiri. Akibatnya, banyak orang melakukan kesalahan mendasar.
Pendidikan misalnya, selalu diarahkan pada akal dan bukan pada hati. Padahal
dinyatakan di dalam hadits nabi bahwa, perilaku seseorang itu ditentukan oleh
hati dan bukan oleh akal. Manakala hati seseorang baik maka seluruh
perbuatannya akan menjadi baik, dan begitu pula sebaliknya. Organisasi Islam
bernama : Jam’iyyatul Islamiyah yang sudah
berkembang di berbagai wilayah di Indonesia, secara bersama-sama berusaha
mengkaji al Qur’an
dan Hadits Nabi untuk memahami bagian penting dari tubuh manusia, yaitu ruh,
hati, atau nurani. Akhirnya, sekedar sebagai tambahan renungan, bahwa tatkala
seseorang sedang mencari suatu kebenaran, maka diingatkan oleh kalimat indah
dan tentu benar, yaitu bertanyalah kepada suara hati nuranimu, dan sebaliknya,
bukan kepada akalmu. Wallahu a’lam.






0 comments:
Posting Komentar