Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Introvert, Ekstrovert, Ambivert dan Otrovert

Selama ini, kita hanya mengenal tiga tipe kepribadian manusia, yaitu introvert, ekstrovert, dan ambivert. Namun, nyatanya ada tipe kepribadian lain yang disebut otrovert.

Istilah tipe kepribadian ini pertama kali diperkenalkan oleh psikiater asal Amerika Serikat, Rami Kaminski melalui bukunya berjudul “The Gift of Not Belonging” yang dirilis pada 2025.

Kata otrovert berasal dari bahasa Spanyol “otro” yang berarti “lain” atau “other

Perbandingan fleksibilitas Otrovert dan tiga tipe kepribadian lain yang sebelumnya:

  1. Introvert lebih nyaman menyendiri dan cepat lelah saat bersosialisasi.
  2. Ekstrovert mendapatkan energi dari interaksi sosial dan merasa jenuh jika terlalu lama sendiri.
  3. Ambivert berada di tengah-tengah, menyeimbangkan fleksibilitas keduanya secara alami. Sedangkan
  4. Otrovert berada di posisi yang lebih fleksibel, di mana mereka bisa menikmati keduanya secara seimbang.
  5. Ambivert; Gabungan sifat introvert dan ekstrovert, Otrovert; Orang dengan orientasi ketahanan emosional.

Ciri umum Otrovert:

  1. Lebih nyaman dalam interaksi satu lawan satu dibanding di kerumunan besar.
  2. Selektif dalam memilih hubungan atau lingkungan sosial dan Menolak kepatuhan pada aturan atau tradisi kelompok.
  3. Memiliki ketahanan emosional dan berpikir bebas.
  4. Punya prioritas koneksi yang mendalam bukan dalam keramaian.
  5. Fleksibel tapi perlu waktu menyendiri untuk mengisi ulang energi.

Seorang Otrovert sangat sulit diikat oleh aturan atau tradisi yang dibuat oleh kelompok. Kalau ada kegiatan yang menuntut loyalitas buta, yaitu patuh tanpa mikir panjang atau mempertanyakan logikanya, mereka biasanya akan memilih menjauh.

Inti dari ciri ini adalah penolakan terhadap identitas kolektif. Mereka lebih memilih untuk diidentifikasi sebagai individu dengan nilai-nilai pribadi, bukan sebagai "bagian dari X Group." Ini membuat mereka menjadi sosok yang tangguh dan resilien, sebab mereka tidak pernah menempatkan harga diri atau rasa memiliki pada persetujuan orang banyak.

Memahami konsep otrovert membantu kita melihat bahwa kepribadian manusia gak cuma terbagi jadi dua atau tiga tipe. Kalau kamu merasa ada di antara introvert dan ekstrovert, nyaman sendiri tapi juga suka ngobrol mendalam, mungkin kamu seorang otrovert. Kamu bisa peduli sama orang lain tanpa kehilangan batas diri, dan itu hal yang bagus.

Alhasil, Otrovert tidak berada di tengah-tengah dua kepribadian (Introvert dan Ekstrovert) melainkan di luar spektrum. Otrovert beradaptasi bukan karena pengaruh lingkungan, melainkan karena dorongan pribadinya. Mereka juga cenderung merasa nyaman menjadi orang luar (outsider) dan memiliki cara berpikir yang sering kali berbeda dari kebanyakan orang kebanyakan.

Bulan Rojab sebagai momentum refleksi diri

Bulan Rojab hadir sebagai pengingat untuk kembali merefleksikan diri, menata hati (introspeksi), memperbanyak pertaubatan, memperhalus Akhlaq, dan menumbuhkan rindu menuju Romadhon. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Bulan Rojab adalah bulan istimewa dan mulia, yang merupakan salah satu dari empat bulan-bulan suci lainnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Imam Ibnu Katsir menjelaskan (tafsirnya), kata: اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثُ مُتَوَالِيَاتُ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ "Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab yang biasa diagungkan oleh Bani Mudhor (kelompok suku Arab Utara yang paling kuat) yang kedudukannya diantara Jumadil Tsani dan Sya'ban."
Rasulullah SAW menyebut: Rojab Mudhor, (karena posisinya di antara Jumad dan Sya'ban), disebut Rojab karena diambil dari kata Tarjib, yang artinya meng-Agungkan atau Memuliakan, sebab kaum Arab sejak dahulu telah memuliakan bulan ini.
Secara harfiah, kata Rojab (رجب) terdiri dari tiga huruf: فَرَجَبُ ثَلاَثَةُ أَحْرُفٍ، رَاءٌ وَجِيْمٌ وَبَاءٌ. فَالرَّاءُ رَحْمَةُ اللهِ، وَالْجِيْمُ: جُوْدُ اللهِ، وَالْبَاءُ: بِرُّ اللهِ“Rojab memiliki tiga huruf, yaitu ro’; jim; dan ba’. Ro’ berarti rahmat Allah, Jim berarti kedermawanan Allah, dan Ba’ berarti kebaikan Allah.”
Rasulullah SAW., bersabda: « خمس ليال لا تُرَدُّ فيهنَّ الدعوة : أول ليلة من رجب ، وليلة النصف من شعبان ، وليلة الجمعة ، وليلة الفطر ، وليلة النحر » أخرجه السيوطي رحمه الله تعالى في « الجامع » : عن ابن عساكر ، عن أبي أمامة رضي الله تعالى عنه "Terdapat 5 malam yang tidak tertolak do'a didalamnya, yaitu malam pertama bulan Rojab, malam nisfu Sya'ban, malam Jum'at, dan dua malam hari raya Idul Fitri dan Adha)"
Para ulama (Imam al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an). mengatakan bahwa: العَمَلُ الصَّالِحُ أَعْظَمُ أَجْرًا فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَالظُّلْمُ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهُنَّ "seluruh amal soleh yang dikerjakan (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rajab) akan dilipatgandakan pahalanya, dan sebaliknya, perbuatan maksiat dan dosa akan dilipatgandakan dosanya. Maka: اعْمَلْ لِلدُّنْيَاك بِقَدْرِ بَقَائِكَ فِيهَا وَاعْمَلْ الْآخِرَةِ بِقَدْرِ بَقَائِكَ فِيهَا "Beramal-lah untuk duniamu sesuai dengan lamanya kamu tinggal di dalamnya, dan juga Beramal-lah untuk akhiratmu sesuai dengan lamanya kamu nanti tinggal di dalamnya"
Disebutkan dalam QS. Al-Mu'min 39, bahwa: إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْءَاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ "Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (persinggahan sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal"
Karena dunia ini hanya persinggahan, sementara akhirat adalah tujuan utamanya. maka mari kita Bijak dalam menimbang dan menggunakan waktu yang singkat ini, jangan dipertuhankan, dan yang abadi jangan dilupakan. Apa? أَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ "Laksanakanlah Sholat, tunaikanlah Zakat, dan Ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'."
Rojab adalah bulan suci yang datang sendirian, tidak beriringan dengan tiga bulan haram lainnya, yang juga memiliki nama lain, Al-Asamm (yang tuli) karena tidak terdengar suara senjata atau peperangan di dalamnya, dan Al-Asabb (yang tercurah) karena rahmat tercurahkan padanya.
Bulan Rojab hadir bukan sekadar sebagai penanda pergantian waktu, melainkan sebagai ketukan (Alarm) halus dari langit, mengajak hati kita untuk mulai bersiap, menata niat, merefleksikan diri (sudah sejauh mana pertumbuhan batin, perubahan perilaku, dan jiwa kita), memperbaiki langkah sebelum Romadhon hadir di tengah-tengah kita, dengan harapan seluruh upaya amal soleh yang kita kerjakan, misalnya (sholat) kita menjadi, إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ artinya setelah melakukan ibadah kita memiliki Novelty/Kebaruan (Pola, Perilaku Ibadah) yang melahirkan berkontribusi nyata untuk ummat, Agama dan Bangsa.
Syekh Wahab bin Munabbih menyampaikan: Bahwa semua sungai (mata air) di berbagai belahan dunia ini bersambung dengan air zamzam pada bulan Rojab. Artinya Bahwa, ibadah kepada Alloh SWT., berlaku di setiap tempat, maka terus tingkatkan/biasakan ibadah dengan penuh ketaatan sepanjang waktu, lebih-lebih pada bulan Rojab ini, sekecil apapun, karena amal Sholeh yang kita kerjakan pasti akan menemukan jalan dan keberkahannya.
Maka poin penting dan utama yang musti kita amalkan di bulan Rojab ini ada dua: فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ dan وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
1. Hindari Kedzoliman dan Dosa: (denga cara Perbanyak Muhasabah diri. Segeralah bertaubat dan jauhi segala bentuk maksiat, karena dosanya menjadi lebih berat di bulan yang mulia ini).
2. Tingkatkan ketaqwaan melalui Amal Soleh, seperti: (Perbanyak sholat sunnah, laksanakan Zakat, Infaq, Sedekah, Kerja yang tulus dan ikhlas, perbanyak Do'a, Dzikir dlsbg...)
Oleh karena itu maka, mari kita gunakan bulan Rojab ini sebagai awal persiapan kita sekaligus refleksi menuju bulan Sya'ban, dan sekaligus menyambut datangnya Romadhon yang penuh keberkahan dengan terus berdo'a: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ serta senantiasa mengamalkan istigfar sebagaimana yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW: Sayidul (raja) istigfar: اللَّهُمَّ أنْتَ رَبّي لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ وأنا على عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عليَّ وأبُوءُ بِذَنْبي فاغْفِرْ لي فإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ yang isinya adalah pengakuan, penghambaan, dan ketidak sempurnaan ibadah secara khusyuk tetapi dengan pertolongan, ridho, Tuhan kita yakin dan percaya bahwa Tuhan adalah sebaik-baik penjaga stabilitas kehidupan dunia dan akhirat bagi kita semua.
Alloh SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [الحج: 77] “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”
Maka mari kita kurangi kelalaian-kelalaian yang berulang-ulang, perbanyak Do'a, Dzikir, dan Amal kesalehan lainnya, Semoga Allah SWT., membersihkan hati kita, menguatkan iman kita, untuk mempersiapkan dan menyambut bulan-bulan penuh keberkahan berikutnya اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Syekh Abdurrahman Bajalhaban

Syekh Abdurrahman Bajalhaban (Hadramaut), adalah seorang wali yang diuji dengan istri yang cerewet dan menyebalkan.

Syekh Abdurrahman Bajalhaban memiliki seorang istri yang dikenal sangat cerewet, tukang mengomel, menuntut ini dan itu, permintaan-permintaan unik yang terkadang memberatkan, seperti meminta digendong setiap naik dan turun tangga (rumah mereka tingkat) dan perilaku perilaku lain yang menyebalkan.

Meskipun dihadapkan pada ujian kesabaran yang luar biasa, Syekh Abdurrahman tidak pernah mengeluh, mendebat, apalagi membalas omelan istrinya dengan kemarahan. Beliau selalu berusaha memenuhi permintaan sang istri dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Beliau menjadikan sifat buruknya istri sebagai ladang ibadah sekaligus melatih kesabaran.

Suatu hari, Syekh Abdurrahman mungkin saking capeknya akhirnya memutuskan untuk menyendiri (berkholwat) mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Beliau lantas berpamitan kepada istrinya dan (sembari diomeli) pergi ke sebuah gua di bebukitan yang tidak jauh dari kampungnya. Di sana, beliau bertemu dengan beberapa (dua) orang soleh yang juga sedang berkholwat.

Ditengah malam yang dingin mereka merasakan lapar hingga keesokan harinya mereka tiga bersepakat untuk bergantian tugas mencari makanan, hari pertama orang pertama bertugas dan seketika setelah berdo'a, makanan turun siap makan satu nampan, demikian hari berikutnya pun demikian satu nampan, Syekh Abdurrahman takjub melihat dua orang soleh ini, di mana setiap kali mereka berdo'a memohon makanan, Alloh mengabulkannya dengan menurunkan satu nampan makanan siap santap. Setelah waktu berselang giliran tugasnya Syekh Abdurrahman. Karena penasaran, beliau mencoba berdo'a seperti orang orang soleh itu. Ajaibnya, ketika beliau Berdo'a, turun makanan dengan jumlah yang lebih banyak (tiga nampan sekaligus).

Kedua orang soleh itupun terkejut dan bertanya kepada syekh Abdurrahman, wahai syekh do'a apa yang engkau baca sehingga permintaanmu dikabulkan dengan kelebihan seperti ini. Syekh Abdurrahman pun terdiam dan tak menjawabnya (karena baru pertama kali mengalami hal itu). Akhirnya, kedua orang soleh itu berkata bahwa mereka sering bertawasul (sebelum berdo'a) kepada seorang wali yang bernama Syekh Abdurrahman Bajalhaban, yang dikenal memiliki derajat tinggi karena kesabarannya menghadapi istrinya yang cerewet. Syekh Abdurrahman Bajalhaban kaget (dalam hatinya dan baru menyadari bahwa dirinya-lah wali yang dimaksud).

Setelah menyadari karunia Allah tersebut, Syekh Abdurrahman bajalhaban memutuskan kembali pulang ke rumah menemui istri cerewetnya, setelah beberapa waktu berlalu sang istri mengetahui bahwa suaminya adalah seorang wali, akhirnya sang istri berangsur-angsur menjadi lebih lembut dan romantis.

Dibalik kisah ini kita bisa memetik pelajaran bahwa Allah mengangkat derajatnya Syekh Abdurrohman Bajalhaban bukan hanya karena ibadah-ibadah yang ia lakukan, tetapi juga karena kesabaran dan keridhoannya dalam menghadapi ujian rumah tangga berupa istri yang Cerewet yang penuh tuntutan dan sering menyebalkan.

Bahwa karomah turunnya makanan dari langit bukan hal yang mustahil. Dalam Al-Qur’an, kisah serupa terjadi pada sayidah Maryam binti Imron ibundanya Nabi Isa As., Allah sering memberikan makanan dari langit meski tidak ada yang membawanya. Nabi Zakaria heran ketika mendapati Maryam selalu memiliki hidangan di mihrobnya (kamar). وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًاۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَاۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ "Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrobnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan"

Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT., dalam berkehendak memberikan karomah serupa kepada para wali-Nya sebagai tanda kedekatan seorang hamba kepada-Nya.

Bulan Rojab yang Mulia

Bulan Rojab hadir sebagai pengingat umat Islam untuk kembali menata hati (introspeksi), memperbanyak pertaubatan, memperhalus Akhlaq, dan menumbuhkan rindu menuju Romadhon, Bulan Rojab adalah bulan istimewa dan mulia (Peristiwa: Pada bulan Rojab, ditiupkan Nur Muhammad kepada Sayyidah Aminah binti Wahab, Isro' Mi'roj, dlsbg...), yang merupakan salah satu dari empat bulan-bulan suci sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Imam Ibnu Katsir menjelaskan (tafsirnya): اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثُ مُتَوَالِيَاتُ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ "Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab yang biasa diagungkan oleh Bani Mudhor (kelompok suku Arab Utara yang paling kuat) yang kedudukannya diantara Jumadil Tsani dan Sya'ban."

Rasulullah SAW menyebut: Rojab Mudhor, (karena posisinya di antara Jumad dan Sya'ban), disebut Rojab karena diambil dari kata Tarjib, yang artinya mengAgungkan atau memuliakan, sebab kaum Arab sejak dahulu telah memuliakan bulan ini.

Secara harfiah, kata Rojab (رجب) terdiri dari tiga huruf: فَرَجَبُ ثَلاَثَةُ أَحْرُفٍ، رَاءٌ وَجِيْمٌ وَبَاءٌ. فَالرَّاءُ رَحْمَةُ اللهِ، وَالْجِيْمُ: جُوْدُ اللهِ، وَالْبَاءُ: بِرُّ اللهِ“Rojab memiliki tiga huruf, yaitu ro’; jim; dan ba’. Ro’ berarti rahmat Allah, jim berarti kedermawanan Allah, dan ba’ berarti kebaikan Allah.” (Syekh Abdul Qadir, Al-Ghunyah li Thalibi Thoriqil Haq Azza wa Jall, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah], juz I, halaman 319).

Selanjutnya: فَمِنْ أَوَّلِ هَذَا الشَّهْرِ اِلىَ أَخِرِهِ مِنَ اللهِ ثَلاَثُ عَطَايَا لِلْعِبَادِ، رَحْمَةٌ بِلاَ عَذَابٍ، وَجُوْدٌ بِلاَ بُخْلٍ، وَبِرٌّ بِلاَ جَفَاءٍ“Maka dari awal keberadaan bulan (Rojab) ini hingga akhirnya, terdapat tiga pemberian (hadiah) dari Allah SWT, yaitu kasih sayang tanpa siksa, kedermawanan tanpa kikir, dan kebaikan tanpa antipati"

Dan Rojab adalah bulan suci yang datang sendirian, tidak beriringan dengan tiga bulan haram lainnya, yang juga memiliki nama lain, Al-Asamm (yang tuli) karena tidak terdengar suara senjata atau peperangan di dalamnya, dan Al-Asabb (yang tercurah) karena konon rahmat tercurahkan padanya.

Kemuliaan bulan-bulan haram (ذُو الْقَعْدَةِ ذُو الْحِجَّةِ مُحَرَّمُ وَرَجَبُ) ini membawa dua pelajaran penting bagi kita.

1. Larangan Berperang dan Menumpahkan Darah: Bahwa pada bulan-bulan ini Allah haramkan peperangan sebagai bentuk pensyariatan dan pengagungan.

2. Dilipatgandakannya Kebaikan dan Keburukan: Para ulama menetapkan bahwa amalan saleh akan dilipatgandakan pahalanya, dan sebaliknya, perbuatan maksiat dan dosa akan dilipatgandakan dosanya. Allah menekankan, “Janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

Oleh karena itu, Kewajiban terbesar kita di setiap bulan Rojab ini diantaranya adalah meninggalkan segala bentuk maksiat dan kedzoliman terhadap diri sendiri lebih-lebih kepada orang lain, sebab kedzoliman dan dosa di waktu/bulan yang mulia ini akan menjadi lebih besar nilai keburukannya di sisi Allah SWT.

Bahwa, ibadah kepada Allah SWT berlaku di setiap waktu dan tempat. Tingkatkanlah ibadah dan ketaatan kita sepanjang tahun, dan lebih-lebih dalam ibadah pada bulan Rajab.

Tugas utama kita di bulan Rojab adalah dua:

1. Menghindari Kedzoliman dan Dosa: (Perbanyak Muhasabah diri. Segeralah bertaubat dan jauhi segala bentuk maksiat, karena dosanya menjadi lebih berat di bulan yang mulia ini).

2. Meningkatkan Amal Soleh, seperti: (Perbanyak shalat sunnah, laksanakan puasa sunnah, sedekah, do'a dan dzikir)

Sejak malam pertama bulan Rajab, segala macam do'a dikabulkan oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: « خمس ليال لا تُرَدُّ فيهنَّ الدعوة : أول ليلة من رجب ، وليلة النصف من شعبان ، وليلة الجمعة ، وليلة الفطر ، وليلة النحر » أخرجه السيوطي رحمه الله تعالى في « الجامع » : عن ابن عساكر ، عن أبي أمامة رضي الله تعالى عنه "Terdapat 5 malam yang tidak tertolak do'a didalamnya, yaitu malam pertama bulan Rojab, malam nisfu Sya'ban, malam Jum'at, dan dua malam hari raya Idul Fitri dan Adha)"

Syekh Wahab bin Munabbih menyampaikan: bahwa semua sungai (mata air) di berbagai belahan dunia bersambung dengan air zamzam pada bulan Rojab.

Oleh karenanya Mari kita gunakan bulan Rojab ini sebagai awal persiapan kita sekaligus refleksi menuju bulan Sya'ban, dan sekaligus menyambut datangnya Romadhon yang penuh keberkahan dengan terus berdo'a: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ serta senantiasa mengamalkan istigfar sebagaimana yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW: Sayidul (raja) istigfar: اللَّهُمَّ أنْتَ رَبّي لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ وأنا على عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عليَّ وأبُوءُ بِذَنْبي فاغْفِرْ لي فإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ "Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada janjiku pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Kuakui segala nikmat-Mu atasku dan aku akui segala dosaku (yang aku perbuat). Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau"

Alloh SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [الحج: 77] “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan (Puasa, Infaq, Sedekah dlsbg), supaya kamu mendapat kemenangan.

Islam mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk memperbanyak amal kebaikan di bulan Rojab, termasuk Puasa (meskipun tidak ada nash secara khusus).

Disebutkan dalam hadist Shahih Muslim, no .1960: عن عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ "Dari Utsman bin Hakim Al Anshori bahwa ia berkata: Saya bertanya kepada sahabat Sa'id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab: Saya telah mendengar Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa"

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim menyatakan bahwa tidak ada nash yang secara khusus menyebutkan sunnah ataupun larangan terkait puasa Rajab, sehingga hukumnya disamakan dengan puasa di bulan lainnya.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra menyebutkan bahwa meskipun hadits tentang keutamaan puasa Rojab tidak shohih, sebagian besar berstatus dha'if tetap boleh diamalkan dalam konteks fadha'ilul a'mal (keutamaan amal kebaikan).

Do'a yang diminta oleh Syekh Abdul Qadir Jilani pada malam pertama bulan Rajab: اِلٰهِيْ؛ تَعَرَّضَ لَكَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُتَعَرِّضُونَ، وَقَصَدَكَ الْقَاصِدُونَ، وَأَمَّلَ فَضْلَكَ وَمَعْرُوفَكَ الطَّالِبُونَ؛ وَلَكَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ نَفَحَاتٌ وَجَوَائِزُ، وَعَطَايَا وَمَوَاهِبُ، تَمُنُّ بِهَا عَلَى مَنْ تَشَاءُ مِنْ عِبَادِكَ، وَتَمْنَعُهَا مِمَّنْ لَمْ تَسْبِقْ لَهُ الْعِنَايَةُ مِنْكَ، وَهٰأَنَذَا عَبْدُكَ الْفَقِيرُ إِلَيْكَ، الْمُؤَمِّلُ فَضْلَكَ وَمَعْرُوفَكَ؛ فَإِنْ كُنْتَ يَا مَوْلايَ تَفَضَّلْتَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، وَجُدْتَ عَلَيْهِ بِعَائِدَةٍ مِنْ عَطْفِكَ، فَصَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، وَجُدْ عَلَيَّ بِطَوْلِكَ وَمَعْرُوفِكَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Di bulan Rojab ini, mari kita kurangi kelalaian yang berulang-ulang, perbanyak Do'a, Dzikir, dan Amal kebaikan lainnya, Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, menguatkan iman kita, dalam mempersiapkan dan menyambut bulan-bulan penuh keberkahan berikutnya اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

SAMBUTAN PADA ACARA PEMBAGIAN RAPORT

SAMBUTAN PADA ACARA PEMBAGIAN RAPORT

Assalamualaikum Wr. Wb.

Selamat pagi/siang Bapak/Ibu orang tua yang saya hormati.

1. Pembukaan & Apresiasi.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir pada kegiatan pembagian rapor hari ini. Kehadiran Bapak/Ibu menunjukkan perhatian besar terhadap tumbuh kembang anak. Kami sangat menghargainya.

2. Tujuan Pertemuan.

Hari ini kita bukan hanya mengambil rapor, tetapi juga melihat bersama bagaimana perkembangan anak selama satu semester. Raport ini bukan penilaian benar-salah atau pintar-tidak pintar, tetapi catatan proses belajar sesuai tahap perkembangan mereka.

3. Informasi Perkembangan Anak.

Secara umum, anak-anak menunjukkan perkembangan yang baik. Ada yang sangat menonjol di aspek sosial-emosional, ada yang kuat di bahasa atau motorik, dan ada juga yang butuh waktu lebih dalam beberapa kemampuan. Itu semua wajar, karena setiap anak punya ritme tumbuhnya masing-masing.

4. Penekanan yg Tegas tapi Tetap Santai.

Kami berharap Bapak/Ibu wali murid tidak membandingkan anak dengan teman yang lain. Fokus kita adalah mendampingi mereka sesuai kemampuan dan kebutuhannya. Bila ada catatan pada rapor, itu bukan teguran, melainkan panduan agar kita bisa bekerja sama memberikan stimulasi yang tepat.

5. Kerja Sama Sekolah & Orang Tua.

Kami mengajak Bapak/Ibu untuk terus bersinergi dengan sekolah. Komunikasi tetap terbuka-baik tentang perkembangan anak, kebiasaan di rumah, maupun hal-hal kecil yang perlu diperhatikan bersama.

6. Penutup.

Demikian Semoga manfaat dan pertemuan hari ini membawa pemahaman yang baik dan suasana yang baik kedepannya.

Terima kasih atas kerja sama yang selama ini Bapak/Ibu berikan. Mari terus mendampingi anak-anak kita bertumbuh dengan bahagia.

Wassalamualaikum Wr. Wb.