Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Qasidah Fadhoilul Qur'an

Qasidah Fadhoilul Qur'an

Sholatullahi wa salam, ‘ala man uhiyal qur’an    2x

Wa ahli baitihil kiram, wa shohbihi dzawil qur’an   2x

Dengarkanlah kata Nabi, perintahnya kita turuti

Sebaik-baik seorang abdi, belajar mengajar kitab suci

Jika Anda akan membaca, ayat qur’an kapan saja

Baca ta’awudz terlebih dulu, jangan biarkan itu berlalu

Bacalah slalu bismillah, jika dari awal surah

Selain Surah Baroah, karena tak ada sunnah

Bacalah Qur’an dengan tartil, bacanya pelan sambil memikir

Akan datang Malaikat Jibril, membawa rahmat bagi pedzikir

Jika ada yang baca Qur’an, marilah sama mendengarkan

Jika kita sama membaca, janganlah kita saling mencerca

Orang mahir baca Al-qur’an, sama malaikatur-Rahman

Orang sulit baca Al-qur’an, akan dapat dua ganjaran

Siapa senang membaca Qur’an, pastilah dia dapat ganjaran

Siapa senang bersimaan, dapat rahmat dari yang Rahman

Barang siapa yang hafal Qur’an, nilai-nilainya diamalkan

Orang tuanya disematkan, mahkota indah yang berkilauan

Jika selesai mengaji, tutuplah mushaf yang suci

Benarkanlah sang Ilahi, tanda cinta yang abadi

Itulah syair tentang Al-qur’an, kitab suci kita muliakan

Meminta Allah Yang Maha Rahman, dapat syafa’atnya Al-qur’an

Sholatullahi wa salam, ‘ala man uhiyal qur’an    2x

Wa ahli baitihil kiram, wa shohbihi dzawil qur’an   2x

Dualisme makhluk Alloh

Allah berkata kepada Malaikat: “Aku akan ciptakan manusia sebagai pemimpin di bumi.” “Apakah Tuhan akan menciptakan manusia yang kerjanya hanya berperang saling menumpahkan darah?” (malaikat keberatan) “Wahai malaikat, coba sebutkan nama-nama benda-benda itu semua!” (perintah Tuhan). “Maha Suci Engkau Tuhan… Kami tidak mengetahui apa pun kecuali apa-apa yang telah Engkau ajarkan,” para malaikat mengakui kesalahan dan kelemahannya. “Hai Adam-, coba kau sebutkan nama-nama benda-benda itu semua,” (ucap Allah SWT).
Dengan lancarnya, Adam menyebutkan semua nama-nama benda tersebut. Kemudian Tuhan memerintahkan para penghuni surga untuk memberi penghormatan kepada Adam dengan bersujud. Para malaikatpun segera bersujud dan menghormat kepada Adam. Iblispun berargumentasi; “Kami tidak mau bersujud kepada Adam. Karena Engkau d?ciptakan Adam dari tanah. Sedangkan Engkau ciptakan kami dari api.” Argumentasi iblis memang benar.
Mereka tercipta dari api sedang Adam tercipta dari tanah. Iblis berpikir bahwa api lebih mulia dari tanah. Seharusnya Adam yang bersujud kepada iblis bukan sebaliknya, Iblis tetap membanggakan diri dengan dalih tercipta dari api. iblispun harus terusir dari surga dan tetap bersikap sombong.
Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah di atas. Bagi saya, pelajaran yang:
Pertama adalah malaikat saja bisa salah apa lagi kita manusia. Tetapi kehebatan malaikat, mereka mau segera memperbaiki kesalahannya itu.
Pelajaran kedua, kebenaran tidak sepantasnya mengarah kepada kesombongan. Iblis sendiri benar dengan argumennya bahwa ia tercipta dari api. Tetapi kesombongan iblis membuatnya terjerumus kepada tindakan yang salah, tidak menghormati Adam.
Pelajaran ketiga, kesalahan dapat terjadi sewaktu-waktu dan berlaku bagi siapa saja.
Ketika sadar bahwa hal itu salah maka segeralah memperbaiki diri dan istighfar, jangan lantas mengumbar argumen sebagaimana iblis. Tuhan, Bagaimana pun kami berlindung kepada Tuhan dari tindakan sombong sebagaimana kesombongan iblis.
Semoga kita dapat saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. “Tuhan…lindungilah kami dari tindakan-tindakan yang tidak terpuji.”

Pilar Penopang Kehidupan

Saat ini kita menyaksikan ketidakteraturan di berbagai lini kehidupan; Krisis ekonomi, ketimpangan sosial, hingga hilangnya adab. Lantas kitapun bertanya: "Sesungguhnya Apa yang salah dengan tatanan dunia kita?"

Fenomena hari ini menunjukkan adanya pergeseran nilai. Banyak orang merasa nyaman karena dunia bisa diatur dengan teknologi, modal finansial. Namun, sebagai orang yang beriman, kita meyakini adanya tatanan spiritual dan sosial yang bersifat tawazun (seimbang). Bahwa sebagus apapun zaman dan teknologinya, hukum Allah jelas: jika Baik ya Halal jika Buruk ya Harom, maka jangan tinggalkan yang Wajib-Ain untuk mengejar yang sunnah. (Gus baha).

Bahwa Dunia ini tetap akan eksis, dan barokah bukan karena kecanggihan teknologi dan kekuatan finansial, namun lebih pada karena keberadaan empat golongan manusia yang menjalankan fungsinya. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW.: قِوَامُ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءِ. أَوَّلُهَا بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ وَالثَّانِي بِعَدْلِ الْأُمَرَاءِ وَالثَّالِثُ بِسَخَاوَةِ الْأَغْنِيَاءِ وَالرَّابِعُ بِدَعْوَةِ الْفُقَرَاءِ "tegaknya dunia karena Empat pilar, yaitu: Ilmunya ulama, Adilnya para pemimpin, Kedermawanan orang² kaya dan Do'a-nya orang² miskin"

Jika salah satu dari empat pilar ini rapuh, maka kehidupan akan pincang. Jika semua pilar runtuh, maka kehancuran akan semakin meluas.

Berikut yang bisa kami rincikan:

Pilar Pertama: أَوَّلُهَا بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ Ilmunya Ulama Ulama adalah pelita umat. Tanpa ilmu, manusia mudah tersesat meskipun niatnya baik. Allah SWT., berfirman: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ (سورة المجادلة: ١١) “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ilmu ulama bukan untuk kebanggaan pribadi, tetapi untuk membimbing umat, meluruskan yang menyimpang, menenangkan yang gelisah, dan menghidupkan hati yang mati. Rasulullah SAW., bersabda: اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” Jika ulama diam dari kebenaran, enggan mengingatkan keluarganya, para pemimpin atau ilmunya tidak diamalkan, maka masyarakat akan dis orientasi, kehilangan arah.

Pilar Kedua: وَالثَّانِي بِعَدْلِ الْأُمَرَاءِ Adilnya Pemimpin. Pemimpin yang adil adalah nikmat besar dari Allah. Dengan keadilan, keamanan terjaga, hak terlindungi, dan rakyat merasa tentram.

Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَىٰ مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ “Sesungguhnya orang-orang yang adil kelak di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya.” Adil bukan berarti menyenangkan semua pihak, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya, meskipun berat dan berisiko. Keadilan pemimpin mampu menahan murka Allah, sedangkan kezaliman pemimpin dapat mendatangkan azab yang meluas.

Pilar Ketiga: وَالثَّالِثُ بِسَخَاوَةِ الْأَغْنِيَاءِ Kedermawanan Orang Kaya. Harta bukanlah milik mutlak manusia, tetapi titipan Allah. Orang kaya diuji dengan bagaimana hartanya dibelanjakan.

Allah SWT., berfirman: خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا (سورة التوبة: ١٠٣) "Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka"

Kedermawanan orang kaya: mengurangi kesenjangan sosial, menguatkan ukhuwah, mendatangkan keberkahan harta. Rasulullah SAW., bersabda: مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ "Harta tidak akan berkurang karena sedekah" Nabi SAW., bersabda: إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ "Sungguh semua umatku akan didatangi cobaan dan fitnah dan di antara fitnah bagi umatku adalah hartanya" (HR. Imam Bukhari).

Pilar Keempat: وَالرَّابِعُ بِدَعْوَةِ الْفُقَرَاءِ Do'a-nya Orang Miskin Sering diremehkan, padahal do'a orang miskin adalah senjata yang dahsyat. Mereka yang tidak memiliki apa-apa di dunia, seringkali memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT.

Rasulullah SAW., bersabda: هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ "Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki karena orang² lemah di antara kalian?"

Pengemis jalanan adalah orang mampu dan kuat yang hanya malas bekerja, padahal di balik itu juga mereka kaya. Rasulullah SAW., bersabda: لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا "Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak” (HR. Bukhari no. 1476).

Do'a orang miskin tidak ada hijab antara dia dan Allah. Nabi SAW., bersabda: إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ "Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang² lemah (miskin) mereka di antara mereka, yaitu dengan Do'a, Shalat, dan Keikhlasan mereka” (HR. An Nasai no. 3178.

Karenanya Empat pilar ini harus berjalan bersama. Ilmu tanpa keadilan akan kering. Kekuasaan tanpa kedermawanan akan zalim. Kekayaan tanpa kepedulian akan membawa murka. Dan masyarakat yang meremehkan orang miskin akan kehilangan keberkahan.

Setiap kita memiliki peran penting dalam menegakkan pilar kehidupan di dunia ini sesuai posisi dan porsinya masing-masing, karenanya kita musti segera sadar bahwa, وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ dan setiap hamba dalam hidupnya di dunia tidak luput dari pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya. Mulai dari aktivitasnya, kegiatannya, pekerjaannya, pergaulannya, termasuk anggota badannya terhadap apa yang mereka perbuat. Rosululloh Muhammad SAW, bersabda: لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ) "Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat kelak hingga ia ditanya mengenai empat perkara: (1) Umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) Jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) Ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) Hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan" (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

Pertama yang akan dipertanggungjawabkan pada hari kiamat kelak adalah umur kita عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ Sejak kita menginjak usia baligh, seluruh apa yang kita yakini, kita ucapkan dan kita perbuat, akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Jika kita telah melakukan seluruh kewajiban dan menjauhkan diri kita dari semua yang diharamkan, maka kita akan selamat dan bahagia. Sebaliknya, jika tidak, maka kita akan binasa dan merana.

Kedua, kita akan ditanya mengenai jasad kita وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ Jika seluruh anggota badan kita gunakan untuk berbuat ketaatan kepada Allah, maka kita akan senang dan beruntung. Sebaliknya, jika kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita akan rugi dan buntung.

Ketiga, kita akan ditanya mengenai ilmu kita وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ Kita akan ditanya, apakah kita telah mempelajari bagian ilmu agama yang fardlu ain untuk kita pelajari atau tidak. Dan jika kita telah mempelajarinya, apakah sudah kita amalkan ataukah tidak. Ilmu agama yang hukum mempelajarinya fardlu ain adalah seperti dasar-dasar ilmu syari'at (aqidah, fiqih "hukum dasar terkait bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, maksiat-maksiat anggota badan dan lain sebagainya). Dalam sebuah hadits diriwayatkan: وَيْلٌ لِمَنْ لَا يَعْلَمُ“Sungguh sangat celaka orang yang tidak belajar (ilmu agama yang fardlu ain), وَوَيْلٌ لِمَنْ عَلِمَ ثُمَّ لَا يَعْمَلُ dan sungguh sangat celaka orang yang mempelajarinya tetapi tidak mengamalkannya.”

Keempat, kita akan ditanya mengenai harta وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ dari mana kita memperolehnya dan untuk apa kita belanjakan. Dalam masalah harta, manusia terbagi menjadi tiga golongan, dua celaka dan satu yang selamat. Dua golongan yang celaka pada hari kiamat adalah mereka yang mengumpulkan harta dengan cara yang haram atau dari sumber yang haram, dan mereka yang mengumpulkan harta dengan cara yang halal tapi membelanjakannya untuk hal-hal yang diharamkan, sementara golongan yang selamat adalah golongan manusia kaya yang cara dapat dan penggunaannya halal. Rosullullah SAW bersabda: نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ) “Sebaik-baik harta adalah harta milik orang yang sholeh.” (HR Ahmad dalam al-Musnad).

Kesimpulan: Ulama' kita, guru-guru kita senantiasa wewanti-wanti kita agar menggunakan kesempatan hidup ini untuk ikut berjuang sesuai hadist Rosululloh: مَنْ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِمَالِهِ، وَمَنْ كَانَ لَهُ قُوَّةٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِقُوَّتِهِ، وَمَنْ كَانَ لَهُ عِلْمٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِعِلْمِهِ "Barangsiapa memiliki harta, maka sedekahlah dengan hartanya. Barangsiapa memiliki kekuasaan (kekuatan), maka sedekahlah dengan kekuatannya. dan Barangsiapa memiliki ilmu, maka sedekahlah dengan ilmunya"

Demikian, semoga manfaat.

Sya'ban Jembatan Kemenangan

Bulan Sya'ban adalah Penghubung menuju Romadhon, bulan mulia yang syarat dengan ibadah, keberkahan dan kemenangan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imron: 102: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ dalam pandangan Tafsir Al-misbah (manusia dianjurkan untuk bertakwa, dan diperintahkan berupaya menuju jalan yang benar, sehingga memperoleh anugerah sesuai usahanya), وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ dalam pandangan tafsir jalalain (bahwa Alloh memerintahkan kepada kita untuk tidak mati kecuali dalam keadaan Muslim).

Bulan Sya'ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kita. Pertanyaannya, Amal seperti apa yang akan kita persembahkan kepada Alloh SWT? Amal penuh kelalaian, atau amal yang disertai taubat dan kesungguhan?

Rosululloh SAW bersabda: كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى "Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan masuk surga itu?' beliau menjawab, "Siapa yang mentaatiku ia masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku sungguh ia telah enggan masuk surga." (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu).

Dibulan Sya'ban ini banyak sekali amalan-amalan ringan seperti bertasbih, beristigfar, bersholawat, yang dapat membersihkan hati kita, memperbaiki perilaku kita, yang kemudian secara spontan kita terbiasa dengan Ibadah-ibadah Sunnah yang menjadi penyebab kita kemudian di cintai oleh Rosululloh SAW. مَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Alloh SWT berfirma: : مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا "Barangsiapa yang mentaati Rosululloh, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka, An-Nisa 80"

Banyak sekali kesalahan yang mungkin kita lakukan beberapa bulan terakhir yang lalu tanpa sengaja dan yang kita sengaja lalu hari ini baru kita mengingatnya, Karena itu segeralah bertaubat: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Bulan Sya'ban mengingatkan kita untuk memperbaiki hubungan, baik hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Jangan sampai Romadhon datang sementara hati kita masih punya dendam, iri, dengki dan permusuhan. (tentu tidak bahagia).

Rasulullah SAW bersabda: تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فِي كُلِّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ “Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis. Maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang di antara dia dan saudaranya ada permusuhan.” (HR. Muslim).

Maka Sya'ban adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan, saling melapangkan dada (besarkan wadah), bersihkan hati dan tingkatkan rasa malu kita terhadap Allah SWT., karena malu adalah representasi dari iman, karakter utama yang menjadi bagian integral dari iman, الْحَيَاءُ مِنَ الإيمَانِ Seorang Muslim yang memiliki rasa malu akan cenderung menghindari perilaku yang tidak pantas, dan tidak bermoral yang berakibat pada dosa.

Bulan Sya'ban ini juga adalah sekaligus kesempatan bagi kita untuk yang memiliki hutang agar membayar hutang-hutang itu, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an tadi: وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (Jangan kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim) artinya selesaikan hutang kita baik itu yang bersifat Haqqulloh maupun Haqqul Adami.

Bulan Sya'ban merupakan waktu terakhir mengqodho' puasa sebelum Romadhon tiba. Oleh karena itu bagi yang masih punya utang puasa segeralah melunasinya dengan dua cara: Qodho' Puasa atau Membayar Fidyah.

Alloh SWT berfirman QS. Al-Baqarah 184: فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ Dari ayat ini, dapat kita pahami bahwa, jika seseorang dalam keadaan sakit atau sedang berada dalam suatu perjalanan (safar: Masafatul Qosry-Masafatul Qadha'nya 88,749 km.) pada tahun-tahun sebelumnya dan tidak berpuasa, maka baginya berkewajiban untuk mengganti kewajiban puasanya di hari yang lain. Kemudian sekiranya di hari yang lain pun tidak mampu melakukan puasa pengganti disebabkan karena uzur syar‘i,وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ maka ia bisa mengganti puasa yang ditinggalkan dengan cara membayar Fidyah, (Secara bahasa Fidyah adalah tebusan. Secara istilah syariat Fidyah adalah Denda yang wajib ditunaikan setelah meninggalkan kewajiban) yaitu memberi makan seorang miskin.

Rosululloh bersabda; فَدَيْنُ اللهِ أَحَقٌ أَنْ يُقْضَى "Hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan" (HR al-Bukhori).

Dari hadits ini sesungguhnya kita diperintahkan untuk mengqodho' puasa atau membayar fidyah.

Ustadz bagaimana hukumnya mengqodho' puasa di akhir bulan Sya'ban?... Sebagian ulama berpendapat Haram Qodho' puasa setelah nisfu sya'ban sebagaimana disebutkan dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 3237, Tirmizi, no. 738, Ibnu Majah, no. 1651 dari Abu Hurairah Ra., berkata bahwa Rosulullah SAW., bersabda:إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلا تَصُومُوا "Kalau telah memasuki pertengahan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa"

Hadits ini menunjukkan larangan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban, yang dimulai dari  hari keenam belas. Akan tetapi ada (dalil-hadist) yang memperbolehkan berpuasa., sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, no. 1914. Muslim, no. 1082 dari Abu Hurairah Ra., berkata, bahwa Rosulullah SAW., bersabda: لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلا يَوْمَيْنِ إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari, melainkan seseorang yang (terbiasa) berpuasa, maka berpuasalah.” (kalau tidak terbiasa puasa Sunnah jangan lakukan).

Bahwa Alloh SWT berfirman At-Tagabun 16: فَاتَّقُوا اللَّه مَا اسْتَطَعْتُمْ "Bertakwalah kepada Alloh sesuai kemampuanmu!" dan Rosululloh SAW bersabda: اِذا اَمَرْتُكُمْ بِاَمْرٍ فَائْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ "Apabila kuperintahkan kepada kalian suatu perkara, maka kerjakanlah, menurut kesanggupanmu; dan apa saja yang aku larang, Tinggalkanlah.

Oleh karenanya Mari kita gunakan bulan Sya’ban ini sebagai jembatan keberkahan dengan memperbanyak pertaubatan, memperbanyak amal kesholehan, dengan keluasan hati yang bersih, agar ketika Romadhon datang, kita sudah siap lahir dan bathin.

Akhirnya... Semoga Alloh SWT mempertemukan kita dengan Romadhon dalam keadaan sehat, iman yang kokoh dan hati yang lurus, اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Amalan Malam Nisfu Sya'ban

Amalan malam Nisfu Sya'ban, Membaca surat Yasin 3 kali dengan niat:

Pertama, Minta panjang umur dalam ketaatan dan kesehatan.

نَوَيْنَا قِرَاءَةَ سُورَةِ يُسَ بِنِيَّةِ طُولِ الْعُمْرِ مَعَ التَّوْفِيقِ لِلطَّاعَةِ وَمَعَ الصِحَّةِ وَالْعَافِيَةِ، أَلْفَاتِحَة

Kedua, Minta dijauhkan dari segala malapetaka dan penyakit serta mintalah kelapangan rizqi.

نَوَيْنَا قِرَاءَةَ سُورَةِ يُسَ بِنِيَّةِ الْعِصْمَةِ مِنَ الْآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ، وَبِنِيَّةِ سَعَةِ الْأَرْزَاقِ الْفَاتِحَة

Ketiga, Mintalah Husnul Khotimah dan Kekayaan (hati).

نَوَيْنَا قِرَاءَةَ سُورَةِ يُسَ بِنِيَّةِ غِنَى الْقَلْبِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ الْفَاتِحَة

Setiap bacaan Awali dengan Niat diatas dan Akhiri dengan Do'a dibawah ini:

اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المِسْتَجِيْرِينَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ في الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِي وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سَعِيدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِأَسْمَاءِكَ الْحُسْنَى اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَلِوَالِدِنَا وَذُرِّيَاتِنَا كَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَاسْتُرْ عَلَى عُيُوبِنَا وَاجْبُرْ عَلَى نُقْصَانِنَا وَارْفَعْ دَرَجَاتِنَا وَزِدْ نَا عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا حَلَالاً طَيِّبًا وَعَمَلاً صَالِحًا وَنَوْرْ قُلُوْبَنَا وَيَسِّرْ أُمُوْرَنَا وَصَجِّحْ أَجْسَادَنَا دَائِمَ حَيَاتِنَا إِلَى الْخَيْرِ قَرِّبْنَا عَنِ الشَّرِّ بَاعِدْنَا وَالْقُرْبَى رَجَالُنَا أَخِرًا لِلْنَا الْمُنَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا وَالْحَمْدُ لِإِنْهِنَا الَّذِي هَدَانَا صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى طُهُ خَلِيْلِ الرَّحْمَنِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ إِلَى آخِرِ الزَّمَانِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَأَرَكَ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ