Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Upaya setiap kita (Lembaga dan Guru)

Salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun ini ialah perbaikan kurikulum, dari kurikulum berbasis karakter hingga kurikulum Mardeka. Hal ini dihajatkan untuk menjawab tuntutan masyarakat yang menganggap sistem pendidikan di Indonesia lebih pada transfer kemampuan kognitif saja. Tujuan pendidikan yang sebenarnya, yakni membentuk karakter peserta didik yang belum tercapai. Lambat laun kini tujuan pendidikan ini sudah mulai bisa dirasakan.

Usaha pemerintah tersebut didukung dengan berdirinya lembaga pendidikan Islam yang semakin menjamur di Indonesia, baik dengan trade mark lembaga islam terpadu, islam unggulan, dan lain sebagainya termasuk pondok pesantren. Kehadiran lembaga-lembaga tersebut tentu sangat menggembirakan karena masyarakat semakin banyak memiliki pilihan dalam menentukan pendidikan putra putrinya. Namun, di sisi lain masih sering kita temui di masyarakat, baik orang dewasa, remaja bahkan anak-anak yang berperilaku negatif, amoral, bahkan mengarah pada perbuatan kriminal. Hal ini tentu sangat meresahkan dan menimbulkan banyak sekali pertanyaan.

Kenapa semakin banyaknya lembaga pendidikan islam, tidak berpengaruh besar terhadap perbaikan akhlak masyarakat? Lalu, apa peran lembaga pendidikan terhadap pembentukan akhlak peserta didiknya? Seberapa serius lembaga pendidikan mengintegrasikan pembentukan akhlak dalam kurikulumnya? Ternyata memang tidak mudah mengaplikasikan kurikulum baru dan tidak semua lembaga memiliki kapasitas serta kualitas yang dibutuhkan dalam membentuk karakter mulia peserta didik.

Dari sekian banyak lembaga pendidikan, pesantren dipercaya sebagai lembaga pendidikan yang mampu mengintegrasikan teori dan praktek dalam sistem kependidikannya, terutama dalam pembentukan karakter dan kemandirian santri. pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Indonesia sangat besar peranannya dan pantas dijadikan lembaga rujukan. Ini dikarenakan pesantren menerapkan pola pendidikan yang holistik yakni ta’lim (pengajaran), tarbiyah (pembelajaran), serta ta’dib (pembentukan akhlaq) selama ini. Para santri di pondok pesantren dilatih untuk memahami nilai-nilai Islam rohmatan lil ‘alamin seperti, al ‘Adalah, (adil), at Tasaamuh (toleransi), al Ikhlash (ikhlas), at Tawassuth (netral), amruhum syuro bainahum (demokrasi). Untuk memiliki nilai-nilai tersebut, santri atau pelajar tentu butuh pembelajaran dan pembiasaan melalui keteladanan serta lingkungan yang mendukung.

Pepatah arab Syaikh Musthofa Al Ghulayain menyebutkan;

 شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ أِنَّ فِي يَدِكُمْ أَمْرُ الْأُمَّةِ وَفِي اَقْدَامِكُمٍ حَيَاتُهَا.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Sesungguhnya di tanganmu-lah urusan bangsa dan dalam langkahmu tertanggung masa depan bangsa.”

Maqolah tersebut senada dengan syair Imam Asy-Syauqiy yang menyebutkan bahwa:

وَ اِنَّمَا اْلاُمَمُ اْلاَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ، فَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ اَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا

“Sesungguhnya kejayaan suatu bangsa terletak pada akhlak manusianya. Jika mereka telah kehilangan akhlaknya maka hancurlah bangsanya.”

Artinya, nasib sebuah bangsa di masa mendatang tergantung kualitas generasi hari ini, dan kualitas seseorang akan ternilai baik dari akhlaknya. Memang seharusnya pembentukan akhlak mulia generasi muda menjadi perhatian semua kalangan, baik keluarga, lembaga pendidikan, maupun pemerintah. Akhlak harus dibentuk sejak dini dan berkesinambungan karena itu membutuhkan peran serta semua pihak. Secara formal, pemerintah telah membuat berbagai aturan dalam pembentukan akhlak anak bangsa, terutama para peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan.

Akhirnya, setiap usaha pondok pesantren untuk menanamkan akhlak mulia bagi para santri merupakan sumbangsih besar dalam menyiapkan generasi bangsa yang memiliki nilai-nilai toleran, demokratis, tulus dan moderat. Jadi, tidak heran jika dikatakan bahwa sebuah bangsa akan hancur jika rakyatnya eksklusif, intoleran, diskrimanatif terhadap sesama. Nasib sebuah bangsa di masa depan ditentukan oleh generasi hari ini. Jika generasi hari ini baik maka bangsa tersebut akan semakin hebat. Sebaliknya, jika generasi tidak berkualitas maka bangsa tersebut akan hancur.

0 comments: