HARTA DALAM ISLAM (BERHALA)
Zaman Nabi Isa diceritakan sesungguhnya
ada seorang pemuda kaya yang ingin mengikuti Al Masih dan ingin masuk ke
agamanya, maka Al Masih berkata kepadanya, "Juallah harta milikmu
kemudian berikanlah dari hasil penjualan itu kepada fuqara' dan kemari
ikuti aku." Maka ketika dirasa berat bagi pemuda itu maka Al Masih pun
berkata, "Sulit bagi orang kaya untuk memasuki kerajaan langit! Saya
katakan juga kepadamu, "Sesungguhnya masuknya unta ke lubang jarum itu
lebih mudah, daripada masuknya orang kaya ke kerajaan Allah."
Kini ketika berbagai aliran (faham) baru seperti Materialis dan
Sosialis, mereka menjadikan perekonomian itu sebagai tujuan hidup dan
menjadikan harta sebagai Tuhannya bagi individu dan masyarakat.
Harta dalam Islam itu tidak menjadi berhala yang disembah oleh manusia
sebagai tandingan selain Allah. Dan hendaknya jangan menyebabkan bagi
pemiliknya untuk lalai terhadap Rabb-Nya dan menindas makhluq-Nya. Maka
ini semua merupakan fitnah harta yang diperingatkan oleh Islam, Allah
SWT berfirman:
"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu
itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala
yang besar." (Al Anfal:28)
"Hai orang-orang yang
beriman,janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah
orang-orang yang rugi." (Al Munaafiquun: 9)
"Harta dan
anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang
kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta
lebih baik untuk menjadi harapan." (Al Kahfi: 46)
"Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al 'Alaq: 6-7)
Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya penyelewengan itu
tidak muncul disebabkan sekedar oleh kekayaan, akan tetapi disebabkan
karena anggapan manusia itu sendiri bahwa seakan harta itu
segala-galanya, ia tidak lagi memerlukan yang lainnya.
Allahlah
pemilik harta benda, karena Dia yang menciptakannya dan yang
menciptakan sumber produksinya serta memudahkan sarana untuk
mendapatkannya, bahkan Dia-lah yang menciptakan manusia dan seluruh alam
semesta.
"Dan kepunyaannya (Allah) apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..." (An-Najm: 31)
"Ingatlah sesungguhnya hanya milik-Nya makhluq yang ada di langit dan makhluk yang ada di bumi.." (Yunus: 66)
"Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam, kamukah yang
menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya." (AI Waqi'ah: 63-64)
"Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu... (An-Nuur: 33)
"Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah
berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu
baik bagi mereka..." (Ali 'Imran: 180)
Jadi apa yang diberikan
Allah kepada manusia dari karunia-Nya salah satunya adalah harta,
sehingga kekuasaan manusia atas harta itu sekedar sebagai wakil, bukan
pemilik aslinya.
Jika manusia adalah sebagai amin (yang
dipercaya) untuk memegang harta dan sebagai wakil, maka tidak boleh bagi
manusia untuk menyandarkan harta itu pada dirinya dan mengatasnamakan
keutamaan itu sebagai atas jerih payahnya, sehingga ia mengatakan
seperti yang dikatakan oleh orang kafir, "Ini adalah milikku"
(Fushshilat: 41). Atau mengatakan seperti yang dikatakan oleh Qarun,
"Sesungguhnya aku diberi harta itu, hanya karena ilmu yang ada padaku"
(Al Qashash: 78).
Demikian juga tidak diperbolehkan bagi
manusia untuk menyibukkan dirinya dengan harta itu, tanpa melibatkan
keluarga dari pemilik aslinya, karena seluruh makhluq adalah keluarga
Allah. Hal ini berarti ia telah melupakan kedudukan dan fungsi harta
itu.
Imam Fakhruddin Ar-Razi mengatakan di dalam tafsirnya,
"Sesungguhnya orang-orang fakir itu adalah keluarga Allah dan
orang-orang kaya itu khuzzanullah (yang menyimpan harta Allah), karena
harta yang ada di tangan mereka adalah harta Allah. Seandainya Allah SWT
tidak memberikan harta itu di tangan mereka, niscaya mereka tidak
memilikinya sedikit pun. Maka bukan sesuatu yang aneh jika ada seorang
raja berkata kepada bendaharanya, "Berikan sebagian dari harta yang ada
di gudang kepada orang-orang yang membutuhkan dari hamba-hamba
sahayaku."
0 comments:
Posting Komentar