Toleransi Bukan Berarti Ikut Tradisi
Assalamu'alaikum Sahabat
Hikmah. Imam Abu Dawud menceritakan bahwa Rasul berpuasa pada hari Sabtu
dan Ahad kemudian meninggalkannya. Rasul bersabda; "Keduanya merupakan
hari raya orang kafir (Yahudi dan Nashrani) dan aku ingin menyalahinya,
(berbeda dengan mereka)." Dalam riwayat lain, ketika Rasul datang ke
Madinah, masyarakatnya yang musyrik memiliki dua hari raya (hari raya
Nayruz dan Mihrajan) yang mereka rayakan, maka Rasul saw bersabda:
“Sungguh Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang
yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan idul Fithri.”
Bukan hanya sekali dua kali Rasul menyalahi budaya orang-orang kafir.
Tapi setiap kali, hingga oran Yahudi mengatakan, "Tidak luput satu
perkara dari urusan kami (Yahudi) kecuali dia (rasul) menyalahi kami
dari hal itu" (HR. Bukhari). Jika Rasul teladan kita sepanjang zaman
tidak mengikuti budaya orang-orang kafir, apa alasan kita memberi ucapan
selamat natal, ikut hadir dalam perayaan natal, atau menggunakan
atribut dan pakaian khas natal?
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad).
“Dan
apabila mereka melewati (orang-orang) yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan
menjaga kehormatan dirinya” (QS al-Furqan [25]: 72).
Berdasarkan
ayat ini Imam Ahmad berkata: “Kaum Muslimin telah diharamkan untuk
merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.“ Imam Baihaqi
menyatakan, “Jika kaum Muslimin diharamkan memasuki gereja, apalagi
merayakan hari raya mereka.”
Kini, media tengah ramai memblowup
tema hari Natal yang dirayakan kaum Nashrani. Bahkan dalam acara
puncaknya, akan dihadiri oleh orang No. 1 di negeri kita. Tak masalah
jika perayaan hanya untuk kalangan mereka di lingkungan mereka. Namun
ketika masyarakat muslim digiring media untuk bersikap toleransi dengan
memberi ucapan selamat atau hadir dalam perayaannya, sudah termasuk
usaha pendangkalan akidah. Haram hukumnya. Toleransi beragama dalam
Islam adalah membiarkan non muslim merayakan hari besarnya. Bukan ikut
tradisi dalam bentuk apapun meski itu dianggap trendi. Di sinilah
pentingnya kita punya institusi negara (khilafah) yang akan menjaga
akidah umat dari serangan budaya. Tak ada ucapan selamat untuk perilaku
sesat.






0 comments:
Posting Komentar