Kekayaan Yang Paling Berharga
Setiap orang jika ditanya kekayaan
yang paling mahal harganya dan yang paling disukai, maka hampir pasti mereka
akan menjawab : uang, mobil, rumah, berlian dan seterusnya. Jawaban itu tidak
salah. Memang itu semua sudah umum dipandang sebagai kekayaan. Seseorang
disebut kaya dan orang lainnya disebut miskin, perbedaan itu semata-mata karena
kepemilikan harta. Orang disebut kaya jika ia memiliki rumah besar, uang
banyak, mobil mewah, tabungan banyak di bank dan seterusnya. Sebaliknya orang
disebut miskin jika ia tidak memiliki rumah, tidak punya tabungan, tidak punya
mobil dan juga tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki apa-apa. Itulah
ciri orang miskin.
Sekalipun menurut pandangan sebagian
besar orang, anggapan ini benar, tetapi pertanyaannya kemudian adalah, apakah
tidak ada ukuran selain itu. Kita sering dengar ada juga pandangan yang
mengatakan, biar miskin harta asalkan tidak miskin jiwa. Dengan kalimat ini,
artinya ada orang yang sekalipun tidak memiliki harta, tetapi merasa memiliki
jiwa yang luas dan kukuh, lebih disukai. Sebaliknya, ada orang yang kaya harta
benda, tetapi sesungguhnya ia miskin. Jika harus memilih, memang yang terbaik
adalah menjadi kaya harta sekaligus kaya jiwa. Tetapi, jika alternatif ini tidak
boleh dipilih, maka ternyata ada orang yang lebih memilih kaya jiwa dari pada
kaya harta.
Kemudian, siapa sesungguhnya orang
yang disebut memiliki kekayaan jiwa itu. Saya pernah mendapati ceritera, ada
seorang pegawai Kementerian Agama, ketika memasuki pensiun, segera baju korpri
dan baju saparinya dicuci dan diseterika. Tatkala, pegawai yang tergolong
rendah, hanya menduduki jabatan di tingkat kabupaten diundang untuk acara
pelepasan pensiun, baju-baju tersebut dengan ikhlas diserahkan ke kantor dengan
maksud agar jika diperlukan, agar dipakai oleh pegawai lainnya. Toh kata dia,
setelah pensiun dia tidak akan menggunakan baju seragam itu lagi. Inilah
menurut padangan saya contoh orang yang tergolong kaya jiwa.
Sebaliknya dari ceritera di atas, sebagai contoh orang berjiwa kerdil yang juga disebut miskin jiwa, dapat dicontohkan lewat kasus berikut. Seorang pejabat, sekian banyak keluarganya dimasukkan di lembaga yang ia pimpin, sekalipun tidak memenuhi syarat. Ia berpikir, daripada diisi orang lain, apa salahnya diisi keluarganya sendiri. Bahkan, saudara dekatnya diberi fasilitas untuk pengadaan semua kebutuhan kantor. Itu dilakukan dengan alasan efisiensi, dan agar cepat. Kasus seperti ini, sederhana dan aneh, tetapi gampang sekali ditemui di mana-mana. Inilah gambaran orang yang hanya sebatas mementingkan dirinya sendiri dan abai pada orang lain. Satu sisi dia menjadi kaya, dihormati keluarganya dan diperjuangkannya, akan tetapi sesungguhnya dia hanya memiliki aku kecil, sebatas keluarganya, belum meraih aku besar, ialah masyarakatnya.
Orang yang kaya jiwa adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri, berani menghadapi tantangan hidup, ikhlas, sabar dan mampu membagikan kasih sayangnya kepada semua. Ia tidak takut miskin dan tidak takut pula kehilangan harta maupun jabatannya, yang ditakutkan adalah jika keberadaannya tidak memberi manfaat bagi orang lain. Lalu, siapa sesungguhnya orang yang miskin jiwa itu. Tidak lain adalah orang yang tidak menyandang sifat yang dimiliki oleh orang yang berjiwa besar itu. Sehingga, sekalipun hartanya melimpah, tetapi jika dia bakhil, pelit terhadap orang lain, maka harta yang dikumpulkan dengan susah payah, tokh akhirnya juga tidak memberi manfaat pada siapa saja, termasuk kepada dirinya sendiri.
Sebaliknya dari ceritera di atas, sebagai contoh orang berjiwa kerdil yang juga disebut miskin jiwa, dapat dicontohkan lewat kasus berikut. Seorang pejabat, sekian banyak keluarganya dimasukkan di lembaga yang ia pimpin, sekalipun tidak memenuhi syarat. Ia berpikir, daripada diisi orang lain, apa salahnya diisi keluarganya sendiri. Bahkan, saudara dekatnya diberi fasilitas untuk pengadaan semua kebutuhan kantor. Itu dilakukan dengan alasan efisiensi, dan agar cepat. Kasus seperti ini, sederhana dan aneh, tetapi gampang sekali ditemui di mana-mana. Inilah gambaran orang yang hanya sebatas mementingkan dirinya sendiri dan abai pada orang lain. Satu sisi dia menjadi kaya, dihormati keluarganya dan diperjuangkannya, akan tetapi sesungguhnya dia hanya memiliki aku kecil, sebatas keluarganya, belum meraih aku besar, ialah masyarakatnya.
Orang yang kaya jiwa adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri, berani menghadapi tantangan hidup, ikhlas, sabar dan mampu membagikan kasih sayangnya kepada semua. Ia tidak takut miskin dan tidak takut pula kehilangan harta maupun jabatannya, yang ditakutkan adalah jika keberadaannya tidak memberi manfaat bagi orang lain. Lalu, siapa sesungguhnya orang yang miskin jiwa itu. Tidak lain adalah orang yang tidak menyandang sifat yang dimiliki oleh orang yang berjiwa besar itu. Sehingga, sekalipun hartanya melimpah, tetapi jika dia bakhil, pelit terhadap orang lain, maka harta yang dikumpulkan dengan susah payah, tokh akhirnya juga tidak memberi manfaat pada siapa saja, termasuk kepada dirinya sendiri.






0 comments:
Posting Komentar