Terdapat tiga karakteristik utama
dalam kurikulum prototipe:
- Pengembangan kemampuan non-teknis (soft
skills)
Keterampilan
non-teknis adalah perkembangan kemampuan dengan EQ dan berkaitan dengan
kemampuan bersosialisasi para siswa. Pada kurikulum prototipe, tidak hanya
diajarkan pada keterampilan yang berkaitan dengan bidang yang ditekuni siswa
saja, tetapi bisa lintas minat.
Bahwa
guru diminta untuk memberikan sejumlah tugas atau proyek kepada para murid yang
sifatnya bisa lintas mata pelajaran, bahkan lintas peminatan.
Pada
kurikulum prototipe, siswa Sekolah Dasar (SD) paling tidak dapat melakukan dua
kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Sedangkan siswa SMP, SMA/SMK
setidaknya dapat melaksanakan tiga kali penilaian proyek. Namun demikian,
sekolah tetap diberikan keleluasaan untuk pengembangan program kerja tambahan.
- Berfokus pada materi esensial
Dengan
pembelajaran yang difokuskan pada materi-materi esensial, maka ada waktu cukup
untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar, seperti literasi dan
numerasi. Dengan begitu, para siswa atau murid tidak tertinggal dalam kemampuan
dasar tersebut.
Selain
itu, sudah tidak ada lagi jurusan ilmu sosial (IPS), alam (IPA), dan bahasa di
jenjang pendidikan SMA. Siswa juga bebas dalam memilih mata pelajaran sesuai
dengan yang diminatinya. Hal ini didasarkan pada kurikulum prototipe yang
mengedepankan pengembangan karakter dan kompetensi esensial siswa.
Berbeda
dengan kurikulum 2013 yang mengenal istilah KI dan KD, pada kurikulum prototipe
terdapat istilah Capaian Pembelajaran (CP). CP merupakan satu kesatuan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berkelanjutan, sehingga membangun
kompetensi yang utuh.
- Memberikan fleksibilitas bagi guru
Guru,
dalam hal ini, dapat mengajar suatu hal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
oleh si murid. Fleksibilitas bagi guru, dimaksudkan untuk melakukan
pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid dan melakukan penyesuaian
dengan konteks dan muatan lokal.
Selain itu, perencanaan kurikulum bagi sekolah pun dapat diatur dengan cara yang lebih fleksibel. Dalam kurikulum prototipe, tujuan belajar ditetapkan per fase, yakni dua hingga tiga tahun, untuk memberi fleksibilitas bagi guru dan sekolah.






0 comments:
Posting Komentar