Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Menjadi Manusia Terbalik

Sujud menuju Allah memiliki banyak makna, Tidak hanya sisi batin berupa hubungan dengan Allah, tapi juga sisi sosial dan kultural, yakni terbangunnya pola interaksi yang baik dan benar dalam berinteraksi dengan segenap makhluknya Allah SWT., sehingga kita diharapkan menjadi manusia-manusia yang tahu diri dan tahu batas, atas kesadaran itulah sehingga sudah seharusnya manusia agar saling memberi manfaat.

Alloh SWT berfirman dalam QS. At-Tin: لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS At-Tin: 4).

Banyak yang berpendapat bahwa kelebihan manusia di atas makhluk lainnya adalah karena potensi akal dan berpikir, bahkan Alloh SWT., menobatkan manusia menjadi khalifah fi al-ardh (pemimpin bumi): وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS Al-Baqarah: 30).

Karena seluruh tindakan manusia pada dasarnya adalah bentuk ibadah (Itu prinsip dasarnya) Maka selain sebagai kholifah, Peran manusia di bumi yang tidak kalah pentingnya adalah untuk senantiasa menyeru kepada kebaikan dan menebar kemanfaatan.

Prof. Quraish Shibab: bahwa manusia terbaik adalah manusia yang dapat menjalankan apa-apa yang menjadi tujuan ia diciptakan. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (QS Adz-Dzariyat 56).

Ibadah atau penghambaan adalah metode paling efektif untuk menemukan kesejatian diri kita. Tapi kalau ibadah hanya ditekankan pada sisi yang mahdho (wajib) saja, tentu manusia tidak perlu turun ke bumi. Cukup di surga saja.

Ibadah dirancang agar manusia menemukan kesadaran statusnya sebagai hamba yang difungsikan dan diberi amanah sebagai khalifah. Kesadaran itulah yang seharusnya menuntun manusia agar saling memberi manfaat.

Dengan memahami siapa diri kita, dari mana kita berasal, seperti apa karakter kita, hingga apa tujuan hidup kita, seseorang dapat menempatkan diri dengan lebih bijaksana di tengah kehidupan yang kompleks ini. (Para filsuf mengatakan: Tahu diri dan Tahu batas).

Lalu jika ada orang yang bertanya kepada kita tentang siapa manusia atau orang-orang terbaik itu?, tentu kita harus menjawab pertanyan itu berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW.

Manusia terbaik bukan mereka yang taat terhadap perintah Allah SWT, namun mereka yang mempunyai hati nurani yang tinggi.

Sebab setiap manusia mempunyai sisi baiknya sendiri, dan setiap manusia juga mempunyai sisi buruknya sendiri. Menurut Rasulullah SAW., manusia terbaik atau orang-orang adalah:

Pertama, orang terbaik adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Rasulullah SAW tidak saja mengajurkan kita belajar Al-Qur’an, tetapi juga mendorong siapa saja supaya mau mengajarkannya kepada orang lain. Artinya seseorang sesungguhnya tidak cukup jika hanya berhenti pada belajar Al-Qur’an. Ia sebaiknya juga mengajarkannya kepada orang lain setelah cukup menguasainya. Oleh karena itu dalam belajar Al-Qur’an sebaiknya hingga sampai tingkat mahir, yang tidak saja mahir membacanya, tetapi juga mahir memahami kandungannya, dan bahkan mahir mengamalkan isinya. Bukankah al-Quran bukan sekedar bacaan, tetapi sekaligus harus diamalkan karena merupakan kitab suci sebagai petunjuk dari Allah SWT bagi seluruh kaum Muslimin.    

Kedua, orang terbaik adalalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku"

Rasulullah SAW memberikan suri teladan bagaimana sebaiknya seorang suami bersikap kepada keluarganya. Beliau mengatakan bahwa beliau adalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarga. Ini artinya untuk menjadi suami yang baik, kita bisa mengikuti beliau.

Sayyidah Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW., sebagai seorang suami banyak melayani keluarga seperti menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Beliau bahkan menjahit pakaian sendiri, mengesol sandal sendiri, memerah susu kambing sendiri, hingga berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagaimana sabda beliau diatas, orang terbaik adalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya.

Ketiga, orang terbaik adalah orang yang paling bisa diharapkan kebaikannya dan paling sedikit keburukannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya dan (paling sedikit) keburukannya hingga orang lain merasa aman.”

Setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Orang terbaik adalah orang yang sisi kebaikannya jauh lebih besar dari pada sisi keburukannya hingga orang lain merasa aman di sampingnya. Dengan kata lain orang terbaik adalah mereka yang, di satu sisi, dapat memberikan manfaat besar kepada orang lain, di sisi lainnya, dapat mengendalikan potensi buruknya hingga banyak orang merasa aman dan tenang di dekatnya karena terhindar dari peri laku buruknya.

Keempat, orang terbaik adalah orang yang memberikan makanan kepada orang lain. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad sebagai berikut: خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.”

Makanan sesungguhnya dibagi menjadi dua, yakni makanan jasmani dan makanan ruhani. Makanan jasmani adalah seperti nasi, roti, buah dan sebagainya yang berguna untuk pengembangan diri yang bersifat fisik atau material. Sedangkan makanan ruhani adalah seperti ilmu, nasihat, dan sebagainya yang berguna untuk pengembangan diri yang bersifat mental spiritual. Maka orang terbaik berdasarkan hadits ini adalah mereka yang bersedia memberikan makanan, baik jasmani maupun ruhani, kepada orang-orang yang membutuhkan demi menjaga keberlangsungan hidup dan kesehatan mereka baik jasmani maupun ruhani.

Kelima, orang terbaik adalah orang yang paling baik dalam membayar hutang. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebgai berikut: خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.”

Fakta membuktikan bahwa tidak setiap orang bisa menepati janji-janjinya terkait dengan hutang-hutangnya kepada orang lain. Maka ada dua macam pembayar hutang, yakni pembayar yang baik dan pembayar yang tidak baik. Pembayar yang baik adalah mereka yang bisa menyelesaikan kewajiban hutangnya sesuai waktu yang telah disepakati, atau bahkan lebih awal dari itu. Pembayar hutang yang tidak baik adalah mereka yang tidak disiplin, seperti para pengemplang dan sebagainya, hingga sering membuat marah orang yang telah berbaik hati memberikan pinjaman.

Selain 5 kriteria di atas, masih banyak kriteria orang-orang terbaik, sebagaimana pertanyaan seorang Arab Badui kepada Rasulullah SAW.يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi).

Orang-orang terbaik sesungguhnya tidak dimonopoli oleh kelompok orang tertentu, tetapi terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang ataupun ras, suku tertentu sebab substansinya adalah tentang seberapa besar kebermanfaatan seseorang kepada orang lainnya, Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan dari Jabir: المُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يَأْلَفُ ، وَلَا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ "Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia" (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Imam Hasan Al-Bashri memberikan gambaran yang sangat menarik mengenai klasifikasi manusia berdasarkan tingkat manfaat dan keberadaan mereka dalam masyarakat: الرِّجَالُ ثَلَاثَةٌ : فَرَجُلٌ كَالْغِذَاءِ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ ، وَرَجُلٌ كَالدَّوَاءِ لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ إِلَّا حِينًا بَعْدَ حِينٍ ، وَرَجُلٌ كَالدَّاءِ لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ أَبَدًا "Manusia terbagi menjadi tiga tipe berdasarkan peran dan manfaatnya dalam kehidupan bermasyarakat"

Pertama, orang yang keberadaannya sangat penting dan selalu dibutuhkan, seperti makanan yang menjadi sumber kehidupan dan kekuatan bagi tubuh. Tanpa kehadiran mereka, kehidupan sosial akan terasa kekurangan dan tidak berjalan dengan baik.

Kedua, orang yang manfaatnya terasa hanya pada saat-saat tertentu, layaknya obat yang diperlukan ketika tubuh sakit atau mengalami gangguan. Kehadiran mereka sangat berarti di waktu-waktu tertentu, namun tidak selalu dibutuhkan setiap saat.

Ketiga, orang yang keberadaannya justru membawa kerugian dan gangguan, seperti penyakit yang merusak kesehatan dan harus dihindari. Orang-orang ini tidak diinginkan kehadirannya karena dapat menimbulkan masalah dan merusak keharmonisan dalam masyarakat.

Dari ketiga gambaran diatas, kita dapat ambil pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya kita menempatkan diri ditengah masyarakat.

Maka di akhir kesempatan ini saya mengajak kepada kita semua pendengar RRI Fakfak, mari kita selalu berusaha untuk menjadikan diri kita istimewa, menjadikan seluruh aktivitas kita bermanfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain serta seluruh makhluk-nya Allah yang ada di bumi ini.

Meraih hikmah dalam ucapan dan tindakan

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang berbicara dan bertindak tanpa pertimbangan. Padahal, Islam mengajarkan pentingnya hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam menimbang setiap ucapan dan perbuatan. Hikmah adalah karunia Allah bagi mereka yang berpikir jernih dan berhati bersih.

Allah SWT berfirman: يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Allah meng-anugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh, ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” (QS al-Baqarah: 269).

Apasih Hikmah itu dan bagaimana cara mendapatkannya? Sehingga kita bisa menjadi manusia-manusia yang selamat dunia dan selamat di akhirat.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Apasih Hikmah itu? hikmah adalah ketepatan dalam berucap dan berbuat, kepada orang-orang yang Ia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi ketepatan dalam hal itu, maka ia telah dianugerahi kebaikan (ilmu) yang banyak.

Bahwa ilmu adalah hikmah, karena ilmu mencegah kebodohan bagi orang yang mengamalkannya. Hikmah meniscayakan tindakan yang tepat dan pada waktu yang tepat serta dengan cara yang tepat.

Hikmah adalah: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Tepat dalam ucapan dan tindakan.”

Hikmah adalah kekayaan hati dan jiwa. Betapa banyak orang yang kaya harta tetapi fakir ilmu dan hikmah. Bahkan, betapa banyak pemimpin yang menjerumuskan rakyatnya ke dalam berbagai kerusakan karena gaya kepemimpinan yang tidak bertumpu pada hikmah.

Di dalam kitab Tharhut Tatsrib dikatakan: الْحِكْمَةُ كُلُّ مَا مَنَعَ مِنَ الْجَهْلِ وَزَجَرَ عَنِ الْقَبِيْحِ “Hikmah adalah segala yang mencegah dari kebodohan dan menghalangi dari perilaku buruk.”

Manusia agung yang dianugerahi hikmah adalah para nabi, dan nabi yang paling agung di antara mereka adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka dapat dikatakan bahwa beliau adalah imam para ahli hikmah dan manusia paling bijaksana di antara para nabi yang bijaksana.

Orang yang cerdas adalah orang yang mengambil ibrah (pelajaran) dari sejarah hidup para nabi, lalu mengikuti mereka dalam kemuliaan akhlak, pergaulan yang baik, dan akidah yang lurus, yakni keyakinan bahwa Allah Mahasuci dari tempat dan arah, serta Mahasuci dari keserupaan dengan makhluk.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab 21: لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡآخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Kalau kita mampu memahami situasi di sekeliling kita (lingkungan), tepat dalam menyikapi keadaan dari setiap peristiwa, selalu berupaya untuk mencapai tujuan yang baik dengan cara yang baik dan benar, serta berucap dan bertindak dengan tepat, maka (dia, kita, kalian dan saya) adalah seorang hakim (bijak bestari) yang benar-benar telah dianugerahi hikmah.

Allah SWT memuji Luqman, seorang lelaki soleh, menurut pendapat lain, Luqman adalah seorang nabi, yang namanya di abadikan didalam Al-Qur’an: وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah!” (QS Luqman: 12).

Salah satu kisah hikmah dari Luqman yang cukup masyhur adalah kisahnya saat menunggangi keledai dengan putranya yang memberi pelajaran penting, bagaimana hidup sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial disaat yang bersamaan.

Bahwa dalam hidup ini kita harus punya prinsip, pendirian yang kuat dan harus tegas. Lakukan saja apa yang bermanfaat bagimu dan agamamu, jangan terlalu ambil pusing dengan perkataan orang lain.

Oleh karenanya kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra., Betapa penting dan agungnya menjadi seorang yang bijak, yang selalu berupaya menyucikan diri dari penyakit-penyakit hati yang melekat pada jiwa kita.

Sedangkan cara untuk mendapatkan hikmah adalah dengan cara, Meneladani para nabi, karena Allah mengutus mereka sebagai rahmat bagi umat manusia dan memerintahkan kita semua untuk menaati mereka.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa 64: وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah.”

Karena Allah telah menetapkan keselamatan dalam mengikuti jejak para nabi, maka siapa pun yang mendambakan keselamatan hendaklah menempuhnya melalui tuntunan mereka yang diwariskan kepada para pewaris nabi, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya.

Rasulullah SAW bersabda (At-Tirmidzi): وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang besar.”

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin meriwayatkan nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya: يَا بُنَيَّ جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ، فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan dekatkanlah dirimu kepada mereka, karena Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan dari langit.”

Rasulullah SAW., bersabda (At-Tirmidzi): الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا “Hikmah adalah barang hilang milik seorang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, dialah yang paling berhak atasnya.”

Oleh karenanya marilah kita jadikan ilmu dan hikmah sebagai bekal hidup, agar kita memperoleh keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Demikian, semoga manfaat dan membawa berkah bagi kita semua dan tentunya para pendengar setia Pro 1 RRI Fakfak.

Merawat Alam menghormati makhluk Alloh SWT.

Menjaga alam bukan sekadar tindakan ekologis "hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya)", tetapi juga bentuk ibadah dan rasa syukur kita kepada Allah atas amanah-Nya sebagai khalifah di bumi. Alam adalah makhluk Allah yang juga hidup, bertasbih, dan tunduk kepada-Nya. Maka merawat alam berarti menghormati ciptaan-Nya dan menunaikan tanggung jawab kita sebagai penjaga keseimbangan kehidupan.

Kaum muslimin pendengar RRI yra. Alam semesta yang kita pijak dan kita huni ini bukanlah benda mati yang tanpa jiwa (Rukh). Dalam pandangan Islam, seluruh alam adalah makhluk Allah yang hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Memiliki bentuk kehidupan sesuai kadar dan cara yang Allah kehendaki. Mereka tunduk kepada hukum Alloh, bertasbih dan memuji Alloh, meskipun! manusia sering kali tidak memahami bahasa tasbih mereka.: تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Alloh maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44).

Dari ayat ini kita menjadi tahu bahwa seluruh makhluk memiliki kesadaran untuk memuji Alloh. Batu, tanah, air, udara, bahkan partikel kecil yang tidak tampak oleh mata kita, semuanya hidup dalam keadaan zikir dan ketaatan kepada Alloh SWT., Alam tidak diam, dia terus berzikir, hanya saja manusia tidak dapat menangkap bahasa mereka. Kita sibuk dengan urusan dunia, sementara alam terus tunduk kepada perintah Alloh dengan caranya sendiri.

Kaum muslimin pendengar RRI yra. Apakah benar makhluk selain manusia mampu berdzikir dan saling mendo'akan antar sesama?

Ada beberapa kisah nyata tentang alam dan bukti nyata bahwa makhluk selain manusia memiliki kesadaran terhadap kebenaran dan antar sesama:

Pertama: Kisah batu yang merindukan Rosululloh, sampai ia ingin ikut bersama Rosululloh menuju langit.

Rasulullah SAW., sesungguhnya telah menunjukkan kepada kita tentang: إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ، إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ “Aku masih mengenal sebuah batu di Makkah yang selalu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi nabi, dan aku masih mengenalnya sekarang.” (HR. Muslim).

Dari Hadits ini, sesungguhnya kita telah di tunjukkan bahwa, batu yang tampak keras dan diam itu memiliki bentuk kehidupan dan kesadaran yang Allah berikan kepadanya.

Bahwa sebagian benda mati (batu) memiliki kemampuan membedakan dan mengenal, وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ “Tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya.” Allah menjadikan pada setiap makhluk kemampuan mengenal dan membedakan sesuai dengan kadar yang Dia kehendaki.

Termasuk katak, dalam kitab Sunnah Imam Nasai disebutkan bahwa Rasulullah SAW., melarang membunuh katak, sebab; نَقِيقُهَا تَسْبِيْحٌ "Suara katak adalah tasbihnya."

Kedua: Kisah dua ahli kubur yang sedang disiksa ketika Rasulullah SAW., melewati dua buah kuburan.

Rosululloh SAW bersabda: اِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ اَمَّا اَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَاَمَّا الْاٰخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ "Sesungguhnya keduanya sedang disiksa dan bukanlah keduanya disiksa karena dosa besar. Salah seorang di antara keduanya tidak pernah membersihkan diri setelah buang air kecil, sedangkan yang lainnya gemar mengadu domba."

Setelah itu Nabi mengambil sebuah pelepah kurma, lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menanamnya pada masing-masing dari dua kuburan tersebut. Dan setelah itu beliau bersabda: لَعَلَّهٗ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا "Mudah- mudahan siksanya diringankan selagi kedua pelepah kurma ini belum kering." karena keduanya tetap bertasbih selagi masih hijau warnanya; dan apabila telah kering, maka berhentilah tasbihnya.

Ketiga: Kisah lain yang juga menggambarkan bahwa alam hidup dan memiliki rasa adalah peristiwa batang pohon kurma yang menangis karena rindu kepada Rasulullah SAW.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Jabir bin Abdullah ra., disebutkan: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ، فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ، فَحَنَّ الْجِذْعُ كَحَنِينِ الْعِشَارِ، فَنَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ، فَسَكَنَ “Dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata: Nabi SAW dahulu berkhutbah bersandar pada batang pohon kurma. Ketika beliau membuat mimbar dan berpindah ke sana, batang itu pun menangis seperti unta betina yang sedang hamil. Lalu Nabi SAW turun dan memeluknya hingga tenang.” (HR. Bukhari).

Pelajaran penting dari beberapa peristiwa yang saya ceritakan tadi adalah bahwa Allah telah menciptakan kehidupan, akal, cinta dan rasa rindu bukan sekadar mukjizat, tetapi juga pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa makhluk di sekitar kita juga hidup, dan mereka pun merasakan sesuatu sesuai kehendak Alloh SWT., maka salinglah menjaga diantara kita.

Bahwa Manusia diciptakan sebagai khalifah: وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi, meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain" Dan: هُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ فِى الْاَرْضِۗ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۗ "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Siapa yang kufur, (akibat) kekufurannya akan menimpa dirinya sendiri"

Allah mempercayakan bumi kepada kita (manusia), bukan untuk dikeruk, dieksploitasi tanpa batas, tetapi untuk dijaga, dirawat, dan dimakmurkan. Maka ketika manusia menebang hutan tanpa kendali, mencemari air, menumpuk sampah, dan mengotori udara, sesungguhnya ia sedang mengganggu makhluk-makhluk Allah yang sedang berzikir dan tunduk kepada-Nya.

Oleh karenanya, Marilah kita secara bersama-sama merenungkan kembali hubungan kita dengan alam. وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ "Jangan berbuat rusak dibumi, karena Alloh tidak menyukainya"

Alam adalah saudara kita dalam ketaatan kepada Allah. Ia tunduk dan berserah, sementara kita sering lalai. وَهٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ فِيهِ الْحَيَاةَ وَالْعَقْلَ وَالشَّوْقَ، وَلِهٰذَا حَنّ "Dan ini menunjukkan bahwa Allah SWT., telah menciptakan padanya kehidupan, akal, dan kerinduan; karena itulah ia merintih (atau mengeluarkan suara rindu)"

Bagaimana menyikapi zaman yang semakin modern hubungannya dengan merawat alam semesta? Modernisasi adalah rasionalime bukan sekularisme, Modernisasi dalam Islam bukan berarti bebas kebohongan dan kebodohan, bukan (lantas) bebas dari hukum Alloh SWT. (Semua ada pertanggungjawaban nya).

Rosululloh SAW bersabda: الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

Bahwa, Alam akan menjadi saksi atas segala perbuatan manusia. Tanah akan bersaksi di mana kita sujud, air akan bersaksi terhadap apa yang kita cemari, dan udara akan bersaksi atas apa yang kita lepas dan hirup.

Maka jaga mereka, karena mereka juga makhluk Allah yang sama seperti kita. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur dan tidak merusak bumi yang telah Dia karuniakan kepada kita.


Allah SWT sebagai tempat curhat sepanjang masa

Siapa di dunia ini yang tidak pernah merasakan sedih, kecewa, duka lantaran menghadapi cobaan yang berat.

Allah berfirman QS. Al-Ma’arij/19-20:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

“manusia Sesungguhnya diciptakan dengan sifat keluh kesah. Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah.

Merasa tidak puas lalu curhat kepada teman dengan kondisi yang ada adalah manusiawi, tetapi sebenarnya jauh lebih baik apabila keluh kesah itu secara langsung kita sampaikan kepada Alloh SWT., melalui doa-doa kita. Itulah yang disebut munajat.

Alloh SWT., berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung"

Boleh jadi cobaan yang menimpa kita, suami/istri, anak ataupun anggota keluarga yang lain, adalah cara Alloh untuk mengukur kualitas iman kita, sebab لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا apakah kita akan sabar dan akan marah-marah, atau sebaliknya apakah kita ridho (rela) terhadap takdir Allah SWT.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak YRA., bahwa Ada dua tipe manusia di dunia ini ketika saudaranya tertimpa musibah. Pertama, adalah mereka yang peduli. Kedua, mereka yang bahagia melihat saudaranya tertimpa musibah.

Sepintas, mencurahkan problematik kehidupan kepada sesama makhluk sosial baik di dunia nyata maupun dunia maya, mungkin akan banyak yang berempati terhadap musibah yang sedang menimpa kita. Mereka akan mengomentari dengan kata-kata kedamaian/pelerai duka. Lalu, setelah itu? berlalu tanpa jejak.

Curhat kepada manusia atau di sosial media tentang masalah kita adalah suatu kesalahan. Sedikit manusia atau netizen yang benar-benar tulus/peduli terhadap curhatan kita, bahkan saudara sendiripun terkadang memusuhi kita.

Memilih untuk mengadu kepada manusia atau mem-posting kesedihan di sosial media agar mendapat perhatian, simpati (itu bukan solusi). Karena pada (QS. Al-Ma’arij/22-24) ayat lanjutnya, sesungguhnya Alloh SWT telah memberi solusi atas persoalan dan cobaan hidup, اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ kecuali orang yang sholat, Sholat yang bagaimana? الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ orang yang selalu setia (istiqomah) mengerjakan salatnya. Dalam QS yang lain الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.

Dampak negatif dan bahaya mengadukan nasib (buruk) kepada orang lain: (menimbulkan fitnah, kebencian, permusuhan, dan merusak silaturahim, bahkan rentan terhadap perilaku tidak ridho atas takdir Allah).

Bahkan Imam Al-Junaid mengatakan: مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ “Barangsiapa suka mengadukan kesulitannya kepada sesama manusia, maka seolah-olah ia mengadukan Tuhannya (kepada manusia). Dan barangsiapa merasa sedih dengan kondisi duniawinya, maka dia menjadi orang yang membenci Allah.” (kitab: Riyadhussolihin). Demikian juga Imam Ghozali mengatakan (Ihya' Ulumuddin-hadist Qudsy):مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ Barang siapa tidak ridho dengan qadho'Ku, وَ لَمْ يَصْبِرْ عَلى بَلاَئِيْ dan Tidak bersabar atas segala cobaan-Ku, وَ لَمْ يَشْكُرْ عَلى نَعْمَائِيْ dan Tidak bersyukur atas segala nikmat-Ku, وَ لَمْ يَقْنَعْ بِعَطَائِيْ dan Tidak puas (dengan apa adanya) atas segala pemberian-Ku, فَلْيَعْبُدْ رَبًّا سِوَائِي Maka sembahlah tuhan selain-Ku.

Maka jadikanlah Alloh SWT sebagai tempat pertama yang kita tuju ketika kita merasa terluka, terlantar, atau terpinggirkan. Alloh SWT bukan hanya sebaik-baiknya tempat curhat, tetapi juga sahabat terbaik yang selalu siap mendengarkan kita, tanpa syarat dan batas.

Lalu, Apakah kita tidak boleh curhat?

Tentu saja boleh. Sepanjang curhat itu tidak ada unsur “ngrasani" atau menggunjing Alloh SWT. Curhat kepada sesama manusia boleh dilakukan selama masih dalam koridor diskusi atau meminta nasihat untuk mendapatkan cara-cara terbaik untuk keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi sebab memang ada kewajiban untuk saling tolong menolong dan nasihat menasihati diantara sesama manusia. Artinya setiap muslim memiliki hak untuk mendapatkan nasihat tentang alternatif solusi dari kesulitan yang ada. Namun, agama mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik tempat curhat adalah Alloh SWT. وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ “dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”

Alloh SWT tidak hanya sebagai pencipta alam semesta, tetapi juga teman setia, yang siap mendengar keluh kesah kita. ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu" (Al-Mukmin 60).

Dalam kehidupan yang serba kompleks ini, kita sering kali merasa kesepian dan merasa tidak dipahami oleh orang lain. Namun, dalam hubungan kita dengan Alloh, tidak ada rahasia yg tersembunyi, tidak ada kata-kata yang terlupakan. Alloh SWT pasti mendengarkan setiap keluh kesah yang kita ucapkan, lebih dari itu, Alloh SWT sangat memahami setiap perasaan yang melanda hati kita. Allah SWT., berfirman: يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ “Alloh mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hadid 4).

Setiap curahan hati yang kita sampaikan adalah sebuah bentuk ibadah yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Dalam setiap do'a yang kita minta kepada-Nya, akan menemukan ketenangan yang tidak pernah kita temukan dalam percakapan dengan manusia. Hati ini merasa bahagia. Jiwa pun begitu tenang. Alloh adalah tempat yang sempurna untuk berbagi kebahagiaan, kesedihan, kecemasan, dan keberhasilan kita.

Alloh SWT tidak hanya mendengarkan, tetapi Dia juga memberikan jawaban dan solusi yang kita butuhkan (bukan ke-inginan).Keyakinan (iman) pada-Nya memberikan kita kekuatan untuk menghadapi segala tantangan dan rintangan dalam hidup. Jangan pernah merasa bahwa beban hidup ini sangat sulit. Jangan pernah berpikir bahwa kita tidak bisa melewati ujian yang berat, kita musti yakin dan percaya bahwa, ujian cobaan adalah cara Allah SWT untuk mengukur sejauhmana keteguhan dan kekuatan iman dan aqidah لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا "Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebaikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada pula sesuatu (siksa) atas (kejahatan). (Al-Baqarah 286).

Lantas, Kapan waktu yang tepat untuk mencurahkan isi hati kita kepada Alloh SWT.?

Kita boleh berdo'a dimana saja dan kapan saja. اينما سقفوا Akan tetapi, ada waktu-waktu mustajab untuk berdo'a.

Allah SWT berfirman: حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ "Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusto. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk"

Rasulullah SAW,. bersabda: يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir di setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa saja yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberi, siapa saja yang memohon ampunan dari-Ku akan Kuampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beberapa waktu yang mustajab untuk berdo'a kepada Alloh antara lain: Pada waktu Sholat Wajib maupun Sunnah, saat hujan turun, hari Jum'at, dlsbg.

Mintalah kepada Alloh hajat atau solusi untuk masalah yang sedang kita hadapi (apapun persoalanya). مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا "Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat"

Oleh karenanya, Mintalah apa yang terpendam dalam hati. Keluarkan segala unek-unek sebab Alloh maha mendengar. Usaha, Do'a lalu pasrah. Sebab tidak ada tempat bergantung kecuali kepada Alloh SWT.

Maka, mulai saat ini tidak usah, menampakkan kesedihan, baik di dunia nyata maupun maya, curhat sana-sini padahal nggak ada yang peduli. Cukup Allah yang mengetahui segala kekurangan dan kesedihan kita. لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita." حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ Cukuplah Allah sebagai penolong sekaligus pelindung.

Sebagai penutup:

Bahwa الَدُّعَاءُ مُخُّ اْلِعبَادَةِ Do'a adalah inti sari dari ibadah, maka selalulah berdo'a dalam semua kesempatan, sebab:

مَنْ عَلَّقَ قَلْبَهُ بِالدُّنْيَا تَرَكَهُ اللهُ فِيهَا

Barang siapa yang hatinya bergantung pada dunia, Alloh akan biarkan dia sibuk dengan urusan dunianya.

وَمَنْ عَلَقَ قَلْبَهُ بِاللَّهِ فَتَحَ اللَّهُ لَهُ أَبْوَابَهَا

Dan barang siapa yang hatinya bergantung pada Alloh, maka Alloh yang akan membukakan jalan keluarnya.

Oleh karenanya: الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّانَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فعليكم عباد الله بالدعاء "Do'a sangatlah bermanfaat terhadap apa-apa yang telah diturunkan, dan apa-apa yang belum diturunkan, Maka, wahai hamba-hamba Alloh, bisakanlah berdo'a.

Pentingnya Fatihah

Mengapa para kiyai selalu mengirim Fatihah untuk guru mereka dan mushonnif sebelum mengajar kitab?

Syaikh Abdul Hadi Naja Al-Abyari berkata:

Sejak dulu aku selalu melihat para guru mengirim fatihah untuk para guru mereka di awal membaca kitab-kitab ilmu, awalnya aku mengira bahwa itu hanya bentuk bakti mereka kepada para guru mereka yang telah wafat, juga sebagai wujud balas budi untuk mereka, aku tidak melihat ada “rahasia” lain disana hingga aku membaca sebuah ibarot dalam Kitab Tafsir Arrozi yaitu:

“Ruh manusia, jika dia bersifat dengan ilmu dan akhlak mulia maka ia akan menjadi kuat, dan akan semakin kuat ikatannya dengan ruh-ruh baik yang lain, maka diantara ruh itu akan saling memantulkan cahaya seperti halnya kaca-kaca yang bersinar dan saling berhadapan“

Jadi ketika seseorang mengirim fatihah untuk gurunya, dan mendoakan gurunya agar mendapat ridho dan kasing sayang Allah, kemudian ia mulai membaca kitab maka akan semakin kuat ikatan ruhnya dengan ruh gurunya, dengan itu ia akan mendapatkan barokah ruh gurunya yang membuat ia mudah memahami berbagai macam ilmu. Begitu pula ketika seseorang mengirim fatihah untuk Rasulullah SAW “.